Mertua Serasa Madu

Mertua Serasa Madu
Bab 58


__ADS_3

" Sayang jangan cepet-cepet jalannya nanti kamu jatuh. " teriak David sembari ikut mempercepat langkah kakinya menyusul Istrinya yang sudah berada di dalam kamar.


Adira yang sudah terlambat sholat isya tidak mendengarkan ocehan suaminya dan dia segera masuk ke dalam kamar mandi.


" Sayang pelan-pelan nanti kamu terpeleset sayang. " teriak David lagi yang menyusul istrinya ke kamar mandi.


" Kamu kalau jalan hati-hati dong sayang jangan seperti itu nanti kalau kamu jatuh gimana? Mas gak mau ya terjadi apa-apa dengan anak kita. " omel David yang berdiri di tengah ambang pintu.


" Astaghfirullah Mas, Adira cuma hamil Mas bukan patah tulang. " ucap Adira yang sedikit lelah di omeli terus oleh suaminya.


" Makanya karena kamu lagi hamil itulah kamu harus lebih berhati-hati sayang, karena di dalam situ ada anak kita. " tutur David lagi.


" Iya Mas iya Adira jalannya pelan-pelan. " sahut Adira yang kembali berjalan seperti pengantin.


" Nah begitu baru benar Mas kan jadi tidak perlu marah-marah lagi. " seru David lagi yang langsung tersenyum.


Adira hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar menghadapi sikap suaminya yang berubah menjadi overprotektif seperti ini.


Setelah itu Adira segera melaksanakan sholat Isya sendirian, lalu mereka berdua segera naik ke atas ranjang untuk segera beristirahat.


Keesokan harinya...


" Sayang kamu jadi berhenti berkerja kan? " tanya David saat ini dia sedang mengenakan pakaian kerjanya.


" Jadi Mas paling nanti siang Adira datang ke rumah Ibu Hani. " jawab Adira.


" Ya udah kalau begitu gitu kamu harus banyak-banyak istirahat, dan ayo kita ke luar sayang Mas udah gak sabar ingin segera memberitahukan kabar bahagia ini ke Ibu. " ajak David yang segera memegang tangan istrinya.


Mereka berdua melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar menuju ke meja makan, sejak mengetahui bahwa istrinya sedang mengandung senyum selalu terukir di wajah tampan David.

__ADS_1


" Kenapa kamu senyum-senyum terus dari tadi David? " tanya Nuryati saat mereka sudah tiba di meja makan.


" Ibu aku punya kabar bahagia untuk Ibu. " jawab David sembari mendudukkan dirinya di kursi makan.


" Kabar bahagia apa? Apa kamu baru dapet bonus di kantor? " seru Nuryati dengan senang.


" Ibu kok bonus sih! ini kabar yang lebih membahagiakan dari pada sekedar bonus Bu. " sahut David dengan semangat.


" Memangnya kabar bahagia apa? apa kamu naik jabatan? " tanya Nuryati lagi.


" Bukan Bu, kabar bahagianya sebentar lagi Ibu akan punya cucu. " ucap David dengan senang namun ekspresi Nuryati hanya biasa saja.


" Oh Adira hamil. " sahut Nuryati dengan cuek lalu dia segera menyendokkan nasi goreng yang sudah Adira masak tadi pagi.


" Kok Ibu ekspresinya biasa saja sih? memangnya Ibu gak senang sebentar lagi akan punya cucu? " tanya David dengan dahi yang berkerut.


" Kenapa Ibu harus senang toh cuma hamil kecuali kalau kamu dapet bonus dari kantor atau naik jabatan baru Ibu seneng. " jawab Nuryati yang mulai memasukkan satu suapan ke dalam mulutnya.


" Oh Iya Bu selama Adira hamil Ibu bisa kan mengerjakan pekerjaan rumah menggantikan Adira untuk sementara waktu saja, karena menurut dokter Adira tidak boleh melakukan aktifitas yang berat karena dia sedang hamil muda. " ucap David.


" Apa kamu bilang Ibu kamu suruh menggantikan pekerjaaan Adira? " seru Nuryati yang terkejut dan David pun mengangguk.


" Enak saja gak bisa lagi pula manja banget sih, dulu aja Ibu waktu hamil kamu dan juga Sinta Ibu mengerjakan seluruh pekerjaan rumah sendiri dan yg tidak apa-apa tuh kandungan Ibu baik-baik aja kamu dan Sinta lahir juga sehat dan normal. " tolak Nuryati.


" Tapi Bu semalam waktu kami sedang memeriksakan kandungan Adira, dokter Dewi mengatakan jika Adira tidak boleh melakukan pekerjaan yang berat dulu bu karena di usia kandungan Adira yang sekarang sangat berpotensi untuk keguguran dan aku nggak mau kehilangan calon anak pertamaku. " tutur David.


" Alah di mana-mana itu ya yang namanya ibu hamil nggak boleh males-males, nggak boleh manja-manja nanti anaknya ikutan males, dan lagi pula ya kalau orang hamil itu seharusnya banyak gerak supaya nanti saat melahirkan lancar. " seru Nuryati.


" Tapi nanti jika terjadi apa-apa dengan kandungan Adira bagaimana Bu? " tanya David dengan wajah khawatirnya.

__ADS_1


" Kamu percaya aja sama Ibu tidak akan terjadi apa-apa dengan kandungan Adira, lagi pula jadi wanita hamil itu harus kuat jangan lemah supaya bayi di dalam kandungannya juga ikut kuat. " ucap Nuryati meyakinkan David.


" Oh gitu ya Bu, ya udah deh kalau begitu kamu tetap mengerjakan seluruh pekerjaan rumah ya sayang. " seru David yang berbicara pada istrinya.


" Iya Mas. " jawab Adira di sela-sela sarapannya.


David yang pada dasarnya memang selalu mempercayai ucapan Ibunya langsung percaya begitu saja dan tidak lagi berkomentar apapun. dan sudah beberapa hari ini Nuryati selalu ikut sarapan pagi bersama mereka.


" Oh iya Bu, rencananya aku meminta Adira untuk berhenti bekerja di rumah Tante Hani kalau menurut pendapat Ibu bagaimana? " pertanyaan David membuat Nuryati langsung menghentikan kunyahannya.


" Bagaimana menurut Ibu? " ucap David lagi yang meminta pendapat dari ibunya.


" Jangan gila kamu David? Dia baru kerja satu bulan masak mau berhenti? Lagi pula sayang banget gaji dia besar bahkan lebih besar dari gaji kamu, jika dia masih sanggup kerja iya kerja aja terus lagi pula zaman sekarang mana ada sih pembantu yang gajinya sampai 10 juta. " seru Nuryati yang tidak setuju.


" Tapi nanti kalau Adira kelelahan bagaimana Bu? " sahut David yang kembali terlihat khawatir.


" Udah Ibu bilang kamu percaya aja sama Ibu tidak akan terjadi apa-apa dengan kandungannya, wanita hamil itu harus banyak-banyak gerak supaya nanti dia lahirannya lancar kalau dia malas nanti yang ada melahirkannya susah ujung-ujungnya operasi dan biayanya besar tahu nggak. " tutur Nuryati.


" Apa Ibu yakin kandungan Adira akan baik-baik saja? karena aku benar-benar takut Bu jika terjadi apa-apa dengan kandungannya? " tanya David.


" Iya David pokoknya kamu percaya aja sama Ibu tidak mungkin Ibu mengatakan hal yang salah karena bagaimanapun yang adil kandung kan cucu ibu dan ibu juga nggak mau dong jadi apa-apa dengan cucu Ibu. " jawab Nuryati.


" Oh begitu ya Bu, ya udah deh kalau begitu Adira akan tetap lanjut kerja di rumahnya Tante Hani. " putus David membuat Nuryati mengembangkan senyumnya.


" Enak aja dia mau berhenti bekerja, ya aku tidak akan pernah menyetujuinya lah karena aku tidak akan pernah mau kehilangan sumber penghasilan terbesarku. " batin Nuryati.


" bagaimana Mas Adira tetap bekerja di rumah Ibu Hani atau Adira berhenti bekerja saja? " tanya Adira memastikan keputusan suaminya.


" Iya udah kamu lanjut kerja aja di rumahnya Tante Hani sayang. " jawab David.

__ADS_1


" Iya udah Mas kalau begitu. " ucap Adira.


Setelah itu mereka melanjutkan sarapannya hingga selesai, Selesai sarapan David segera berpamitan untuk berangkat bekerja.


__ADS_2