Mertua Serasa Madu

Mertua Serasa Madu
Bab 62


__ADS_3

Setelah menyelesaikan seluruh pekerjaannya lagi-lagi Adira harus menahan lapar karena Nuryati menghabiskan semua makanannya dan tidak menyisakan sedikitpun untuk dirinya.


" Hmm kalau udah makan selalu begini gak pernah ingat menyisakan sedikitpun makanan untuk Adira, tega banget sih. " ucap Adira sembari mendengus kesal.


Kruuukk..


Saat sedang kesal tiba-tiba perut Adira berbunyi karena lapar yang sudah ia rasakan sejak tadi.


" Terpaksa harus masak lagi. " ucap Adira yang berjalan menuju ke lemari pendingin untuk mengambil bahan makanan apapun yang bisa di olah, tapi sayangnya sudah tidak ada bahan masakan apapun lagi yang ada di dalam lemari pendingin bahkan di rak penyimpanan pun sudah kosong.


" Yah bahan masakan pakai acara habis segala lagi, males banget kalau harus belanja lagi ke kedai (warung) Mbak Susi. " Gerutu Adira yang tadi sudah kesal sekarang semakin bertambah kesal.


Walaupun perutnya masih terus berbunyi tetapi dengan terpaksa Adira masih harus membersihkan meja makan bekas Ibu mertuanya makan.


" Begini terus setiap hari Adira yang masak, Ibu yang makan dan Adira lagi yang membersihkan tanpa menikmati makanannya. " gumam Adira sembari melakukan pekerjaannya.


Setelah selesai membersihkan meja makan serta piring kotornya, Adira yang sudah kelelahan di tambah rasa lapar yang menyerang memutuskan untuk istirahat saja di dalam kamarnya karena untuk melakukan aktivitas lainnya rasanya tubuhnya sudah tidak sanggup lagi.


" Mau kemana kamu? " tanya Nuryati saat melihat Adira yang baru saja memegang handle pintu kamarnya.


" Adira mau istirahat Bu capek banget. " jawab Adira dengan wajah lelahnya.


" Nanti saja istirahatnya sebaiknya kamu pergi ke rumah Hani dan minta uang gajimu sekarang karena Ibu butuh uangnya untuk shopping. " titah Nuryati tanpa belas kasih.


" Besok aja ya Bu Adira udah gak kuat kalau harus jalan lagi. " tolak Adira.


" Gak bisa pokoknya kamu harus ke rumah Hani sekarang. " titah Nuryati sembari menarik tangan Adira dengan kasar.


" Aduh jangan di tarik-tarik Bu nanti Adira jatuh. " ucap Adira sembari berusaha melepaskan tangan Nuryati.


" Makanya kamu cepat ke sana Ibu butuh uangnya sekarang. " sahut Nuryati yang tetap menarik tangan Adira dan tidak melepaskannya.

__ADS_1


" Aduh sakit Bu. " ringis Adira lagi karena Nuryati memegang tangannya dengan kencang.


" Buruan jalannya jangan lelet banget kenapa. " ujar Nuryati yang tetap menarik tangan Adira hingga ke teras rumah.


" Udah sana pergi ambil uangnya sekarang. " titah Nuryati setelah mereka sudah tiba di teras rumah.


Akhirnya mau tidak mau Adira terpaksa pergi ke rumah Hani walaupun dia sudah sangat kelelahan sekali. Adira berjalan dengan sangat perlahan bahkan lebih pelan dari pada biasanya.


Tok...


Tok...


Adira mengetuk pintu pagar dengan menggunakan sebuah batu kecil dan tidak lama pintu pagar pun di buka oleh Joko.


" Eh Mbak Adira kok siang sekali datangnya? " tanya Joko sembari mengerutkan dahinya saat melihat Adira yang tidak seperti biasanya.


" Saya hari ini izin gak masuk Pak Joko cuma ada perlu dikit sama Bu Hani. " jawab Adira sembari melangkahkan kakinya masuk ke dalam.


" Adira gak sakit kok pak Joko cuma kelelahan saja, kalau begitu Adira masuk ke dalam dulu ya Pak Joko. " pamit Adira dan Joko pun mengangguk.


Setelah bertegur sapa dengan Joko, Adira melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam rumah Hani melalui pintu samping seperti biasanya.Tanpa bertanya pada Joko Adira tau jika di jam segini majikannya pasti sedang berada di teras belakang dekat kolam renang.


" Assalamualaikum Bu. " ucap Adira saat dia sudah berada di teras belakang rumah dan dia sudah bisa melihat punggung majikannya.


" Wa'alaikumsalam eh Adira ada perlu apa? Bukannya kamu hari ini izin gak masuk? " sahut Hani yang terkejut saat melihat kedatangan Adira dan Adira pun langsung mencium punggung tangan Hani seperti biasanya.


" Iya Bu sebenarnya ada sesuatu hal yang ingin Adira sampaikan ke Ibu. " seru Adira dengan kepala yang sedikit menunduk.


" Apa itu Adira? Memangnya sepenting itu sampai kamu harus datang ke sini? " tanya Hani sembari menatap wajah Adira. Yang masih saja menunduk.


" Hmm begini Bu sebelumnya Adira mau minta maaf jika sudah lancang tetapi kedatangan Adira ke sini karena Adira ingin meminta uang gaji Adira bulan ini Bu? sebenarnya Adira segan dan tidak enak hati untuk memintanya ke Ibu tapi Adira sangat membutuhkan sekali uang itu Bu. " tutur Adira menjelaskan tetapi wajahnya tetap tertunduk karena malu.

__ADS_1


" Oalah saya kira ada hal penting apa Adira! Tadi saya udah deg-degan karena takut kamu mau minta berhenti kerja tapi ternyata hanya meminta gaji, kalau soal itu kamu gak perlu sungkan karena kan hari ini memang sudah waktunya bagi kamu untuk gajian. " ucap Hani sembari tersenyum lega.


" Ya gak mungkin Adira minta berhenti karena Adira sudah betah sekali kerja di rumah Ibu Hani. " jawab Adira yang mulai berani menatap wajah Hani.


" Syukurlah kalau begitu kamu tunggu di sini sebentar ya? Saya ambil uangnya dulu. " seru Hani.


" Iya Bu. " sahut Adira


Hani segera bangkit dari duduknya lalu mulai melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya untuk mengambil uang gaji Adira, setelah mengambil uangnya Hani kembali ke teras belakang menemui Adira yang masih menunggu dengan setia.


'" Adira ini gaji kamu bulan ini ya? " ucap Hani sembari menyerahkan amplop coklat yang tadi di bawanya.


" Terimakasih banyak Bu? Maaf Adira sudah merepotkan. " seru Adira yang masih mengembangkan senyumnya.


Karena Adira sudah tidak lagi menunduk jadi Hani langsung dapat melihat wajah kelelahan Adira.


" Astaghfirullah Adira kamu sakit? wajah kamu terlihat kelelahan sekali? " tanya Hani yang sangat terlihat jelas wajah ke khawatirannya.


" Adira gak sakit kok Bu, Adira cuma kelelahan saja ingin segera istirahat. " jawab Adira.


" Ya udah kalau begitu kamu pulang bawa motor saja supaya cepat sampai dan bisa segera istirahat? " tutur Hani.


" Terimakasih banyak Bu tapi Adira jalan kaki saja, kalau begitu Adira pulang dulu ya Bu maaf sudah merepotkan Assalamualaikum? " pamit Adira yang kembali mencium punggung tangan Hani.


" Sama-sama Adira kamu hati-hati di jalan. " jawab Hani.


Setelah mendapatkan uangnya, Adira segera keluar dari rumah Hani dan kembali melangkahkan kakinya menuju ke rumah.


Saat jalan pulang langkah kaki Adira jauh lebih lambat dari pada saat pergi tadi, dan secara tiba-tiba kepalanya terasa sangat pusing dan pandangan matanya pun mulai mengabur.


Berkali-kali Adira terus berusaha memfokuskan pandangannya agar dirinya bisa sampai di rumah dengan selamat,namun semakin lama kepalanya semakin terasa pusing dan pandangannya semakin kabur.

__ADS_1


__ADS_2