Mertua Serasa Madu

Mertua Serasa Madu
Bab 65


__ADS_3

" Mas. " Adira kembali memanggil suaminya sambil berusaha untuk kembali memegang tangannya namun responnya tetaplah sama David langsung menepis tangan Adira dan hal itu membuat Adira sakit hati.


" Mas anak kita mana? kenapa perut Adira rata? " Adira kembali melontarkan pertanyaan yang sama.


" Kemana kamu pergi? Kenapa gak izin dulu? " David malah balik bertanya.


" Adira... " ucap Adira terhenti karena suaminya sudah memotong ucapannya.


" Bukannya kamu bilang katanya sedang malas untuk melakukan aktivitas apa pun, lalu kemana kamu pergi? Kenapa kamu gak izin sama Mas atau sama Ibu gara-gara kecerobohan kamu anak kita meninggal Adira anak kita meninggal. " bentak David.


Deegh...


Adira langsung terpaku dan membulatkan kedua matanya sambil menggelengkan kepalanya tidak percaya.


" Gak mungkin Mas bohong kan? Mas pasti bohong. " sangkal Adira yang tidak bisa menerima kenyataan.


" Untuk apa Mas berbohong padamu dan satu hal lagi yang harus kamu tau, gara-gara peristiwa itu bukan hanya anak kita saja yang meninggal tapi rahim kamu juga di angkat. " tutur David menjelaskan.


Jedeeer...


Bak tersambar petir di siang bolong, sudah jatuh tertimpa tangga pula itulah pribahasa yang sangat cocok untuk menggambarkan kondisi Adira saat ini.


" Mas pasti bohong kan? Mas cuma bercanda kan? Bilang ini semua bohong Mas, ini semua gak benar kan? " ucap Adira menyangkal.

__ADS_1


" Untuk apa Mas berbohong padamu gak ada gunanya Adira. " jawab David.


Adira sudah tidak lagi mampu membendung air matanya, air mata Adira jatuh dengan begitu derasnya membasahi pipi cantiknya.


Adira menangis sampai sesenggukan namun sang suami sama sekali tidak berniat untuk menenangkan dirinya, jangankan menenangkan memegang tangannya pun suaminya sangat enggan untuk melakukannya.


" Sudahlah Adira tidak ada gunanya lagi kamu tangisi ini semua, apa yang sudah terjadi tidak akan pernah bisa kembali lagi seperti semula. Sekarang kamu nikmati saja buah dari kecerobohanmu itu, kamu bukan hanya membunuh anak kita tapi kamu sudah membuat dirimu menjadi seorang wanita mandul yang sampai kapan pun tidak akan pernah lagi bisa memiliki anak. " ucap David dengan teganya tanpa memikirkan bagaimana hancurnya hati Adira.


" Tega sekali kamu berkata seperti itu Mas, aku seperti ini karena Ibu kamu Mas Karena Ibu kamu. " Bentak Adira untuk yang pertama kalinya setelah lebih kurang 7 bulan mereka menikah.


" Jaga bicaramu Adira ini semua terjadi karena kesalahanmu kenapa kamu limpahkan ke Ibu, tega sekali kamu Adira. " ucap Nuryati yang langsung berpura-pura menangis.


" Cukup Adira jangan kamu salahkan orang lain atas kesalahan yang sudah kamu lakukan sendiri, terlebih kamu menyalahkan Ibuku atas keteledoran kamu. " timpal David.


" Oh Adira paham sekarang pasti Ibu sudah menceritakan hal yang tidak-tidak kan? Pasti Ibu sudah mengarang cerita supaya di sini Adira yang selalu salah dan Ibu selalu di posisi yang paling benar. " ucap Adira dengan berani dan dia langsung memaksakan diri untuk duduk walau pun perutnya sangat terasa ngilu sekali.


" Kamu lihat sendiri kan David bagaimana perangai istri kamu yang sebenarnya, selama ini dia selalu berpura-pura baik di depan kamu sedangkan kalau di belakang kamu dia sangat jahat David istri kamu ini tak ubahnya seperti serigala berbulu domba. " sahut Nuryati yang sudah mengeluarkan air mata palsunya.


Melihat Ibunya menangis David langsung menghampiri dan memeluk tubuh Ibunya dengan sayang.


" Istri kamu sangat jahat David. " ucap Nuryati yang berbicara di dalam pelukan putranya.


David mengusap lembut punggung Ibunya, sementara Nuryati tersenyum mengejek ke arah Adira.

__ADS_1


Adira sudah sangat muak melihat Ibu mertuanya yang pintar sekali berakting dan memutar balikkan fakta, Adira yakin sebentar lagi suaminya akan memarahinya dan lebih mempercayai ucapan Ibunya.


Sebagai seorang anak yang sangat memuliakan Ibunya sudah tentu David sangat marah dan dia sangat membenci orang yang sudah berani membuat Ibunya menangis, saking emosinya David sampai mengepalkan tangannya dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih.


Beberapa saat kemudian David melerai pelukannya lalu dia kembali melangkahkan kakinya mendekat ke arah istrinya.


" Mas nggak percaya ternyata selama ini begini perlakuan kamu ke Ibu ya? Mas kira kamu bisa menyayangi Ibu dan menganggap Ibu sama seperti Ibu kandung kamu sendiri, tapi ternyata Mas sudah salah menilai kamu Adira. " ucap David dengan kilatan api amarah yang terlihat lewat sorot matanya.


Melihat suaminya yang marah Adira hanya diam saja dan dia sama sekali tidak berbicara ataupun membela diri.


" Kenapa diam kamu Adira? apa tidak ada pembelaan dari kamu? " ujar David bertanya.


" Membela diri? untuk apa Adira melakukannya Mas?untuk apa Adira capek-capek berbicara panjang lebar untuk menjelaskan tapi pada akhirnya hanya ucapan Ibu lah yang kamu percayai Mas, jadi lebih baik Adira diam dari pada bicara pun percuma tidak akan merubah apapun. " jawab Adira.


Setelah mengucapkan hal itu Adira kembali melihat ke arah Ibu mertuanya yang sedang duduk santai di sofa sambil tersenyum mengejek ke arahnya.


" Sudahlah David sebaiknya kamu sudahi saja pernikahanmu dengan wanita yang tidak tahu diri seperti ini, kamu laki-laki yang tampan dan pekerjaan kamu juga mapan Ibu yakin pasti masih banyak wanita di luar sana yang mau menjadi istrimu. " ucap Nuryati yang mulai mempengaruhi putranya.


David nampak terdiam, mencerna dan memikirkan baik-baik ucapan ibunya.


" Sepertinya apa yang Ibuku ucapkan ada benarnya juga, untuk apa aku mempertahankan istri yang sama sekali tidak bisa menghargai dan menghormati Ibuku. Lagi pula tidak ada lagi yang bisa aku harapkan dari kamu Adira, sebagai seorang laki-laki yang memiliki istri sudah tentu aku sangat berharap dan sangat menginginkan hadirnya seorang anak, jika aku tetap mempertahankan pernikahan kita sama saja dengan aku membuang-buang waktuku karena kamu tidak akan pernah bisa memberikan aku seorang anak. " ucap David dengan begitu mudahnya dan apa yang David ucapkan sangat-sangat menyakiti Adira yang baru saja kehilangan hal yang paling berharga di dalam hidupnya.


" Apa maksudmu berbicara seperti itu Mas? Apa kamu mau menceraikan aku? Apa kamu mau meninggalkan aku di saat keadaanku yang sudah seperti ini? " tanya Adira beruntun namun sudah tidak ada lagi satu tetes air mata yang mengalir.

__ADS_1


" Aku tidak ingin menjadi laki-laki yang munafik Adira, walaupun aku sangat mencintai kamu tapi aku juga membutuhkan keturunan yang akan meneruskan keluargaku, jadi aku David Aditya menjatuhkan talak padamu Adira Farhana binti Abdullah dengan talak 3. " jawab David sekaligus menjatuhkan talak untuk istrinya.


__ADS_2