
" Ngapain kamu di kamar mandi lama sekali? " ucap David yang ternyata menunggu istrinya di depan pintu kamar mandi.
Adira hanya diam dan menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah suaminya karena takut suaminya akan tahu jika dia baru saja menangis.
David penasaran karena istrinya masih saja menunduk padahal mereka sedang berhadapan. Dengan menggunakan tangan kanannya David memegang dagu istrinya lalu mengangkat wajah istrinya secara perlahan.
David langsung meneliti wajah istrinya dan terlihatlah kedua mata dan hidung Adira yang memerah karena menangis.
" Habis nangis? " tanya David dengan ekspresi wajah yang biasa saja.
" Iya Mas. " jawab Adira dengan jujur.
" Ngapain nangis? memangnya kata-kata Mas ada yang salah? Mas kan hanya meminta kamu untuk memaklumi apapun dan bagaimanapun sikap dan perilaku ibu, itukan hanya hal sepele ngapain pakai acara nangis segala. " tutur David.
" Kenapa mas berubah? " Adira malah melontarkan pertanyaan yang lain tanpa menjawab pertanyaan dari suaminya.
" Berubah bagaimana? perasaan mas biasa saja dan tidak ada yang berubah juga. " jawab David yang merasa sama seperti biasanya dan tidak pernah ada yang berubah dari dirinya.
" Mas tidak merasa ada yang berubah? " tanya Adira.
" Tidak ada sayang, kamu ini yang aneh-aneh saja. " jawab David acuh.
" Ya sudahlah jika Mas merasa tidak ada yang berubah, oh ya Mas itu sudah adzan dzuhur kita sholat berjamaah yuk? " ajak Adira.
" Kamu sholat duluan saja ya sayang mas harus pergi menemani Ibu arisan. " tolak David.
" Ayolah mas kita sholat berjamaah? sudah lama loh mas tidak mengimami Adira sholat? " pinta Adira dengan tatapan mata memohon.
" Sudah Mas katakan kamu sholat saja duluan, udah awas minggir Mas mau mandi nggak enak sama ibu jika terlalu lama menunggu. " ujar David seraya menyingkirkan tubuh istrinya dari pintu kamar mandi.
David langsung masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya dengan keras.
Braaakkk...
" Astagfirullah. " ucap Adira seraya mengelus dadanya sendiri.
__ADS_1
Setelah suaminya masuk ke dalam kamar mandi Adira, menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya, lalu Adira segera melaksanakan sholat dzuhur sendirian. Saat Adira selesai melaksanakan sholat bertepatan dengan suaminya yang baru saja selesai mandi.
" Mas mau nganterin ibu arisan ke mana? " tanya Adira sambil melipat mukena dan sajadahnya.
" Mas kasih tahu pun kamu nggak akan paham. " ucap David sambil membuka lemari untuk mengambil pakaian yang dia inginkannya.
" Mas mau ngapain? ini Adira sudah menyiapkan pakaian ganti untuk Mas. " ujar Adira sambil menunjuk satu setel pakaian yang dia letakkan di atas ranjang.
David mau menutup kembali pintu lemari pakaian mereka, lalu menatap satu setel pakaian pilihan istrinya yang ada di atas ranjang mereka.
" Mas lagi nggak mau memakai pakaian itu sebaiknya kamu simpan kembali saja. " ucap David yang kembali membuka lemari dan memilih celana jeans hitam panjang dan kemeja lengan panjang berwarna cream yang dia gulung hingga ke siku.
Adira hanya bisa duduk di pinggir ranjang menatap suaminya yang sedang bersiap-siap.
" Mas tampan sekali? " puji Adira yang sedang menatap suaminya yang sedang berada di depan cermin.
" Kalau itu gak perlu kamu katakan Mas juga tau jika Mas ini tampan. " jawab David tanpa balik menatap wajah istrinya.
" Mas kapan sih kita jalan berdua? perasaan setiap weekend Mas pasti selalu menemani Ibu jalan-jalan? giliran jalan dengan Adira kapan? " tanya Adira dengan wajah penuh harap.
Saat suaminya keluar dari dalam kamar, Adira pun juga ikut keluar dari dalam kamar mengikuti suaminya sampai ke teras depan.
" Kamu ngapain di sini? " tanya Nuryati dengan sinis.
" Adira hanya ingin mengantarkan Mas David saja Bu, tidak ada maksudnya yang lain. " jawab Adira sembari memaksakan senyum di wajahnya.
" Oh, kamu jaga rumah jangan kemana-mana dan ingat jangan sampai lengah sekarang lagi musim pencuri. " sahut Nuryati mewanti-wanti.
" Iya Bu. " jawab Adira dengan patuh.
" Ayo kita berangkat nanti terlambat. " ucap David yang mengajak ibunya untuk segera pergi.
" Ayo kita pergi sekarang. " sahut Nuryati yang melangkahkan kakinya keluar dari teras rumah mendekat ke arah sepeda motor David.
" Mas berangkat dulu Adira, Assalamualaikum. " ucap David yang juga melangkahkan kakinya menyusul ibunya.
__ADS_1
" Waalaikumsalam. " jawab Adira sambil menatap suami dan ibu mertuanya yang mulai naik ke atas motor.
Pelan tapi pasti motor tersebut melaju meninggalkan pekarangan rumah dan berjalan semakin menjauh lalu hilang dari pandangan mata Adira.
" Kapan ya Adira bisa di boncengin Mas David naik motor? " gumam Adira yang hanya bisa membayangkan dirinya di boncengin suaminya naik motor.
Sejak menikah dengan David sekalipun Adira belum pernah diajak David untuk naik motor berdua walaupun hanya sekedar jalan-jalan sore saja.
Sementara itu...
Motor yang David kendarai sedang melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota Medan di siang hari yang sangat panas terik ini.
" Ibu jadi arisannya di mall apa di rumah Tante Yuli? " ujar David bertanya.
" Arisannya di rumah Yuli, sekalian dia ingin mengenalkan Putri bungsunya yang baru saja pulang dari luar negeri dan katanya anaknya Yuli yang bungsu ini cantik banget nanti kamu kenalan juga siapa tahu kalian saling jatuh cinta. " jawab Nuryati dengan senang.
" Jangan aneh-aneh deh Bu, aku sudah punya istri dan aku sangat mencintai istriku. " sahut David.
" Ibu kan hanya meminta kamu dan anaknya Yuli untuk berkenalan bukan untuk menikah jadi tidak ada hubungannya dengan istri kamu itu. " sungut Nuryati tidak suka.
" Iya tetap saja Bu aku harus menjaga perasaan istriku. " ujar David yang tetap fokus melajukan motornya.
" Alah kamu menjaga perasaan dia, belum tentu dia menjaga perasaan kamu. " timpal Nuryati lagi.
" Ibu nggak boleh bicara seperti itu! dan aku sangat yakin Adira pasti akan selalu menjaga perasaanku Bu. " ucap David lagi.
" Ya sudahlah terserah kamu saja David. " sahut Nuryati yang sudah malas berbicara dengan putranya.
Setelah itu Nuryati dan David sama-sama saling diam hingga mereka tiba di rumah Yuli yang lebih besar dari rumah mereka.
" Ayo kita masuk? " ajak Nuryati setelah David selesai memarkirkan motornya.
" Ibu saja yang masuk ya? aku tunggu di sini saja. " ucap David yang tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak dan ragu untuk masuk ke dalam.
" Enggak boleh, kamu harus ikut masuk ke dalam lagi pula ngapain kamu nungguin di sini memangnya kamu tukang ojek apa. " ujar Nuryati sambil menarik tangan putranya.
__ADS_1
Walaupun ragu dengan terpaksa David menuruti ucapan ibunya untuk ikut masuk ke dalam.