
" Alhamdulillah semuanya sudah selesai, sekarang tinggal membersihkan kamar Ibu Hani saja. " ucap Adira yang sedang membawa alat kebersihan menuju ke kamar Hani yang berada di lantai 2.
Setelah selesai sarapan pada pukul 06.30 pagi hingga saat ini jam sudah menunjuk menunjukkan pukul 10.00 pagi Hani masih berada di dalam kamarnya dan sama sekali belum terlihat keluar.
Tok...
Tok...
Tok...
Adira mengetuk pintu kamar Hani beberapa kali, hingga beberapa saat kemudian Adira mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah pintu lalu pintu pun terbuka.
" Permisi Bu Adira izin mau membersihkan kamar. " ucap Adira dengan sopan saat Hani sudah berdiri di tengah ambang pintu.
" Oh iya silahkan Adira. " sahut Hani yang menggeser tubuhnya.
Adira pun segera masuk ke dalam kamar majikannya sambil membawa alat kebersihan tersebut. Setelah itu Adira mulai membersihkan seluruh isi kamar majikannya yang terlihat sangat rapi dan bersih bahkan menurut Adira tidak ada satu debu pun yang tertinggal di kamar itu.
Tapi karena sudah kewajibannya jadi Adira harus membersihkannya lagi
" Maaf Bu, untuk makan siang Ibu mau dimasakin apa? " ujar Adira bertanya sambil mengepel lantai.
" Saya pengen makan sop buntut Adira, tapi saya kangen sekali masakan sop buntut buatan almarhumah Mama saya. " ucap Hani dengan raut wajah yang sedih.
" Apa Ibu tahu resep sop buntut almarhumah Mama Ibu siapa tau Adira bisa menirunya? " tanya Adira hati-hati.
" Tunggu sebentar Adira sepertinya saya punya deh. " ujar Hani yang langsung menuju ke sebuah lemari lalu membuka laci yang ada di dalam lemari itu.
Setelah menemukannya, Hani langsung mengambil sebuah buku kecil yang terlihat sudah sangat usang lalu membawanya menuju ke ranjang tidurnya.
Hani membuka buku kecil tersebut yang ternyata berisi berbagai resep masakan milik almarhumah Mamanya, setelah membolak-balik beberapa lembar akhirnya Hani menemukan resep sop buntut kesukaannya yang sering mamanya buatkan untuknya.
" Nah ketemu ini dia resep sop buntutnya. " ucap Hani saat menemukan apa yang sejak tadi dicarinya.
__ADS_1
" Sini deh Adira, saya sudah menemukan resep sop buntutnya. " ucap Hani memanggil Adira yang sedang menuju ke kamar mandi.
Adira segera menghentikan langkah kakinya lalu mendekat ke arah majikannya.
" Ini resepnya Adira coba kamu baca deh siapa tahu kamu bisa membuatnya. " tutur Hani lalu memberikan buku tersebut kepada Adira.
Adira menerima buku yang disodorkan oleh majikannya lalu membacanya pelan-pelan.
" Bagaimana Adira apa kamu bisa membuatnya? asisten rumah tangga saya yang sebelum kamu pernah mencobanya tapi rasanya sangat berbeda dan tidak sama dengan buatan Mama saya. " ucap Hani memberitahu.
" InsyaAllah Adira bisa membuatnya Bu, karena resep sop buntutnya sama persis dengan resep sop buntut milik Ibu saya. " jawab Adira sambil mengembalikan buku tersebut pada Hani.
" Kamu yakin bisa membuatnya Adira. " ujar Hani.
" InsyaAllah Bu, semoga rasanya sama dengan buatan almarhumah mamanya Ibu. " sahut Adira tersenyum.
" Ya sudah kalau begitu setelah ini tolong kamu masakan ya Adira, karena entah kenapa tiba-tiba saya merindukan sop buntut buatan Mama saya. " titah Hani.
Dengan gerak cepat Adira membersihkan seluruh kamar mandi majikannya. setelah itu Adira membawa kembali peralatan kebersihannya lalu menyimpannya seperti semula.
Adira langsung menuju ke lemari pendingin untuk mengambil bahan-bahan yang dia butuhkan untuk membuat sop buntut.
setelah itu Andira mulai berjibaku dengan bahan masakan dan juga peralatan dapur untuk membuat satu mangkok sup buntut sesuai dengan permintaan majikannya.
Tepat saat jam makan siang tiba sop buntut buatan Adira pun sudah selesai dimasak. Hani yang sudah lapar langsung keluar dari kamarnya dan menuju ke meja makan.
Di sana Hani dapat melihat sop buntut beserta pelengkapnya sudah tersedia di atas meja. Saat menghirup aromanya pikiran Hani langsung kembali berputar saat pertama kali Mamanya memasakkan sop buntut untuknya.
Dengan tidak sabaran, Hani segera mengambil satu sendok kuah sop buntut tersebut lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Saat kuah sop buntut tersebut mengalir melewati tenggorokannya tanpa terasa air mata Hani langsung mengalir begitu saja.
Adira yang tidak sengaja melihat majikan yang menangis langsung merasa khawatir takut sop buntut buatannya tidak lah enak.
" Ibu kenapa menangis? apa sop buntutnya tidak enak? apa Ibu mau di masakan yang lain? " tanya Adira beruntun dan sangat terlihat jelas laut wajah khawatirannya.
__ADS_1
" Tidak perlu Adira, sop buntut buatan kamu sangat enak sekali dan rasanya sama persis dengan buatan Mama saya, saya menangis karena akhirnya setelah puluhan tahun saya dapat merasakan kembali makanan yang sangat saya rindukan. " tutur Hani yang sekarang sudah mengeluarkan air matanya.
" Terimakasih banyak Adira berkat kamu rasa rindu saya akan masakan mama saya telah terobati. " ucap Hani yang masih saja mengeluarkan air matanya.
Atas inisiatifnya Adira mengambil dua lembar tisu lalu memberikannya ke majikannya, dan Hani pun langsung menerima tisu yang disodorkan oleh Adira lalu menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
" Sama-sama Bu. " jawab Adira seraya tersenyum.
" Ayo Adira Kamu duduk sini temani saya makan. " ajak Hani sambil menepuk kursi kosong yang ada di sampingnya.
" Tidak perlu Bu nanti Adira makan di belakang saja. " ucap Adira yang menolak secara halus karena dia sungkan jika harus makan satu meja dengan majikannya.
" Tidak perlu sungkan Adira ayo kamu temani saya, selama ini saya selalu makan sendiri dan mulai hari ini saya ingin kamu yang menemani saya makan Adira. " pinta Hani dengan raut wajah memohon.
" Tapi Bu, Adira tidak enak jika harus makan satu meja dengan ibu rasanya seperti tidak sopan. " ucap Adira yang benar-benar merasa tidak enak hati.
" Tidak perlu merasa sungkan seperti itu Adira lagi pula kan saya yang mengajak kamu makan bersama, ayolah Adira Kamu mau ya makan sama saya. " pinta Hani sekali lagi.
Adira yang tidak tega melihat ekspresi memohon Hani akhirnya mengiyakan permintaannya.
" Baiklah Bu Adira mau. " jawab Adira membuat Hani langsung tersenyum senang.
" Ayo Kamu duduk di sini Adira. " ucap Hani dengan senang lalu menepuk kursi yang ada di sampingnya.
Dengan malu-malu Adira duduk di kursi tepat di samping majikannya.
" Subhanallah kursi ini empuk sekali. " batin Adira memuji.
Adira kembali berdiri lalu menyendokkan nasi dan sayur sop beserta pelengkapnya ke atas piring untuk majikannya, setelah itu barulah Adira menyendokkan nasi untuk dirinya sendiri.
Setelah itu Adira dan Hani mulai santap siang bersama untuk pertama kalinya. Saat makan mereka juga sembari sedikit bercerita dan di situ Adira baru tahu jika selama ini Hani selalu merasa kesepian sejak putranya menetap di Jakarta.
Hani tidak tidak mau ikut bersama putranya ke Jakarta karena Hani tidak ingin meninggalkan rumah ini, rumah yang penuh dengan kenangan bersama almarhum suaminya.
__ADS_1