Mertua Serasa Madu

Mertua Serasa Madu
Bab 81


__ADS_3

Hari terus berlalu tidak terasa 6 bulan sudah Adira bekerja di rumah Hani setelah dirinya resmi bercerai dari David. Satu bulan setelah dirinya bekerja di sini surat cerai sudah dia dapatkan.


Selama Rendra berada di rumah Ibunya dia selalu diam-diam memperhatikan dan mencuri pandang ke arah Adira, karena entah kenapa hatinya selalu merasa tenang dan damai ketika melihat wajah cantik, lembut nan menenangkan milik Adira.


Rendra tahu dan dia juga sadar jika dia sudah jatuh cinta pada Adira sejak pandangan pertama. Namun Rendra ragu untuk menyatakan perasaannya bukan karena Adira yang sudah tidak memiliki rahim tetapi dia ragu dan juga takut jika cintanya akan ditolak dan berakhir dengan bertepuk sebelah tangan.


Setelah 2 bulan lamanya Rendra berada di kota Medan, akhirnya Rendra kembali ke Jakarta untuk kembali ke rutinitasnya. Rendra mengira setelah dirinya kembali ke Jakarta rasa cintanya untuk Adira akan menghilang tapi ternyata Rendra salah, karena semakin dirinya berusaha untuk melupakan Adira semakin besar pula rasa cinta dan rasa rindunya.


Semenjak kembali ke Jakarta Rendra selalu uring-uringan karena dia tidak bisa kembali fokus bekerja karena yang ada di dalam pikirannya hanya Adira, Adira, Adira, dan Adira.


Karena sudah tidak bisa membendung perasaannya lagi, hari itu juga Rendra nekat kembali pulang ke Medan tanpa memberi kabar pada Mamanya. Selama dalam perjalanan pulang pun bayangan wajah Adira selalu muncul di dalam ingatannya dan hal itu cukup membuat Rendra menjadi frustasi.


" Aaaakkkhhh bisa gila aku lama-lama kalau begini ceritanya, semakin dilupakan semakin muncul di dalam ingatanku. " batin Rendra ketika dia berada di dalam pesawat untuk kembali pulang ke Medan.


Setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang akhirnya Rendra tiba juga di depan rumah Mamanya, tanpa membuang waktu langsung saja Rendra mengetuk pintu pagar rumahnya dan pintu pagar pun dibuka oleh Joko.


" Loh mas Rendra? " Ucap Joko yang terkejut saat melihat anak majikan yang sudah ada di hadapannya.


" Iya Pak, Mama ada di rumah kan? " Rendra bertanya sambil melangkah masuk ke dalam.


" Ada Mas lagi di halaman belakang sama Mbak Adira. " ujar Joko menjawab.


Setelah itu Rendra segera masuk ke dalam rumah menemui Mamanya yang benar-benar sedang di halaman belakang. Hani dan Adira yang sedang duduk dengan membelakangi pintu tidak menyadari kedatangan Rendra.


" Mama. " Rendra menyapa sambil memeluk leher Mamanya dari belakang.


" Astaghfirullah Rendra. " ucap Hani yang sangat terkejut.

__ADS_1


" Mama lagi apa? " Rendra bertanya sambil berjalan mengitari tubuh Mamanya lalu duduk di hadapan Hani dan juga Adira.


" Saya permisi Bu? " Adira langsung pamit undur diri menuju ke dapur untuk membuatkan Rendra minuman.


Setelah Adira menjauh Rendra langsung duduk di samping Mamanya sambil menatap wajahnya dengan serius.


" Hmmm Ma, gimana menurut Mama kalau aku melamar Adira untuk menjadi istriku? " Rendra bertanya to the point membuat Hani sampai tersedak air liurnya sendiri.


Uhuuk..


Uhuuk..


Uhuuk...


Hani terbatuk-batuk sampai memukul pelan dadanya sendiri.


Hani langsung menerima gelas tersebut dan meminum airnya hingga tandas dan tidak tersisa barang setetes pun.


" Haaah kamu mau bikin Mama meninggal Rendra? " sungut Hani yang sedikit kesal.


" Ya gak dong Ma, aku kan cuma minta pendapat Mama gimana kalau aku melamar Adira untuk menjadi istriku? " Rendra kembali mengulang pertanyaannya dan Hani tetap saja terkejut walau pun tadi sudah mendengarnya.


Hani memegang dahi putranya untuk memastikan bahwa putranya sedang demam atau tidak.


" Mama kenapa sih? Aku gak sakit Ma, aku sehat. " ujar Rendra berbicara sambil menyingkirkan tangan Mamanya dari dahinya.


" Kamu gak lagi mabuk kan Ren? " Hani menatap wajah tampan putranya dengan bingung.

__ADS_1


Rendra membenarkan posisi duduknya lalu memegang kedua tangan Mamanya dengan lembut.


" Ma aku serius, aku ingin menjadikan Adira sebagai istriku aku sudah jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama, awalnya aku mengira jika rasa cintaku ini hanya sebagai bentuk kekaguman sementara tapi nyatanya setelah aku kembali ke Jakarta wajahnya selalu muncul di kepalaku dan itu membuat aku frustasi sampai gak fokus kerja Ma, semakin keras aku mencoba untuk melupakan semakin besar pula rasa cinta dan rasa rinduku, Makanya aku dadakan pulang ke sini untuk meminta pendapat Mama? jika Mama mengizinkan aku akan melamar Adira hari ini juga. " Rendra berbicara dengan panjang lebar menjelaskan agar Mamanya mengerti dan paham dengan maksud dan tujuannya.


" Sebelumnya Mama mau tanya dulu sama kamu? kamu tahukan kondisi Adira yang sebenarnya seperti apa? dia sudah tidak memiliki rahim dan itu artinya jika kamu menikah dengan dia kamu tidak akan memiliki keturunan, apa kamu yakin? Kamu sanggup? Dan kamu juga siap menerima dia apa adanya? Mama bukannya tidak suka jika kamu menikah dengan Adira, bahkan Mama sangat bahagia jika kamu mau menikah dengan dia tapi Mama gak mau jika pada akhirnya kamu akan menyakiti dia hanya karena kekurangannya itu! Dia wanita yang baik dan juga Sholehah Mama sangat menyayangi dia sama seperti anak kandung Mama sendiri, jadi Mama gak mau jika ada orang yang menyakiti dia lagi walau pun itu kamu anak Mama sendiri. " Sahut Hani yang bertanya sekaligus meyakinkan putranya.


" Ma aku yakin, aku siap dan aku juga akan menerima apa pun dan bagaimana pun kondisi Adira Ma dan aku berjanji bahwa aku tidak akan pernah menyakiti Adira. " Rendra menjawab sembari menyakinkan agar Mamanya percaya jika dia tidak akan menyakiti Adira.


Hani melihat wajah putranya dengan seksama, sebagai seorang Ibu yang melahirkan Rendra sudah tentu Hani tau Rendra sedang berbohong atau tidak hanya melihat dari ekspresi wajahnya saja. Namun setelah melihatnya dengan teliti Hani tidak melihat kebohongan dari wajah putranya.


" Bagaimana Ma, Mama setuju kan jika aku melamar Adira untuk menjadi istriku? " Rendra kembali mengulang pertanyaan sambil menatap wajah Mamanya dengan harap-harap cemas.


" Kalau kamu memang benar-benar bisa menerima Adira dan berjanji tidak akan pernah menyakitinya Mama setuju dan Mama sangat senang sekali. ". Hani menjawab sambil tersenyum senang begitu juga dengan Rendra yang langsung merasa lega karena sudah mendapatkan lampu hijau atau restu dari Mamanya.


" Jadi kapan kamu akan membicarakan hal ini dengan Adira? " ujar Hani bertanya.


" Kalau bisa sih sekarang Ma, karena aku tidak mau mengulur-ulur waktu. " Rendra menjawab dengan sangat yakin.


Setelah itu mereka berdua sama-sama diam karena mendengar suara langkah kaki Adira yang berjalan mendekat ke arah mereka.


" Silahkan di minum Mas Rendra. " Adira meletakkan satu cangkir teh manis hangat di atas meja.


" Terima kasih Adira. " Rendra menjawab sambil tersenyum dan secara refleks Adira pun ikut tersenyum juga.


" Ehem, Ehem Adira duduk di sini dulu sebentar ada yang ingin saya bicarakan? " ujar Hani berbicara dengan ekspresi wajah yang serius.


Adira langsung salah tingkah karena ketahuan tersenyum dengan anak majikannya.

__ADS_1


__ADS_2