
Setelah semua pekerjaannya selesai, Adira menuruti permintaan Hani untuk menemaninya hingga sore hari. Hani banyak bercerita dan Adira selalu menjadi pendengar yang baik tanpa mencela ataupun menghakimi.
Dan Hani sangat menyukai itu, Hani yang pada dasarnya tipe orang yang banyak bicara tentu saja merasa sangat senang saat ada orang yang mau mendengarkan ceritanya apalagi memberikan masukan yang positif untuk dirinya.
Dalam segi ilmu bisnis mungkin Hani jauh lebih unggul dari Adira, tapi dalam segi ilmu keagamaan tentu saja Adira jauh lebih unggul daripada Hani, karena selama ini Hani terlalu larut dalam dunia kerja hingga dia melupakan sang penciptanya.
" Jadi menurut kamu untuk saat ini apa yang harus saya lakukan untuk mengisi waktu luang saya ini Adira? " ujar Hani bertanya sembari menatap wajah Adira dengan serius.
" Kalau menurut Adira tidak ada salahnya Ibu mulai mendekatkan diri dengan Allah SWT dimulai dari sholat, mengaji dan jika bisa Ibu mulai ikut menghadiri pengajian yang ada di sekitaran sini, karena dekat dengan Allah SWT membuat hati kita jauh lebih tenang, tentram dan insyaAllah kita akan dijauhkan dari segala penyakit hati yang akan merugikan diri kita sendiri. " jawab Adira dengan tutur kata yang lembut.
" Tapi apa Allah SWT masih mau menerima sholat saya Adira? sementara selama ini saya tidak pernah menjalankannya karena saya terlalu sibuk dengan urusan duniawi. " tutur Hani.
" Ibu jangan khawatir Allah SWT itu maha pengasih lagi maha penyayang dan Allah SWT selalu membuka pintu maaf yang selebar-lebarnya untuk setiap hambanya yang ingin bertaubat dan kembali mendekatkan diri padanya. " Papar Adira menjelaskan.
" Tapi saya malu Adira di usia saya yang sudah paruh baya ini saya malah baru mau bertobat. " ujar Hani dengan sedih.
Adira langsung tersenyum menenangkan lalu memegang kedua tangan Hani.
" Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali Bu, coba deh Ibu mulai 1 minggu ini aja Adira yakin Ibu pasti akan merasa jauh lebih tenang, jauh lebih damai dan Adira juga yakin Ibu tidak akan lagi merasa kesepian. " ujar Adira.
" Baiklah saya akan mencobanya Adira, dan saya harap kamu mau membantu dan mau membimbing saya terus. " pinta Hani.
" Ibu jangan khawatir insyaAllah Adira siap membantu Ibu kapan saja. " jawab Adira membuat Hani langsung mengembangkan senyumnya.
" Oh iya Bu sebelumnya Adira minta maaf ya? sebentar lagi kan adzan Ashar jadi Adira mau pamit pulang dulu karena Adira harus memasak untuk suami dan ibu mertua. " ucap Adira meminta izin.
" Ya sudah Adira tidak apa-apa kamu hati-hati ya di jalan? Oh iya kamu ke sini naik apa? " sahut Hani bertanya
" Iya Bu, kebetulan Adira jalan kaki karena rumah Adira tidak terlalu jauh dari sini. " jawab Adira.
__ADS_1
" Jalan kaki? Memangnya rumah kamu dimana Adira? " tanya Hani yang sedikit terkejut.
" Rumah Adira di perempatan dekat toko buah sana Bu. " jawab Adira dengan jujur.
" Astaga itukan lumayan jauh Adira! Kenapa kamu tidak naik kendaraan saja? " sahut Hani.
" Di rumah cuma ada motor Bu, dan itu pun di pakai suami kerja lagi pula jalan kaki kan jauh lebih sehat sekalian olahraga. " tutur Adira tersenyum.
" Astaga kamu ini, Apa perlu saya sediakan motor untuk kamu pergi dan pulang kerja? " tawar Hani.
" Tidak perlu Bu, Adira lebih suka jalan kaki. " tolak Adira secara halus karena dia tidak mau merepotkan majikannya barunya.
" Ya sudah tidak apa-apa, tapi jika kamu berubah pikiran kamu katakan saja pada saya. " ucap Hani lagi.
" Iya Bu terima kasih atas perhatiannya, kalau begitu Adira permisi Assalamualaikum. " pamit Adira sekali lagi.
" Wa'alaikumsalam. " sahut Hani.
" Sore pak Joko Adira pulang dulu ya? " pamit Adira saat Joko sedang membukakan pintu pagar untuknya.
" Oh iya Mbak Adira hati-hati di jalan ya? " sahut Joko mengingatkan.
" Iya Pak Joko, mari. " ucap Adira dan Joko pun mengangguk.
Setelah itu Adira segera melangkahkan kakinya keluar dari rumah Hani. Sepanjang jalan menuju ke rumahnya Adira terus mengembangkan senyumnya saat mengingat dirinya yang saat ini sudah sangat dengan majikannya padahal ini adalah hari pertamanya bekerja.
" Adira gak nyangka bisa dekat secepat ini dengan Bu Hani? Ternyata Bu Hani itu orang yang sangat baik sekali. " gumam Adira sambil senyum-senyum sendiri.
" InsyaAllah sepertinya Adira bakal betah kerja di sana. " gumam Adira lagi.
__ADS_1
Adira terus melangkahkan kakinya, hingga tepat saat adzan Ashar berkumandang Adira sudah menginjakkan kakinya di teras rumah Ibu mertuanya.
" Assalamualaikum. " ucap Adira sambil membuka pintu lalu masuk ke dalam.
Saat sudah berada di dalam, rumah dalam keadaan sunyi dan sepi seperti tidak ada orang sama sekali.
" Ibu ke mana ya kok sepi? apa mungkin Ibu pergi? tapi kalau pergi kenapa pintu depan tidak dikunci? " ucap Adira bertanya pada dirinya sendiri.
Karena adzan Ashar sudah selesai berkumandang Adira langsung masuk ke kamar tidurnya, lalu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai membersihkan diri Adira segera melaksanakan kewajibannya kepada sang penciptanya barulah setelah itu Adira keluar dari dalam kamarnya.
Saat keluar dari dalam kamar Andira mendengar suara Ibu mertuanya yang sedang berbicara di teras rumah bersama seorang wanita. Adira yang penasaran melangkahkan kakinya menuju ke teras dan ingin melihat dengan siapa Ibu mertuanya berbicara.
Saat membuka pintu depan Adira melihat Ibu mertuanya yang sedang berbicara dengan seorang wanita cantik bertubuh seksi dan memakai pakaian kurang bahan serta serba ketat.
" Tante itu siapa? " ujar wanita itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Aura yang sedang berkunjung ke rumah Nuryati.
Nuryati yang terlalu fokus berbicara dengan Aura sampai tidak sadar jika Adira sudah berdiri di tengah ambang pintu. Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Aura, Nuryati langsung memutar arah pandang matanya menjadi menatap Adira.
" Sudah pulang kamu ternyata, buruan masak yang enak sana, sekarang! " titah Nuryati dengan galak.
" Tante memangnya dia siapa? " tanya Aura sekali lagi.
" Oh dia itu Adira asisten rumah tangga di rumah ini. " jawab Nuryati yang mengenalkan Adira sebagai asisten rumah tangganya bukan sebagai menantunya.
" Asisten rumah tangga kok cantik banget sih tante? nanti dia godain calon suami aku lagi ya. " ucap Aura dengan manjanya.
Adira yang tadinya tidak berekspresi apapun langsung menatap bingung ke arah Ibu mertuanya saat mendengar ucapan Aura.
" Kamu tenang aja dia nggak akan mungkin berani menggoda David, karena David cocoknya memang hanya denganmu bukan dengan yang lain. " tutur Nuryati yang berbicara dengan sangat lembut pada Aura, namun matanya menatap tajam ke arah Adira.
__ADS_1
Adira syok dan kaget saat mendengar Nuryati yang berbicara dengan sangat lembut pada Aura, dan yang membuat Adira lebih syok dan lebih kaget lagi saat Nuryati berkata jika David hanya cocok dengan wanita itu.
" Udah ngapain diam di situ kayak patung lebih baik kamu ke dapur dan masak sekarang. " titah Nuryati dengan suara yang lebih meninggikan.