
Bi Leha bingung harus berbuat apa tatkala Bunda Najah memintanya untuk mencari orang yang bersedia mewarisi ilmu hitam miliknya. Selain butuh waktu, sulit menyari orang yang bersedia. Padahal bunda Najah memiliki keluarga besar yang tersebar di beberapa pelosok desa di kecamatan, namun mustahil bagi mereka untuk menjadi penerus ilmu kuyang itu.
"Ada-ada aja, Najah! Kamu kira semudah mencari asisten rumah tangga, mana ada orang yang mau begituan!" celetuk Bi Leha.
"Targetmu cari wanita-wanita yang bermasalah dengan suaminya, rumah tangganya yang gak harmonis!" ucap bunda Najah memberi saran.
"Gak semudah itu, mereka mungkin akan berpikir beribu-ribu kali untuk mewarisi ilmu milikmu!" Bi Leha tidak yakin.
"Usahakan ada yang bersedia!" pinta bunda Najah memelas.
Bi Leha benar-benar dalam dilema, ia menerima tugas berat yang tak pernah ia bayangkan selama ini. Mau tidak mau, ia tak tega dengan kondisi sahabatnya yang makin memburuk.
******
"Ceraikan aku bang! Antar aku pulang kerumah ibuku, aku gak mau di madu!" Ucap Siti.
"Aku masih menyayangimu, dek! Percayalah aku juga terpaksa menikahi gadis itu karena dia anak yatim piatu!" Ucap Fuad beralasan.
"Apa hubungannya dengan statusnya yang yatim piatu?" Siti kesal dengan alasan Fuad.
"Aku kasihan padanya!" Ungkap Fuad.
"Alasan, bilang aja kamu kepincut gadis itu karena masih muda!" Siti tak mau dengar alasan Fuad.
"Terserah, pokoknya aku gak mau cerai!" Fuad emosi, ia keluar rumah sambil membanting pintu sangat keras.
Siti mengikutinya dari belakang sambil menangis dan melempari apa yang ada didekatnya. Kebetulan Bi Leha lewat didekat rumah mereka dan mendengar semua pertengkaran kedua suami istri itu, iapun menghampiri Siti yang kebetulan berada di teras rumahnya.
"Maaf, tadi aku dengar kalian ribut-ribut! Gak baik di dengar tetangga, nak! Mendingan cari solusi agar masalah kalian bisa diatasi!" ucap Bi Leha menasihati Siti.
"Aku gak tahan, Bi Leha! Suamiku nikah lagi, dia gak mikir, anak udah dua belum bisa ngasih nafkah dengan benar, rumah juga masih ngontrak, dia malah kepincut sama daun muda lagi!" ucap Siti memelas.
"Aku ada solusinya!" ucap Bi Leha.
"Solusi bagaimana, Bi?" tanya Siti penasaran.
"Kamu ikut aku sekarang juga!" ajak Bi Leha.
"Sekarang udah malam, Bi! Gimana kalo besok pagi?!" tanya Siti sedikit agak ceria mendengar Bi Leha yang akan membantunya mencari solusi.
"Baiklah, sekarang kamu gak usah pikirin suamimu, yang penting kamu fokus jaga anak-anak!" kata Bi Leha menasihati.
"Iya, Bi! Anak-anakku yang paling penting!" ucap Siti.
"Aku pulang dulu, besok pagi aku jemput kamu!" Bi Leha pamit pulang.
__ADS_1
"Baik, Bi! Aku tunggu besok!"
Bi Leha merasa lega karena menemukan seseorang yang mungkin sesuai dengan target yang diinginkan Bunda Najah, tapi ia belum yakin jika Siti bersedia mewaris ilmu hitam tersebut. Selain itu, Bi Leha merasa bersalah jika Siti benar-benar menerima untuk mengganti posisi Bunda Najah, berarti dia bersekutu dengan bunda Najah dan iblis dalam perbuatan maksiat. Disisi lain, ia tak tega dengan kondisi sahabatnya yang memprihatinkan.
"Bodohnya aku, benarkah aku tega menjerumuskan wanita gak berdosa itu kedalam kehidupan yang makin kelam!" gumam Bi Leha dalam hati.
Bi Leha jadi ragu, ia tak bisa tidur memikirkan misi yang diberikan sahabat untuknya.
"Leha, ini gak benar! Kamu harus mencegah bukan menjerumuskan! Tapi Leha, apa kau gak kasihan sama sahabatmu? Toh kamu cuma ngasih solusi sama Siti, bukan memaksanya. Kalo dia bersedia atas kemauannya sendiri, itu bukan salahmu!" suara hati Bi Leha sedang berdebat.
Semalaman suntuk Bi Leha tak mampu memejamkan matanya, ayam mulai berkokok, sebentar lagi siang.
Bi Leha terlelap sesaat setelah semalaman tak bisa memejamkan mata, hari sudah siang, mentari menyiramkan sinarnya yang kemilau. Bi Leha bersiap pergi menjemput Siti untuk membawanya kerumah Bunda Najah. Jarak rumah mereka tidak terlalu jauh, masih sejurusan dan bisa ditempuh dengan jalan kaki.
Siti sudah siap menunggu jemputan, ia duduk di terasnya sambil mengantar anak-anaknya pergi sekolah.
"Hati-hati nak, jangan berantem sama teman ya!" Pesan Siti melepas anak-anaknya pergi.
"Iya ma! Jawab anak-anaknya bersamaan sambil salaman dan pergi.
Siti menatap sedih kearah kedua anak-anaknya yang masih bersekolah di sekolah dasar, ia memikirkan bagaimana nasib mereka kedepannya nanti. Bi Leha datang menghampirinya.
"Mari ikut aku?!" Ajak Bi Leha.
"Ayo, Bi! Aku udah siap!" Sahut Siti bersemangat.
Keduanya sudah tiba dirumah bunda Najah, Siti nampak kaget, meski dia pendatang didesa itu tapi sedikit banyaknya mengetahui tentang seluk beluk siapa bunda Najah.
"Siti, mari masuk?!" Ajak Bi Leha seraya mengetuk pintu rumah bunda Najah. "Laraaa, buka pintu!"
"Bi, ngapain kita kemari?" tanya Siti bengong.
"Udah, nanti aku jelasin didalam!" jawab Bi Leha tak mau banyak bicara.
Siti nampak enggan masuk, Bi Leha menarik lengannya saat Lara membukakan pintu untuk mereka.
"Silakan masuk!" ucap Lara tersenyum kecil, ia memandang kearah Siti.
"Terima kasih!" ucap Bi Leha seraya masuk bersama Siti.
"Apakah wanita ini yang akan menolong bunda?!" Bisik Lara dalam hati.
Bi Leha berjalan menuntun lengan Siti menuju kamar Bunda Najah.
"Bi Leha, silakan kedalam, aku kedapur dulu ya!?" ucap Lara disertai anggukan Bi Leha.
__ADS_1
Lara kedapur menyiapkan minuman untuk kedua tamu mertuanya, muncul berbagai pertanyaan dalam benaknya setelah melihat Siti.
"Apa dia bersedia menjadi 'kuyang'?! Kalo iya, kasian banget, nasibnya akan seburuk kuyang-kuyang sebelumnya, tapi bunda akan terlepas dari belenggu itu!" Lara bertanya-tanya dalam hati, ia mulai tak karuan. Tak bisa membayangkan jika dirinya berada di posisi sang mertua.
Didalam kamar, Bi Leha memperkenalkan Siti pada bunda Najah. Lara masuk membawa nampan berisi teh hangat dan gorengan.
"Silakan diminum!" ucap Lara mempersilakan.
"Wah kebetulan belum sarapan!" ucap Bi Leha seraya mengajak Siti sarapan "Siti ayo di minum teh hangatnya!"
"Iya Bi, makasih!" Siti masih gugup.
"Silakan diminum tehnya dan cicipi gorengan buatan Lara, dia pintar masak dan enak!" puji Bunda Najah.
"Bunda bisa aja!" ucap Lara tersipu.
Siti gemetar, Lara dapat merasakan apa yang dirasakan Siti, ia pernah dalam posisi dimana ia baru mengetahui siapa sebenarnya sosok sang mertua.
"Pasti Siti gak karuan berhadapan dengan sosok yang sering jadi perbincangan warga" Lara bergumam dalam hati.
Bi Leha maklum dengan sikap Siti, ia juga cemas misinya gagal, dan kemana lagi harus mencari wanita yang bersedia menggantikan posisi Bunda Najah.
"Jadi gini, aku gak sengaja dengar Siti bertengkar sama suaminya, dia minta cerai karena suaminya beristri lagi, tapi aku kasian sama Siti dan berusaha ngasih dia solusi, jadi kuajak dia kemari!" ucap Bi Leha panjang lebar.
"Senangnya aku kalo dia bersedia membantuku!" ucap bunda Najah penuh harapan.
"Siti, kamu lihat keadaan bunda Najah! Kasian banget, udah berbulan-bulan gak bisa jalan. Kalo kamu pengen memperbaiki hubunganmu dengan suamimu, mungkin beliau bisa bantu!" Bi Leha mulai membuka pembicaraan utama.
"Apa yang harus aku lakukan, Bi?" tanya Siti.
"Najah, kamu bisa jelasin langsung sama dia!" Bi Leha menyuruh Bunda Najah menjelaskannya sendiri.
"Nak Siti, kamu udah lihat gimana kondisiku, sekarang aku mau 'pensiun', aku berharap kamu mau menggantikan posisiku! Aku yakin setelah kamu menggantikanku, suamimu gak akan bisa berpaling darimu! Soalnya aku udah buktiin sendiri." Bunda Najah menjelaskan secara detail.
"Apakah gak beresiko, bund?" tanya Siti cemas.
"Segala yang kita lakuin pasti ada resikonya! Tapi namanya berjuang, resiko apapun pasti kita terima, ya gak?" ucap Bunda Najah balik bertanya.
"Aku gak bisa memutuskannya sekarang, bund! Aku butuh waktu!" ucap Siti.
"Aku akan kasih kamu pesangon, perhiasan, dan jaminan hidup, kamu bisa pilih lahan mana aja yang kamu mau!" ucap bunda Najah menawarkan imbalan yang menggiurkan.
"Keputusannya ada ditanganmu, Siti! Kebahagiaan rumah tangga adalah segalanya, dan kita wajib memperjuangkannya dengan usaha!" tukas Bi Leha meyakinkan.
Siti diam, nampaknya ia sedang mempertimbangkan tawaran kerjasama dari bunda Najah, Lara mengikuti perbincangan mereka dari tadi. Batinnya menjerit, tak ingin ia berada di posisi Siti, sejak itu Lara dihantui kecemasan.
__ADS_1
Bi Leha dan Siti pamit pulang, Siti berjanji akan memberikan jawaban setelah mempertimbangkannya matang-matang. Lara mengantar mereka sampai kedepan pintu.