MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 52. Dianggap Sakit Jiwa


__ADS_3

Keadaan Lara makin memburuk, apalagi setelah kembali dari rumah Pak Mantir. Berbagai makhluk ghaib ia lihat dengan wujud aneh dan mengerikan, yang selalu mengikutinya kemanapun dia pergi, bahkan ia merasa di kejar binatang buas. Kondisi tak karuan, sehari sehat dua hari tergeletak tak sadarkan diri, tubuhnya menjadi kurus karena tidak makan secara teratur. Fadli tak bisa menjaganya sepanjang waktu, ia terpaksa membayar orang untuk menjaga Lara dan Nada selama ia berkerja.


Suatu siang, Lara kehausan dan berjalan kedapur untuk mengambil air minum dengan tenaga yang tak seberapa kuat. Sebelum sampai di dapur, ia melihat banyak sekali orang-orang di ruang makan, tapi yang ia lihat bukan manusia, melainkan makhluk-makhluk tak kasat mata dengan berbagai bentuk dan jenis yang sangat mengerikan. Rasa hausnya seketika lenyap saat melihat makhluk-makhluk ghaib tersebut, mereka mulai mendekati Lara dengan tangan berkuku panjang dan lancip siap untuk mencengkramnya. Lara secepatnya berbalik pergi keruang depan, brukkkkk... tubuh Lara ambruk menabrak Mbak Mina yang menjaganya.


"Bu, ibu kenapa?" Tanya mbak Mina.


"Mbak, di belakangku ada banyak sekali.. " Ucap Lara tak sanggup melanjutkan ucapannya.


"Banyak apa, bu?" Tanya mbak Mina memegang bahu Lara. "Bu, bu!" Ucap mbak Mina tersenyum menyeringai.


"Ti..tidaaaaaak! Jangan ganggu aku, pergi kau makhluk laknat!" Lara terperanjat karena mbak Mina di dekatnya berubah menjadi makhluk mengerikan dengan mulut menganga siap untuk menerkamnya.


Lara menunduk pasrah, karena persendiannya lemah dan tak kuasa berdiri apalagi berlari.


"Bu, bu, bu!!!" Mbak Mina mengguncang-guncang bahu Lara.


Lara mendongak, ia melihat sosok mbak Mina asli, tapi ia sulit percaya antara mbak Mina sebenarnya atau iblis tadi yang menyamar. Lara jatuh pingsan, mbak Mina yang baru saja datang segera memapahnya dan membawanya ke kamar.


"Bu, bu, ibu mau apa?" Tanya mbak Mina menepuk-nepuk pipi Lara pelan.


Lara perlahan membuka matanya, dan sesaat menatap mbak Mina memastikan apakah dia manusia atau iblis. Wajah mbak Mina tidak berubah, berarti dia benar-benar mbak Mina yang sebenarnya.


"Haus!" Ucap Lara pelan, tenggorokannya kering karena kehausan.


"Tunggu sebentar, aku ambil air putih!" Ucap mbak Mina pergi kedapur.


Beberapa menit kemudian, mbak Mina muncul membawa sebuah jug berisi air putih dan sebuah gelas minum.


"Bu, ini aku bawa jug penuh berisi air minum, biar ibu tidak repot ke dapur jika kehausan!" Ucap mbak Mina seraya menuang air putih kedalam gelas dan menyerahkannya pada Lara.

__ADS_1


Mbak Mina membantu Lara mengambil gelas air minum dari tangannya, kemudian Lara mereguknya perlahan, tapi tiba-tiba air minum berubah menjadi darah bercampur nanah dan penuh dengan belatung. Lara muntah seketika, kepalanya pening dan berputar. Tak sengaja pandangannya tertuju ke atas plafon, ia melihat sosok makhluk menyeramkan berbentuk buaya menempel di plafon, kepalanya mendongak kebawah tepat kewajah Lara, lidahnya yang panjang menjulur-julur ingin menyantap Lara.


Jantung Lara berdegup kencang, napasnya tersengal-sengal seperti sedang berlari kencang, sekujur tubuhnya basah bermandikan keringat dingin, matanya terbelalak ketakutan.


"Bu, ibu, ibu? Ada apa lagi, bu? Apakah ibu melihat sesuatu?" Tanya mbak Mina pelanga pelongo keatas plafon yang tidak ada apa-apa disana.


Lara menunjuk keatas plafon tanpa ucapan sepatah katapun, namun tubuhnya menggigil ketakutan. Hanya Lara yang bisa melihat keanehan tersebut, sementara mbak Mina tidak melihat apa-apa, tapi dapat merasakan energi buruk di sekitarnya.


"Ibu ini pasti terkena guna-guna!" Gumam mbak Mina dalam hati.


Lara masih menggigil ketakutan, sesekali menjerit histeris, sedangkan mbak Mina tak tahu harus berbuat apa selain menunggu kedatangan Fadli.


"Bu, sebentar lagi Bapak datang, ibu jangan takut, ya?!" Ucap mbak Mina berusaha menenangkan Lara.


Ucapan mbak Mina benar, Fadli datang saat itu juga, Lara mulai tenang melihat kedatangan Fadli.


"Mbak Mina, ibu baik-baik saja?!" Tanya Fadli bergegas menghampiri Lara dan membantunya membenarkan bantal untuk duduk bersandar.


"Baik, terima kasih sudah menjaga mereka!" Ucap Fadli.


"Kalau begitu, saya boleh pulang?" Tanya mbak Mina.


"Iya, boleh! Besok datang lagi ya!?" Ucap Fadli.


"Baik, Pak. Permisi!" Mbak Mina pamit pulang.


Mbak Mina pulang setelah tugasnya selesai menjaga Lara dan Nada. Fadli tak sabar untuk menemui Pak Mantir, karena keadaan Lara makin hari makin mengkhawatirkan, sebagian orang mengiranya memiliki gangguan jiwa. Bahkan ada tetangga yang menyarankan Fadli untuk mengantarnya ke Rumah Sakit Jiwa, tapi Fadli tak menghiraukan saran mereka, karena ia tahu Lara tidak memiliki riwayat sakit jiwa, sakit yang dialaminya sekarang karena guna-guna. Bagi orang awam tak akan percaya Lara di guna-guna, mereka menilainya mengalami depresi berat, sering dikaitkan stress karena Fadli menikah lagi.


...*****...

__ADS_1


Setelah beberapa hari di desa, Pak Hamdan pamit pulang pada Bi Leha, ia bersyukur Bi Leha sudah tidak marah lagi.


"Aku pulang dulu, tolong titip Najah, terima kasih kau sudah merawatnya dengan sepenuh hati!" Ucap Pak Hamdan.


"Hati-hati dijalan, aku selalu ikhlas merawatnya, dia sudah kuanggap seperti adikku sendiri!" Balas Bi Leha.


"Fadila, ayo salim pada Bi Leha!" Perintah Pak Hamdan pada Fadila.


Fadila menurut, ia menyalimi tangan Bi Leha yang sudah keriput, usianya kurang lebih dengan ayahnya.


"Hati-hati dijalan, ya!" Pesan Bi Leha.


Fadila mengangguk, kemudian masuk kedalam mobil disusul ayahnya. Perlahan mobilnya keluar dari pekarangan dan meluncur ke jalan, dan menghilang dari pandangan.


"Akhirnya bisa pulang juga!" Gumam Fadila gembira.


"Kau tak boleh begitu, bagaimanapun juga ini rumah Bapak, dan wanita itu ibu sambungmu!" Tegas Pak Hamdan.


"Tapi, Pa! Rumah Papa sangat mengerikan, aura angker begitu terasa di dalamnya, aku merasa seolah berada di puri tua berhantu seperti di film-film itu!" Ucap Fadila.


"Kau terlalu banyak menonton cerita horor!" Celetuk Pak Hamdan. "Ayo fokus menyetir!"


"Baik, Pak!" Fadila menurut, ia kembali fokus menyetir mobilnya menuju kota.


Mobil melaju dengan cepat di jalan raya, Pak Hamdan teringat kembali dengan keadaan istri pertamanya, Bunda Najah. Pak Hamdan berpikir keras kemana harus mengobatinya, agar bisa sembuh seperti sedia kala. Tapi yang ia tahu, seorang kuyang tak akan mungkin bisa mati meski dalam keadaan sekarat, kecuali mewariskan ilmu kuyang tersebut pada orang lain, sama hal nya dengan pesugihan yang baru saja ia wariskan pada Raji, sepupu dari istrinya yang kedua, Bu Intan.


"Ah seandainya ada yang bersedia mewarisi ilmu hitam milik Najah, kemana aku harus mencari orang seperti Raji yang mau mewarisi ilmu itu? Aku rela menyerahkan beberapa petak ladang dan kebun untuk orang yang bersedia menjadi pewaris ilmu kuyang milik Najah!" Gumam Pak Hamdan dalam hati.


"Pa, urusan Papa sudah selesai di kampung? Atau Papa akan kembali lagi?" Tanya Fadila membuyarkan lamunan Pak Hamdan.

__ADS_1


"Belum, nak! Masih banyak urusan yang belum beres!" Jawab Pak Hamdan.


"Kenapa Bunda Najah tidak di rawat di rumah sakit, Pa? Kasihan harus di semen dan di cor, memangnya beliau bisa kabur kalau tidak di cor?" Tanya Fadila begitu polosnya, karena ia tak tahu hal yang sebenarnya di alami oleh istri pertama ayahnya itu.


__ADS_2