MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 61. Arwah Penasaran


__ADS_3

"Iful, bagaimana bisa kau tiba-tiba berada di atas atap?" Tanya Pak Lurah yang turut prihatin pada Iful.


"Ceritakan apa yang kau alami, Ful!" Pinta warga serempak.


Bu Diah mengangguk, setuju dengan permintaan warga, Bi Leha muncul mrmbawa segelas air minum untuk menenangkan Iful yang tersengal-sengal seperti habis berlari dari jarak jauh.


"Tadi malam aku.. !" Iful mulai bercerita dari awal ia berada di depan rumah Bunda Najah, kemudian menceritakan apa yang dilihatnya tadi malam, serta apa saja yang di lakukan oleh sosok misterius tanpa wajah yang tiba-tiba berubah menjadi tinggi dan besar. Semua yang mendengar antara percaya dan tidak, tapi nyatanya Iful dari malam berada di atas atap rumah.


"Sangat tidak masuk akal!" Ucap Pak Lurah.


"Ful, kau tidak salah lihat? Sebagian orang pasti mengiramu sedang merekayasa, tepatnya mendongeng!" Ucap warga.


"Aku tak memaksa kalian untuk percaya atau tidak, tapi semua yang kuceritakan adalah apa yang kualami tadi malam tanpa mengurangi dan melebihi!" Sahut Iful membela diri.


"Terus kau melihat dia pergi kemana?" Tanya Bi Leha.


"Aku tak tahu kemana, Bi! Karena aku sudah tak sadarkan diri dan ketika aku sadar, hari sudah siang sementara aku tergeletak di atas rumah kalian!" Jelas Iful.


"Apa yang dia lakukan sebelum menggenggam lehermu?" Tanya Bi Leha penasaran.


"Berdiri tegak disitu menghadap ke jalan, dan aku sedang lewat tepat di jalan tersebut!" Jawab Ifan sembari menunjuk ke pekarangan tempat di mana sosok misterius tadi malam berdiri.


"Bi Leha tidak mendengar apa-apa tadi malam?" Tanya Pak Lurah.


"Tidak ada, Pak! Sepertinya aku sudah tidur saat itu!" Jawab Bi Leha.


"Bunda Najah sedang apa waktu itu?" Pak Lurah kembali bertanya.


"Najah seperti biasa terbaring di tempatnya dengan sekapan semen yang di cor, kurasa dia tidak bisa melakukan apa-apa meski semen cor itu di lepas. Hanya lehernya saja yang bergerak menggeleng kekiri kekanan!" Bi Leha menjelaskan secara lengkap.


"Hmmm, lantas sosok apa yang muncul tadi malam?!" Ucap Pak RT bertanya pada dirinya sendiri.


"Mungkin penunggu hutan belakang rumah Bunda Najah!" Ucap salah seorang warga.


"Bisa saja! Sepertinya desa kita selalu diributkan dengan hal-hal yang tak masuk akal, beberapa waktu lalu kita digegerkan oleh orang bunuh diri. Sekarang makhluk misterius yang meresahkan, apakah kita harus mengadakan hajatan untuk membersihkan desa kita dari gangguan makhluk-makhluk ghaib, Pak Lurah?!" Tanya warga.

__ADS_1


"Hmmm, saran yang baik, akan kudiskusikan dengan tokoh-tokoh masyarakat! Sebaiknya larang warga keluar malam diatas jam sembilan." Jawab Pak Lurah sambil memperingati warganya.


"Apakah itu bukan menjadi kesempatan pencuri untuk beraksi di saat warga semua berada dirumah?!" Tanya warga yang lain agak keberatan.


"Itu yang jadi pikiranku! Nanti aku diskusikan lebih dahulu bersama tokoh-tokoh masyarakat, kemudian hasil diskusi dan solusi akan kita pikirkan baik-baik!" Ucap Pak Lurah. "Iful sekarang baik-baik saja?"


Iful mengangguk meski nampak linglung.


"Bu Diah, lebih baik bawa Iful pulang kerumah dan istirahat biar tenaganya pulih kembali!" Ucap Pak Lurah.


"Baik, Pak! Kami segera pulang." Sahut Bu Diah sembari bangkit dari duduk dan membantu Ifan berjalan.


Bu Diah dan Ifan pulang kerumahnya, sementara Pak Lurah dan beberapa warga masih berada di teras rumah Bunda Najah.


"Bolehkah aku menjenguk, Bunda Najah?!" Tanya Pak Lurah minta izin pada Bi Leha.


"Silakan, silakan masuk!" Ucap Bi Leha sambil mempersilakan Pak Lurah dan bersama beberapa orang warga masuk ke dalam rumah.


...*****...


"Tak usah membahas hal itu, Ful! Sekarang kau tidak boleh keluar malam! Ibu takut makhluk itu mengincarmu, dan mengganggumu seperti tadi malam. Ibu khawatir dia akan memangsa atau menjadikanmu sebagai tumbal, karena warga sering bercerita bahwa keluarga Bunda Najah memiliki berbagai macam ilmu hitam, tiap ilmu memiliki peliharaan sendiri, jin!" Ucap Bu Diah panjang lebar.


"Apakah mereka akan mengorbankan warga desa untuk pesugihan dan ilmu hitam mereka?" Tanya Iful penasaran.


"Ibu kurang tahu, tapi ibu yakin tak jauh-jauh dari semua itu. Jangankan warga, bahkan anak mereka sendiri pun dibuat sebagai tumbal harta kekayaan mereka!" Celutuk Bu Diah tak suka.


"Sangat mengerikan!" Ucap Iful yang nampak trauma dengan kejadian tadi malam.


"Ibu mau masak dulu, mulai sekarang kau harus hati-hati, jangan lupa berdoa kalau ingin tidur dan melakukan apapun!" Ucap Bu Diah sembari pergi menuju dapur untuk membuat makan siang.


Iful merasa kelelahan sejak kejadian tadi malam, bayangan makhluk tanpa wajah tersebut masih menari-nari di kedua belah matanya. Iful merasa dirinya tidak aman, tapi karena lelah dan mengantuk, ia pun tertidur pulas dengan cepat. Perasaan Bu Diah tidak enak, sesekali ia menengok kondisi Iful di kamar, ia khawatir terjadi sesuatu putranya.


...*****...


"Kondisi Bunda Najah benar-benar memprihatinkan, terbaring lemah, tubuh di semen cor, hanya tinggal kepala beliau saja yang mampu bergerak!" Ucap Pak Lurah setelah melihat keadaan Bunda Najah.

__ADS_1


"Ya, begitulah setiap harinya!" Balas Bi Leha.


"Apakah beliau makan dengan teratur?!" Tanya Pak Lurah.


"Iya, bahkan melebihi menu orang normal!" Jawab Bi Leha.


"Berarti hanya tubuhnya saja yang tidak berfungsi, tapi organ dalamnya tetap normal?!" Ucap Pak Lurah kebingungan.


"Kalau ilmu medis mengatakan, tidak terdektesi adanya penyakit, tapi Najah seperti orang sakit puluhan tahun!" Ujar Bi Leha.


"Ini efek ilmu hitam kuyang yang dimiliki beliau! Harusnya diwariskan pada orang lain!" Pak Lurah bergumam.


"Memang seharusnya begitu! Tapi..!" Belum sempat Bi Leha menjelaskan lebih lanjut, tiba-tiba datang seorang warga membawa Pak Sepuh. Bi Leha menyambut kedatangan mereka dan mempersilakan mereka duduk. "Silakan duduk!"


"Terima kasih!" Pak Sepuh yang sudah membungkuk itu duduk di sebuah sofa di ruang tengah, Pak Lurah dan warga duduk menemani beliau.


"Apakah Pak Sepuh sudah mendengar cerita tadi malam?" Tanya Pak Lurah.


Pak Sepuh mengangguk, beliau terdiam sejenak seraya menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya.


"Pak Sepuh bisa mengenali makhluk apakah yang mengganggu warga tadi malam?" Pak Lurah bertanya bertubi-tubi.


"Iya!" Jawab beliau singkat.


"Makhluk apa? Jin? Hantu?" Tanya Pak Lurah mulai bersemangat membahas kejadian tadi malam.


"Seseorang yang mati karena penasaran!" Jawab Pak Sepuh.


Jawaban Pak Sepuh membuat Pak Lurah, Bi Leha dan warga yang ada disitu tercengang.


"Maksudnya bagaimana, Pak? Mati karena penasaran seperti apa?" Tanya Pak Lurah.


"Arwah yang mati karena dibunuh, disiksa, kecelakaan, dan menjadi tumbal!" Jawab Pak Sepuh makin membuat mereka tegang dan penasaran.


"Kenapa bisa ada disini? Setahuku selama ini tidak ada warga yang mati penasaran baik kecelakaan, atau dibunuh!" Ucap Pak Lurah.

__ADS_1


"Aku akan mencari tahu arwah siapa yang mengganggu anak muda tadi malam!" Jawab Pak Sepuh sembari berdiri dan minta antar pulang pada salah seorang warga.


__ADS_2