MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 36. Gangguan Makhluk Kiriman


__ADS_3

Kabar menggemparkan di desa tempat tinggal Fadli terdengar sampai ketelinga Lara dan keluarganya, karena desa mereka tidak terlalu jauh, hanya dipisahkan lahan-lahan persawahan milik warga.


"Tapi dengan bunuh diri, dia bisa terbebas dari belenggu ilmu hitam miliknya!" Ucap Bi Ratih.


"Sama saja tidak menguntungkan baginya!" Balas Mama Hanum.


"Tentu saja, seperti kata pepatah 'dimakan mati bapak, tidak dimakan mati emak'. Sangat menyedihkan!" Bi Ratih menyesalkan.


"Yang aku khawatirkan sekarang, kondisi Najah yang tak kunjung sembuh! Aku takut Lara iba padanya dan bersedia mewarisi ilmu hitam kuyang itu!" Ucap Mama Hanum cemas.


"Ah mustahil, kurasa Lara tak berpikir sejauh itu! Apalagi dia tahu bagaimana resiko menjadi kuyang!" Sanggah Bi Ratih.


"Hati manusia tak ada yang tahu?!" Timpal Mama Hanum.


Dua kakak beradik tersebut asyik mengobrol sambil memasak untuk makan malam, dapur mereka bersebalahan, dan keduanya duduk diserambi dapur yang menyambung antara rumah yang satu kerumah yang lain.


"Tidaaaaaaaaak!!!" Tiba-tiba Lara berteriak histeris didalam kamarnya.


Mama Hanum dan Bi Ratih bergergas berlari kekamar untuk memastikan keadaan Lara dan bayinya.


"Ada apa nak? Kenapa kau berteriak?!" Tanya Mama Hanum sambil mengelus-ngelus rambut Lara.


Lara diam tak berbicara sedikitpun, matanya melotot menatap keatas lemari. Diluar mulai gelap, orang-orang baru saja keluar dari surau setelah selesai shalat Maghrib.


"Lara?!" Bi Ratih memanggil Lara yang sepertinya berada dialam bawah sadarnya.


Nada tidur pulas disamping Lara, biasanya Nada menangis ketika mendengar suara gaduh disekitarnya, kali ini si bayi tersebut tertidur tenang.


"Lara, Lara, Lara!!!" Mama Hanum mengguncang-guncang tubuh Lara.


Bi Ratih bergegas pergi kedapur, tak lama setelahnya datang membawa semangkuk air, Bi Ratih kemudian memercikkan air kewajah Lara agar Lara sadarkan diri.


"Ma, ada sosok berambut putih terurai kedepan menutupi wajahnya, tapi matanya sangat nampak sedang menatapku dengan marah!" Tiba-tiba Lara berbicara.


"Dimana? Mama tidak melihat apapun!" Ucap Mama Hanum.

__ADS_1


"Diatas lemari! Lihat, dia duduk menghadapku, kakinya menjuntai!" Ucap Lara memberitahu sambil menunjuk keatas lemari.


Mama Hanum dan Bi Leha serentak melihat kearah lemari, tak ada siapa-siapa. Hanya Lara yang bisa melihat makhluk tersebut, Lara menggigil ketakutan, ia berteriak-teriak seolah makhluk itu mendekatinya.


"Pergiiiiii, jangan dekati aku!" Benar saja, Lara melihat makhluk mendekat kearahnya.


Warga yang baru keluar dari surau, berdatangan kerumah Lara karena teriakannya yang sangat keras. Berhubung rumah Lara sangat dekat dengan jalan, sehingga warga mendengar teriakannya.


"Apa yang terjadi?!" Ketuk seorang warga didepan.


Bi Ratih berjalan kedepan dan membuka pintu.


"Lara diganggu lagi!" Jawab Bi Ratih.


"Apakah hanya ilusinya karena sering mengalami gangguan makhluk-makhluk tak kasat mata?" Tanya seorang warga.


"Entahlah, dia sering kali berteriak histeris akhir-akhir ini!" Jawab Bi Ratih.


"Coba panggil Pak Haji Arsyad!" Perintah seorang warga yang baru saja keluar dari surau.


Lara makin berteriak saat melihat Pak Haji Arsyad masuk kekamarnya bersama beberapa warga.


"Jangan masuk, pergi kalian!" Usir Lara dengan suara berat.


"Dia kerasukan!" Ucap Pak Haji Arsyad singkat.


"Palasik?" Tanya Bi Ratih.


Mama Hanum cemas menunggu jawaban Pak Haji Arsyad.


"Bukan, makhluk tak kasat mata kiriman dari seseorang!" Jawab Pak Haji Arsyad sambil komat kamit membaca doa.


Mama Hanum dan Bi Ratih saling pandang.


"Pergi dari raga anak ini, jangan ganggu dia!" Perintah Pak Haji Arsyad.

__ADS_1


Lara tak berucap apa-apa, ia hanya melotot kearah Pak Haji Arsyad.


"Ini bukan kafasitasku, sebaiknya kalian mencari orang pintar yang bisa menyembuhkan gangguan makhluk ghaib!" Tegas Pak Haji Arsyad pada Mama Hanum dan Bi Ratih.


"Kami akan melaksanakannya, Pak Haji!" Ucap Bi Ratih mewakili Mama Hanum yang panik.


"Sekarang ambil segelas air putih, aku akan berusaha menenangkan anakmu untuk sementara!" Ucap Pak Haji Arsyad.


Mama Hanum bergegas kedapur, beberapa menit kemudian dia kembali membawa segelas air putih dan menyerahkannya pada Pak Haji Arsyad.


"Bismillaah rahmaan rahiim... ." Pak Haji Arsyad mulai membaca doa sambil memegang gelas berisi air putih. "Berikan air ini padanya, sebagian untuk diminum, dan sebagian lagi untuk cuci muka!"


"Baiklah Pak Haji!" Ucap Mama Hanum seraya meraih gelas berisi air putih yang ditawar oleh Pak Haji Arsyad.


Mama Hanum menghampiri Lara dan menahan tubuhnya dari belakang agar duduk tegak, kemudian ia meminta Lara untuk minum air penawar tersebut. Lara tak bergeming, Bi Ratih membantu Mama Hanum agar Lara menenggak air putih tersebut.


Pak Haji Arsyad dan warga pamit karena adzan Isya sudah berkumandang, mereka kembali ke surau untuk melaksanakan shalat fardhu Isya berjamaah.


Lara mulai sadar setelah meminum air putih yang sudah ditawar oleh Pak Haji Arsyad. Mama Hanum memintanya untuk mencuci muka dengan air putih yang tersisa.


Lara beranjak dari ranjang, ia pergi menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Meski Lara sadar, ia merasa seluruh tubuhnya sangat sakit dan nyeri seperti ditusuk-tusuk. Lara meringis menahan rasa sakit yang terkadang muncul tak menentu.


Diluar terdengar suara mobil Fadli yang sedang berhenti, tak lama kemudian Fadli masuk kedalam rumah.


"Kalian sehat-sehat saja?" Sapa Fadli pada Lara dan keluarga yang masih berada dikamar Lara.


Mama Hanum menceritakan semua yang dialami Lara mulai mandi ruat, kabar buruk Lara disantet, dan gangguan makhluk kiriman yang baru saja dialaminya sekarang. Fadli sangat prihatin pada Lara, ia ingin sekali bertegur sapa dengannya seperti sedia kala, apalagi disaat seperti ini Lara membutuhkan pendamping yang bisa menguatkannya.


"Lara, berhentilah marah padaku! Jika kau tidak mau mema'afkanku, aku tak akan memaksamu, tapi jangan diam seperti ini terus menerus!" Pinta Fadli seraya duduk disamping Lara.


Mama Hanum dan Bi Leha sengaja pamit keluar dari kamar, mereka tak mau mengganggu Lara dan Fadli yang baru bertemu. Fadli perlahan membujuk Lara agar berhenti merajuk.


"Aku ingin membantumu sembuh dari penyakit ini, kau harus kuat, tidak boleh terpuruk, kita pasti bisa melawan santet itu! Aku akan selalu ada disampingmu!"


Lara tak menjawab, tapi tak terduga sama sekali ia menyandarkan kepalanya dibahu Fadli, air matanya meleleh, Lara terisak kecil, sebenarnya a telah lama merindukan Fadli, namun emosinya selalu mengalahkannya. Tapi tidak untuk kali ini, Lara mulai berhenti marah pada Fadli, ia menerima kedatangan Fadli dengan hangat tidak seperti biasanya. Meski tanpa sepatah katapun, tapi reaksi Lara dapat dirasakan Fadli bahwa ia tidak marah lagi.

__ADS_1


__ADS_2