MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 21. Pesugihan


__ADS_3

Sudah hampir dua bulan Lara belum kembali kerumah Fadli, dan Bunda Najah pun tak kunjung sembuh, Lara tiba-tiba kasihan dengan Bi Leha yang senantiasa sabar merawat sahabatnya disaat Lara tidak disana.


Lara berembuk dengan ibu dan keluarganya, ia memutuskan kembali kerumah suaminya meski dirinya belum bisa memaafkan pengkhianatan yang telah Fadli lakukan.


"Menurutku lebih baik kamu gak usah balik, kamu mau jadi kuyang?" ucap Bi Ratih ketus.


"Bi, Lara masih menantu dirumah itu, dan Nada butuh ayah dan keluarganya!" kilah Lara.


"Buat apa keluarga kuyang dipertahankan? Toh ayah ibumu masih sanggup menafkahi kalian!" Bi Ratih tak setuju Lara kembali kerumah suaminya. "Hanum, kamu gak ngelarang anakmu?" tanyanya pada Mama Hanum.


"Aku sih terserah Lara, udah kunasihati tapi kembali lagi pada dirinya! Dia yang tau gimana jalanin hidupnya!" jelas Mama Hanum pasrah.


"Maafkan aku, Bi, Mah! Aku harus kembali mempertahankan rumah tanggaku!"


Lara bersikeras untuk kembali kerumah Fadli, keluarganya tak bisa melarangnya meski enggan dengan keputusan yang dibuat Lara. Mereka sangat menyangkan keputusan Lara tersebut. Fadli datang menjemput Lara dan putrinya pulang, setelah berpamitan, Fadli kemudian menggendong putrinya yang baru berusia dua bulan itu menuju Mobil sambil membukakan pintu Mobil untuk Lara. Sesaat kemudian mereka sudah tiba dirumah mewah dan besar milik keluarga besar bunda Najah.


"Kenapa kamu bawa anak dan istrimu kemari?" tanya Bi Leha setibanya Lara dan Fadli dirumah.


"Kenapa, Bi?" tanya Fadi heran.


"Keadaan Najah gak kondusif, aku takut setan yang ada dalam jiwanya melonjak saat tahu kedatangan bayi ini, ntar digangguin!" Bi Leha menjelaskan.


"Bi, harusnya gimana lagi ngatasin bunda? Aku udah gak kuat melihat keadaan beliau!" Fadli memelas.


"Kita bicarain nanti! Aku lagi mikirin siapa yang mau mewaris ilmu hitam Najah ini!?" Bi Leha kalut. "Kamu gak lihat? Ibumu hanya tulang terbungkus kulit yang menyedihkan, kamu tega melihatnya hampir dua tahun dalam keadaan begini?" cerca Bi Leha.


"Bi aku titip istri dan anakku, aku harus kembali kekota, tugasku gak bisa ditinggalkan!" Fadli pamit buru-buru sembari mencium Nada.

__ADS_1


Lara berdiri dari tadi, ia tak bergeming meski tahu Fadli harus pergi, keharmonisan rumah tangganya dulu telah sirna sama sekali, apalagi setelah tahu istri kedua Fadli tengah mengandung.


"Kebutuhan kalian akan kupenuhi, ntar aku kirim uang lewat wesel (dulu belum ada mbanking) tiap setengah bulan sekali. Mungkin aku bakal jarang pulang, tugas dan kesibukanku makin banyak akhir-akhir ini!" ucap Fadli beralasan.


"Kamu fokus urus Shinta aja! Kami disini gak perlu diurus!" Lara langsung terbakar cemburu, ia tak bisa membendung amarahnya hingga terpaksa berucap ketus pada Fadli.


Fadli memilih diam, karena ia tahu dirinya salah, dan percuma melawan berdebat dengan Lara, karena Lara sudah sangat membencinya. Fadli pergi, Lara membiarkannya berlalu begitu saja. Bi Leha tak ambil pusing, beliau seolah tak peduli dengan pertengkaran Fadli dan Lara.


*****


Malam gelap telah menggantikan sang siang, bayi Lara yang masih berusia dua bulan menangis tak henti-hentinya seolah melihat sesuatu, matanya memandang tak berkedip kearah atap rumah.


"Udah kubilang jangan bawa orok kemari, rentan diganggu dedemit, Najah masih memiliki kekuatan meski gak berdaya seperti itu!" sesal Bi Leha sambil geleng-geleng kepala.


"Bi Leha, jangan ngomong gitu, jadi takut nih!" seru Lara gemetar seraya menepuk-nepuk bayinya supaya diam.


"Bi, kamu gak nakut-nakuti aku kan?" tanya Lara terkejut.


"Buat apa aku nakut-nakutin? Aku bisa liat begituan, tapi aku malas bahasnya dari awal, Najah aja sering merangkak dengan rambut terbalik dan suka nempel ke tembok meski dalam kondisi begini! Kamu aja polos banget gak tau apa-apa!" jelas Bi Leha membuat Lara bergidik ketakutan.


"Bi, Nada makin kejer, gimana nih?! Gak mungkin juga aku balik kerumah orang tuaku malam-malam begini!" keluh Lara.


"Tenang, baca bacaan yang kamu hafal! Jangan jauh-jauh dari bayimu! Makhluk ini memang disini udah lama semenjak Najah sakit, aku gak tau Najah punya ilmu hitam apa aja selain ilmu kuyang, tapi ini kayaknya pesugihan." ucap Bi Leha sambil komat kamit membaca doa agar makhluk mengerikan tersebut pergi.


Tapi makhluk itu betah mengganggu bayi Lara sampai adzan subuh, sang bayi berhenti menangis seiring lantunan adzan berkumandang. Lara lega melihat Nada berhenti menangis.


"Apakah kamu bisa tenang tinggal dirumah ini? Kamu sendirian masih mending, tapi kasihan bayi kecil!" Bi Leha iba pada Nada yang terlihat lelah setelah semalaman menangis tak henti-hentinya.

__ADS_1


"Bi, sebaiknya aku pulang aja kerumah orang tuaku!? Tapi apa Bi Leha gak keberatan disini merawat Bunda Najah?!" tanya Lara minta pendapat.


"Sebenarnya aku udah lelah dengan kondisi seperti ini, tapi Najah sahabatku dari kecil, mau gak mau aku harus mengorbankan kebebasanku dengan merawatnya, aku ikhlas kok, lagian kamu juga terpaksa harus ninggalin! Pulanglah, biar bayi kamu aman!" Perintah Bi Leha.


"Makasih banyak yang gak bisa terucapkan, Bi Leha benar-benar sangat berjass bagi kami! Nanti aku bilangin Fadli buat ngisi keperluan dapur, dan ngasih uang saku buat Bibik!" ucap Lara terharu.


"Kamu kayak sama orang asing aja! Bentar ya aku panggilin Yusuf untuk nganter kamu! Kalo gak berani disini, ayo kita keluar duduk diteras nunggu jemputan!" Bi Leha mengajak Lara keluar.


Lara memang merasa beda dirumah mertuanya sejak kedatangannya kemaren, ia berpikir mungkin karena dirinya membawa bayi yang masih merah, karena wanginya sangat harum bagi makhluk-makhluk astral yang tak kasat mata.


Tengkuk Lara terasa berat, entah karena kurang tidur atau hal lain, tapi Lara tak terlalu mempermasalahkannya, ia hanya ingin cepat-cepat pulang kerumah orang tuanya.


"Lara, sebentar lagi Yusuf nganter kamu! Tunggu disini, gak usah masuk kedalam!" saran Bi Leha.


Beberapa menit kemudian, Yusuf muncul dengan Mobil pick up nya, "Ayo berangkat?!" tanya Yusuf.


"Iya ini antar Lara pulang ya! Ada penumpang lain?" tanya Bi Leha sembari menengok kebelakang.


"Gak ada Bi, cuma sayur mayur buat diantar ketengkulak!" jawab Yusuf.


"Ya udah, biar Lara duduk didepan sama bayinya ya!?" ucap Bi Leha seraya bertanya.


"Oh iya iya silakan, silakan!" balas Yusuf pemuda seumuran Fadil, adik ipar Lara.


"Terima kasih!" ucap Lara sembari masuk kedalam Mobil dibantu Bi Leha.


Akhirnya Lara pulang kerumah orang tuanya karena khawatir akan bayinya yang diganggu oleh dedemit dan makhluk tak kasat mata.

__ADS_1


__ADS_2