
"Bu, sebaiknya kau turun ke desa, mungkin nanti Fadli atau orang lain datang membawa kabar duka!" Saran Pak Burhan pada Mama Hanum, istrinya.
"Baiklah, kami segera pulang!" Jawab Mama Hanum menurut.
"Aku carikan mobil pick up yang bisa turun gunung hari ini juga!" Ucap Pak Burhan.
"Jangan lewat kota, kami tidak terbiasa lewat jalur itu, dan aku tak mengenal medan perjalanan. Ambil jalur ke hulu, aku hafal dengan alur jalan disitu!" Pinta Mama Hanum jera mengingat kejadian tadi malam saat di serang Kuyang Sandah.
"Baiklah, akan kubicarakan dengan supir!" Sela Pak Burhan seraya beranjak dari duduk. "Mari kita kerumah sebentar?" Ajaknya pada Mama Hanum.
"Mari!" Mama Hanum mengikuti Pak Burhan, begitu pula Bi Ratih.
Mereka bertiga berpamitan pada Pak Apong, setelah beberapa saat berjalan di jalan setapak yang dikelilingi rerimbunan tumbuhan ilalang, mereka akhirnya tiba di sebuah rumah berpagar kayu jati yang tinggi menjulang, tak seorang pun bisa melihat aktifitas yang empu rumah kerjakan di dalam sana.
"Warga mampir kesini?" Tanya Mama Hanum.
"Tidak ada, mereka tahu aku orang yang sangat tertutup, kalaupun mereka ingin membeli hasil kebun, mereka memilih datang menemuiku di kebun!" Balas Pak Burhan.
"Bagus kalau begitu! Tak ada yang berhak masuk kelingkungan rumah ini!" Tukas Mama Hanum.
"Apakah warga lupa dengan kejadian pembantaian puluhan tahun lalu?" Bi Ratih bertanya.
"Mereka tak menyadari disini terjadi pembantaian, karena rumah mereka tersembunyi di balik pagar kayu jati yang kokoh dan tinggi ini! Mereka mengira pemilik rumah dan lahan berhektar-hektar ini telah meninggalkannya kekota dan mempercayakan aset kekayaan mereka padaku!" Jelas Pak Burhan sangat optimis.
"Kau hebat, Burhan! Lara tidak boleh tahu hal ini, kalau tidak dia akan menuntut kita semua!" Seru Bi Ratih.
Pak Burhan bangga, merasa dirinya telah berhasil mengelabui warga sepedalaman di gunung, ia sangat yakin sebentar lagi harta keluarga Lara akan berpindah kepemilikan kepadanya tanpa ada yang bisa mengganggu gugat.
"Sebentar lagi putri semata wayangmu akan berganti nama menjadi almarhumah." Pak Burhan terkekeh sambil masuk kedalam pekarangan rumah yang berpagar kayu jati tinggi dan kokoh.
__ADS_1
Mama Hanum ikut terkekeh senang, ia turut masuk kedalam pekarangan rumah, Bi Ratih berjalan disampingnya.
"Lama sekali kita tidak berkunjung kesini!" Seru Bi Ratih sambil menghirup udara sejuk di dalam pekarangan yang di hiasi pohon-pohon bambu kuning disekeliling pekarangan.
Pak Burhan dan Mama Hanum duduk di tangga rumah adat Malaris yang identik di didiami bersama oleh beberapa keluarga.
Source: Langgar.co
Seperti inilah kira-kira rumah yang ditempati keluarga Lara dahulu, tapi ini versi baru, kalau versi lamanya lebih agak jadul.
"Mengapa keluarga Lara menempati rumah adat dayak Meratus? Sebenarnya asal usul mereka dari keluarga apa?" Tanya Bi Ratih tiba-tiba.
"Tidak tahu pasti, warga pedalamanpun tidak begitu mengenal dari mana asal-usul mereka, warga mengenal mereka hanya sebagai petani dan peternak sukses, serta juragan tanah paling banyak dan disegani di lingkungan sini!" Tutur Pak Burhan.
Kalian bod0h pak, bu! Mereka itu keturunan kesultanan, bangsawan berdarah biru yang memiliki garis keturunan raja-raja, sengaja datang kepedalaman untuk bercocok tanam dan menyamar jadi keluarga biasa-biasa saja!!! Malah kalian begal, ntar kualat. Author jadi tepuk jidat.
"Maksudmu kekayaan hasil merompak?! Tapi sekarang kita hidup di zaman serba hukum, apakah peraturan kerajaan yang kau sebut masih berlaku?" Tanya Bi Ratih sedikit agak gelisah.
"Masih berlaku asal tak ada seorangpun yang tahu!" Timpal Mama Hanum.
"Waktu kalian memb3gal mereka, apakah tak ada orang yang menyaksikan kejadian tragis itu?" Bi Ratih menyelidik.
"Tidak ada selain bayi terkutvk Lara yang dipungut saudaramu! Aku sendiri yang membanta1 seluruh keluarga mereka, disini mereka tinggal bersama tiga keluarga dan anak-anak mereka, sepertinya mereka terdiri dari tiga bersaudara! Tapi dulu aku ada melihat dua bayi perempuan di buaian, yang satu dibawa oleh Hanum tapi satunya lagi entah kemana, ketika aku memastikannya lagi, bayi itu sudah tidak ada!" Ungkap Pak Burhan yang selama ini tidak pernah diceritakannya pada Mama Hanum dan yang lainnya.
"Kau jangan ceroboh! Jangan-jangan ada yang melihat perbuatan kita?!" Tanya Mama Hanum terbelalak.
"Ada, beberapa warga yang menjadi orang bayaran!" Balas Pak Burhan.
__ADS_1
"Apakah sekarang mereka masih hidup?" Mama Hanum kembali bertanya dengan mimik wajah terkejut.
"Sebagian sudah meninggal, sisa dua orang masih hidup di ujung kampung sini!" Pak Burhan menjelaskan.
"Apakah mereka tidak membocorkan rahasia ini?" Mama Hanum mulai ketar-ketir.
"Selama ini mereka tidak mengungkit masalah itu!" Jawab Pak Burhan santai.
"Ini tidak bisa dibiarkan! Aku tak yakin mereka akan tutup mulut selamanya!" Mama Hanum gelisah.
"Jangan main-main dengan masalah besar seperti ini!" Bi Ratih mengingatkan.
Mama Hanum geleng-geleng kepala, ia kemudian penasaran dimana kini keberadaan bayi perempuan yang disebut suaminya tadi, apakah masih hidup atau sudah tiada?!
"Heeeh, kenapa Burhan tidak menceritakan perihal bayi perempuan selain Lara sejak dulu!" Sesal Mama Hanum.
Lantas siapakah bayi perempuan tersebut? Dan dimanakah keberadaannya kini?
...****************...
Pak Mantir sudah berhenti dari semedinya, ia bangkit ingin memeriksa kondisi Lara. Fadli menghampiri beliau dan segera menceritakan apa saja yang ia saksikan ketika Pak Mantir sedang khusyuk bersemedi.
Dari sekian banyak perihal yang diceritakan Fadli, Pak Mantir tercengang mendengar cerita tentang bola berwarna perak yang menggelinding dari langit dengan cahayanya yang kemilau. Dirinya merasa tidak memiliki kekuatan seperti itu yang dapat mengantisipasi bola api setelah masuk ke raga korban santet, apalagi jika raga sang korban sudah berwarna merah bara api.
Pak Mantir termenung mencerna semua cerita yang diceritakan oleh Fadli, ia mulai menelisik silsilah keturunan Lara yang lahir dari garis keturunan kesultanan Banjar dan bangsawan berdarah biru.
"Siapakah kira-kira yang datang menolongnya tadi malam?" Pak Mantir manggut-manggut sambil berpikir keras.
Lara tertidur pulas di kamar karena semalaman bergadang dan melakukan meditasi yang menguras seluruh tenaganya yang tak seberapa, Fadli lega melihatnya bisa tidur dengan nyenyak.
__ADS_1
"Apakah Pak Mantir dapat pencerahan tentang siapa yang menolong istriku tadi malam? Aku malah mengira itu kekuatan yang bapak kirim untuk melawan bola api tersebut." Fadli menduga.
"Bukan, itu bukan kekuatan dariku, istrimu sebenarnya wanita yang hebat, seandainya dia manusia normal seperti kebanyakan korban santet lainnya, tak mungkin bisa bertahan sampai tahap ini, karena santet yang dikirim Apong bukan sembarangan, tapi santet Cuca Peruntus yang paling berbahaya dan mematikan. Aku akan mempelajari tentang kejadian tadi malam, bisa jadi kekuatan itu dari garis nenekmu atau leluhur istrimu sendiri." Pak Mantir berjanji akan menemukan teka-teki yang belum terungkap.