
Pak Sholeh menyambangi Fadli dan Lara yang berjalan menuju rumah beliau, kebetulan hari itu tidak ada pasien satupun yang datang untuk konsultasi.
"Silakan masuk, Nak!" Ajak Pak Sholeh.
"Terima kasih, Pak!" Sahut Fadli dan Lara bersamaan.
"Ayo duduk!" Pak Sholeh mempersilakan mereka duduk. "Aku tidak melihat mereka semakin banyak mengikuti kalian!" Tutur Pak Sholeh.
"Dan mereka menggangu Lara tiap saat, Pak! Lara tidak bisa beraktifitas secara leluasa! Ada apa lagi, Pak?" Tanya Fadli mengadu pada Pak Sholeh.
"Apa yang sedang dirasakan istrimu beberapa hari ini?" Tanya Pak Sholeh.
"Ceritakan langsung!" Fadli menyuruh Lara menceritakan apa yang dirasakan dan dialaminya akhir-akhir ini.
"Pak, aku selalu merasa mual ingin muntah dan pusing, tubuhku sempoyongan jika aku berjalan. Dan tadi malam aku muntah darah!" Tutur Lara menceritakan.
"Hmmm, tahukah kalian? Itu efek dari ritual dukun santet yang mengirim Parang Maya. Mereka ingin menyiksamu terlebih dahulu sebelum membinsakanmu!" Ujar Pak Sholeh menjelaskan.
"Tapi apa salahku, Pak?! Mengapa mereka sedemikian bencinya padaku!?" Ucap Lara terisak.
"Terkadang Parang Maya ini dikirim karena kebencian dan iri dengki, tapi kadang karena kekuasaan dan kekayaan!" Jawab Pak Sholeh.
"Tapi aku tidak punya musuh dan saingan, Pak! Dan aku juga dari keluarga sederhana, bukan kaya raya!" Tukas Lara.
"Kadang kala kita tidak tahu apa yang orang lain ketahui tentang diri kita sendiri, mungki kau punya kelebihan tersendiri! Beberapa hari lalu mereka menggantung jiwamu diatas pohon Kariwaya yang besar dan angker melalui sarana boneka, tujuannya agar kau selalu merasa pusing dan mual, selain itu mereka mengisi boneka itu dengan paku, jarum dan pisau silet. Sehingga kau merasa sekujur tubuhmu sakit, nyeri dan perih. Selanjutnya mereka membakar fotomu bersama darah ayam hitam cemani, agar kau muntah darah!" Pak Sholeh memberitahu panjang lebar.
"Apakah semua itu benar?" Tanya Fadli terkejut, sementara Lara tak bisa berkata apa-apa mendengar penjelasan Pak Sholeh.
"Itu yang aku lihat!" Ucap Pak Sholeh singkat.
"Baik, aku percaya pada Bapak! Aku minta tolong bapak bersedia memberitahu kami siapa mereka yang tega melakukan hal itu?" Fadli mendesak Pak Sholeh.
"Aku akan memberitahu siapa mereka, tapi kau tidak boleh bersikap gegabah! Hadapi apapun yang terjadi dengan akal pikiran yang jernih! Jangan sampai menyakiti fisik mereka, nanti kau sendiri yang menyesal. Kalau menyakiti dengan santet, tidak ada hukum yang bisa mengadilinya. Tapi jika kau menyakiti mereka secara fisik, kau akan dihukum, karena kita berada dinegara hukum. Pikirkan baik-baik, apa kau sanggup untuk tidak bertindak gegabah?!" Pak Sholeh masih tak yakin untuk membeberkan siapa pelaku pengirim santet itu.
"Pak, percayalah aku tak akan bertindak gegabah!" Fadli meyakinkan Pak Sholeh.
Lara sesenggukan meratapi nasibnya yang sangat malang.
"Pelaku pengirim santet Parang Maya ini dua orang wanita! Aku tak bisa melanjutkan ciri-ciri mereka, karena akan memicu emosimu!"
__ADS_1
Lara dan Fadli saling pandang saat Pak Sholeh memberitahu pelaku pengirim santet itu. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, keduanya mulai menduga dan menerka-nerka pelaku yang sangat keji itu.
"Pasti Shinta dan keluarganya, aku yakin! Lara tidak memiliki saingan dikampungnya, begitu pula dikampungku, dia baik dan sopan, warga juga sangat menghormati Lara." Gumam Fadli dalam hati penuh emosi.
"Siapakah kedua wanita itu? Kurasa selama ini aku tidak memiliki musuh!" Ucap Lara pada Fadli.
"Eee, nanti kita bahas hal ini!" Fadli gelagapan karena terkejut ketika Lara bertanya padanya dengan tiba-tiba.
"Sudah kukatakan, kalian tak perlu tahu lebih jauh. Karena hanya akan membuat amarah kalian terpicu, sebaiknya fokus untuk melenyapkan santet itu!" Pak Sholeh melarang mereka untuk mengetahui siapa dibalik semua ini.
Fadli menghembuskan napas kasar, "Baik, Pak! Kami akan berusaha untuk mengontrol emosi, agar tidak bertindak gegabah!" Fadli berjanji.
"Begini, kau harus menyediakan empat puluh satu macam kue tradisional, kemudian sedekahkan pada warga! Ini salah satu cara untuk menghalau makhluk-makhluk ghaib agar menjauh, tidak menjauh secara permanen. Tapi demi membuat pembatas, setidaknya untuk beberapa hari kedepan." Pak Sholeh memberi sebuah syarat yang harus dilakukan.
"Baik, Pak! Kurasa kami tidak bisa melaksanakannya ditempat kami, sebaiknya laksanakan disini saja!" Fadli meminta pendapat.
"Jika kau ingin melaksanakannya disini, kau bisa mencari kue-kue itu dipasar tradisional! Dan kau bisa memberikannya pada warga disekitar sini sekaligus dibacakan doa tolak bala!" Ujar Pak Sholeh. "Ingat, empat puluh satu macam kue, kau bisa membeli satu biji dalam setiap jenis kue!" Beliau mewanti-wanti Fadli.
"Baik, Pak! Sekarang kami pergi kepasar tradisional!" Fadli dan Lara berpamitan.
Pak Sholeh mengangguk, Fadli dan Lara segera pergi kepasar.
...*****...
"Mereka pergi kemana?" Tanya Bi Ratih pada Mama Hanum.
"Fadli membawa Lara berobat ke dokter spesialis!" Jawab Mama Hanum.
"Kau tidak diajak?" Bi Ratih kembali bertanya.
"Fadli melarangku ikut, karena banyak pasien yang datang, lagi pula lebih baik dirumah menjaga Nada, kasihan kalau Nada ikut, nanti dia sakit!" Jawab Mama Hanum beralasan.
"Oh, baguslah kalau begitu!" Angguk Bi Ratih. "Apakah Lara tidak diganggu lagi?" Tanyanya kemudian.
"Malam itu, dia melihatku seperti wujud iblis. Tadi malam, dia muntah darah! Dan hari ini Fadli membawanya berobat." Mama Hanum menjelaskan.
"Hari demi hari Lara makin tersiksa, apakah bisa disembuhkan?" Tanya Bi Ratih.
"Menurutku, kalau penyembuhan dengan medis, tidak akan terdeteksi!" Ucap Mama Hanum datar.
__ADS_1
"Apakah kau tidak menyarankan untuk berobat pada orang pintar?" Bi Ratih bertanya lagi.
"Mereka lebih tahu dari kita, tapi kurasa mereka lebih memilih pengobatan dari dokter!" Mama Hanum menduga-duga.
"Begitulah anak muda jaman sekarang, mereka tidak peduli dengan adat orang-orang dulu. Kita lihat nanti bagaimana akhirnya!?" Bi Ratih berlalu pergi kerumahnya.
Mama Hanum masih kerasan duduk diteras bersama Nada, karena siang itu udara sangat sejuk meski matahari bersinar cerah.
...*****...
Sementara ditempat lain, Fadli dan Lara sudah kembali dari pasar tradisional membawa berbagai macam kue sesuai yang dikatakan Pak Sholeh. Kedua suami istri itu tidak segera masuk kerumah Pak Sholeh, melainkan Pak Sholeh ikut bersama mereka kesalah satu rumah warga.
Tak berapa lama, mereka sudah tiba dirumah warga tersebut, disana banyak warga berkumpul, ada yang menganyam daun kelapa untuk dijadikan ketupat, ada yang mengikat sayur mayur untuk dijual ke pasar agrobisnis subuh nanti, ada yang cuma duduk-duduk sambil berbincang-bincang, dan ada pula yang sekedar membawa anak mereka bermain ditempat itu.
"Ayo kemari, disini tempat berkumpul warga, mereka akan senang mendapat cemilan dari kalian. Disana ada warung teh, kau bisa membeli minum untuk teman makan kue ini!" Pak Sholeh menunjuk sebuah warung teh yang terletak diseberang rumah itu.
Fadli mengangguk, iapun pergi ke warung teh tersebut sembari memesan teh dan minuman untuk dibagikan pada warga.
"Kakek Sholeh datang!!!" Seru beberapa orang anak kecil, mereka berlari menghampiri Pak Sholeh, karena mereka tahu kedatangan beliau pasti untuk hajatan dari pasien.
"Ayo duduk yang pintar, jangan ribut ya?!" Ucap Pak Sholeh menenangkan mereka.
Lara tersenyum kearah warga yang kebanyakannya perempuan, warga membalas senyum Lara. Pak Sholeh menjelaskan maksud kedatangan mereka, warga tersenyum senang. Fadli datang bersama pemilik warung membawa minuman dan teh dalam sebuah teko besar dari besi. Hajatanpun dimulai, Pak Sholeh memimpin mereka membaca Surah Yasin, dan do'a selamat serta tolak bala. Lara terharu dengan suasana itu, ia tak pernah mengalami perasaan yang menyentuh seperti hari ini. Matanya perlahan mengeluarkan butiran-butiran bening dari telaganya, Fadli mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan memberikannya pada Lara.
"Silakan dicicipi!" Ucap Pak Sholeh setelah selesai berdoa.
Beberapa orang warga mulai membagi-bagikan kue dan teh pada setiap orang yang ada disitu.
"Tolong do'akan untuk kesembuhan saudara kita ini, dia sedang sakit!" Ujar Pak Sholeh meminta do'a untuk Lara.
"Iya, Pak! Semoga saudara kita sehat wal'afiat dan sembuh seperti sedia kala!" Jawab salah seorang warga mewakili warga lainnya.
Pak Sholeh berpamitan, begitupula Fadli dan Lara. Warga berterima kasih pada Fadli dan Lara terutama Pak Sholeh yang telah membuat mereka senang hari itu. Setelah berpamitan, mereka kembali kerumah Pak Sholeh untuk berkonsultasi hal berikutnya.
Mobil Fadli meluncur menuju rumah Pak Sholeh yang lumayan jauh dari rumah warga tadi.
"Nak, sebagian warga tadi orang-orang dari suku Dayak, mereka tahu bahwa istrimu terkena Parang Maya. Dan respon mereka sangat bahagia saat kalian mengantar makanan, biasanya target santet Parang Maya akan selamat dari bahaya." Ucap Pak Sholeh memberitahu.
"Alhamdulillah!!!" Sebut Fadli dan Lara berbarengan dengan mata berbinar penuh harapan.
__ADS_1