
Makan siang berjalan dengan lancar, mereka semua menikmati hidangan dengan suka cita, berbeda dengan Mama Hanum dan Bi Ratih yang dilanda kegelisahan, mereka tak bisa menikmati hidangan dengan seksama karena pikiran mereka dipenuhi rasa penasaran melihat kondisi Lara yang baik-baik saja bahkan tidak ada tanda sakit sekalipun.
"Ma, aku buatkan teh ya!? Biar tidak begah!" Lara pamit kedapur, Mama Hanum mengangguk seraya tersenyum dibuat-buat.
Mbak Mina membersihkan meja makan kemudian mengantar piring-piring bekas kedapur.
"Hanum, kita menginap disini?" Tanya Bi Ratih pelan.
"Tidak, kita pulang sekarang juga sebelum malam, aku ingin naik keatas!" Jawab Mama Hanum berapi-api.
"Naik keatas sekarang? Apakah ada mobil yang membawa kita kesana? Sekarang bukan hari Selasa, tidak ada transfortasi yang bersedia naik keatas" Tanya Bi Ratih.
"Naik ojek, apapun itu! Pokoknya kita pulang sekarang juga, dan langsung naik keatas!" Kilah Mama Hanum bersikeras, ia memutuskan untuk naik keatas, maksudnya naik keatas gunung dipedalaman untuk menemui pak tua yang menyantet Lara.
"Ceritakan pada suamimu terlebih dahulu, baru kita menemui pak tua!" Saran Bi Ratih.
"Iya, dia pasti terkejut dengan kabar ini!" Ucap Mama Hanum dengan wajah kusut.
"Aku tak habis pikir.. ." Bi Ratih terhenti bicara karena Lara datang membawa nampan berisi teh manis yang hangat dan masih mengepulkan asapnya.
"Ma, Bi silakan di minum! Abang? Mau minum teh?" Seru Lara pada Fadli yang ada di dapur.
"Iyaaa!" Balas Fadli turut berseru.
Lara menuang teh kedalam cangkir kosong untuk Fadli.
"Nak, Mama tak bisa berlama-lama disini, setelah minum teh kami akan segera kembali!" Tutur Mama Hanum tergesa-gesa.
"Kenapa pulang sekarang, Ma? Baru beberapa jam, sebaiknya menginap disini, besok saja pulang!" Tahan Lara berpura-pura, padahal ia tahu orang tua palsunya sedang tidak karuan rasa melihat keadaannya yang segar bugar.
"Tidak ada yang jaga rumah, nak! Ivan juga didesa sebelah di acara pernikahan temannya!" Sanggah Mama Hanum beralasan.
"Iya, nak! Kita khawatir terjadi sesuatu jika tidak ada seorangpun yang ada di rumah!" Timpal Bi Ratih meyakinkan Lara.
"Mama kira kau ikut pulang, makanya Mama sengaja datang hari ini!" Tukas Mama Hanum memasang wajah dengan mimik seolah kecewa.
__ADS_1
Lara tahu sandiwara tersebut, iapun berpura-pura merengek, "Ma, sebaiknya batalkan rencana Mama! Lara masih ingin bersama Mama disini!" Lara berakting dengan sepenuh hati dan totalitas, sehingga kedua wanita paruh baya didepannya tak menyadari bahwa Lara juga bersandiwara dengan mereka.
"Lain kali saja, nak! Jika keadaan memungkinkan, kami akan datang kembali dan menginap disini!" Ucap Mama Hanum beralasan.
"Hanum benar, lain kali saja, nak!" Sambung Bi Ratih.
Kedua wanita yang dianggap Lara sebagai keluarganya itu bersiap untuk pulang setelah menyeruput teh hangat yang ia suguhkan.
"Biasanya menjelang petang banyak mobil Colt yang kembali!" Ucap Fadli datang dari dapur.
"Iya nak, oleh karena itu kami ingin secepatnya ke depan komplek menunggu mobil Colt tersebut!" Jawab Mama Hanum basa-basi.
"Nanti aku antar kedepan komplek!" Ucap Fadli.
Mama Hanum dan Bi Ratih mengangguk sembari membenarkan pakaian mereka.
"Aku ikut kedepan!" Ucap Lara. "Sebentar, aku ganti baju!"
"Jangan lama-lama!" Pesan Fadli.
Setelah beberapa menit, Lara muncul dan sudah siap untuk mengantar orang tua palsunya kedepan. Fadli mengajak mereka masuk kedalam mobil, tak lama kemudian mereka sudah sampai di depan komplek menunggu mobil Colt yang mudik kehulu sungai.
Benak Mama Hanum masih tak karuan, ia ingin cepat-cepat meninggalkan tempat itu dan menemui suaminya di gunung di pedalaman sana. Beberapa waktu menunggu, akhirnya mobil Colt muncul, Fadli menghentikan mobil tersebut dan berdiskusi sebentar pada supir memintanya untuk mengantar mertua dan saudaranya pulang. Setelah selesai diskusi, kedua wanita paruh baya tersebut bergegas naik ke mobil Colt kemudian berpamitan pada Lara. Tak menunggu lama, mobil colt itu telah membawa mereka pulang kembali ke kampung.
Lara menceritakan kejadian dari awal kedatangan Mama Hanum dan Bi Ratih, Fadli tertawa terbahak-bahak.
"Abang? Baru kali ini abang tertawa seperti ini!" Ucap Lara terharu, karena Fadli sudah lama dalam kekalutan, tapi hari itu ia tertawa dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"Aku tak pernah menyangka ternyata kau juga pintar bersandiwara!" Pungkas Fadli masih tertawa.
"Aku tak ingin mereka mengetahui hal ini secepatnya!" Jawab Lara.
"Aku yakin mereka akan mengirim serangan lebih gencar padamu setelah melihat keadaanmu baik-baik saja!" Ucap Fadli menduga-duga.
"Iya, aku juga berpikir seperti itu!" Ucap Lara mulai sedih.
__ADS_1
"Sebaiknya kita menemui Pak Mantir sekarang dan menceritakan perihal hari ini, ku yakin beliau punya solusi untuk menangkal serangan baru yang akan di kirim mereka padamu setelah ini!"
"Baiklah, untung aku sudah siap! Nada bagaimana?" Tanya Lara khawatir pada Nada.
"Ada Fadila yang menjaga, tadi aku sudah berpesan pada Mbak Mina agar tidak pulang sampai kita kembali!" Ucap Fadli.
"Baiklah kalau begitu!" Jawab Lara.
Fadli menyetir mobilnya keluar dari komplek menuju kerumah Pak Mantir.
...****************...
"Hanum, kau yakin kita bisa naik keatas? Sebentar lagi malam!" Tanya Bi Ratih sambil memperingatkan Mama Hanum bahwa hari segera malam dan tentunya suasana hutan menuju gunung akan gelap sekali.
"Kenapa? Apakah kau takut? Bukankah kita sendiri adalah setan?" Ucap Mama Hanum menyeringai sambil terkekeh-kekeh.
"Halah, kau macam-macam saja!" Balas Bi Ratih nampak cemas. "Aku tidak takut dengan hantu dan teman-temannya, tapi aku takut begal!" Sambungnya menegaskan.
"Apa yang diincar begal dari kita? Sedangkan kita tidak membawa harta secuilpun!" Mama Hanum kembali terkekeh.
"Kalau saja mereka tahu kau memiliki sertifikat-sertifikat tanah yang berhektar-hektar, pasti mereka akan menculikmu!" Timpal Bi Ratih kesal.
"Kita kaya raya, Ratih! Sebentar lagi kita bisa menjual sebagian tanah dan lahan itu, selain itu pekerja tambang emas akan menyetor hasil galian mereka pada kita. Waaah harta dan perhiasan melimpah itu adalah milik kita, tapi kali ini aku tak ingin sembunyi-sembunyi lagi. Kini saatnya kita tampil seperti orang ningrat yang terhormat itu.
"Tak akan bisa sebelum kau membinasakan Lara!
"Tunggu saja, waktu itu akan segera tiba, kita akan menikmati kekayaan yang selama ini kita sembunyikan dari masyarakat!" Ucap Mama Hanum berangan-angan.
"Kenapa harus membinasakan Lara?" Bi Ratih baru terpikir.
"Kalau dia hidup dan mengetahui perihal kekayaan itu, berarti kita bukan pemiliknya, dan pasti dia akan memenjarakan kita jika sampai tahu tragedi berdarah keluarganya!" Mama Hanum menjelaskan.
"Aku khawatir dia akan mengetahui kebejatan kita selama ini!" Bi Ratih mulai merasa khawatir.
"Jangan bicara sembarangan! Kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi setelah ini!" Bentak Mama Hanum.
__ADS_1
Bi Ratih diam, suasana hening, hanya terdengar deru mobil yang melaju kearah hulu sungai, penumpang lain nampak tertidur.