MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 67. Shinta Dan Lara


__ADS_3

Setelah kurang lebih dua jam setengah diperjalanan, Fadli akhirnya tiba di rumah Shinta tepat setelah orang-orang selesai sembahyang Isya, ia sengaja lebih dulu kerumah istrinya demi menghargai keluarga Shinta dari, padahal desa ibunya lebih dulu sebelum desa tempat Shinta berada. Fadli nampak berbunga-bunga akan segera bertemu dengan buah hatinya, sang pangeran kecil yang dilahirkan oleh Shinta istrinya yang kedua.


Pak Hasan baru turun dari Mushalla berpapasan dengan Fadli di pekarangan yang sedang memarkir mobilnya, Fadli memberi salam pada mertuanya kemudian mereka masuk kerumah bersama-sama.


Di dalam rumah nampak beberapa orang wanita sedang berkunjung sekedar untuk memberikan selamat atas kelahiran cucu pertama keluarga Pak Hasan, mata mereka tertuju pada Fadli yang memiliki perawakan kekar dan tinggi penuh wibawa. Shinta tak percaya Fadli datang malam itu, ia mengira Fadli sudah melupakannya sejak pertengkarannya tempo lalu. Fadli kikuk dan serba salah ditatap wanita-wanita yang sedang berkunjung tersebut, ia memilih masuk kekamar berpura-pura ingin kekamar kecil. Shinta belum bisa bergerak dengan benar, karena bersalin secara alami, butuh waktu 2 sampai 3 hari agar kembali normal seperti biasanya.


Para wanita yang berkunjung mulai pulang satu persatu, Fadli tak sabar ingin memiliki Quality Time dengan Shinta, ia sangat merindukannya, dan rasa bersalah padanya lebih besar dari kerinduan itu.


"Fadli, kau tidur dulu atau langsung kembali?" Tanya Bu Rohani.


"Tidur sejam dua jam, Bu! Aku ingin mampir sebentar kerumah Bunda, sebelum kembali ke kota!" Jawab Fadli.


"Ibu tidur ya, maaf yang sebesar-besarnya jika kau pulang nanti ibu tidak terbangun!" Ucap Bu Rohani sembari berjalan keluar dari kamar Shinta.


"Tidak apa-apa, Bu! Tidurlah, ibu butuh istirahat yang cukup dalam suasana seperti ini!" Fadli memberi saran pada ibu mertuanya.


Bu Rohani mengangguk, kemudian menutup pintu kamar Shinta. Kini hanya Fadli, Shinta dan bayi mereka yang berada di kamar, suasana menjadi senyap sepeninggal Bu Rohani, Shinta masih merajuk sejak pertengkarannya beberapa pekan lalu. Fadli tak ingin membuang-buang waktu yang hanya semalaman bisa bersama Shinta, ia mencari topik yang tepat untuk membuka pembicaraan.


"Sudah pukul sepuluh malam!" Ucap Fadli, tak ada tanda-tanda Shinta akan merespon ucapannya.

__ADS_1


Fadli beranjak dari ranjang, ia mengambil nampan berisi buah-buahan yang di belinya diperjalanan untuk Shinta. Fadli mengupas buah Apel dan mengirisnya beberapa bagian kemudian memberikannya pada Shinta, namun niat baiknya di tolak oleh Shinta yang masih tak mau bicara apalagi makan. Fadli mendekatinya seraya menyuapi Apel tersebut kemulut Shinta dengan perlahan, Shinta akhirnya luluh melihat ketulusan Fadli, ia memakannya namun belum juga mau bicara.


"Hmmm, apakah aku harus meminta maaf terlebih dulu padanya!" Bisik Fadli dalam hati.


Fadli kembali menyuapi Shinta dengan irisan-irisan buah Apel, tapi Shinta menolaknya dan mengambil piring berisi buah Apel tersebut dari tangan Fadli, kemudian menaruhnya di atas nakas di samping ranjang.


"Apakah kau masih marah padaku?" Tanya Fadli sembari menatap mata Shinta sangat lekat.


Shinta tetap diam tak bergeming, Fadli teringat reaksi Lara saat ia meminta maaf ketika mengkhianatinya dulu. Persis sekali, Shinta dan Lara hampir 99% memiliki kelakuan yang sama. Fadli bahkan tak bisa membandingkan mana Lara dan mana Shinta seandainya mereka disandingkan.


"Busyet, apakah Shinta jelmaan Lara atau sebaliknya? Ataukah semua wanita memiliki perangai yang sama? Tapi tidak mungkin mirip semirip-miripnya! Cobaan apa lagi ini!?" Gumam Fadli dalam hatinya sembari menatap Shinta yang membisu tanpa sepatah katapun.


Fadli berusaha sedapat mungkin bisa kembali mengambil hati Shinta, ia makin mendekat dan duduk disampingnya tanpa ada jarak sedikitpun. Tapi Shinta beringsut bersandar ke kepala sandaran ranjang sambil memejamkan matanya, melihat reaksi Shinta sedemikian rupa, Fadli tak ambil diam, ia terus berjuang untuk mencuri hatinya seperti semula.


Shinta nampak menahan tangisnya, ia luluh lantak, amarahnya luntur oleh rasa iba. Fadli meraih tangan Shinta, ia mulai menggenggamnya dan menciuminya sambil meneteskan air mata, tangis penyesalan dan rasa bersalah yang teramat besar.


"Maafkan aku!" Sekali lagi Fadli meminta maaf.


Fadli dikenal orang-orang memiliki kepribadian yang sangat tegas, tapi ternyata ia bisa menangis karena perempuan.

__ADS_1


"Aku telah memaafkanmu jauh sebelum kau meminta maaf, tapi aku tak akan bisa melupakan semua tuduhanmu padaku!" Shinta akhirnya buka suara, ucapannya bergetar berusaha untuk tidak menangis.


Fadli bahagia, Shinta mau memaafkannya, ia berjanji tak akan gegabah menuduh tanpa bukti yang nyata. Tangis Fadli pecah, ia sangat cengeng melihat wanitanya bersedih, tangis Shinta atau Lara adalah kelemahan dibalik ketegasannya.


Shinta tak mau melihat Fadli menangis sesenggukan, ia merangkulnya dengan erat, namun air matanyapun tak bisa dibendung, akhirnya mereka sama-sama menangis.


"Jangan cengeng, kau tak boleh menangis!" Ucap Shinta mengguncang-guncang bahu Fadli yang berada dalam dekapannya seperti seorang anak tak mau lepas dari kasih sayang ibunya.


"Maafkan aku, aku sudah berbuat jahat menuduhmu yang bukan-bukan!" Isak tangis Fadli masih belum reda.


"Aku sudah memaafkanmu, tolong jangan menangis lagi!" Pinta Shinta lembut.


Perlahan-lahan perasaan Fadli lega setelah menumpahkan air mata penyesalannya, iapun berhenti menangis. Fadli yang biasanya pendiam, tegas dan berwibawa, malam itu tidak artinya di depan Shinta, ia bagai seorang bocah kecil yang mengharap belas kasih dari ibunya.


"Aku tidak bisa berlama-lama, besok aku harus bertugas kembali. Izinkan aku tidur di dekatmu, aku sangat lelah seharian tidak tidur, bangunkan aku jam tiga malam nanti!" Ucap Fadli sembari berpesan minta bangunkan jam 3 malam karena dia akan kembali ke kota.


Shinta mengangguk sembari menyingkirkan beberapa selimut tebal diranjangnya untuk memberi Fadli tempat agar bisa tidur disampingnya. Fadli membantunya membenahi pakaian bayi dan selimut-selimut diatas ranjang, ia melarang Shinta banyak bergerak.


"Tidurlah, nanti aku bangunkan jam 3 malam!" Ucap Shinta.

__ADS_1


Fadli berbaring disamping Shinta, ia memegangi lengan istrinya seolah tak ingin ditinggalkan kemanapun, Shinta membiarkan Fadli tertidur sambil memegang lengannya, sesekali ia membelai rambut suaminya.


Fadli terlelap tidur karena kelelahan, Shinta memandangi wajah tampan sang suami, bulu matanya lentik, alisnya tebal, hidungnya mancung, memiliki wajah campuran khas Timur Tengah, karena kedua orang tua Fadli keturunan Arab dan India. Shinta sangat mencintai Fadli bukan karena ketampanannya saja, tapi karena wibawa dan kebijaksanaannya. Disisi lain ia sangat bersedih, karena cintanya bukan miliknya sendirian, apalagi ia sadar akan statusnya sebagai istri kedua.


__ADS_2