
Setelah mengantar Bi Leha, Bi Ratih dan Ivan kembali kerumah mereka.
"Maafkan Bibi, Lara! Bibi pergi tanpa membawa hasil, Pak Ahmad tak mempunyai kekuatan untuk menyingkirkan jin pesugihan!" Terang Bi Ratih nampak lesu.
"Semoga ada orang pintar lainnya yang sanggup mengatasi masalah kami!" Harap Lara cemas. "Bi Leha mana?"
"Saleha minta diantar kerumah mertuamu sepulang dari rumah Pak Ahmad! Baiklah, aku pamit dulu, kau tak usah khawatir, Pak Ahmad akan menemui sahabatnya dan menanyakan perkara yang menimpa kehidupan kalian. Banyak-banyak berzikir dan berdoa agar dijauhi oleh makhluk-makhluk tak kasat mata!" Bi Ratih pamit sambil menasihati Lara.
"Semoga sahabat Pak Ahmad bisa membantu masalah keluarga kami." Tukas Lara penuh pengharapan.
Bi Ratih pulang kerumahnya yang bersebelahan dengan rumah Lara. "Jika ada sesuatu, langsung beritahu aku!!" Ucap Bi Ratih berpesan.
Fadli mendadak pulang setelah mengetahui kabar tentang bayinya yang diserang jin pesugihan, ia langsung kerumah orang tua Lara, kebetulan saat itu ia mengambil cuti selama sebulan untuk mengurus ibunya yang makin memprihatinkan.
"Lara, bagaimana keadaan Nada? Apakah dia baik-baik saja?!" Tanya Fadli bertubi-tubi sembari memeluk bayinya.
"Ayahmu mempunyai jin pesugihan!" Tegas Lara mengejutkan Fadli.
"Bagaimana mungkin? Selama ini aku tak pernah mengetahuinya! Kecuali Bunda yang memiliki ilmu hitam minyak kuyang!" Jelas Fadli terheran-heran.
"Kenyataannya ayahmu lebih awal bersekutu dengan iblis!" Ucap Lara datar, matanya menatap kosong kedepan.
"Kau tahu dari siapa? Bunda tidak berdaya, siapa yang menceritakan semua itu padamu?" Fadli melayangkan beberapa pertanyaan pada Lara.
"Faiza, kakak perempuanmu, anak sulung dalam keluargamu, dia menjadi tumbal pertama keserakahan ayahmu! Dan sekarang, jin pesugihan itu mengincar Nada!" Ucapan Lara membuat Fadli terhenyak.
"Apa? Dari mana kau mengetahui semua itu?" Fadli mencecar Lara.
"Tanyakan pada Bi Leha dan Pak Sepuh!" Jawab Lara singkat.
__ADS_1
Fadli terduduk lemas dikursi yang ada dikamar Lara, ia tak pernah menyangka kekayaan yang dimiliki keluarganya hasil dari persekutuan ayahnya dengan jin pesugihan minyak kuyang berwarna putih.
"Aku harus menemui ayah untuk mempertanggung jawabkan semua ini!" Tak biasanya Fadli ingin menemui ayahnya, karena selama ini ia sangat membencinya semenjak sang ayah menikah dengan wanita lain.
Fadli duduk bertopang dagu, kebingungan memenuhi akal dan pikirannya. Bi Ratih datang menemuinya.
"Fadli, Saleha mengatakan bahwa setiap anak perempuan pertama dalam keluarga kalian akan menjadi tumbal pesugihan!" Ucap Bi Ratih tegas.
"Aku baru mengetahuinya, Bi! Bunda tak pernah bercerita tentang hal ini, aku hanya tahu dia seorang kuyang pemangsa dar*h, tembuni dan sejenisnya. Tapi mengenai pesugihan, aku baru saja diberitahu Lara!" Fadli geleng-geleng kepala.
"Kau harus bertindak sesegera mungkin, ini demi keselamatan Nada!" Desak Bi Ratih.
"Aku ingin menemui Bi Leha dan Pak Sepuh terlebih dahulu, sangat berharap bunda bisa bicara mengenai hal ini!" Fadli beranjak pergi ingin menemui Bi Leha dan Pak Sepuh.
"Hati-hati, nak!" Bi Ratih masih peduli dengan suami dari keponakannya itu, Fadli mengangguk dan pergi.
Lara tidak peduli, ia masih marah pada Fadli yang telah mengkhianatinya menikah dengan wanita lain. Fadli menyadari sikap Lara yang kini sangat dingin, tapi ia menerima semua itu karena ia sadar bahwa dirinya telah menyakiti hatinya.
Tapi.. tepat pukul tiga malam, Lara mendengar jendela kamarnya dicakar-cakar entah itu kucing atau makhluk halus. "Meaaaaaw" Lara lega, ternyata yang mencakar jendela kamarnya hanya seekor kucing. Tetapi Lara berpikir, mana mungkin kucing bisa naik keatas jendela yang lumayan tinggi dari tanah, sedangkan dibawah jendela tidak ada kursi atau meja tempat untuk kucing berdiri.
"Meaaaaw, meaaaaw, meaaaaaw!!!"
Suara kucing itu kembali berbunyi, bulu kuduk Lara mulai berdiri.
"Apakah makhluk ghaib bisa berubah menjadi kucing? Untuk apa?" Batin Lara dalam hati.
"Meaaaaw, meaaaaw, meaaaw... hihihi hihihi hihihi" Suara meong kucing berubah tawa cekikikan menyeramkan entah itu kuntilanak, kuyang, atau jin pesugihan. Yang jelas, tawa dan meong berbunyi secara bersamaan, ditambah dengan bunyi cakaran kuku tajam yang mencakar jendela kamar Lara, suara riuh hiruk pikuk terdengar dibalik jendela.
Makhluk itu seolah mengetahui Lara yang menyukai kucing, sehingga dengan sengaja merubah suaranya seperti kucing mengeong. Lara ketindihan, ia tidak bisa menggerakkan badannya, apalagi berteriak minta tolong, bahkan untuk melafal ayat Kursi saja dia tak mampu. Tubuh Lara berkeringat dingin, lidahnya kaku, kerongkongannya seolah diikat agar tidak bisa berteriak, suara-suara aneh dibalik jendela masih berisik.
__ADS_1
Malam terasa lama bagi Lara, Mama Hanum tidak menjenguknya, "Mungkin Mama sedang tidur nyenyak!" Gumam Lara dalam hati.
Terdengar kembali suara cakaran disusul ketukan pada jendela yang awalnya pelan namun semakin keras dan tidak beraturan. Lara khawatir akan keselamatan bayinya, namun sang bayi terlelap nyenyak disampingnya.
Lara lega melihat Nada sedang tidur dengan tenang, tapi seketika pintu kelambu tersingkap. Deg..! Degup jantung Lara berdetak keras. Ia melihat penampakkan sesosok makhluk hitam dengan rambut terurai kedepan, jin pesugihan.
"Pergiiiii!" Lara berteriak keras seraya memeluk Nada yang terbangun oleh teriakannya, Nada menangis karena terkejut.
Mama Hanum berlari dari kamarnya menuju kamar Lara, ia bergegas memeriksa keadaan anak dan cucunya didalam kelambu.
"Lara? Ada apa, nak?" Tanya Mama Hanum panik mendengar teriakan Lara yang tersengal-sengal seolah habis berlari.
"Ma, Ma, Ma.. makhluk itu datang lagi!" Ucap Lara tergagap.
"Dia menyakiti kalian?" Tanya Mama Hanum memastikan keadaan Lara dan Nada.
"Dia menyingkap kelambu, Ma!" Jawab Lara ketakutan. "Wajahnya sangat menakutkan, rusak tidak berbentuk, bau bangkai dan anyir!" Lara muntah-muntah menjelaskan apa yang dilihatnya baru saja.
"Yang penting sekarang kalian aman, jangan tidur tanpa kelambu, karena kelambu mampu menangkal gangguan ghaib." Mama Hanum menegaskan agar Lara tetap berjaga-jaga.
Derap langkah kaki terdengar dari luar, Bi Ratih datang tergopoh-gopoh mendengar jeritan Lara.
"Lara? Kau baik-baik saja, nak?" Ucap Bi Ratih seraya membenarkan rambutnya yang berantakan karena belum sempat merapikannya akibat teriakan Lara.
Mama Hanum menjelaskan apa yang baru dilihat oleh Lara, Bi Ratih berdecak-decak sembari menepuk dahinya.
"Macam-macam teror! Kehidupan kita jadi menyeramkan setelah Lara menjadi bagian dari keluarga Najah!" Bi Ratih menyesal turut merestui perjodohan Lara dengan Fadli. "Seandainya waktu bisa diputar kebelakang!"
"Sudahlah, kak! Tak ada gunanya menyesal kemudian!" Mama Hanum menenangkan saudara tertuanya. "Aku tidur bersama Lara saja, kau ikut menginap disini?" Tanya Mama Hanum pada Bi Ratih.
__ADS_1
"Kalau kau disini, berarti aku pulang saja! Sebaiknya kalian tidur bersama tiap malam, agar Lara tidak sendiri!" Bi Ratih mengingatkan seraya bangkit dan pulang kerumahnya.
Lara terlelap, ia tak mendengar percakapan mereka. Mama Hanum merebahkan kepalanya disamping Nada, ia mendengar tawa cekikikan meski terdengar lamat-lamat, "Makhluk sialan, ternyata masih ada disekitar sini!" Gumam Mama Hanum, namun tak berani berisik agar Lara tidak terjaga, sementara Nada sesekali menggeliat. Mama Hanum menepuk-nepuk Nada agar tertidur pulas.