
"Bi Leha, kenapa tidak sedari dulu Pak Sepuh memberitahu kami tentang hal ini?!" Tanya Fadli.
"Mungkin beliau tidak mau ikut campur urusan orang!" Jelas Bi Leha.
"Masalah Bunda belum selesai, kini datang masalah baru, jin pesugihan yang menagih tumbal!" Fadli kalut menghadapi kenyataan.
"Akupun bingung, tubuh ibumu sudah melekat dengan cor, makan masih normal bahkan diluar batas wajar, namun tidak ada tanda-tanda akan sembuh atau berpulang. Kita tunggu Pak Ahmad saja, semoga dia bisa mencari solusi untuk Najah dan jin pesugihan!" Jelas Bi Leha sambil memijit kepalanya. "Sebaiknya kau pulang kerumah Lara, karena Pak Ahmad sewaktu-waktu datang kesana memberitahu perkembangan tentang mengusir jin pesugihan!"
"Baik, Bi! Aku kembali kesana, terima kasih sudah sampai saat ini Bibi masih bertahan menjaga bunda!" Fadli pamit tak lupa berterima kasih pada Bi Leha.
Fadli kembali kerumah Lara, ia berharap sebulan disana bisa untuk mengembalikan rumah tangganya yang retak. Lara masih bersikap dingin terhadapnya, tapi Fadli yakin Lara akan memaafkannya.
Tak lama setelah Fadli kembali, Pak Ahmad datang mengendarai motor butut miliknya. Fadli segera keluar rumah menyambut kedatangan Pak Ahmad.
"Silakan masuk, Pak!" Sapa Fadli seraya mengulurkan tangannya menyalami Pak Ahmad.
"Terima kasih!" Pak Ahmad membalas uluran tangan Fadli sembari masuk kedalam rumah.
"Silakan duduk, aku panggil Lara dan anakku kedalam!" Fadli pamit kedalam kamar.
Mama Hanum datang membawa nampan berisi teh hangat dan cemilan.
"Silakan diminum, Pak!" Mama Hanum mempersilakan, "Bagaimana perkembangannya, Pak?" Tanya Mama Hanum ingin tahu.
Fadli muncul sambil menggendong Nada, Lara menyusulnya dari belakang dan duduk disofa disamping Fadli.
__ADS_1
"Begini, Sholeh belum bisa datang secara langsung, karena pasiennya banyak yang menunggu antrian, jadi aku sendiri yang menemuinya. Sholeh mengatakan, untuk menyingkirkan ilmu dan jin pesugihan tersebut, tidak ada cara lain selain mewariskannya pada seseorang yang bersedia menerimanya!" Jelas Pak Ahmad sama seperti ketika memberi solusi tentang ilmu hitam yang dianut bunda Najah.
"Berarti sama saja seperti ilmu kuyang pengasihan?" Tanya Fadli.
"Sama, tapi ilmu kuyang pesugihan menagih tumbal! Tak jauh beda dengan ilmu kuyang pengasihan yang memburu darah wanita bersalin dan organ dalam mangsanya! Untuk itu, kau tak bisa melenyapkan kedua ilmu hitam tersebut, kecuali mewariskannya!" Jelas Pak Ahmad.
"Jin pesugihan lebih menyeramkan, Pak!" Lara angkat bicara. "Aku bertahun-tahun tinggal bersama ibu mertuaku yang seorang kuyang, tapi beliau tidak menggangguku, dan aku merasa biasa-biasa saja serumah dengannya. Namun jin pesugihan sangat meresahkan, dia mengikuti kami sampai kesini, bahkan tiap malam menggangguku dengan wujudnya yang mengerikan!" Tutur Lara panjang lebar.
"Sama halnya seperti kuyang yang meneror warga, dia muncul dengan kepala berambut panjang kusut, wajah menyeramkan dan organ dalam tanpa badan, kau tidak pernah mengalaminya langsung?!" Jelas Pak Ahmad seraya bertanya.
"Pernah kerasukan Palasik, tapi aku tidak melihat wujudnya sama sekali!" Jawab Lara.
"Palasik tidak menampakkan wujudnya langsung, dia memilih masuk kedalam raga targetnya melewati kuku-kuku korban! Tapi Palasik bisa merenggut nyawa korbannya, kalau kuyang hanya menghisap darah atau makan tembuni!" Pak Ahmad menerangkan wujud makhluk siluman itu.
"Dan mengapa wujud jin pesugihan begitu besar dan tinggi serta mengerikan?! Bahkan bisa memperdaya dengan merubah suaranya menjadi kucing dan sejenisnya!"
"Jin pesugihan kuyang tidak bersuara, paling-paling bunyi berisik, yang bisa merubah suara itu adalah kuntilanak!" Terang Pak Ahmad.
"Tapi bagaimana mereka bisa muncul bersamaan? Malam itu, mereka menggangguku setelah suara kucing tiba-tiba berubah tawa cekikikan!" Ungkap Lara merinding.
"Hanya kebetulan saja, mungkin saat itu kuntilanak ada disekitar rumahmu, sementara jin pesugihan memang sengaja datang untuk mengambil bayimu!" Pak Ahmad menjelaskan.
Lara terdiam ketakutan, "Belum juga beres masalah kuyang dan jin pesugihan, mengapa kuntilanak juga turut menggangguku?!" Lara menggumam dalam hati.
"Jadi, bagaimana solusi yang terbaik, Pak?!" Desak Fadli.
__ADS_1
"Kalau tak ada orang lain yang bersedia mewaris ilmu kuyang, maka salah satu diantara kalian harus berkorban. Dengan begitu, ibumu akan terlepas dari deritanya, bersyukur kalau bisa sembuh, tapi kebanyakan kuyang-kuyang sebelumnya, mereka akan meninggal setelah mewariskan ilmunya!" Pak Ahmad menyarankan.
"Tapi.. solusi untuk Bunda, sudah kami terapkan, namun target kami menolak! Dan bagaimana dengan jin pesugihan?" Fadli bertanya penasaran.
"Oleh karena itu, salah satu keluarga kalian harus rela menjadi kuyang selanjutnya! Dengan begitu, satu permasalahan bisa teratasi. Untuk jin pesugihan, kalian bisa menangkalnya dengan sering mengadakan pengajian, menaruh benda-benda yang ditakuti jin, kalau perlu tanam pohon bidara didepan rumah yang dipercaya sebagai sarana mengusir jin dan makhluk tak kasat mata lainnya." Jelas Pak Ahmad panjang lebar, "Bagus juga menanam tumbuhan jeriangau dihalaman depan dan belakang!" Pak Ahmad menambahkan.
Bi Ratih baru saja datang, ia tertegun dengan ucapan Pak Ahmad. Benaknya berbicara kemana mencari orang yang bersedia menjadi kuyang, ia dan Mama Hanum saling pandang, seolah sedang memikirkan hal yang sama.
Pak Ahmad meminta Fadli untuk mengikat tali ijuk disekeliling rumah, agar kuyang-kuyang dan jin pesugihan tidak berani masuk.
"Baik, Pak! Berarti solusi dari kedua masalah, tetap sama seperti solusi awal tentang Bunda?!" Tanya Fadli.
"Iya, dan jangan membelanjakan uang dari ibumu, kalau perlu bakar dan larung uang-uang yang ada pada ibumu. Karena dia pasti mengoles minyak kuyang pesugihan pada uang miliknya sebelum membelanjakannya, dan uang tersebut akan kembali lagi padanya setelah dibelanjakan!" Jelas Pak Ahmad.
"Oh pantas saja aku sering menemukan uang yang sama kembali kerumah, kupikir uang kembalian memakai uang yang sama!" Fadli terkejut, karena selama ini tak menyadari kejanggalan tersebut.
"Ya, uang pesugihan tidak akan habis-habisnya, karena uang yang sama akan kembali lagi pada pemiliknya meski sudah dibelanjakan!" Jelas Pak Ahmad, "Sekarang, aku pamit dulu!" Pak Ahmad berpamitan sembari berjalan keluar.
"Terima kasih banyak, Pak! Hati-hati dijalan!" Fadli mengantar Pak Ahmad sampai pekarangan seraya menyerahkan amplop berisi uang.
Pak Ahmad menolak pemberian Fadli. "Jangan takut, Pak! Uang ini hasil usahaku, bukan uang milik Bunda!" Fadli seolah tahu keraguan Pak Ahmad menerima pemberiannya.
"Bukan begitu, kau tak perlu repot-repot!" Pak Ahmad berusaha menolak, namun Fadli memaksanya.
Setelah Pak Ahmad pergi, Fadli dan keluarga Lara bertukar pikiran mencari jalan keluar permasalahan yang dihadapi mereka.
__ADS_1
Jin pesugihan datang tiap malam mengincar Nada, ia tak akan berhenti sebelum berhasil mengambilnya sebagai tumbal. Fadli sering melihat penampakkan jin pesugihan tersebut, ternyata benar kata Lara, wujudnya sangat menyeramkan. Nada sering menangis tengah malam, jin tersebut tidak takut dengan sarana penangkal dan benda-benda yang ditakuti kebanyakan kuyang-kuyang. Dia hanya takut dengan kelambu, sehingga Nada jarang dibawa keluar, sepanjang waktunya dihabiskan didalam kelambu. Terdengar aneh, namun kenyataannya memang begitu.
Fadli sudah seminggu dirumah Lara, namun keharmonisan rumah tangganya belum bisa kembali seperti semula, Lara terlanjur kecewa, sulit baginya memaafkan pengkhianatan suaminya.