MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 13. Makin Parah


__ADS_3

Fadli sudah mulai tugas di kota, ia pulang sekali seminggu setiap hari Sabtu sore dan subuh Minggu kembali ke kota. Waktu yang sangat singkat untuk melepas kerinduan dengan istri dan orang tuanya, namun demi tugas, ia rela mengorbankan kebahagiaannya.


Sementara kondisi bunda Najah makin buruk dari hari kehari, tak ada kemajuan sama sekali. Badannya kurus kering semenjak sakit, terbaring telentang dan kaku tak bergerak dipembaringan, hanya kepala beliau yang bisa digerakkan, sepanjang waktu merintih, menjerit, menyumpah serapahi dirinya sendiri.


"Tuhaaan, kenapa aku gak dimatikan sekarang, aku lelah, kenapa nasibku seburuk ini, aku ingin mati saja!" celoteh bunda Najah menangis terisak-isak. "Aku bodoh, akalku rusak, seandainya waktu itu aku gak pergi kedukun laknat itu, gak akan begini nasibku!"


Rintihan dan jerit tangis bu Najah membuat Lara tak karuan rasa, awalnya biasa-biasa saja, tapi makin kesini makin mengoyak-ngoyak jiwanya, ada rasa kasihan, dan iba bahkan Lara ingin ikut menjerit.


Bunda Najah, hanya seonggok jasad tak berguna, terbujur kaku, kurus kering tinggal tulang terbungkus kulit yang mengendur, mata cekung dan tajam, rambut yang kini tak terawat lagi memutih oleh uban. Badan yang seolah menyatu dengan kasur, tak bergerak seperti papan, herannya hanya kepala beliau saja yang geleng-geleng, dan yang lebih aneh lagi beliau makan sangat banyak, tak seperti layaknya orang sakit maupun orang normal. Keanehan itu terjadi setelah beliau resmi tidak berburu mangsa lagi. Sehari makan lima kali, atau lebih jika tidak di kontrol Lara.


"Laraaaa, makaaan!!!" ucap bunda Najah sambil merintih.


"Iya bunda, tungguuu.. lagi menanak nasi!" ucap Lara dari dapur.


"Aku lapar banget!" Bunda Najah merengek layaknya anak kecil.


Kamar tidur bunda Najah terletak tepat di pinggir jalan, disebelahnya pemakaman lama yang sudah lama terbengkalai. Orang-orang sering lewat disitu, kadang tercengang kadang bergidik takut mendengar rintihan bunda Najah yang tak kunjung henti.


"Udah kayak mayat hidup aja!" ucap salah seorang pejalan kaki yang lewat disana.


"Dia makan sehari berkali-kali dan rakus banget, melebihi orang normal! Tapi gak sembuh-sembuh, dan badannya kurus kering tinggal tulang!" timpal pejalan kaki yang lain.


"Menurut orang dulu, itu bukan bunda Najah yang makan, itu iblis yang ada dalam raganya, jadi jangan heran kalo dia rakus!" tukas yang lainnya.


"Iya, aku sering dengar dari penganut ilmu hitam, ajian kebal misalnya, mereka juga gak mati kecuali dilenyapkan dulu ilmunya!"


"Dan sepupuku meninggal dibun*h setelah seminggu dia melenyapkan ajian kekebalannya. Konon kata orang tua, nasib orang-orang penganut ilmu hitam itu selalu sial." ucapnya.


Memang, orang-orang sekitar author yang punya ilmu begituan juga selalu bernasib sial. Miris banget, tapi masih ada aja yang memilih jalan sesat seperti itu. Maaf jadi curhat!


Kondisi bunda Najah menjadi perbincangan hangat warga desa, karena sebelumnya tak ada yang pernah mengalami hal seperti itu di desa mereka.


"Laraaaaaa!!!" teriak bunda Najah nyaring.


"Iya bundaaa, Lara datang!" sahut Lara tergopoh-gopoh pergi menuju kamar mertuanya.

__ADS_1


Lara masuk kekamar bunda Najah, namun ia tak melihat sang mertua dipembaringannya, ia mulai cemas dan terheran-heran, karena mustahil bagi bunda Najah untuk bergerak, tapi kenyataannya beliau tidak ada di tempat tidur.


"Aku disini, nak! Hihihihihi" Ucap bunda Najah cekikikan memecah keheningan.


Lara terkejut, melihat ibu mertuanya berada dikolong ranjang dengan kondisi seperti orang sedang sujud.


"Bunda?! Bunda baik-baik aja? Kok bisa sampe kesini? Pasti bunda capek!!" Ucap Lara panik seraya mengulur tangannya kearah bunda Najah agar keluar dari kolong ranjang.


"Hehehehe, argghghrghghgh!!!" Suara bunda Najah berubah berat sambil terkekeh dan menggeram.


"Sini bund, keluar!" Ajak Lara, namun bunda Najah tak bergeming.


"Arghrghrgrhgrh!"


Lara menarik tangan bunda Najah, namun terasa berat bagai batu.


"Bunda jangan buat aku cemas deh!!" pinta Lara memohon.


Bunda Najah bersikeras tak mau keluar dari kolong ranjang sejak siang hingga petang, Lara makin panik, ia meminta bantuan pada warga untuk mengeluarkan bunda Najah dari kolong ranjang.


Beberapa warga mencoba mengeluarkan bunda Najah yang berada di alam bawah sadarnya, segala cara dilakukan, namun gagal. Hingga akhirnya mereka terpaksa meroboh ranjang tersebut, dengan begitu mereka bisa mengeluarkan bunda Najah dari kolong ranjang.


"Istighfar bund, nyebut!!!" ucap Lara.


Warga yang lain membacakan ayat-ayat suci untuk mengusir roh-roh jahat dan sejenisnya. Perlahan bunda Najah sadar dan berhenti menggeram.


Gara-gara kejadian tadi, bunda Najah tidak diperbolehkan tidur diranjang khawatir kejadian tadi akan terulang lagi, alhasil beliau terpaksa tidur dilantai beralaskan kasur saja.


Memasuki malam, keadaan Bunda Najah sudah normal seperti biasa, beliau kembali terbaring kaku tak berdaya, Bi Leha tak tega pulang, ia memutuskan untuk menemani Lara menjaga bunda Najah.


"Nak Lara, kayaknya kalian harus melakukan sesuatu! Ini sangat tidak masuk akal" ucap Bi Leha prihatin.


"Aku gak ngerti harus bagaimana, Bi! Aku awam dengan hal beginian, lebih baik nunggu Fadli datang biar dia ngatasin ibunya."


"Kabarin Fadli secepatnya kalo ada yang kebetulan kekota!" ucap Bi Leha menyarankan.

__ADS_1


"Iya Bi, nanti aku minta tolong sama warga!" ucap Lara lirih.


"Najah tertidur kelelahan, mending dia tidur daripada bangun merengek, merintih, teriak-teriak gak karuan!" ucap Bi Leha seraya menatap kearah bunda Najah.


Lara iba melihat sosok mertuanya yang tinggal tulang, dokter dan orang pintar sudah datang bergantian untuk mengobati, namun tak kunjung sembuh. Lara sebenarnya sudah jenuh mengurus mertuanya, lelah hati dan diri, tapi ia malah kasihan, jauh dengan kata marah atau benci.


Konon orang yang memiliki ilmu kuyang jarang membuat orang marah, apalagi saat bucara langsung dengan orangnya, padahal sudah jelas-jelas meresahkan, itulah pengaruh pengasih dari ilmu kuyang, kita akan iba padanya, salah-salah kita mau nerusin ilmu miliknya. Naudzubillah!


Sejak hari itu, Lara lebih fokus merawat sang mertua, makanan harus siap, karena terlambat sedikit saja sang mertua berteriak-teriak layaknya orang kelaparan, padahal sudah makan berkali-kali.


Waktu yang ditunggu telah tiba, Fadli datang, Lara memintanya untuk mengambil tindakan.


"Satu-satunya cara adalah memindah ilmu hitam bunda pada orang yang bersedia mewarisinya!" ujar Fadli.


"Mana ada orang yang mau?! Kemaren Siti diajak kemari, sudah diskusi juga sama bunda, tapi tau-tau dia pergi ninggalin desa ini gak berkabar sama sekali!" Jelas Lara.


"Iya, memang susah kalo dicari, orang seperti itu biasanya datang sendiri atau sudah lama kenal, seperti Bu Sarinah contohnya, gak susah-susah nyari pengganti beliau!" ucap Fadli.


"Tapi bukannya kita juga menjerumuskan mereka kejalan yang salah?!" tanya Lara.


"Pastinya, makanya aku gak begitu gencar nyari orang yang mau gantiin bunda, aku gak mau ngorbanin orang lain." Fadli tak mau menyeret orang yang tak bersalah.


"Berarti abang tega melihat bunda terbaring seperti ini sampai waktu yang gak tau kapan berakhirnya?!"


"Mau gimana lagi? Kita gak punya cara lain selain membiarkan bunda begini, kita udah ngelakuin berbagai macam cara untuk ngobati bunda, dan dokter minta obat jalan aja. Berarti medis gak bisa ngobatin, hanya orang pintar!"


"Bagaimana kalo kita minta bantuan sama pawang kuyang?" usul Lara.


"Sejatinya pawang kuyang itu musuh besar kuyang sendiri, belum pernah dengar mereka bisa ngebantu, yang ada ngusir kuyang pas lagi mempelasit orang-orang!" ucap Fadli.


"Gak salahnya kita nyoba, kali aja pawang kuyang punya solusi gimana ngatasi keadaan bunda karena mereka bergelut dalam dunia bangsa kuyang dan palasit!" Lara berusaha meyakinkan Fadli.


"Baiklah, nanti kita temui pawang kuyang terdekat, di desa ini gak ada, aku akan tanya-tanya sama Bi Leha!" Fadli menyetujui usul Lara.


"Iya benar, Bi Leha biasanya kenal orang-orang luar desa!" ucap Lara sedikit agak lega.

__ADS_1


Fadli mengusap kepala bunda Najah yang terbaring kaku tak bergerak, hanya kepala beliau yang geleng-geleng, sesekali beliau menatap Fadli dan Lara. Matanya cekung namun tatapannya sangat tajam, daging pipinya sudah menyatu dengan tulang. Wajah yang keriput dan menyeramkan, layaknya nenek sihir difilm-film horror biasanya, Lara sudah terbiasa dengan pemandangan seperti itu.


Author pernah diminta "kuyang" membalikkan badan beliau, karena waktu itu beliau sendirian dirumah, anak cucu beliau entah kemana, kebetulan author main dekat rumah mereka, dan si kuyang ini manggil nama author minta tolong dibalikin badannya kesamping, karena udah gak bisa gerak, jadi mau balik harus dibalikin dulu, kamar beliau dekat tempat main anak-anak, pintu rumah mereka gak pernah dikunci, karena siapa aja boleh bantu sikuyang yang sakit sekarat, author masih bocil saat itu, gak takut sama sekali sama beliau, tapi auranya memang beda, apalagi pas dekatin, vibes seramnya gede banget meski gak ganggu kita dan udah gak bisa beraksi apa-apa lagi. Maaf jadi curhat...


__ADS_2