MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 35. Bunuh Diri


__ADS_3

Malam yang sangat hening, ditambah baru saja hujan sehingga tidak terlihat seorangpun keluar rumah sejak habis shalat Isya, warga desa memilih berada dirumah mereka masing-masing, bahkan warung dan kedai teh pun tutup lebih awal dari biasanya.


Malam yang dingin itu, nampak sosok kepala dengan isi organ dalam tubuh atau perutnya yang menjuntai terbang melayang menyisiri sepanjang sungai pedesaan. Konon, sosok kuyang lebih gemar terbang diatas air, karena tidak terdapat banyak halangan, sedangkan terbang diatas tanah sering melewati halangan seperti tali jemuran warga yang memakai tali ijuk, atau dedak disebagian pekarangan warga, hal-hal tersebut akan membuatnya terjatuh. Oleh karena itu, kuyang lebih gemar terbang diatas air.


Kuyang tersebut meringkik seperti kuda, terkadang tertawa cekikian, terkadang menangis menjerit-jerit sambil mengepak-ngepakkan organ dalam tubuhnya yang menimbulkan bunyi berisik, meski pelan namun terdengar jelas. Warga yang mengenali itu suara kuyang, memilih mendekam didalam rumahnya daripada berurusan dengan makhluk jadi-jadian itu.


Namun salah seorang warga yang kebelet buang air besar, harus pergi kejamban yang terletak disungai, ia terpaksa melihat pemandangan yang menyeramkan melayang-layang tak begitu tinggi dari atas air. Dia adalah kuyang, yang sedang beraksi dimalam dingin. Kuyang tersebut seperti sedang putus asa, ia melayang-layang dan berputar tidak karuan, organ dalam tubuhnya yang menjuntai menimbulkan cahaya kebiruan dan agak kemerahan. Warga yang menuju ****** tersebut urung, niatnya buang air besar tertahan karena pemandangan menyeramkan tersebut. Warga tersebut memilih pulang kerumahnya.


Kuyang yang masih melayang diatas air seolah menjerit, suaranya masih didengar beberapa warga yang belum tidur, menjelang adzan Subuh suara itu baru menghilang.


Malam dingin telah berganti dengan sang pagi yang masih terasa dingin dampak hujan tadi malam, warga kembali beraktifitas didesa tempat tinggal Fadli. Namun tiba-tiba warga gempar dengan sebuah berita tak mengenakkan, salah seorang dari warga menemukan sosok wanita yang mati gantung diri disebuah pohon Mangga dipinggir sungai.


"Ada orang bunuh diri!" Seru warga berbondong-bondong menuju pinggiran sungai.


Bi Leha mendengar kegemparan diluar, ia segera keluar rumah untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.


"Sup, ada apa ribut-ribut?" Tanya Bi Leha.


"Ada orang mati gantung diri, Bi!" Jawab Usup seraya berlari kecil mengikuti warga.


"Siapa, Sup?" Teriak Bi Leha, karena Usup sudah menghilang dalam kerumunan warga.


Penasaran, akhirnya Bi Leha ikut berkerumunan dalam kerumunan warga untuk mencari tahu sendiri siapa yang sedang bunuh diri, Bi Leha menyusup dikerumunan warga yang berjejal penasaran ingin tahu.


"Ibu Hanifah!" Seru warga yang mengevakuasi tubuh jenazah yang tergantung diatas pohon Mangga tersebut.

__ADS_1


Bi Leha terkejut, matanya terbelalak hampir keluar, baru saja kemaren dirinya berbincang-bincang dengan Hanifah, sang kuyang yang putus asa.


"Apakah kuyang yang tadi malam menjerit-jerit itu adalah Hanifah?" Gumam Bi Leha dalam hati.


Warga menurunkan jasad Hanifah yang sudah kaku, matanya menghitam, lidahnya terjulur keluar, dan lehernya membengkak akibat jeratan tali jemuran yang mengikatnya.


"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un!" Seru warga bersamaan.


Sebagian warga sedang berbisik-bisik membicarakan almarhumah Hanifah tersebut, mereka tahu siapa sosok Hanifah semasa hidupnya, salah satu kuyang yang ada di desa mereka.


"Anak-anak almarhumah tidak ada di desa! Siapa yang akan mengabari mereka?" Tanya salah seorang warga yang tahu bahwa Hanifah hanya tinggal seorang diri dirumahnya karena semua anak-anaknya sudah berumah tangga dan ikut bersama suami mereka.


"Aku kerabat ibu Hanifah, sekarang akan berkabar pada anak almarhumah!" Seru warga yang mengaku kerabat almarhumah.


Tak berapa lama datang mobil polisi untuk menyelidiki kasus bunuh diri tersebut, beberapa warga yang dekat dengan almarhumah segera ditanya dengan detail. Bi Leha memilih pulang dan tutup mulut tentang apa yang diucapkan almarhumah Hanifah kemaren.


"Urusan hidupku sendiri masih belum teratasi, bagaimana mungkin aku ikut campur urusan Hanifah! Ah, lebih baik aku pulang, biarkan yang berwajib menanganinya, tapi kurasa Hanifah murni bunuh diri, bukan dibunuh!" Bisik Bi Leha pada dirinya sendiri.


Bi Leha keluar dari kerumunan warga, ia kembali kerumah Bunda Najah untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan polisi.


"Apakah seorang kuyang bisa mati dengan bunuh diri? Tapi tidak akan mati meski sakit keras?" Ucap salah satu warga pada teman-temannya disebuah kedai teh.


"Ini belum pernah terjadi sama sekali, biasanya seorang kuyang akan bertahan hidup bagaimanapun juga kecuali mewariskan ilmunya pada orang dekatnya!" Timpal ibu-ibu yang sedang memberi makan anaknya dengan bubur ayam.


"Setahuku anak-anak Bu Hanifah tidak bersedia mewarisi ilmu hitam kuyang ibu mereka, sehingga Bu Hanifah berputus asa, mungkin itu sebabnya beliau memilih untuk bunuh diri!" Tukas ibu-ibu yang lain.

__ADS_1


"Apa mungkin karena itu? Atau karena penyakitnya yang tidak kunjung sembuh?" Tambah ibu-ibu.


"Entahlah, hanya almarhumah yang tahu!"


"Tapi kurasa ini murni bunuh diri, bukan dibunuh!" Ucap ibu pemilik kedai teh.


"Mengerikan, resiko menjadi kuyang sangat berat! Berdosa dan susah mati, tapi kenapa masih ada ibu-ibu bahkan gadis-gadis yang mau menjadi kuyang?!" Ucap yang lain sambil bergidik ketakutan.


"Ibu-ibu yang memiliki ilmu hitam kuyang sebagian tidak mengetahui dirinya akan jadi seorang kuyang, seperti Bunda Najah. Sebagian ibu-ibu yangain, dengan senang hati dirinya mewarisi ilmu keabadian itu dari orang terdekatnya! Di desa suamiku ada seorang wanita yang datang kepedalaman meminta ilmu pengasihan, katanya tidak pernah meminta ilmu hitam kuyang. Tapi dukun dipedalaman sana memberinya sebotol kecil minyak kental yang tidak akan terputus meski dicecer, akhirnya wanita itu menjadi kuyang tanpa sepengetahuannya!" Cerita ibu pemilik kedai teh.


"Berarti kita tidak boleh sembarangan pergi kedukun?!"


"Iya, seharusnya jangan sembarangan!"


"Tapi saat suami selingkuh, kita akan khilaf, pasti berpikir mencari tatamba atau pitua untuk membuatnya berhenti berselingkuh." Jelas yang lain.


"Iya, tak sedikit ibu-ibu yang khilaf, hingga akhirnya salah jalan!" Yang lain menimpali.


"Banyak-banyak istighfar dan berdoa, serta mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa. Hanya itu cara terbaik untuk menjuhkan kita dari kesesatan!" Tegas ibu pemilik kedai teh menesehati ibu-ibu yang ada dikedainya.


'Tatamba atau pitua' yang dimaksud ibu-ibu dikedai teh adalah bahasa Kalimantan, yang memiliki makna sama dengan penawar.


...Pesan author...


...Jangan sekali-sekali berniat mencari ilmu pengasihan, karena kebanyakannya hanya menyesatkan, lebih baik dekatkan diri pada Allah SWT, shalat lima waktu jangan bolong-bolong, kalau bisa dirikan shalat sunnat dan malam, sering-sering membaca Al-Qur'an dan berzikir. Karena kita akan merasa tenang dalam menghadapi apapun yang terjadi dan dalam keadaan bagaimanapun juga....

__ADS_1


__ADS_2