MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 94. Hutang Piutang


__ADS_3

Penuturan ketiga tukang mandi jenazah menambah kesedihan Fadli, ia mengira akan terbebas dari masalah-masalah ghaib setelah ibunya meninggal, tapi malah sebaliknya, masalah makin bermunculan datang silih berganti.


Pak Sholeh memberitahu mereka kedatangan arwah Bunda Najah pada ketiga tukang mandi jenazah hanyalah untuk menyampaikan keadaannya, efek dari ilmu hitam yang menyesatkan, dengan kata lain arwah Bunda Najah ingin berpesan begitulah akhir dari seorang pengabdi setan.


"Ibumu hanya ingin memberitahu keluarganya agar tidak terjerumus seperti dirinya, intinya jangan bersekutu dengan iblis!" Ucap Pak Sholeh yang tidak pulang kerumahnya berhari-hari demi mengejar roh Bunda Najah yang masih enggan bersatu dengan raganya di dalam tanah.


"Sudah lama aku memikirkan agar keluargaku terhindar dari segala dunia ghaib dan penganut ilmu hitam!" Tutur Fadli.


"Semoga keluargamu di jauhi dari persekutuan dengan iblis!" Ucap Pak Sholeh.


"Ini semua salahku, seandainya aku bisa memutar waktu kebelakang, aku akan menguasai egoku untuk tidak tertarik dengan apapun yang bersangkutan dengan dunia ghaib!" Ungkap Pak Hamdan menyesal.


"Ayah tak perlu menyesal, meski ayah berlarut dalam penyesalan sepanjang hari tak akan merubah segala hal yang kita hadapi." Ucap Fadli.


Hampir seminggu setelah kematian Bunda Najah, roh penasaran beliau masih bergentayangan mengganggu warga yang memiliki urusan dengan beliau semasa hidupnya. Pak Sholeh belum berhasil mengantar roh Bunda Najah ke Gunung Halau-Halau, roh Bunda Najah sangat sulit di kendalikan, tidak seperti roh-roh penasaran lain yang hanya membutuhkan sekali ritual saja langsung berhasil.


Suami istri pemilik warung masih diganggu tiap malam, dagangan mereka selalu rusak, dan basi. Mereka hampir putus asa dengan ulah almarhumah Bunda Najah.


"Pak, lama-lama warung kita sepi pelanggan, sekarang saja para pelanggan mulai berkurang. Apakah kita harus menceritakan hutang piutang kita pada Fadli?" Tanya istri pemilik warung.


"Kurasa lebih baik kita berterus terang, meskipun tidak bisa bayar sekarang, setidaknya kita beejanji akan melunasinya! Mungkin dengan cara ini arwah Bunda Najah bisa tenang, dan berhenti mengganggu kita!" Sahut sang suami.


"Baiklah, besok kita kerumah Fadli mumpung warung lagi tutup untuk sementara!" Ujar istrinya.


Sama halnya dengan kedua suami istri pemilik warung, pria yang punya hutang kasur kredit juga di ganggu tiap malam, pria itu tidak bisa tidur nyenyak, kadang kasurnya ditarik-tarik, kadang sosok pocong berbaring di samping pria itu sambil menebarkan bau busuk bunga kamboja.

__ADS_1


...****************...


Pagi-pagi setelah sarapan, kedua suami istri pemilik warung bergegas kerumah Fadli, mereka khawatir Fadli kembali ke kota.


Kedatangan suami istri pemilik warung di sambut ramah oleh Fadli dan keluarga, sang istri menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan mereka, tak lupa menceritakan bahwa tiap malam selalu di ganggu oleh arwah Bunda Najah.


"Maafkan perbuatan Bunda yang membuat ketidak nyamanan kalian!" Ucap Fadli meminta maaf mewakili ibunya.


"Kami berjanji akan melunasi hutang piutang, tapi sekarang kami belum bisa melunasinya!" Ucap sang suami pemilik warung.


"Tidak apa-apa, kami bisa memahami keadaan kalian, yang penting kalian sudah mengakui dan berjanji ingin melunasinya! Semoga Bunda berhenti mengganggu kalian agar kalian bisa kembali meneruskan usaha warung teh seperti sedia kala!" Ucap Fadli menghibur suami istri pemilik warung yang bersedih karena warung mereka mulai sepi, sementara mereka mencari rezeki melalui warung itu.


Setelah berbincang-bincang lama, kedua suami istri pemilik warung itu akhirnya berpamitan. Di luar mereka bertemu seorang pria yang juga ingin menemui Fadli, pria itu yang masih belum melunasi hutang kredit kasur yang di belinya dari Bunda Najah dulu.


Fadli menemui pria itu dan menanyakan untuk apa keperluannya datang kerumah mereka, tanpa banyak basa-basi, pria itu menceritakan perihal yang dialaminya tiap malam dan sebab musabab mengapa ia di ganggu oleh Bunda Najah.


Fadli sepakat dengan keinginan pria tersebut, hutang kredit sudah dilunasi, pria itupun pergi dengan tenang berharap tidak di ganggu lagi oleh arwah Bunda Najah.


Fadli menghela nafas dalam-dalam, iapun berharap ibunya tidak mengganggu warga lagi, tapi ia masih resah karena roh ibunya belum menyatu dengan raganya yang sudah di kubur.


"Bunda, dimanapun Bunda berada sekarang, sebaiknya kembalilah ke raga Bunda dan berpasrahlah pada Sang Pencipta, dunia ini bukan tempat Bunda lagi!" Bisik Fadli pelan, ia berharap Bunda Najah mendengar permohonannya.


Lara menyemangati Fadli yang gelisah oleh karena roh Bunda Najah tak mau pulang ke kodratnya.


"Apakah Bunda masih memiliki urusan dengan warga sehingga beliau masih bergentayangan tiap malam?" Gumam Fadli pada diri sendiri.

__ADS_1


"Kita lihat setelah warga berterus terang dengan urusan mereka, mungkin setelah ini Bunda tidak akan mengganggu warga lagi!" Ucap Lara menghibur Fadli.


"Shinta mana?" Tanya Fadli tiba-tiba.


"Dia bersama bayinya dan Bi Leha diruang tengah!" Jawab Lara.


"Aku belum memberi nama pada bayinya sampai sekarang!" Ucap Fadli teringat janjinya pada Shinta yang akan memberi nama bayi laki-lakinya itu.


"Sudah sebulan lebih bayi kalian belum di beri nama juga?" Tanya Lara.


"Awalnya aku berikan kesempatan pada Shinta untuk menamai bayinya, tapi Shinta menyerahkannya padaku! Karena banyaknya kesibukan, aku sampai tak sempat mencari nama untuk bayinya!" Tukas Fadli.


"Lupakan sejenak urusan dan masalah, luangkan waktu untuk mencari nama, kasihan bayimu sudah sebulan lebih belum juga punya nama!" Ujar Lara menasihati.


Fadli mengangguk, ia berjalan menuju ruang tengah kemudian duduk berkumpul dengan Shinta, Bi Leha dan mereka yang ada disitu. Fadli kemudian memberitahu niatnya ingin membuat acara syukuran untuk menamai bayi laki-lakinya.


"Besok pengajian tujuh hari kematian ibumu, kapan kau mengadakan acara syukuran buat bayimu?" Tanya Pak Hamdan terbatuk-batuk kecil.


"Setelah tujuh hari Bunda, Yah! Aku tidak bisa berlama-lama cuti, karena tugas sudah menungguku, sehingga besoknya setelah pengajian tujuh hari Bunda langsung saja mengadakan syukuran untuk bayi kami!" Jawab Fadli.


"Baiklah, keputusan yang bagus! Kita semua bisa berhadir, mungkin setelah itu kita akan pulang kerumah masing-masing." Ucap Pak Hamdan masih terbatuk-batuk.


"Ayah sehat-sehat saja? Dila, ambil air minum untuk Ayah!" Ucap Fadli.


Fadila mengangguk seraya pergi kedapur mengambil air minum untuk ayahnya.

__ADS_1


"Kira-kira nama apa yang bagus untuk bayi lucu ini?" Tanya Lara sambil menggendong bayi laki-laki dari Fadli dan Shinta.


Nada mulai merengek melihat Lara menggendong bayi lain, pipinya merah dan akhirnya menangis sejadi-jadinya tak ingin ibunya diambil. Lara terpaksa menyerahkan bayi laki-laki Shinta padanya karena tak ingin Nada menangis.


__ADS_2