MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 31. Penyebab Fadli Marah


__ADS_3

Fadli memarkir mobilnya dipekarangan rumah Shinta, ia berjalan dengan lunglai tak bersemangat. Shinta sudah tidak tahan menahan penasaran yang membongkah, dan amarahnya mulai timbul gara-gara diabaikan oleh Fadli sejak tadi malam.


"Bang, kenapa sikapmu berubah padaku? Kenapa dingin dan tak peduli padaku?" Tanya Shinta sesaat setelah mereka masuk kedalam rumah.


Fadli tak bergeming, ia melempar kunci mobil keatas meja ruang tamu hingga menimbulkan suara berisik. Shinta makin emosi karena pertanyaannya tidak dijawab, ia mengikuti Fadli dari belakang sambil memegangi lengan dan mengguncang-guncang tubuhnya.


"Bang, jelaskan! Jangan diam membisu tak jelas, apa yang membuatmu marah padaku?" Shinta kembali bertanya.


Fadli masih tak menyahut, wajahnya murung dan datar. Shinta akhirnya menangis sambil melontarkan pertanyaan-pertanyaan ingin tahu penyebab berubahnya Fadli. Tak disangka, Fadli menarik lengan Shinta, ia membawanya kekamar belakang disamping dapur, gudang dimana Bu Rohani melakukan ritual mengariyau.


...Dag dig dug seeer.. ....


Seketika darah Shinta terasa mengalir deras didalam tubuhnya, ia mulai mengerti mengapa Fadli marah sedemikian rupa, ia bersiap-siap menjawab jika Fadli menanyakan apa yang sedang Shinta dan keluarga lakukan padanya.


Benar dugaan Shinta, Fadli menunjuk kearah tungku perapian kecil dimana terdapat panci berisi cabe merah dan foto Fadli, disitu juga tersisa beberapa kertas berisi merica bertuliskan namanya.


"Apa yang kalian lakukan padaku?" Tanya Fadli penuh amarah, ia tak bisa mengontrol emosinya saat itu.


"Aku bisa menjelaskannya, bang! Tolong jangan marah.. ." Pinta Shinta memelas.


"Ternyata kalian mengirim guna-guna padaku??!" Fadli kembali bertanya.


"Bang.. !!" Sekali lagi Shinta memohon.


"Aku tidak suka cara ini, aku benci persekutuan dengan iblis, aku muak dengan cara instan seperti itu!" Fadli marah karena tak ingin kehidupan keluarganya bernasib sama seperti kehidupan kedua orang tuanya yang sampai kini belum menemukan jalan keluarnya.


"Bang, dengarkan aku! Aku melakukan ini karena sangat merindukanmu, aku ingin bertemu denganmu karena hampir dua minggu kau tak kunjung datang untuk sekedar berkabar padaku!" Ucap Shinta panjang lebar dengan wajah menunduk.


"Cara guna-guna apa saja yang kau lakukan untuk memikatku, sebelum ini?" Tanya Fadli menatap Shinta dengan mata tajam.


"Seperti ini saja, tidak pernah dengan cara lain, Bang! Percayalah aku tak pernah berniat untuk mengirim guna-guna yang akan mencelakaimu!" Jawab Shinta.


"Tidak, kau pasti menghalalkan berbagai macam cara untuk merebut hatiku, sebelum kita menikah!" Ucap Fadli ketus.


"Tidak pernah, aku tidak pernah mengirim guna-guna sebelum kita menikah, hanya beberapa kali saja sebelum aku hamil agar abang tetap menyayangiku!" Ucap Shinta sejujurnya.


"Jangan berbohong padaku! Guna-guna apa saja yang kau kirimkan padaku?" Desak Fadli melotot.

__ADS_1


"Hanya mengariyau tak lebih dari itu, biasanya cuma diserahkan pada orang pintar, tapi baru kemaren ibu ikut melakukan ritual tersebut!" Tukas Shinta berterus terang.


"Aku belum yakin sepenuhnya atas jawabanmu!" Ucap Fadli sambil memijit kepalanya.


Fadli mengingat ucapan Mama Hanum sebelum ia berangkat kerumah Shinta, ia jadi curiga bahwa Shinta yang mengubur fotonya bersama jenazah seperti yang Mama Hanum ucapkan padanya. Tetapi Shinta tidak mengatakan perihal guna-guna lain selain mengariyau, Fadli belum bisa meyakini semua ucapan Shinta.


"Maafkan aku!" Shinta meminta maaf, wajahnya tertunduk lesu.


"Aku akan memaafkanmu jika kau jujur!" Fadli menjawab Shinta dengan ekspresi wajah datar.


"Harus jujur bagaimana lagi? Aku sudah mengatakan yang sejujurnya, kalau perlu kau ikut aku kerumah orang pintar yang selalu membantuku?!" Tantang Shinta tidak takut.


Fadli diam mencerna kata-kata Shinta, dari mimik bicaranya menampakkan bahwa Shinta berkata jujur, tapi Fadli masih belum yakin seratus persen sebelum menanyakan pertanyaan utama yang membuatnya penasaran siapa yang mengubur fotonya bersama jenazah sehingga Lara tak bermaksud mencintainya lagi.


...*****...


"Ma, Fadli kemana?" Tanya Lara pada Mama Hanum.


"Tidak memberitahuku kemana dia pergi, mungkin kerumah ibunya?!" Jawab Mama Hanum menerka-nerka.


"Baguslah, akupun tak sudi melihatnya!" Ucap Lara penuh kebencian.


"Hah, Mama tahu darimana?" Tanya Lara.


Mama Hanum mulai bercerita panjang lebar tentang ucapan Amak mengenai Fadli, bahkan dirinya harus dimandikan ditempat Amak untuk menghilangkan efek guna-guna.


"Mama ingin membawamu kerumah Amak!" Tegas Mama Hanum.


"Mama yakin orang pintar ini tidak membohongi Mama?" Lara merasa tak yakin.


"Aku tidak yakin seutuhnya, tapi ketika kami datang, beliau sudah mengetahui sebab dan maksud kedatangan kami kesana, padahal kami belum menceritakan tujuan kami! Berarti dia memang bersahabat dengan lelembut, yang bisa menerawang!" Jelas Mama Hanum.


"Kenapa Mama tidak menanyakan siapa orang yang mengirim guna-guna tersebut?" Tanya Lara.


"Tidak terpikir sejauh itu, nanti kalau kembali kerumah beliau, aku akan menanyakannya!" Janji Mama Hanum. "Besok aku ingin mengajakmu kerumah Amak!"


Lara mengangguk tanda setuju, Mama Hanum berlalu dari kamar putri semata wayangnya, ia lega karena Lara bersedia untuk ikut kerumah Amak.

__ADS_1


...*****...


Shinta menyiapkan makan malam, keluarganya masih ditempat rumah duka, sehingga hanya dirinya dan Fadli berduaan dirumah.


Tak berapa lama, Shinta selesai memasak kemudian menyiapkan makan malam dimeja makan, dari tadi ia dan Fadli tidak saling bicara. Fadli duduk merenung diruang tengah, beban pikirannya terlalu banyak.


Shinta menghampiri Fadli untuk mengajaknya makan malam, "Bang, makan malam sudah siap!" Ajak Shinta singkat.


Fadli tidak merespon, namun ia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju meja makan, keduanya mulai menyantap makan malam mereka tanpa bicara.


Hanya bunyi sendok dan garpu yang terdengar, sedangkan suara mereka seolah lenyap ditelan bumi. Beberapa menit setelahnya, suasana kembali hening, Fadli dan Shinta sudah selesai makan malam.


Fadli beranjak dari duduknya, ia pergi kekamar tanpa basa-basi pada Shinta, emosinya masih belum berakhir. Shinta lelah dengan sikap Fadli yang berlarut-larut emosi, ia berusaha mencairkan suasana yang dingin.


Segera Shinta susul Fadli kekamar, ia berlari merangkulnya dari belakang, Fadli tak bergeming.


"Bang, sekali lagi maafkan aku! Semua ini kulakukan karena aku mencintaimu, aku khawatir kau tak akan kembali lagi padaku!" Shinta menegaskan.


"Apakah aku pernah meninggalkan tanggung jawabku?" Fadli akhirnya bicara setelah lama membisu.


Shinta menggeleng, matanya menatap kedua bola mata Fadli tak berkedip, tatapannya mengharapkan sebuah kasih dan sayang. Fadli membalas tatapan Shinta, ia merasa iba pada pemilik bola mata berwarna madu itu. Emosinya hilang seketika berganti dengan rasa kasihan.


Fadli membalas rangkulan Shinta, hening... keduanya kembali melepas rindu seolah lama tidak bertemu. Perdebatan mereka beberapa saat lalu telah pergi oleh karena rasa iba Fadli pada Shinta wanita piatu yang dinikahinya tahun lalu.


"Katakan yang sejujurnya, apakah kau yang mengubur fotoku bersama jenazah agar Lara tidak mencintaiku lagi?" Tanya Fadli lirih.


Shinta terkejut, ia mendorong tubuh Fadli dan menatap matanya tajam seraya memegang kedua lengannya yang kekar.


"Aku? Aku mengubur fotomu bersama jenazah? Tidak, aku tidak pernah melakukannya! Jangan menuduhku sembarangan hanya karena aku pernah minta bantuan orang pintar!" Tegas Shinta emosi sambil mengguncang-guncang tubuh Fadli.


"Tak usah marah, lebih baik jujur agar aku bisa memaafkanmu!" Tukas Fadli.


"Bagaimana aku harus jujur? Aku tidak pernah melakukannya sama sekali!" Jawab Shinta masih emosi.


"Baiklah, jika bukan kau pelakunya, aku akan mencari tahu sendiri siapa pelaku sebenarnya. Tapi jika aku tahu dari orang lain bahwa kau pelakunya, aku tak akan memaafkanmu!" Ancam Fadli.


"Silakan cari bukti, aku tidak takut! Aku tak pernah berniat seburuk itu, apalagi merebutmu dari istri pertamamu! Aku hanya minta hak-hakku sebagai istrimu." Ucap Shinta lantang seraya menghapus air matanya yang mulai berjatuhan membasahi kedua belah pipinya.

__ADS_1


Fadli yakin Shinta bukan pelakunya, is hanya menggertaknya agar tidak mengulangi ritual mengariyau lagi. Timbul berbagai macam pertanyaan dalam otak Fadli, siapa sebenarnya pelaku yang mengirim guna-guna dengan mengubur fotonya bersama jenazah agar Lara dingin terhadapnya bak memandang jasad tak bernyawa.


Siapakah gerangan?


__ADS_2