MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 40. Muntah Darah


__ADS_3

Semalaman suntuk Lara tidak karuan tidur setelah melihat wujud Mama Hanum yang berubah menjadi makhluk menyeramkan, Fadli juga ikut bergadang karena Nada sangat rewel malam itu, menjelang subuh baru bisa tidur. Sementara Lara, merasakan seluruh badannya panas, sakit dan nyeri bagai ditusuk-tusuk, dan perih seolah tubuhnya diiris-iris pisau. Itu adalah efek Parang Maya yang dikirim oleh dukun santet tadi malam. Fadli curiga dengan rasa sakit yang dialami Lara, ia menulisnya menjadi sebuah agenda untuk laporan yang akan diberikannya pada Pak Sholeh.


Hari mulai terang, kantuk berat menyerang Lara, ia membaringkan tubuhnya untuk tidur sejenak. Fadli meminta Lara beristirahat yang cukup untuk menghilangkan rasa sakit yang dirasakannya. Perlahan Lara terlelap setelah semalaman bergadang melawan serangan kiriman santet yang tak terlihat namun terasa.


"Siapa kerabat dekat diantara kami yang tega mengirim Parang Maya pada Lara? Apa sebenarnya maksud dan tujuan mereka?! Setahuku Lara orangnya baik dan santun, tapi kenapa ada yang berharap kematiannya?!" Berbagai macam pertanyaan muncul dibenak Fadli. "Apakah Shinta dan keluarganya yang melakukan semua ini? Banyak kemungkinan mereka yang melakukannya, karena waktu itu aku memergoki bekas ritual mengariyau dirumah mereka!" Fadli berkeyakinan bahwa keluarga Shinta lah pelakunya.


Fadli berniat pergi kerumah Shinta, tapi ia tak tega meninggalkan Lara dalam keadaan seperti itu, ia menunggu Lara bangun dan bertemu Mama Hanum untuk mengetahui bagaimana sikapnya terhadap ibunya.


Kebetulan Mama Hanum tidak ada dirumah, begitu juga Bi Ratih, mereka berdua pergi sehabis sarapan tadi. Fadli tidak menanyakan kemana mereka pergi, selain itu dia tidak bisa mengantar mereka karena terkendala oleh keadaan Lara yang tidak stabil.


Fadli menunggu ibu mertuanya kembali, baru bisa meninggalkan Lara, tapi sampai petang tiba, ibu mertuanya tak kunjung datang. Akhirnya Fadli mengurungkan niatnya pergi kerumah Shinta, tujuannya kesana ingin menanyakan kembali siapa yang mengirim guna-guna padanya, dan menyelidiki apakah Shinta dan keluarga yang mengirim Parang Maya pada Lara, sekaligus mengontrol kehamilan Shinta yang sudah menginjak enam bulan lebih.


"Tapi tidak etis jika aku menanyakan langsung apakah mereka pelaku yang mengirim Parang Maya hanya karena ada bukti bekas ritual mengariyau. Sebaiknya aku menyelidikinya dengan cara lain, meski aku yakin Shinta dan keluarganya pasti pelakunya." Gumam Fadli dalam hati, ia sangat yakin Shinta dan keluarganya yang mengirim Parang Maya. Karena selama ini ia tahu tidak ada saingan Lara, baik warga di desanya sendiri maupun di desa tempat tinggal Fadli.


Fadli menarik napas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya perlahan, ia mencoba berpikir dengan akal yang jernih meski emosinya telah memuncak, bahkan ia berniat menceraikan Shinta jika terbukti sebagai pelaku pengirim guna-guna.


"Ini semua salahku, seharusnya aku tak menikah dengan Shinta agar tidak ada yang merasa tersaingi dan tersakiti!" Fadli berujar dalam hati sambil menyesali perbuatannya. "Nasi sudah menjadi bubur!" Gumamnya lagi.


Petang hampir berganti malam, Lara keluar dari kamar mandi seraya meraih Nada yang baru saja mengkonsumsi susu formula, Lara memeluk dan mencium Nada dengan penuh kasih sayang, ia khawatir santet Parang Maya akan memisahkan dirinya dengan bayi semata wayangnya. Fadli menghampiri dan merangkul mereka, saat itu Fadli menangis terisak-isak, Lara tidak pernah melihat Fadli menangis sesedih itu, akhirnya Lara sadar bahwa Fadli masih mencintainya.


"Aku akan membawamu kekota, aku tak akan membiarkanmu sendiri dalam keadaan seperti ini!" Fadli memberitahu akan membawa Lara tinggal di kota.


Lara menangis terharu, Fadli menyapu air mata Lara dengan tangannya.


"Jangan menangis, kau pasti terbebas dari Parang Maya ini!" Fadli menguatkan Lara.


Lara mengangguk seraya menyandarkan kepalanya dibahu Fadli.


"Jangan sampai berputus asa, anggaplah ini adalah ujian, aku yakin ada hikmahnya dibalik semua ini!" Fadli berusaha menenangkan Lara yang sesekali terisak. "Tolong jangan beritahu siapapun jika kita pergi berobat! Baik keluargamu maupun keluargaku, bahkan orang-orang yang dekat dengan kita. Pak Sholeh melarang kita untuk memberitahu kerabat kita, agar proses pengusiran makhluk-makhluk ghaib yang menguasai jiwamu berjalan lancar!" Fadli mengingatkan Lara dan menasehatinya panjang lebar.


"Kenapa mereka tega melakukan ini padaku? Apa tujuan mereka ingin mencelakaiku?" Isak Lara.

__ADS_1


"Sssstttttt, sudahlah! Jangan pikirkan semua itu, kita harus fokus untuk berobat!" Ucap Fadli melarang Lara bersedih.


Lara menurut, ia kembali menimang-nimang Nada sambil terisak, kesedihannya masih melanda suasana hatinya. Ibu mana yang tak sedih jika tahu dirinya terancam, sedangkan bayinya masih kecil.


Menjelang Isya, Mama Hanum dan Bi Ratih datang, kebetulan Lara dan Fadli sedang duduk diruang tengah.


"Hanum, aku langsung pulang kerumahku, ya?!" Ucap Bi Ratih.


"Tidak mampir dulu?" Tanya Mama Hanum.


"Tidak, hari sudah malam. Aku mau memasak buat makan malam, mungkin Ivan mau makan dirumah!" Jawab Bi Ratih.


"Baik!" Jawab Mama Hanum singkat seraya masuk kerumah.


Mama Hanum masuk kedalam rumah sambil menenteng tas anyam dari rotan, beliau langsung bergabung dengan Lara dan Fadli.


"Eh, cucu nenek yang manis belum tidur ya berisi?!" Sapa Mama Hanum melihat Nada yang sedang memegang dan menggigit-gigit mainannya.


"Dari mana Ma?" Tanya Lara dan Fadli bersamaan.


Beliau mengeluarkan berbagai macam penganan tradisional, ada rempe (pisang yang diolah menjadi penganan manis), Ampelang Ikan, Dodol dan lain-lain. Mama Hanum menyodorkan cemilan-cemilan tersebut diatas meja seraya menyuruh Lara dan Fadli mencicipinya.


"Ayo dimakan, aku pergi bersih-bersih dulu, badanku gatal-gatal seharian diluar!" Ujar Mama Hanum berjalan menuju kamarnya.


"Mama tidak pergi dengan Ivan?" Tanya Lara.


"Tidak, nak! Ivan sibuk, jadi kami naik taksi antar kabupaten!" Jawab Mama Hanum. "Eh, kau sudah sadar, nak? Mama tidak aneh lagi, kan?" Tanya Mama Hanum.


"Tidak ma? Lara baik-baik saja, maafkan kejadian tadi malam, Lara pasti membuat Mama bersedih!" Ucap Lara meminta maaf.


"Tak usah kau pikirkan, nak! Mama mengerti, kau pasti kelelahan menghadapi masalahmu!" Ucap Mama Hanum dengan lembut seraya masuk kekamarnya.

__ADS_1


"Mama pasti lelah, sebaiknya aku beli makan malam diwarung saja!" Ucap Fadli beranjak dari duduknya.


"Tolong belikan obat nyamuk, dari tadi nyamuk menyebalkan ini terbang mengganggu!" Ucap Lara sambil memasang aba-aba ingin membunuh nyamuk yang mengganggunya.


"Baik, ada pesan yang lain?" Tanya Fadli.


"Tidak ada!" Jawab Lara singkat.


Fadli berjalan melangkah keluar rumah, pppshhhhhhhh.. sebuah suara seperti angin berhembus kencang masuk kedalam rumah berpapasan dengan Fadli.


"Ada apa lagi?" Gumam Fadli seraya berbalik menoleh kearah Lara yang sedang sibuk menyusui Nada.


Setelah suasana terlihat aman-aman saja, Fadli segera keluar rumah untuk membeli makan malam. Tak lama berselang, Fadli kembali dari kedai, iapun menuju ruang makan dan menyiakannya karena Lara sibuk menyusui Nada, sementara Mama Hanum masih dikamar mandi. Beberapa saat kemudian, mereka mulai menikmati makan malam.


Belum selesai makan, tiba-tiba Lara tersedak. Fadli bergegas menuang segelas air putih dan memberikannya pada Lara, Mama Hanum membantu Lara menenggak air putih tersebut, tetapi Lara memuntahkan air putih yang diminumnya. Bukan hanya memuntahkan air putih, tapi Lara muntah darah. Fadli dan Mama Hanum berhenti makan, mereka menghampiri Lara, Mama Hanum mengurut punggung Lara, Fadli membersihkan meja makan yang kotor oleh darah segar berwarna merah pekat yang baru saja dimuntahkan Lara.


"Kau tidak apa-apa, nak?" Tanya Mama Hanum cemas.


"Sakit, Ma!" Lara tidak bisa bicara dengan normal seperti kesakitan.


"Lara, mau minum air putih yang lain?" Tanya Fadli.


Lara menggeleng lemah, matanya sayu seperti kelelahan, "Tenggorokanku sakit seperti diiris-iris!" Keluh Lara sambil memegang tenggorokannya.


"Besok aku akan membawamu ke Rumah Sakit!" Ucap Fadli.


"Apakah penyakit seperti ini bisa diatasi dengan cara medis?" Tanya Mama Hanum.


"Mungkin ada penyakit lain, Ma!" Jawab Fadli.


Makan malam mereka akhirnya berhenti, masing-masing pergi kekamarnya. Fadli menuntun Lara menuju kamar, Lara melangkah gontai bagaikan orang sakit bertahun-tahun.

__ADS_1


"Tidurlah, jangan banyak beraktifitas! Nanti aku yang menjaga Nada!" Ucap Fadli.


Lara mengangguk seraya memejamkan matanya, Fadli menjaganya hingga terlelap.


__ADS_2