
Pak Mantir masih duduk sambil komat kamit membaca mantra yang tak jelas di dengar oleh Fadli dan yang lain, Pak Mantir sedang pergi ke dimensi lain untuk mengerahkan kekuatannya. Lara duduk bersandar di samping Fadli, ia masih lemah, kondisinya tak memungkinkan untuk duduk dengan benar. Keadaannya seperti orang sakit bertahun-tahun, selain itu kepalanya sangat berat dan pusing, sehingga ingin berbaring terus menerus.
Mendadak air di dalam bokor bergerak cepat seperti mendidik, percikan air membasahi lantai. Air dalam bokor tersebut semakin menggelegak, Pak Mantir berhenti merafal mantra, ia membuka matanya perlahan. Kedua belah telapak tangannya ia gerak-gerakkan diatas permukaan air hingga berhenti menggelegak.
"Mari perhatikan bayangan yang ada pada air di dalam bokor itu!" Ucap Pak Mantir menunjuk ke arah bokor.
Fadli dan yang lain serempak menoleh kearah bokor, air di dalam bokor yang tadinya sangat jernih perlahan berubah keruh, asap muncul dari permukaan air hingga membuat suasana agak berkabut. Tiba-tiba permukaan air dalam bokor itu memperlihatkan sesuatu yang tak terduga, persis seperti video sedang diputar, suasana berkabut hilang, akhirnya muncul sosok pria yang tak lain adalah Pak Burhan, pria yang selama ini dianggap Lara sebagai ayah kandungnya. Pak Burhan sedang berhadapan dengan pria tua mengenakan pakaian serba hitam, dukun santet di pedalaman. Keduanya sedang bernegosiasi, entah apa yang di bicarakan mereka, namun terlihat dengan jelas Pak Burhan menyerahkan beberapa lembar foto Lara. Adegan tersebut hilang seketika, kejadian lain muncul di permukaan air. Dukun santet berpakaian serba hitam tadi memulai ritual di depan perapian. Adegan demi adegan hilang dan muncul silih berganti, bahkan terlihat adegan saat dukun membuat boneka berbentuk wanita yang terbuat dari kain putih dan memasukkan benda-benda tajam serta foto Lara ke dalam boneka kain tersebut. Fadli terkesiap, ia menoleh kearah Lara yang ternyata sedang memperhatikan permukaan air dalam bokor dengan ekspresi tegang, sekujur tubuhnya basah penuh dengan keringat dingin, matanya tak berkedip memperhatikan adegan-adegan yang di tunjukkan air di dalam bokor.
Belum hilang ketidak percayaan Lara pada apa yang dilihatnya, tiba-tiba muncul adegan lain yang menampakkan Mama Hanum dan Bi Ratih berada di tempat dukun santet seperti Pak Burhan, namun saat itu Pak Burhan tidak nampak disitu. Mama Hanum dan Bi Ratih terlihat berdiskusi dengan dukun santet, suatu adegan memperlihatkan Mama Hanum menyerahkan pakaian milik Lara pada sang dukun, entah apa tujuan mereka menyerahkan pakaian milik Lara. Perlahan-lahan adegan di dalam air yang ads pada bokor berhenti, air tetap keruh tidak lagi jernih seperti sedia kala.
Lara menangis dan berteriak histeris, ia tak pernah menduga sama sekali dengan apa yang dilihatnya. Semula ia menganggap ucapan Pak Mantir hanya sebuah rekayasa, namun setelah melihat sendiri akhirnya ia sangat terpukul.
"Mengapa Mama, Abah dan Bi Ratih tega melakukan ini padaku?" Seru Lara menangis sambil berpegangan pada bahu Fadli.
"Pak Mantir bilang mereka hanyalah orang tua asuhmu!" Ucap Fadli pelan sambil menepuk-nepuk lembut pundak Lara.
__ADS_1
Lara menangis sejadi-jadinya, ia jadi penasaran apa misi orang tuanya mengirim guna-guna yang mematikan padanya.
"Jika mereka orang tua asuh dari istri Pak Fadli, terus dimana orang tua kandungnya?" Tanya Pak RT.
"Kebenaran akan muncul perlahan!" Tukas Pak Mantir, "Sepertinya mereka sudah pernah berobat pada orang pintar sebelum kesini?!" Pak Mantir menoleh kearah Pak RT.
"Iya, kudengar mereka pernah berobat di kampung!" Jawab Pak RT sekenanya.
"Hmmm, tapi orang pintar tersebut tidak memberitahu sedetail ini!" Ucap Pak Mantir. "Dengar, keluarga palsu istrimu sudah berkomitmen dengan dukun santet untuk membuat target kematian. Mereka menargetkannya antara dua tiga tahun, sedangkan mereka memulai mengirim guna-guna sejak setahun lebih. Apakah kalian ingin mengirim santet ini kembali pada mereka?" Tanya Pak Mantir membuyarkan tangisan Lara.
Fadli menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya dengan kasar, "Aku tidak bisa memutuskannya. Istriku yang berhak bertindak!"
"Ini berkaitan dengan kekayaan yang kau miliki!" Jawab Pak mantir.
"Tapi aku tidak memiliki kekayaan?!" Tanya Lara bingung terkadang ia meringis karena menahan rasa berat dan sakit di kepalanya.
__ADS_1
"Setahuku orang tuamu sangat kaya raya!" Jawab Pak Mantir membuat Lara dan Fadli terhenyak. "Tapi orang tua kandungmu sudah tiada sejak kau bayi!" Lanjut Pak Mantir.
Lara menangis, ternyata selama ini ia anak yatim piatu, Fadli berusaha menenangkan Lara.
"Kenapa istriku bisa di asuh oleh orang tua asuhnya?" Tanya Fadli.
"Aku menerawang jauh sejak kalian datang kemari, yang kuketahui orang tua kandung istrimu di rampok oleh geng perampok kelas kakap pada masanya, salah satu anggotanya adalah ayah asuh istrimu!" Ucap Pak Mantir memberitahu.
Suasana berubah menjadi tegang, Fadli dan Lara makin terkejut, sedangkan Pak RT diam mendengarkan kisah kehidupan warga kompleknya yang penuh drama dan tak pernah di duga sama sekali.
"Istrimu keturunan ningrat berdarah biru, dia memiliki silsilah keluarga dengan Sultan Muhammad Seman (Raja kerajaan Banjar terakhir, Kalimantan Selatan), dia berasal dari kerajaan Banjar namun keluarga orang tuanya menetap di pedalaman untuk berladang, menambang batu bara dan mendulang emas. Kekayaan mereka melimpah ruah, mereka memperkerjakan warga sekitar tempat tinggal mereka. Sayangnya sebagian warga tersebut terlibat dalam pembataian kedua orang tua istrimu, mereka menerima imbalan sebagian kekayaan orang tuanya. Yang tersisa sekarang, lahan yang tak berujung, lokasi batu bara dan emas yang siap ditambang. Tragedi berdarah itu tidak tercium oleh yang berwajib, karena puluhan tahun kebelakang tak ada yang peka seperti sekarang, warga memilihi diam, apalagi mulut mereka ditutup dengan uang dan perhiasan, akhirnya kejadian tragis tersebut hilang bagaikan ditelan bumi, sehingga sebagian pelaku dapat bernapas dengan tenang sampai saat ini."Pak Mantir menjelaskan semua yang ia ketahui sedetail mungkin.
Lara makin terpukul mengetahui orang tua kandungnya ternyata dibunuh oleh orang yang selama ini dianggapnya sebagai ayah.
"Lalu kenapa mereka mengasuh istriku yang masih bayi? Bukankah lebih baik mereka binasakan saat itu bersama orang tuanya?" Tanya Fadli.
__ADS_1
"Istri oleh ayah asuh istrimu mandul, oleh karena itu dia mengasuh istrimu yang masih bayi! Saudara-saudara istrimu ikut terbunuh bersama orang tua mereka!" Penjelasan Pak Mantir makin membuat Lara sedih.
Lara berpegangan pada bahu Fadli, ia tak berdaya mendengar semua penjelasan Pak Mantir. Lara tak pernah menyadari dirinya hidup bersama musuh keluarganya, ternyata kasih sayang yang diberikan Mama Hanum dan Pak Burhan padanya selama ini hanyalah palsu belaka.