MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 58. Harimau Putih


__ADS_3

"Mengapa kau bisa terkunci di dalam kamar mandi?" Tanya Pak Hamdan.


"Ta..ta..tadi a...ku aku me..me..!" Fadila tak berani berkata-kata.


"Kau sepertinya ketakutan, minum air putih dulu!" Ucap Fadli seraya menyodorkan segelas air minum pada adiknya.


Fadila minum dengan gesit di bantu oleh ayahnya, matanya menyapu seisi ruang dapur, ia masih ketakutan.


"Papa, aku ingin pulang, Pa?!" Fadila mengajak ayahnya pulang, ucapannya terbata-bata seperti melihat sesuatu.


"Baiklah, tenangkan dulu perasaanmu, setelah itu kita pulang!" Ucap Pak Hamdan menenangkan Fadila.


Pak Hamdan menuntun Fadila berjalan menuju ruang tengah, Fadli curiga Fadila di ganggu makhluk-makhluk ghaib kiriman dukun santet, karena selama ini rumahnya aman-aman saja, bahkan Shinta tidak pernah mengalami gangguan apapun selama tinggal disitu.


Ketiganya kembali keruang tengah, Lara duduk dilantai, bersandar pada sofa menunggu kedatangan mereka.


"Apakah kau baik-baik saja, Dila?" Tanya Lara menyapa Fadila yang nampak sangat trauma.


Fadila mengangguk sembari menoleh kearah ayahnya seolah memberi isyarat bahwa dia ingin pulang saat itu juga.


"Adikmu sedang mengalami sesuatu, Fadli! Sepertinya kami harus pulang sekarang!" Tegas Pak Hamdan.


"Baiklah, ayah! Apakah Fadila tidak mau makan terlebih dahulu?" Seru Fadli.


Fadila menggeleng, ia memilih melangkah keluar, Pak Hamdan segera menyusul melihat Fadila yang nampak buru-buru pergi.


"Fadli, adikmu syok berat! Kami harus pulang sekarang juga!" Ucap Pak Hamdan tergesa-gesa sembari menyusul Fadila.


Fadli memaklumi keadaan adik seayahnya, ia pasti mengalami hal yang menakutkan sehingga buru-buru pamit. Fadli menyusul mereka sampai ke depan rumah. Sedangkan Fadila sudah berada di dalam mobil siap untuk tancap gas, Pak Hamdan masuk ke dalam mobil dan pamit pada Fadli.


"Hati-hati ya!? Fadila, jangan ngebut di jalan!" Fadli menesehati adiknya.


Fadila mengangguk kemudian segera menyetir mobilnya keluar dari pekarangan rumah yang tidak terlalu besar. Fadli masuk ke dalam setelah mobil mereka menghilang dalam perumahan komplek.


...*****...


"Pa, aku melihat banyak sekali makhluk menyeramkan di rumah Kak Fadli!" Ucap Fadila membuka pembicaraan.

__ADS_1


"Apa saja yang kau lihat?" Tanya Pak Hamdan, dugaannya benar Fadila melihat sesuatu di rumah Fadli.


Fadila kemudian menceritakan tentang semua yang di lihatnya saat berada di dalam kamar mandi, ia bergidik ketakutan. Fadila juga tak lupa menceritakan sosok harimau berwarna putih yang selalu berada di sampingnya. Sekilas seperti cerita sebuah film horor, tapi Fadila menceritakannya dengan nada dan ekspresi tegang dan tidak nampak membubuhi kebohongan pada apa yang ia ceritakan.


"Harimau putih itu sepertinya penolongku, Pa! Makhluk-makhluk menyeramkan itu menjauh dan mundur mendengar aumannya! Aku tak berani menceritakannya di rumah Kak Fadli, aku takut dia tersinggung." Ucap Fadila mengatakan alasan mengapa dia tidak mau bicara dirumah Kakak tertuanya.


"Hmmm, dia adalah peliharaan almarhumah nenekmu!" Ucap Pak Hamdan datar.


"Dia siapa, Pa? Harimau putih? Papa jangan bercanda!" Ucap Fadila menganggap ucapan ayahnya hanya sebuah candaan.


"Bukan waktunya untuk bercanda, nak! Sepertinya sudah saatnya kau mengetahui tentang keluarga Papa!" Pak Hamdan sepertinya akan menceritakan apa saja tentang keluarganya, karena selama ini Fadila tidak pernah mengetahui hal-hal mistik yang ada dalam keluarganya. Selain itu Fadila tidak terlalu mempercayai akan adanya hal ghaib, kecuali setelah terkurung di dalam kamar mandi.


"Ada apa dengan keluarga Papa?" Tanya Fadila penasaran.


Pak Hamdan menarik napasnya sangat panjang, kemudian menghembuskannya dengan kasar seolah menanggung beban yang begitu berat.


"Begini.. ." Pak Hamdan memulai bercerita.


Pak Hamdan memulainya dari awal pernikahannya dengan Bunda Najah, hingga di karunia seorang putri yang diberi nama Faiza, begitupula ia menceritakan tentang perjanjiannya dengan jin pesugihan yang akan menumbalkan Faiza atau setiap anak perempuan pertama yang lahir dalam keluarga. Fadila terbelalak, ia merasa tak enak dengan ayahnya.


"Jangan panik! Kau sudah cukup dewasa untuk mengetahui semua persoalan dalam keluarga kita!" Pak Hamdan meminta Fadila untuk tidak panik.


"Baiklah!" Pak Hamdan tak menolak ajakan putrinya.


Keduanya turun dari mobil kemudian masuk ke dalam rumah makan, Fadila memanggil pelayan rumah makan dan memesan menu makan malam untuk mereka berdua. Tak lama berselang, pelayan rumah makan datang membawa hidangan makan malam yang di pesan oleh Fadila. Karena rasa lapar dari siang tidak makan, Fadila buru-buru melahap porsi makan malamnya, Pak Hamdan melanjutkan cerita masa lalunya, Fadila mendengarkannya dengan baik sambil menikmati makan malam.


"Faiza meninggal di usianya yang sangat belia, saat itu usianya baru genap delapan tahun!" Pak Hamdan meneteskan air mata mengenang putri sulungnya yang menjadi tumbal Keserakahannya sendiri.


Fadila jadi tak enak melihat ayahnya yang seumur-umur tak pernah menangis, "Papa, kalau cerita ini membuat Papa sedih, lebih baik tak usah Papa ceritakan!" Ucap Fadila.


Pak Hamdan menggeleng, "Kau harus tahu apa yang terjadi dalam kehidupan Papa, setelah itu kau bisa menilai baik dan buruknya Papa!"


"Baiklah, Fadila siap mendengarkannya, tapi Papa tidak boleh sedih." Pinta Fadila tak mau ayahnya bersedih.


Fadila sangat menyayangi ayahnya, begitu juga dengan Pak Hamdan, ia sangat menyayangi Fadila, karena ia putri semata wayang dalam keluarga, Fadila hasil dari pernikahan dari Pak Hamdan dengan Bu Intan.


"Dengar, sebelum Papa melanjutkan bercerita, Papa akan memberitahu padamu siapa harimau putih itu sebenarnya." Ucap Pak Hamdan.

__ADS_1


"Kata Papa, harimau putih itu peliharaan almarhumah nenek!? Bagaimana bisa, Pa? Kenapa wujudnya tidak ada lagi saat aku sadar? Dan semua makhluk mengerikan itu juga sirna bersamanya!" Tanya Fadila penuh dengan rasa keingin tahuannya.


"Harimau putih itu adalah peliharaan almarhumah nenekmu, beliau adalah tokoh masyarakat yang sangat di segani pada zamannya, bahkan derajat almarhum kakekmu tidak sebanding dengan almarhumah nenekmu! Beliau terkenal karena mengobati warga desa dari berbagai macam penyakit, baik itu teluh, guna-guna, dan lain sebagainya. Kebetulan setiap warga yang berobat pada beliau selalu sembuh, sehingga warga desa menganggap almarhumah nenekmu adalah orang sakti dan bukan orang biasa. Nah, almarhumah nenekmu ini memelihara harimau putih yang tak kasat mata, tapi akan selalu muncul disaat dirinya dalam bahaya!" Pak Hamdan bercerita panjang lebar, bahkan dia belum pernah menceritakan hal tersebut pada Fadli dan Fadil.


"Berarti almarhumah nenek tidak bisa mati? Dengan kata lain, beliau memiliki kehidupan abadi?" Tanya Fadila.


"Almarhumah nenekmu meninggal karena melahirkan adik perempuan Papa, mereka meninggal bersamaan." Kenang Pak Hamdan sedih.


"Oh, Fadila kira beliau akan hidup abadi selamanya!" Pekik Fadila.


"Tidak, beliau sulit dibinasakan melalui kekuatan manusia, tapi tidak dengan kekuasaan Sang Pencipta, tak ada seorangpun yang bisa menantang takdir! Begitu juga alamrhumah nenekmu, beliau meninggal di saat berusia empat puluh lima tahun, terbilang tidak muda lagi dan akan susah untuk melahirkan, apalagi saat itu belum ada tenaga medis seperti sekarang. Setelah beliau meninggal, para keluarga dari pihak ayah dan ibu berebut ingin memiliki kehebatan seperti yang dimiliki beliau, tapi tak seorangpun yang bisa mewarisi kehebatannya. Papa waktu itu masih remaja, belum terlalu peduli dengan kehebatan dan kekuatan mistis. seharusnya Papa yang memiliki harimau putih itu, tapi tidak bisa! Papa bukan orang yang tepat untuk memilikinya, bahkan ketiga kakak-kakakmu, Faiza, Fadli dan Fadil. Tapi kaulah orang yang pantas memelihara dan memiliki harimau putih itu, bahkan kau sepertinya akan menggantikan almarhumah nenekmu sebagai paranormal yang bisa membantu orang-orang yang membutuhkan!" Tegas Pak Hamdan.


"Hah, apa? Aku menjadi paranormal? Tidak Pa, tidak mungkin!" Kilah Fadila enggan dikaitkan dengan hal-hal mistis.


"Tak ada yang bisa menolak kehendak harimau putih itu, kau sendiri bercerita bahwa harimau putih itu menjilati rambutmu dan mengusir makhluk-makhluk mengerikan. Itu pertanda kau adalah orang yang harus memelihara harimau putih meneruskan almarhumah nenekmu!" Pak Hamdan berusaha menenangkan Fadila yang mulai panik.


"Aku tidak mau berurusan dengan makhluk-makhluk menyeramkan itu, Pa!" Ucap Fadila dengan kening mengerut.


"Tenang, nanti kau akan terbiasa! Mau tidak mau kau harus mau menerima kelebihan ini, dan diluar sana banyak orang-orang yang membutuhkanmu!" Ucap Pak Hamdan.


"Tapi aku tidak berbakat dengan hal-hal demikian!" Fadila meringis.


"Satu hal lagi, kau juga adalah tumbal jin pesugihan, tapi karena harimau putih itu selalu menjagamu, maka jin pesugihan itu tak berani mencelakaimu, alhasil dia mengincar bayi Fadli dan Lara!" Pak Hamdan menjelaskan kehebatan harimau putih yang selalu melindungi Fadila.


"Ja..ja..jadi aku juga tumbal jin pesugihan milik ayah?" Fadila terhenyak mengetahui semua itu.


Pak Hamdan menenangkannya, ia kembali menceritakan mengapa dirinya memilih jalan pintas untuk kaya raya dan bersekutu dengan iblis.


"Papa dililit hutang piutang, keluarga dari almarhumah nenekmu merampas semua kekayaan milik beliau, hingga Papa tidak memiliki kekayaan sedikitpun. Tapi mereka menyisakan beberapa petak sawah yang sudah di gadaikan, sehingga Papa harus menebus sawah-sawah yang tergadai itu, sementara Papa tidak memiliki apa-apa, hingga akhirnya Papa mengambil jalan pintas, bersekutu dengan iblis. Tak lama setelah Papa memiliki ilmu pesugihan, kekayaan almarhumah nenekmu satu persatu kembali ketangan Papa. Sampai akhirnya Papa adalah keluarga paling kaya raya di desa, namun sangat naas, istri pertama ayah ikut-ikutan mengambil jalan sesat, ia menjadi seorang kuyang setelah pernikahan Papa dengan ibumu demi merebut Papa kembali, namun tidak berhasil! Setelah Papa mengetahui hal itu, Papa meninggalkannya sampai sekarang!" Pak Hamdan seolah merasa bersalah pada istri pertamanya, Bunda Najah.


"Mama penyebab Bunda Najah seperti sekarang?" Tanya Fadila dengan ekspresi wajah emosi.


Pak Hamdan mengangguk pelan, Fadila ingin sekali menyalahkan mereka, tapi percuma, semuanya telah terjadi, nasi sudah menjadi bubur.


"Kau harus siap mewarisi kehebatan almarhumah nenekmu, karena itu sudah ketentuannya!" Pak Hamdan menyemangati Fadila yang sedang memijiti kepalanya.


Pak Hamdan kemudian menceritakan tentang keselamatan Lara yang sedang terancam, lagi-lagi Fadila terpekik, ia terheran-heran mengapa seluruh anggota keluarga dari garis ayahnya mengalami hal-hal yang berbau mistis.

__ADS_1


"Mungkin itu isyarat bagimu, siapa tahu kau bisa menyembuhkan istri pertama Papa dan istri kakak tertuamu, Lara!" Pak Hamdan menyudahi ceritanya, Fadila nampak belum siap untuk menerima kenyataan dirinya akan menjadi seorang paranormal, karena selama ini dirinya tak mempercayai akan hal-hal klenik dan mistis.


__ADS_2