MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 50. Pak Hamdan Dan Fadila


__ADS_3

Malam kembali menyelimuti kota seribu sungai disertai dengan udara dingin yang menusuk tulang. Fadli tertidur pulas setelah seharian tidak istirahat sejak pulang dari kerja sampai mengantar Lara kerumah Pak Mantir. Sementara dengan Lara, ia tak bisa memejamkan mata sedikitpun, rasa kantuk begitu berat tapi matanya tak mau terpejam.


Suasana malam di komplek terasa sangat hening dan sepi, berbeda dengan di desanya, dari jam satu malam sampai pagi sudah terdengar suara orang-orang yang pergi berjualan ke pasar subuh. Aura di komplek sangat mencekam dimalam hari, tiba-tiba Lara merasa ada tangan yang meraba bahunya, ia mengira Fadli sedang terjaga dan merabanya. Lara menoleh kesamping, tapi tangan tersebut bukan tangan Fadli, melainkan sosok makhluk menyeramkan dengan wajah berkulit tebal berbintik-bintik menyeringai kearahnya, lidahnya merah menjulur-julur seperti ingin memangsa Lara, matanya seperti mata buaya, bulat dan besar. Lara terkejut bukan kepalang, ia berusaha menjerit, tapi kerongkongannya terasa dicekik dan tak bisa mengeluarkan suara.


Sosok itu mendekati Lara, kepalanya yang besar dan berbintik-bintik tepat berada diatas wajah Lara, tangan makhluk yang besar dan bersisik menutup mulutnya, tangan yang lain mencekik lehernya sampai lidah Lara terjulur. Segala cara sudah dilakukan Lara untuk meminta pertolongan, namun suaranya tak didengar siapapun. Akhirnya Lara berontak, ia menggoyang ranjang besi sekuat-kuatnya hingga menimbulkan suara deritan. Fadli terbangun mendengar suara berisik, ia menoleh kearah Lara yang seperti bertarung dengan seseorang, namun tak nampak.


"Lara, Lara!!! Sadar Lara!" Fadli mengguncang-guncang badan Lara.


Tapi Lara tak bergeming, ia masih bergulat dengan makhluk yang tak bisa dilihat oleh mata orang normal.


"Lara, Laraaaa!! Siapa yang sedang mengganggumu? Laraaaa!!!" Fadli terhenyak melihat lidah Lara menjulur seperti di cekik.


Fadli bergegas menyalakan lampu, perlahan Lara diam dan berhenti menjulur, napasnya tersengal-sengal seolah baru saja berlari jauh. Fadli bergegas menuang segelas air putih dan membantu Lara untuk minum. Fadli menoleh kearah jam yang tergantung ditembok, waktu tepat menunjukkan pukul setengah empat subuh, di waktu bersamaan adzan sedang berkumandang.


"Apakah makhluk itu lenyap karena lampu dinyalakan, atau karena adzan subuh berkumandang?" Batin Fadli dalam hati.


Lara tak sadarkan diri, Fadli membiarkannya terbaring, karena ia pasti kelelahan setelah bergulat dengan makhluk yang pasti sangat menyeramkan jika bisa di lihat dengan mata telanjang. Fadli geleng-geleng kepala, ia hampir frustasi menghadapi permasalahan dalam hidupnya.


Matahari pagi bersinar sangat terang, Fadli tak tega harus berangkat kerja, karena Lara belum sadarkan diri. Tapi Fadli tidak boleh sering bolos kerja karena nanti akan berdampak besar bagi reputasinya. Mau tidak mau Fadli harus berangkat kerja, sebelum pergi ia menyiapkan sarapan terlebih dahulu, agar Lara tidak repot membuat sarapan. Kemudian Fadli meninggalkan selembar kertas dengan pesan agar Lara tidak usah memasak.


...*****...


Sebuah mobil sedan berwarna putih masuk ke pekarangan rumah Bunda Najah, mobil itu berhenti tepat di tengah pekarangan. Beberapa tetangga yang ada di warung teh berdiri, penasaran ingin tahu siapa yang datang. Seorang Pria berusia tujuh puluh tahun keluar dari mobil, ia berdiri memandang sekitar rumah. Pria berumur itu masih segar bugar, dari pakaiannya terlihat orang berada. Kemudian muncul seorang gadis yang menyetir mobil tersebut, ia berdiri disamping pria tua itu.


"Ini rumah Papa?" Ucap gadis itu.


"Iya, rumah yang banyak menyimpan kenangan!" Ucap pria tua tersebut.

__ADS_1


Bi Leha keluar rumah mendengar suara mobil, ia terperanjat dengan kehadiran pria tua dan gadis bersamanya itu.


"Kau!?" Bi Leha tak bisa berkata-kata.


"Saleha?" Tanya pria itu.


"Hamdan, kenapa baru sekarang kau datang?!" Ucap Bi Leha balik bertanya.


"Tahan emosimu!" Pinta pria tua bernama Hamdan yang tak lain adalah ayah kandung Fadli.


"Kau mau apa datang kemari?" Bentak Bi Leha.


"Papa, dia siapa?" Tanya gadis itu berbisik pada Pak Hamdan.


"Salah satu kerabat Papa!" Jawab Pak Hamdan.


"Kau tak perlu menjenguk Najah! Kedatanganmu tidak diharapkan olehnya!" Seru Bi Leha seraya masuk ke dalam rumah.


"Karena Papa sudah lama tak kesini!" Jawab Pak Hamdan.


"Assalamualaikum, Pak Hamdan?" Seorang wanita sebaya dengan Pak Hamdan datang menghampiri.


"Eh iya, aku Hamdan! Kau Fatima yang mengerjakan lahan-lahan kami?" Tanya Pak Hamdan.


"Iya, Pak! Bapak kemana saja selama ini tidak pernah berkunjung ke kampung?" Tanya Bu Fatima.


"Peristiwa itu, Fatima! Aku tidak bisa melupakannya! Sudahlah, tak perlu membicarakan hal itu!" Pak Hamdan tak ingin mengingat peristiwa masa lalunya ketika sosok kuyang Bunda Najah di arak warga puluhan tahun silam.

__ADS_1


"Sawah ladang bapak sangat subur, panen padi tahun ini banyak sekali, dan hasil kebun juga berlimpah ruah!" Ucap Bu Fatima mengalihkan pembicaraan.


"Aku sangat berterima kasih pada kalian yang telah bekerja keras selama ini demi kesuburan dan kemakmuran sawah dan ladang kami!" Ucap Pak Hamdan pemilik lahan dan ladang terbanyak di desanya.


"Apakah bapak akan mengambil semua hasil panen sekarang atau uangnya di transfer ke Bank seperti biasa?" Tanya Bu Fatima.


"Kita bicarakan hal itu lain kali saja, aku datang kemari karena ada suatu hal yang ingin kubereskan. Fadila, ayo masuk!" Jawab Pak Hamdan seraya masuk kerumahnya sembari mengajak Fadila.


Bu Fatima pergi setelah Pak Hamdan masuk kerumah bersama gadis yang bernama, Fadila. Pintu tidak dikunci, sehingga Pak Hamdan dan Fadila bisa masuk.


"Papa, rumah ini berbau tidak sedap!" Bisik Fadila.


"Jangan bicara sembarangan!" Tegur Pak Hamdan.


Pak Hamdan tertegun sejenak setelah berada di rumahnya, kenangan masa lalu kala dirinya masih muda dan baru menikah dengan Bunda Najah sampai saat terakhir kali ia meninggalkan rumah terbayang dalam benaknya.


"Kau ingat masa lalu?" Tanya Bi Leha tiba-tiba.


Lamunan Pak Hamdan buyar seketika.


"Karena pengkhianatanmu Najah seperti ini, kau petaka besar baginya!" Teriak Bi Leha marah. "Lihat, lihat Najah yang sekarang! Ini semja terjadi gara-gara perbuatanmu!" Emosi Bi Leha tak terkendalikan.


"Cukup Saleha! Kau tak perlu ikut campur dengan urusan rumah tanggaku!" Pak Hamdan mulai emosi.


"Pa, kenapa kalian bertengkar?" Fadila ketakutan.


"Oh, jadi ini anak gadismu dengan wanita perebut suami orang itu?" Bi Leha menatap sinister kearah Fadila yang ternyata putri Pak Hamdan dan Bu Intan.

__ADS_1


"Aku datang kemari bukan untuk berdebat, Saleha! Jadi, tolong jangan membuat emosi dan amarahku bangkit!" Pak Hamdan tak ingin berdebat dengan Bi Leha yang sedang di landa emosi.


Bi Leha tak menyahut, ia masuk ke dalam kamar Bunda Najah, Pak Hamdan menyusulnya, Fadila serta merta mengikuti ayahnya. Pak Hamdan tidak menemukan Bunda Najah dikamar, tapi ia terkejut bukan kepalang melihat seonggok tubuh tak berdaya yang tergeletak dibawah semen cor, wajah wanita yang kurus kering dan keriput di dalam semen itu tidak asing baginya, ia seperti mengenalnya.


__ADS_2