
Pak Mantir belum kembali dari perjalanannya ke dimensi lain, raganya masih duduk bersila menghadap ke arah Lara, sedangkan sukmanya sedang berkelana di dimensi lain. Mereka yang ada di kamar hanya bisa diam menunggu Pak Mantir kembali ke dunia kasat mata.
Di dimensi lain, Pak Mantir sedang menemui petinggi-petinggi makhluk ghaib, ia merundingkan agar mereka berhenti menyiksa Lara, korban santet Cuca Peruntus. Tapi makhluk-makhluk ghaib disana enggan menyepakati perundingan, mereka terikat kontrak kerja dengan dukun santet di pedalaman, karena dukun santet tersebut sering memberikan imbalan atas kerja keras mereka selama ini.
"Imbalan apa yang kalian dapatkan dari majikan kalian itu?" Tanya Pak Mantir pada salah satu makhluk tak kasat mata yang berwujud setengah manusia dan wajahnya mirip seekor kuda namun memiliki taring dan cula yang runcing serta mata merah bagaikan api.
"Kambing dan ayam hitam, nasi lemak, bunga berbagai macam, dan banyak tumbal yang mereka berikan!" Jawab makhluk tersebut.
"Kami akan mengganti dengan tumbal-tumbal lain yang lebih bagus! Tapi hentikan misi kalian mengganggu wanita bernama Lara itu!" Tawar Pak Mantir.
"Kami pengikut-pengikut setia pada majikan, mustahil kami mengingkari perjanjian yang kami buat sejak awal kami menyetujui misi ini!" Makluk berwujud setengah manusia dan setengah binatang tersebut menolak tamarin Pak Mantir.
"Apakah tidak ada cara lain untuk menghentikan misi ini? Wanita itu tidak bersalah, dia sebenarnya adalah korban, bukan seharusnya untuk di siksa!" Ucap Pak Mantir berusaha meluluhkan hati makhluk ghaib tersebut.
"Kami tidak tahu siapa dan apa tentang target yang di berikan majikan kami! Kami hanya melaksanakan tugas dari majikan yang memberi kami tumbal dan sesajen!" Jawab makhluk ghaib itu masih sangat setia pada majikan/dukun yang memberinya tugas.
"Asal kalian tahu, wanita itu keturunan berdarah biru dari keluarga bangsawan, salah satu penerus Kesultanan Banj*r yang memiliki tutus atau garis lurus keturunan raja-raja, dia salah satu keturunan dari penguasa di pulau ini. Apakah kalian mau 'ketulah'? Sementara kalian hidup di pulan yang di kuasai oleh mereka. Mundurlah sebelum 'ketulah'!" Pak Mantir berusaha memperingatkan mereka sedapat mungkin.
"Tuanku! Sepertinya kita harus mempertimbangkan hal ini!" Ucap salah satu prajurit makhluk ghaib tersebut mengingatkan petingginya yang baru saja bicara dengan Pak Mantir.
Sang petinggi menghampiri ribuan prajurit yang ada disitu, mereka mendiskusikan hasil pembicaraan petinggi dengan Pak Mantir. Sepertinya hati mereka terketuk untuk menghentikan misi membinasakan Lara, karena mengetahui silsilah target yang berasal dari keturunan berdarah biru penguasa pulau seribu sungai, tapi disisi lain mereka masih belum berani mengingkari dukun santet pedalaman yang memberi mereka tugas.
Pak Mantir duduk di atas batang kayu di bawah pohon besar di tepi rawa dimana makhluk-makhluk ghaib tersebut berkumpul sembari menunggu mereka selesai berembuk. Di tengah-tengah suasana tegang, muncul asap besar berwarna abu-abu dan berbau menyengat membuat yang mencium tersedak dan batuk.
__ADS_1
Ternyata asap tersebut berubah menjadi dukun santet pedalaman yang mengirim santet pada Lara, dengan dada membusung ia berdiri menghadap ke arah Pak Mantir.
"Hmmm ternyata kau Day*k Kaharing*n yang sok ingin menjadi pahlawan?! Jangan menghalangi pekerjaanku!" Seru dukun santet pedalaman yang bernama Apong atau Pak Apong itu.
"Kau salah target, Apong! Sebaiknya hentikan misimu itu! Targetmu keturunan bangsawan penguasa pulau seribu sungai, apakah kau tak malu mengganggu salah satu keturunan penguasa pulau ini?" Balas Pak Mantir sambil mengingatkannya.
"Apa kau punya bukti kuat?!" Tanya Pak Apong.
"Kukira kau menerawang targetmu sebelum kau mengerjakan misimu!" Sahut Pak Mantir.
Pak Apong terdiam, ia mengetahui dirinya sengaja menerima misi membinasakan Lara hanya demi memperdalam ilmu santetnya tanpa menerawang dari mana asal usul si target.
"Terus kau ingin mengirim balik santet ini pada pengirimnya?" Tanya Pak Apong.
"Tidak semudah itu!" Balas Pak Apong lenyap bersama asap yang berbau menyengat.
Pak Mantir membubarkan gerombolan makhluk-makhluk tak kasat mata yang dari tadi memperhatikan percakapannya dengan Pak Apong.
"Sebentar!" Petinggi makhluk-makhluk tak kasat mata menghentikan Pak Mantir yang ingin kembali ke alam dunia kasat mata.
"Kami akan menghentikan gangguan untuk sementara! Tapi kami bukan menghentikannya secara permanen, kami harus berembuk terlebih dahulu apakah misi ini akan diteruskan atau tidak! Kau dengar sendiri ucapan Apong, tak semudah itu untuk mengakhiri misi ini!" Ucap petinggi makhluk-makhluk ghaib kemudian lenyap.
Pak Mantir pun kembali ke alam dunia kasat mata, raganya yang tadi diam seperti patung kini mulai bergerak setelah sukmanya kembali. Fadli dan yang lain tak sabar untuk mengetahui apa saja yang akan diberitahukan oleh Pak Mantir.
__ADS_1
Lara sadar seiring dengan kembalinya Pak Mantir ke alam dunia kasat mata, sangat tak terduga oleh mereka semua, ia duduk di atas kasurnya dengan terheran-heran melihat orang-orang berkumpul di dekatnya.
"Pak Mantir, apa yang Bapak temukan disana?" Tanya Fadli membuka pembicaraan.
"Mereka berhenti mengganggu istrimu untuk beberapa waktu! Bersyukurlah karena dalam dua tiga hari ini mereka menunda untuk membinasakan istrimu!" Jawab Pak Mantir.
"Alhamdulillah, hal apa yang membuat mereka berhenti dan menundanya?" Tanya Fadli penasaran.
Pak Mantir pun bercerita segala yang ia bicarakan di alam dimensi lain dengan Pak Apong dan makhluk-makhluk tak kasat mata baru saja, mereka yang ada disitu turut senang karena untuk beberapa hari mendatang mereka tidak akan mengganggu Lara. Pak RT dan Pak Mantri pamit pulang, sementara Fadli menyusul mereka sekaligus mengantar Pak Mantri pulang kerumahnya setelah itu pergi bertugas. Sementara Mbak Mina memutuskan untuk tidak pulang kerumahnya sebelum Lara benar-benar pulih, begitu pula dengan Fadila, ia memilih untuk tidak pulang hari itu.
...*****...
"Hanum, sebaiknya kau selidiki ke kota!" Usul Bi Ratih.
"Iya, memang seharusnya aku menyusul mereka ke kota!" Sahut Mama Hanum.
"Ucapan Fadli sangat bertolak belakang dengan kenyataan, seharusnya Lara tidak berdaya dipembaringannya yang terakhir, tapi Fadli masih bisa bolak-balik dari kota ke desa tanpa ada halangan!" Timpal Bi Ratih.
"Apakah Pak Apong tidak mengerjakan tugasnya dengan benar!?" Duga Mama Hanum.
"Tidak mungkin, bukankah suamimu sendiri yang berkata bahwa Pak Apong sedang mengerjakan tahap puncak misi kita, mengirim Macan Kumbang miliknya untuk menghabisi Lara!" Bi Ratih menyangkal dugaan Mama Hanum.
Kening Mama Hanum mengerut, ia penasaran mengapa Fadli mengatakan bahwa Lara dalam keadaan baik-baik saja, padahal seharusnya terkapar tidak berdaya menunggu detik-detik kematiannya yang sudah diambang pintu.
__ADS_1