MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 91. Pocong Bunda Najah


__ADS_3

Pak Sholeh menghampiri pusara Bunda Najah yang masih basah, ia menancapkan botol diatas pusara dengan posisi terbalik agar roh Bunda Najah bisa masuk ke dalam botol itu.


Tepat adzan Maghrib berkumandang, terdengar letusan bunyi sesuatu seperti benda pecah, terlihat asap kecil keluar dari pusara Bunda Najah, Pak Sholeh berharap asap itu masuk ke dalam botol yang sudah di sediakannya, namun tak seperti yang diharapkannya, botol itu kosong serta asap keluar bebas di udara. Perlahan-lahan terlihat sosok pocong mengawang-awang di awan yang berpijak diatas angin sejengkal dari tanah.


"Najah, kembalilah ke kodratmu sebagai jasad yang sudah tidak bernyawa, dunia sudah bukan tempatmu lagi!" Seru Pak Sholeh.


Sosok pocong yang keluar dari pusara Bunda Najah itu tak bergeming, wujudnya terlihat samar-samar seperti asap rokok biasa, wajahnya menghitam tak berbentuk, siapapun tak akan mengenali bahwa pocong itu adalah Bunda Najah, namun orang yang memiliki kelebihan akan mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Fadli dan Pak Hamdan menyaksikan hal tersebut, mereka pun meminta agar arwah Bunda Najah kembali ke kodratnya, pulang menghadap Yang Maha Esa.


Pocong yang di percaya sebagai penampakkan Bunda Najah itu tak mau pergi dari atas pusara, dan tak mau pula masuk kedalam botol yang di siapkan oleh Pak Sholeh. Mereka bertiga tak bisa kemana-mana demi sosok itu bersedia masuk ke dalam botol, dengan terpaksa mereka sholat bergantian di dekat pusara.


Prosesi pengusiran arwah Bunda Najah termasuk pelik, karena Pak Sholeh kesulitan mengambil rohnya yang tak mau pulang, Bunda Najah masih ingin kembali ke dunia, tapi jasadnya sudah mati.


"Bunda, kembalilah pada kodratmu, kau sudah tidak bernyawa, pulanglah dengan tenang ke pangkuan Allah SWT!" Pinta Fadli penuh harapan.


"Najah, turuti permintaan anakmu, kau jangan membuatnya menderita terus menerus. Selama kau hidup, kau telah meresahkan anak-anakmu dan warga, sekarang kau telah tiada namun masih ingin meresahkan mereka? Aku bersalah padamu, aku banyak-banyak meminta keridhaanmu dunia akhirat, karena diriku kau jadi begini, kuharap kau mau memaafkan aku, dan kabulkan satu permintaanku, pulanglah!" Pak Hamdan memohon arwah Bunda Najah untuk berhenti meresahkan Fadli dan warga.


Tapi sosok pocong itu malah lenyap, terbang ke angkasa meninggalkan aroma bunga kamboja yang seperti terbakar.


"Sosoknya pergi, kurasa dia memiliki urusan dunia yang belum selesai dengan warga sekitar!" Duga Pak Sholeh.


"Terus, kita harus bagaimana?" Tanya Fadli sedih.


"Kita tunggu sampai pagi, mungkin rohnya bersedia masuk ke dalam botol ini!" Saran Pak Sholeh.


"Baiklah! Aku kerumah dulu mengambil tempat duduk yang layak untuk kita beristirahat disini!" Ucap Fadli pamit.


"Suruh ibumu dan Lara memasak untuk makan malam kita!" Ucap Pak Hamdan.


"Baik, Pak!" Sahut Fadli sembari melangkah pulang kerumahnya yang tak jauh dari pemakaman hanya terhalang oleh jalan kecil menuju persawahan.


Lara kebetulan sedang berdiri di teras rumah, ia melihat Fadli datang dengan tergesa-gesa.


"Ada apa, Bang?!" Tanya Lara.


"Tolong siapkan tikar, bantal dan obat nyamuk untuk kami bertiga, dan masak makan malam! Aku akan menyalakan lampu strongking untuk penerangan!" Ucap Fadli sembari melangkah menuju gudang mencari lampu strongking.

__ADS_1


"Kalian bermalam di pemakaman?" Tanya Lara menyusul Fadli.


"Iya!" Fadli sibuk mencari-cari lampu strongking yang di maksud.


"Apakah prosesi menundung belum selesai?" Tanya Lara penasaran.


"Belum, sangat sulit! Tidak semudah yang kubayangkan, Bunda benar-benar sangat meresahkan saat hidup bahkan sesudah mati!" Keluh Fadli emosi.


"Tidak boleh begitu, beliau pun tak berharap seperti itu?" Ucap Lara melarang Fadli menyalahkan Bunda Najah, ia beranjak pergi menyiapkan permintaan Fadli untuk di bawa ke pemakaman.


Setelah beberapa waktu mencari lampu, akhirnya Fadli menemukannya, iapun bergegas menyalakannya. Untuk menyalakannya harus memakan waktu lama karena lampu strongking tersebut sudah lama tidak digunakan, bentuknya pun sudah usang dan mulai mengelupas, cahaya lampunya pun tidak seterang lampu baru.


"Lumayan, daripada tidak ada cahaya sama sekali!" Gumam Fadli.


Fadli mengantar lampu strongking tersebut ke pemakaman, ia bolak balik membawa keperluan untuk mereka duduk di sana. Pak Sholeh dan Pak Hamdan sedang mengaji dengan khusyuk.


Dirumah, Lara dan yang lain segera memasak untuk makan malam mereka semua, khususnya untuk mereka yang berlembur di pemakaman.


"Apakah rata-rata seorang kuyang akan mengalami hal seperti ini, Bi?" Tanya Lara pada Bi Leha.


"Berarti Bunda masih tidak ikhlas jika dirinya telah meninggal dunia!" Ucap Lara sedih.


"Kurasa Najah memiliki urusan dunia yang belum terselesaikan dengan warga disini!" Bi Leha turut menduga-duga.


Lara menghembuskan nafasnya sangat kasar, ia turut prihatin dengan kesedihan Fadli yang tak kunjung pergi.


"Najah bukan sembarang kuyang, selain itu dia memliki berbagai macam ajian. Kurasa itu yang memberatkan kepergiannya!" Ucap Bi Leha.


"Makan malam sudah siap, apakah di antar sekarang ke pemakaman?" Tanya Mama Hanum.


"Iya, Ma! Sudah sholat Isya juga, mereka pasti lapar!" Sahut Lara sembari menyiapkan rantang untuk mengisi makan malam.


Dan benar, Fadli datang untuk mengambil makan malam mereka, Lara sudah menyiapkannya sehingga Fadli tak menunggu lama.


Fadli pamit dan berpesan agar mereka tak perlu khawatir, Lara dan yang lain mengangguk.

__ADS_1


"Sehabis makan malam, kalian ingin minum teh atau kopi?" Tanya Bi Leha.


"Nanti aku tanyakan pada Ayah dan Pak Sholeh!" Jawab Fadli.


"Biasanya ayahmu suka minum kopi hitam yang pahit dan rokok!" Ucap Bu Intan.


"Baik, bu! Nanti aku kembali lagi!" Seru Fadli seraya berlalu pergi.


Kemudian para wanita di dalam rumah mulai makan malam pula.


...****************...


Tok tok tok, terdengar suara ketukan di luar rumah Mak Inang, tukang mandi jenazah senior paling tua di kampung yang turut memandikan jenazah Bunda Najah beberapa hari yang lalu.


Mak Inang berjalan keluar ingin tahu siapa yang datang, beliau hanya tinggal berdua dengan sang suami, karena mereka tidak di karunia anak.


"Mak, siapa?" Tanya Pak Musa.


"Belum tahu, Pak!" Mak Inang membuka palang kayu sebagai kunci pintu rumah model jaman dulu. "Siapa?"


Bussssshhhhhh, angin kencang menampar wajah Mak Inang dengan keras setelah ia membuka pintu rumahnya, tidak ada siapa-siapa diluar sana. Suasana diluar sangat gelap, karena rumah Mak Inang berada di tengah-tengah kebun kelapa, dan tidak ada penerangan yang memadai sehingga suasana nampak hitam pekat, hanya terlihat bayang-bayang pohon kelapa yang hitam dan menjulang tinggi. Tercium bau menyengat dari kembang Kamboja yang terbakar.


"Siapa?" Tanya Mak Inang.


"Najah!" Sahut suara yang tak berwujud.


"Najah? Bukankah kau sudah meninggal?" Mak Inang balik bertanya.


Tiba-tiba sosok pocong muncul tepat di depan Mak Inang, wajahnya gosong menghitam dengan mata besar yang hampir keluar dari cangkangnya.


"Tempatmu bukan disini lagi, Najah! Kenapa kau datang?" Seru Mak Inang.


"Beritahu keluargaku tentang apa yang terjadi padaku saat kalian memandikanku! Jangan gunakan ilmu hitam lagi!" Seru Bunda Najah dengan suara bernada berat kemudian lenyap sekejap mata memandang.


"Ah, lenyap! Apakah itu benar-benar Najah?" Mak Inang menggosok-gosok matanya.

__ADS_1


__ADS_2