MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 74. Basa Basi Makan Siang


__ADS_3

Waktu tak terasa sudah siang, tercium aroma masakan yang sangat lezat dari dapur. Lara sesekali beranjak ke dapur memastikan masakannya sudah matang atau belum.


Mama Hanum gelisah namun tak bisa leluasa berbicara dengan Bi Ratih, karena ada Fadila disitu yang sedang menemani Nada. Dan Lara juga keluar masuk dari dapur keruang tengah. Suasana yang benar-benar tak diduga oleh Mama Hanum dan Bi Ratih, mereka mengira Lara sedang terbujur kaku di pembaringan sambil menjambak rambut dan mencakar wajahnya serta berteriak-teriak seperti orang gila. Semua apa yang dilihat mereka tak sesuai misi yang telah direncanakan.


"Hidangan makan siang sudah siap, Ma, Bi apakah kalian lebih baik makan lebih dulu? Fadli nanti menyusul kalau dia sudah kembali dari tugas!" Saran Lara pada mereka.


"Tidak nak, biarkan tunggu Fadli pulang, lebih baik kita makan bersama-sama!" Tukas Mama Hanum yang masih gelisah tak karuan.


Bi Ratih khawatir Lara curiga dengan Hanum yang tak bisa mengendalikan rasa penasarannya.


"Ma, ini bantal, rebahan dulu seraya menunggu Fadli pulang!" Lara menyodorkan dua biji bantal empuk pada Mama Hanum yang tidak fokus, pandangannya kosong mengarah kedepan. Benar dugaan Bi Ratih, Mama Hanum tak bisa mengendalikan rasa penasarannya, ia mencubit bahu Hanum berusaha untuk menyadarkannya.


"Ma?! Mama?! Mama kenapa?" Tanya Lara.


"Eh, eh.. Mama hanya tak percaya kau bisa betah disini, nak! Mama kira kau tidak kerasan, makanya Mama datang kemari untuk menjemputmu pulang bersama Nada!" Ucap Mama Hanum sekenanya, ia pun tergagap-gagap.


Bi Ratih geleng-geleng kepala seraya menaruh bantal di sofa dan rebahan disana, Mama Hanum masih tak karuan, ia duduk bersandar di sofa tak habis pikir Lara dengan keadaan sehat bugar tak ada tanda-tanda sakit, ia melirik kesudut ruangan, nampak Fadila dan Nada sedang tertidur disana.


"Pak tua, apakah ilmu milikmu sudah tidak berfungsi?" Celutuk Mama Hanum mengumpat dukun santet di pedalaman.


Fadila mendongak, Mama Hanum melihatnya, ia terkejut umpatannya didengar Fadila yang berbaring disudut ruangan sana.


"Anu nak, itu.. eee tukang jaga lumbung padi dikampung tidak bekerja dengan benar!" Mama Hanum menjelaskan padahal Fadila tidak bertanya apa-apa.


Fadila tak menjawab, ia kembali berbaring membelakangi Mama Hanum dan Bi Ratih. Sekali lagi Bi Ratih geleng-geleng kepala kearah Mama Hanum yang semakin ceroboh.


Mama Hanum duduk terpaku masih tak terima dengan keadaan Lara yang sehat dan bugar, tangannya di kepal-kepal sesekali menampar bantal yang diletakkannya untuk menopang tangannya.


"Hanum, ayo tidur siang! Lebih baik istirahat sebentar untuk memulihkan keterkejutanmu!" Nasehat Bi Ratih.

__ADS_1


Mama Hanum menggeleng, Bi Ratih berbaring, iapun terkejut dengan kondisi Lara, tapi ia bisa mengontrol emosinya agar tidak terlihat terkejut didepan Lara, ia coba memejamkan matanya untuk beristirahat sejenak dan membiarkan Mama Hanum bergelut dengan pikirannya.


Di dapur, Lara mengelus-ngelus dadanya, karena ia juga terkejut sama seperti Mama Hanum dan Bi Ratih, hanya saja Lara berusaha mengendalikan keterkejutannya.


"Bu? Ini air minum!" Mbak Mina menyodorkan segelas air putih untuk Lara yang ngos-ngosan karena kedatangan orang tua palsunya dari kampung.


"Jantungku sudah seperti roller coaster! Aku sebenarnya tak kuat bersandiwara didepan mereka, ingin sekali aku berteriak dan memaki-maki mereka saat ini juga!" Seru Lara sambil mereguk air minum yang diberikan Mbak Mina padanya.


"Sabar bu, pasti ada saatnya ibu akan mengungkapkan uneg-uneg ibu pada mereka semua, sekarang ibu pintar-pintar bersandiwara dulu, biar mereka tidak curiga bahwa sebenarnya ibu mengetahui banyak tentang siapa mereka sebenarnya dan apa saja yang mereka lakukan pada ibu dan keluarga!" Mbak Mina memberi masukan agar Lara mengontrol emosinya supaya tak dicurigai oleh keluarga palsunya.


Lara mengangguk pelan, ia berjalan perlahan mendekati lemari dan mengeluarkan piring-piring untuk makan siang mereka, Mbak Mina ikut membantunya bersiap-siap.


Tak lama kemudian Fadli kembali dari tugas, ia masuk kedalam rumah dan terperanjat melihat orang tua palsu Lara ada disana, ia bergegas mencari Lara untuk memastikan keadaan istrinya. Fadli mendapati Lara baik-baik saja didapur sedang menyiapkan makan siang, ia bingung karena tak nampak kemarahan di wajah Lara, dahi Fadli mengerut.


"Abang sudah pulang?!" Tanya Lara menggugah ketertegunannya.


Fadli mendekati Lara dan berbisik, "Aku tak percaya kau sekuat ini, dan tidak memarahi mereka!"


Fadli menghembuskan nafasnya sangat panjang, ia bersyukur Lara tidak gelabah saat itu.


"Ayo bersih-bersih, kami tunggu untuk makan siang!" Ucap Lara datang lagi kedapur.


Fadli bergegas kekamar mandi untuk ganti baju dan cuci muka.


"Mbak Mina, bawa makanan semua kedepan, kita makan bersama-sama!" Perintah Lara.


"Baik bu!" Mbak Mina mengangkat makanan keruang tengah, aroma Sup Ayam khas Banjar begitu menggugah selera, selain itu aroma Kari Ayam dan perkedel kentang juga menusuk hidung dan membuat orang yang mencium aromanya ingin segera melahapnya.


"Sisa sambal bawang, jeruk nipis, cabe rawit dan bawang merah goreng!" Gumam Lara sambil memasukkan sambal kedalam piring-piring kecil.

__ADS_1


"Bu, makan siang sudah siap!" Ucap Mbak Mina.


"Baiklah, apakah Acar sudah kau keluarkan dari kulkas?" Tanya Lara memastikan.


"Iya bu, semuanya sudah siap!" Jawab Mbak Mina.


"Baik, ayo kita makan bersama!" Ajak Lara pada Mbak Mina.


Keduanya berjalan menuju ruang tengah, Fadli menyusul mereka dari belakang. Mama Hanum dan Bi Ratih beranjak dari tempat mereka menuju meja makan, Fadli segera menyapa mereka berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa.


"Ayo silakan duduk Ma, Bi!" Ajak Fadli mempersilakan keduanya duduk.


"Terima kasih!" Ucap Bi Ratih mewakili Mama Hanum yang masih di bawah tekanan rasa penasarannya.


"Dila, ayo bangun! Makan siang sudah siap, bukankah kau bilang ingin makan makanan enak masakan kakak iparmu?! Nih, semua ada di meja makan, aromanya lezat sekali!" Ucap Fadli memanggil Fadila yang masih rebahan bermalas-malasan untuk bangkit.


"Kapan Dila bilang ingin masakanku?" Tanya Lara tersipu.


"Dari kemaren-kemaren dia ingin masakanmu, hanya saja kau tak bisa memasak, waktu kau sa.. !" Fadli berhenti bicara, hampir saja ia memberitahu Mama Hanum dan Bi Ratih bahwa Lara sakit.


Mereka yang ada disitu saling pandang.


"Sa.. apa?" Tanya Mama Hanum penasaran.


"Eee.. maksudku waktu Lara sedang ikut kursus tata rias, Ma!" Jawab Fadli sekenanya.


"Wah, Lara belajar merias? Nanti bisa merias pengantin, dong?" Ucap Mama Hanum sambil membalas tatapan mata Bi Ratih, keduanya sedang penasaran dan yakin Fadli menyembunyikan sesuatu dari mereka.


"Ayo ayo ayo makan siang!" Seru Fadli mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


Semua yang ada disitu berkumpul sembari menikmati makan siang mereka, masakan Lara benar-benar sangat lezat, keinginan Fadila untuk menikmati masakan Lara akhirnya terkabul.


__ADS_2