MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 48. Teror Dukun Santet


__ADS_3

Lara terbangun dari tidur nyenyaknya oleh sinar mentari yang menerpanya dari balik tirai, ia membuka matanya perlahan sambil menengok kesamping, hanya ada Nada disebelahnya, sedangkan Fadli tidak ada disitu. Lara bangkit dari tempat tidur sembari berjalan menuju kamar mandi yang terletak disudut kamarnya.


Sementara Fadli baru pulang dari warung setelah membeli sarapan untuk mereka berdua, ia menengok kekamar, terdengar suara kran sedang hidup di dalam kamar mandi. Fadli berpikir Lara sedang mandi, iapun pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.


Fadli menunggu beberapa saat, akhirnya Lara muncul sambil menggendong Nada dan ditangannya memegang botol dot kosong. Fadli bergegas merebut Nada dari Lara, kemudian menggendongnya karena ia tahu Lara ingin membuat susu formula untuk bayi mereka.


Lara akhirnya selesai membuat susu formula untuk Nada, ia kemudian duduk disamping Fadli dan menikmati sarapan bersamanya. Lara merasa seolah ia akan membuka lembaran baru bersama Fadli, seolah baru pertama kenal dengan sosok suaminya, ia berjanji akan mengisi lembaran baru rumah tangganya dengan kebahagiaan dan kesejahteraan jauh dari problema kehidupan.


"Aku pergi kerja dulu, ya!" Ucap Fadli sambil merapikan seragam dinasnya.


Fadli salah satu pegawai negeri yang bekerja di sebuah dinas pemerintahan di kota, ia jarang berteman dengan rekan kerjanya apalagi setelah memiliki istri dua, karena kalau tempatnya bekerja tahu, ia akan diberhentikan bekerja di dinas tersebut. Meski Lara mengetahui hal itu, namun ia tak pernah berniat menghancurkan karier suaminya, ia memilih sabar dan tabah. Akhirnya kesabarannya berbuah hasil, Fadli kembali bersamanya.


"Jangan keluar rumah kalau aku belum pulang, kau belum kenal dengan warga di sekitar komplek ini. Dan jangan membuka pintu sembarangan, karena mungkin saja pencuri. Kalau aku pulang, aku bisa membuka pintu sendiri, aku punya kunci rumah!" Pesan Fadli sebelum berangkat dinas.


"Benar, terima kasih untuk semua perhatianmu, aku akan selalu waspada!" Lara membenarkan ucapan suaminya, Fadli berjalan keluar untuk bertugas, Lara mengantarnya sampai kedepan pintu.


...*****...


"Walau kemanapun kau pergi dan bersembunyi, kau tak akan bisa menghindari Parang Maya ini, nasibmu kini sudah berada dalam genggamanku, genggaman tangan mereka yang memintaku untuk memusnahkanmu!" Ucap dukun santet merasa jika Lara tidak berada di rumah orang tuanya.


Dukun santet tersebut tak henti-hentinya menyalakan perapian siang dan malam untuk membakar foto-foto dan pakaian atau apa saja milik Lara. Bukan bakar asal bakar, dukun itu merafal mantra-mantra dan sihir untuk menyakiti Lara.


"Panaaaas, sakit, nyeri dan perih! Kau harus merasakan semua itu, jambak rambutmu, berteriaklah!!!" Sang dukun melempar berbagai macam dupa ke dalam perapian tersebut.

__ADS_1


Dukun santet itu kemudian menyembelih ayam hitam dan meneteskan darahnya pada perapian, mencampurnya dengan berbagai macam benda tajam, seperti beling, jarum, paku dan pisau silet. Begitu pula dengan foto Lara yang diikut sertakan bersama benda-benda tersebut.


"Sakit sampai ketulang, perih seperti disayat, jangan berhenti!" Dukun santet terus menerus komat kamit merafal mantra-mantra sakti miliknya.


Bau berbagai macam dupa dan benda-benda tajam dibakar menusuk penciuman, aromanya sangat tidak sedap. Tapi rumah sang dukun jauh dari pemukiman warga, sehingga tak ada yang terganggu denga aroma yang mampu membuat pusing bagi siapapun yang menciumnya.


Ditempat lain, Lara seketika merasa dirinya dipukuli, didorong, dan dilukai, sehingga seluruh badannya terasa sakit dan perih. Ia menahan diri agar tidak menjerit, khawatir warga akan berdatangan karena ia baru dilingkungan komplek perumahan tersebut.


"Tidak, aku harus tahan! Aaaaah, aaah, aaah!" Lara merintih sepelan-pelannya.


Antara rumahnya dan rumah tetangga berjarak lumayan jauh, sehingga rintihannya tidak mudah didengar oleh tetangga. Tapi ia berjuang keras menahan rasa sakit yang datang tiba-tiba tersebut.


"Dukun laknat, apa yang kalian inginkan dariku?" Umpat Lara disela rasa sakitnya.


Lara tak kuasa berdiri, ia letakkan Nada di ranjang dan memagarinya dengan guling agar tidak terjatuh, sementara dirinya sendiri sedang berjuang melawan efek santet yang dikirim sang dukun.


Lara berbaring dilantai, karena selain sakit dan nyeri, ia merasa seluruh badannya sangat panas membara bagaikan terbakar api.


"Ya Allah, hentikan kesengsaraan ini! Cabutlah rasa sakit ini!" Lara merasa tak karuan, dirinya ingin terjun kedalam air atau bersembunyi kedalam kulkas agar rasa panas ditubuhnya hilang.


Keadaan Lara yang menyedihkan berlanjut sampai siang, ia terkapar dilantai sambil mengerang kesakitan. Fadli datang dari tugas, ia terkejut melihat Lara.


"Lara, kau harus kuat! Sejak kapan sakitmu datang lagi?" Fadli bergegas menggotong tubuh Lara keatas ranjang, tapi Lara menolaknya, ia lebih memilih berbaring dilantai.

__ADS_1


"Panas!" Jerit Lara pelan hampir tak terdengar.


"Mari aku bawa kerumah sakit!!" Ajak Fadli pada Lara.


"Jangan, percuma! Sakit ini tak akan sembuh dengan cara medis!" Lara tersengal-sengal menyahut Fadli.


"Sebaiknya jangan terlalu banyak bicara, karena akan menyiksamu. Kau sangat kelelahan!" Ucap Fadli.


Fadli mendapat solusi untuk menenangkan Lara, ia segera mengambil kipas angin dan menyalakannya tepat kearah Lara, tapi cara itu tak berhasil. Rasa panas dan sakit serta nyeri tersebut tak kunjung hilang. Fadli tidak berputus asa, ia segera membawa kekamar mandi dan menyiramnya denga air yang sudah lama diendapkan, bagi orang normal air itu lumayan dingin, tapi tidak dengan Lara, ia masih kepanasan hingga akhirnya ia melepas pakaiannya. Fadli tak melarangnya dengan keadaan seperti itu, karena ia tahu pasti Lara merasa bagai dibakar.


"Rasanya tak mungkin aku menemui Pak Sholeh sekarang!" Gumam Fadli, karena baru saja bertugas setelah sebulan penuh minta cuti, sulit baginya untuk membolos.


Lara menggeliat-geliat dilantai bagaikan ulat kepanasan.


"Aku harus mencari orang yang mahir dalam menangani hal ghaib, tapi disini dimana?" Fadli bertanya-tanya dalam hati.


Fadli tidak tega membiarkan Lara dalam keadaan seperti itu terus menerus.


"Lara, tunggu disini! Aku ingin pergi kerumah Pak RT, siapa tahu beliau kenal orang pintar!" Fadli minta izin keluar rumah pada Lara.


Lara mengangguk lemah, Fadli bergegas pergi agar lekas kembali, karena ia tak ingin berlama-lama meninggalkan Lara sendirian di rumah.


Rintik-rintik hujan turun membasahi bumi, aroma tanah basah tercium sangat sejuk sore itu, namun tak sesejuk pikiran dan perasaan Fadli, ia berjalan dengan cepat menuju rumah Pak RT yang ada di ujung komplek. Hanya beberapa menit, ia sudah tiba di rumah Pak RT.

__ADS_1


"Assalamualaikum!?" Ucap Fadli memberi salam.


"Alaikum Salam! Eh Pak Fadli, silakan masuk!" Pak RT mengajak Fadli masuk.


__ADS_2