
Sebelum pulang kerumah Lara, Fadli membelokkan mobilnya menuju desa tempat tinggal Shinta, ia ingin menemui istri mudanya sekaligus membicarakan keinginannya untuk membawa Lara kekota.
Sebenarnya Fadli tidak berambisi untuk menemui Shinta, karena hatinya terlanjur curiga padanya. Dengan sangat yakin Fadli menuduh Shinta dan keluarganya yang mengirim santet pada Lara, kebenciannya mulai tumbuh pada Shinta. Tapi disisi lain status Shinta masih sebagai istrinya, dan wajib mendapatkan hak-hak serta pertanggung jawaban darinya, apalagi sekarang dia sedang hamil tua. Fadli tak ingin melepas tanggung jawabnya sebagai seorang suami dan calon ayah dari bayi yang dikandung Shinta, ia berusaha bijak dalam menghadapi problema rumah tangganya. Lagi pula tuduhannya pada Shinta belum ada bukti pasti, sehingga Shinta belum bisa dinyatakan sebagai pelaku pengirim santet Parang Maya tersebut.
Tak menunggu lama, Fadli tiba di desa tempat tinggal Shinta yang masih satu kabupaten, hanya terpisah tiga desa dari tempat tinggalnya. Fadli memarkir mobilnya dibawah pohon rambutan tepat didepan rumah Shinta, ia melihat pintu depan terbuka, Fadli masuk kedalam sambil mengetuk tembok dua kali, isyarat bahwa dia ingin masuk. Pak Hasan keluar mendengar suara tembok diketuk, meski tembok yang hanya terbuat dari papan, suaranya terdengar sampai kedalam jika ada orang yang mengetuknya.
"Nak Fadli, baru datang? Ayo masuk!" Sapa Pak Hasan sembari mengajak Fadli masuk kedalam.
"Terima kasih, Pak! Apa kabar?" Tanya Fadli berbasa-basi.
"Kami semua dalam keadaan baik-baik saja! Ayo makan, mereka ada diruang makan sedang makan siang!" Pak Hasan mengajak Fadli untuk makan siang bersama, kebetulan Fadli datang pada jam dua siang.
Fadli mengangguk tanda setuju, ia mengikuti bapak mertuanya keruang makan sembari bergabung dengan yang lain untuk makan siang. Shinta bangkit, ia bergegas mengambil piring baru dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk kemudian menyerahkannya pada Fadli.
Fadli duduk disamping Shinta seraya menikmati makan siang yang sudah terhidang didepannya, Bu Rohani menyerahkan segelas air putih untuknya. Tina adik sambung Shinta nampak tak terlihat disitu, Fadli tak mau basa-basi menanyakannya, karena tak baik untuk 'sok perhatian' terhadap adik iparnya.
Setelah beberapa waktu berlalu, mereka mengakhiri makan siang, satu persatu pergi meninggalkan ruang makan. Pak Hasan pergi keteras depan sambil menikmati teh manis setelah makan siang.
"Kau masih marah padaku?" Tanya Shinta setelah kedua orang tuanya tidak ada disitu.
__ADS_1
"Aku akan terus mencari tahu siapa pelaku pengirim guna-guna yang mengubur fotoku bersama jenazah! Gara-gara hal demikian, Lara membenciku berbulan-bulan." Ucap Fadli emosi.
"Aku sudah katakan padamu, bukan aku pelakunya! Bahkan guna-guna mengariyau pun bukan keinginanku untuk melakukannya, tapi ibu sambungku yang sangat berambisi!" Jelas Shinta.
"Apa bedanya? Kalian sama saja, satu keluarga yang bekerjasama memuja kesesatan demi hal sepele!" Ucap fadli menyulut emosi Shinta.
"Apa? Tunggu, aku memuja kesesatan? Apa tidak salah? Ayah dan ibumu juga pengabdi iblis, pemilik ilmu hitam tersohor di desa kalian. Sekarang kau menghinaku dengan tuduhan murahan seperti itu? Kau tidak punya bukti kuat menuduhku lebih jauh, soal mengariyau waktu itu sudah kujelaskan apa saja manfaat dan gunanya!" Ucap Shinta berapi-api.
"Bukan hanya mengariyau, tapi kalian mengirim santet Parang Maya pada Lara! Kalian menargetkan Lara untuk sengsara dan membuatnya mati perlahan-lahan! Apa-apaan semua ini?" Fadli mulai meninggikan suaranya.
"Hah, kau jangan menuduhku sembarangan! Beberapa waktu lalu kau tuduh aku pelaku pengirim guna-guna fotomu yang dikubur bersama jenazah, aku diam saja! Karena bagiku itu hal sepele, tapi tidak untuk kali ini, aku tidak terima kau tuduh aku mengirim santet Parang Maya pada istrimu! Aku tahu dia maduku, istri pertamamu, sainganku, tapi aku tidak sebodoh yang kau kira, apalagi mengirim santet untuk membinasakannya! Aku tidak terima kau tuduh aku dengan tuduhan seperti itu!" Shinta mengamuk dan berteriak.
"Dua orang wanita pelaku yang mengirim santet Parang Maya tersebut! Siapa? Hah, siapa? Beberapa hari lalu aku menemukan bekas ritual mengariyau digudang, kau bilang ibumu yang melakukannya. Lantas siapa dua wanita yang berani mengirim santet Parang Maya pada Lara?!"
Kini Fadli tidak berbasa-basi lagi, ia sengaja mengungkit perihal ritual mengariyau agar mertuanya tahu bahwa ia tidak menuduh sembarangan.
"Sudah kukatakan, jangan lakukan apapun!" Bentak Pak Hasan melotot kearah Bu Rohani yang diam karena merasa bersalah.
"Tapi ayah, aku tidak terima dituduh mengirim Parang Maya, aku tidak melakukannya!" Shinta membela diri.
__ADS_1
Fadli menghembuskan napas kasar, ia tak bisa menahan emosinya, padahal ia berniat untuk tidak membicarakannya didepan Shinta dan keluarganya, tapi ia tak berhasil mengontrol amarahnya yang membara. Pak Hasan marah-marah sambil menesehati istrinya, ia mewajarkan sikap Fadli, karena ia menyaksikan sendiri istrinya melakukan ritual mengariyau malam itu.
Fadli meraih kunci mobil dan pergi tanpa pamit, ia masih marah, meski dilubuk hatinya yang paling dalam sebenarnya tidak tega memarahi Shinta.
Suasana hening sejenak setelah Fadli pergi, Pak Hasan kembali memarahi istrinya dan melarangnya mendatangi orang pintar.
"Jangan ulangi lagi perbuatan tak terpuji itu! Kau benar-benar memalukan!" Bentak Pak Hasan sambil berlalu keteras depan.
"Ayahmu tak berterima kasih padaku, aku melakukan semua ini semata-mata untukmu!" Ucap Bu Rohani turut emosi pada Shinta.
Bu Rohani pergi kebelakang mengambil topi lebar dan parang, kemudian pergi keladang untuk membuang kekesalannya. Sementara Shinta terduduk lesu dikursi, ia tak pernah menyangka jika Fadli tega memarahinya sedemikian rupa.
"Fadli tahu darimana bahwa pengirim santet itu adalah dua orang wanita, apakah dia mengada-ngada untuk mencari alasan agar bisa bertengkar denganku?!" Gumam Shinta pada dirinya sendiri.
Shinta beranjak dari duduknya seraya membereskan piring cangkir bekas makan siang, kemudian mencucinya.
"Jika ini hanya alasan Fadli, aku tak akan tinggal diam! Tunggu saja, aku akan memberimu pelajaran agar tidak menuduhku semena-mena" Shinta berbisik dalam hati untuk memberi perhitungan pada Fadli.
Shinta melanjutkan pekerjaannya, ia sengaja mencuci piring cangkir bekas makan siang untuk menyibukkan diri, agar emosinya segera hilang.
__ADS_1
Shinta tak berhasil meredam emosinya, tapi memosinya makin tak terkendali, "Awas, jika kau tak datang saat aku melahirkan nanti, kau tak akan melihat wajahku lagi dan kau tak berhak untuk anak ini!" Shinta mulai memikirkan hal-hal yang tak pernah terlintas dalam benaknya.