MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 55. Kirim Balik Teluh?


__ADS_3

"Lantas apa rencana mereka jika berhasil membinasakan istriku?" Tanya Fadli diliputi kekhawatiran.


"Merebut harta kekayaan yang dimiliki istrimu! Karena mereka tidak bisa menguasai seluruh harta dan kekayaan keluarga istrimu selama dia masih hidup! Dengan membinasakannya, maka mereka akan memiliki hak waris sepenuhnya!" Terang Pak Mantir.


"Kurang ajar!" Fadli marah, tangannya mengepal, rahangnya beradu hingga mengeluarkan bunyi.


"Kalian berhak mengirim teluh ini kembali pada mereka!" Saran Pak Mantir.


"Beri kami waktu, Pak!" Ucap Fadli mewakili Lara yang masih terpukul.


"Tapi keadaan istrimu makin hari makin melemah, sementara dukun santet itu tak henti-hentinya mengirim makhluk-makhluk ghaib untuk mengganggunya!" Kata Pak Mantir.


"Apakah istriku tidak bisa disembuhkan?" Tanya Fadli tak bersemangat.


"Seandainya kalian kemari sejak awal, ada banyak kemungkinan dia akan sembuh. Tapi, kalian datang kemari setelah teluh itu menguasai seluruh sel-sel dan semua organ dalam tubuhnya! Ibarat ulat yang bersarang di dalam buah, buah tersebut mulai membusuk dan perlahan musnah. Tapi aku akan berusaha mencari cara agar teluh tersebut tidak berfungsi" Pak Mantir berjanji.


"Semingguan ini keadaan istriku makin parah, Pak! Bagaimana agar dia sehat?!" Tanya Fadli.


"Guna-guna Cuca Peruntus sangat sulit di obati, targetnya merasa tak berdaya seolah persendian dan sistem organ tubuhnya tidak berfungsi, sehingga dia ingin terus menerus berbaring, pusing dan berjalanpun sempoyongan seperti orang mabuk! Apakah itu yang kau rasakan?" Tanya Pak Mantir.


Lara mengangguk lemah.


"Untuk penyembuhannya sudah pasti sangat sulit, sekarang aku belum menemukan cara untuk mengatasinya!" Tegas Pak Mantir.


Fadli dan Lara cemas mendengar ucapan Pak Mantir, disisi lain mereka sangat marah pada keluarga asuh Lara yang selama ini mereka anggap keluarga sebenarnya, apalagi Mama Hanum menunjukkan kasih sayang seperti seorang ibu yang sesungguhnya. Lara benar-benar terpukul dengan apa yang ia alami.


"Pak, pernah suatu hari aku melihat ibu asuhku berwujud menyeramkan!" Lara menceritakan pada Pak Mantir apa yang pernah dilihatnya tentang wujud Mama Hanum yang sangat menyeramkan.


"Padahal itu sebuah isyarat, makhluk-makhluk ghaib yang dikirim sang dukun ingin memberitahu bahwa ibu asuhmu lah yang mengirim guna-guna, tapi kau tak menyadarinya!" Ucap Pak Mantir.

__ADS_1


"Oh ternyata itu sebuah isyarat?" Tanya Fadli berdecak. "Kami tidak berpikir sejauh itu, Pak! Tak pernah menduga sama sekali!"


"Musuh besar kita adalah orang yang paling dekat dengan kita!" Ucap Pak Mantir. "Kita tak bisa mengetahui isi hati dan rencana orang lain pada kita!"


"Karena aku mengira mereka adalah keluargaku, jadi aku tak pernah menaruh rasa curiga, dan aku tak pernah melihat keluargaku berbuat jahat padaku selama ini!" Ucap Lara masih tak percaya.


"Kau benar, aku juga susah untuk mempercayainya, karena pasien yang datang padaku biasanya memiliki musuh dari saingan bisnis, jarang dan malah tak pernah berjumpa dengan hal semacam ini. Sangat tak masuk akal!" Pak Mantir pun terheran-heran dengan kejadian yang di alami Lara.


"Perkara yang teramat rumit!" Sela Pak RT sambil geleng-geleng kepala.


"Bagaimana kami menghadapi keluarga istriku, jika kami bertemu mereka nanti?" Fadli bingung.


"Bersikaplah seperti biasa, seolah tak terjadi apa-apa!" Saran Pak Mantir.


"Akan kami usahakan! Oh iya, Pak Sholeh pernah bilang, jika kami berobat jangan bilang pada siapapun, termasuk keluarga dan kerabat dekat! Apakah Pak Sholeh juga mengetahui bahwa keluarga asuh istriku yang mengirim guna-guna?" Fadli baru ingat pesan Pak Sholeh.


"Benar, karena beliau mengetahui permasalahannya!" Ucap Pak Mantir.


"Iya, akupun berpikiran seperti itu, tapi kurasa aku harus memberi kepastian pada kalian, agar kalian bisa memutuskan untuk bertindak seperti apa pada mereka! Dan aku sudah menawarkan diri untuk mengirim balik teluh Cuca Peruntus pada mereka! Keputusan ada di tangan kalian, tapi jangan sekali-sekali menyerang fisik mereka, karena kau akan berurusan dengan yang berwajib." Pak Mantir menawarkan jasanya pada Fadli dan Lara untuk balas dendam.


"Aku belum bisa memutuskannya, Pak!" Ucap Lara.


"Kalau begitu, kau harus menahan sakit dan gangguan dari makhluk-makhluk halus yang dikirim mereka!" Sahut Pak Mantir.


"Sampai kapan, Pak?" Tanya Lara.


"Sampai target mereka selesai, kau harus menerima resiko, binasa atau tidak waras! Jika sistem kekebalan tubuhmu tak sanggup lagi melawan kekuatan teluh Cuca Peruntus itu, maka kau akan binasa. Tapi jika kau sanggup menghadapinya, kau akan menjadi gila. Seperti sekarang ini, kadang kau menangis, menjerit histeris sambil menjambak-jambak rambutmu! Itu anggapan orang normal kau adalah 'Orang Dengan Gangguan Jiwa' (ODGJ). Tapi keputusan ada di tanganmu, jika kau ingin mengirim balik teluh pada mereka, aku siap mengerjakannya!" Pak Mantir kembali menawarkan niat baiknya untuk membantu Lara balas dendam.


"Izinkan aku berpikir dua tiga hari, Pak!" Pinta Lara.

__ADS_1


"Itu terserah pada keinginanmu, aku hanya memberi pandangan, kau bisa memilih sendiri mana yang menurutmu baik dan buruk!" Kata Pak Mantir yang bersedia kapan saja membantu Lara.


"Kami akan mendiskusikannya dulu, Pak!" Ucap Fadil.


"Iya, pikirkan matang-matang sebelum bertindak!" Sahut Pak Mantir. "Aku akan membekali istrimu sebotol air untuk mandi, air tersebut dapat menghalau gangguan makhluk-makhluk halus itu, tapi bukan untuk penyembuhan teluh, aku belum menemukan cara untuk menyembuhkannya!" Ucap Pak Mantri.


"Baik, Pak! Tolong beri tahu kami apa saja yang harus kami lakukan untuk menghindari segala gangguan!" Ucap Fadli.


"Malam Jum'at nanti aku akan kerumah kalian untuk memagarinya, agar makhluk-makhluk ghaib itu tidak berani masuk! Meskipun berani, mereka cuma bisa berada di luar rumah!" Pak Mantir berjanji akan kerumah.


"Baik, Pak! Sekarang kami pulang dulu!" Ucap Fadli berpamitan.


"Baiklah!" Pak Mantir berdiri memgantar Fadli dan lain sampai kedepan rumah.


Fadli menyelipkan amplok pada tangan Pak Mantir sebagai imbalan telah membantu mereka sejauh ini, Pak Mantir tak menolak Pemberian Fadli.


"Kami pulang, jangan lupa mampir ke rumahku jika kau datang ke rumah Pak Fadli!" Seru Pak RT dari dalam mobil pada Pak Mantir yang masih berdiri di teras rumahnya.


"Pasti!" Jawab Pak Mantir sambil melambaikan tangannya.


Mobil Fadli meluncur ke jalan raya, ia buru-buru pulang karena teringat Nada yang sedang di asuh oleh mbak Mina. Fadli tak sampai hati melihat Lara yang bersedih, ia tak menyangka masalah hidup istrinya begitu memprihatinkan.


"Pak Fadli, tolong turunkan aku di Balai Kota, ada urusan yang harus kubereskan disana!" Ucap Pak RT.


"Baik, Pak! Pulangnya bagaimana?" Tanya Fadli.


"Nanti aku pulang sendiri!" Jawab Pak RT.


"Bagaimana jika Bu RT mencari Bapak?" Tanya Fadli lagi.

__ADS_1


"Bu RT sudah tahu, aku memberitahunya sebelum pergi tadi!" Jawab Pak RT.


"Baiklah!" Fadli fokus dengan mobilnya.


__ADS_2