MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 27. Guna-Guna


__ADS_3

Mama Hanum gelisah melihat sikap Lara yang dingin terhadap Fadli, ia ingin menyatukan mereka kembali, namun Lara orangnya keras kepala. Padahal Lara orangnya pemurah, tapi kalau dia marah, susah untuk membujuknya.


Mama Hanum duduk berangin-angin dibelakang rumah ditemani Bi Ratih, mereka membicarakan tentang rumah tangga Lara dan Fadli.


"Bagaimana caranya agar aku bisa membuat Lara dan Fadli rukun kembali?" Mama Hanum minta pendapat pada Bi Ratih.


"Lara memang susah dibujuk kalau sudah marah, wataknya keras meski dia orang yang lemah lembut. Kau jangan sering-sering nimbrung kalau mereka sedang berdua!" Bi Ratih menasehati Mama Hanum.


"Mereka jarang berdua, yang satu tidur dilantai, yang satu didalam kelambu. Padahal suasana seperti ini seharusnya bersama-sama dalam keadaan apapun!" Harap Mama Hanum.


"Setidaknya Fadli sudah berniat untuk kembali hidup rukun dengan Lara, dia sengaja cuti sebulan dengan alasan ingin membereskan masalah keluarganya. Kurasa dia hanya ingin lebih dekat dengan Lara." Bi Ratih mengungkapkan pendapatnya.


"Mungkin, aku menghargai perjuangan Fadli. Semoga Lara bisa menerimanya kembali!" Mama Hanum berharap.


"Coba kau tanya-tanya pada orang pintar bagaimana caranya menyatukan mereka kembali!" Saran Bi Ratih.


"Apakah cara ini tidak menyesatkan? Aku takut seperti Najah, malah menjadi pengabdi setan!" Mama Hanum khawatir.


"Kau cari orang pintar yang religius, mustahil mereka mengajarkan ilmu hitam, apalagi memberi minyak kuyang!" Ucap Bi Ratih. "Aku pernah mendengar, didekat pasar tradisional ada seorang wanita setengah baya yang sering membantu menyatukan kembali suami istri dari pertengkaran. Kurasa tak ada salahnya kita pergi kesana?!" Bi Ratih memberi saran.


"Kapan? Mumpung Fadli masih ada dirumah!" Ucap Mama Hanum bersemangat.


"Besok?! Lebih cepat lebih baik!" Timpal Bi Ratih.


"Aku setuju! Tapi jangan beritahu mereka kalau kita pergi ke orang pintar!" Mama Hanum tak ingin misinya diketahui Lara dan Fadil.


"Iya, jangan sampai mereka tahu!" Bi Ratih sependapat dengan Mama Hanum.


"Kau yakin orang pintar itu tidak menyesatkan?" Mama Hanum kembali memastikan.


"Setahuku, dia membantu warga dengan bacaan ayat-ayat suci, bukan ritual seperti dukun kebanyakan!" Jelas Bi Ratih meyakinkan. "Van, besok antar Mama kepasar! Kau tidak punya kesibukan?" Bi Ratih minta Ivan mengantar mereka kepasar.


"Tidak ada, Ma! Nanti aku antar kalian kepasar!" Sahut Ivan.


"Baguslah kalau begitu!" Bi Ratih lega karena tak perlu naik taksi.


...*****...


"Lara, kau masih marah padaku?" Sapa Fadli melihat Lara yang cuek terhadapnya.


Lara tak menyahut, ia sibuk memberikan ASI (air susu ibu) pada Nada. Sikap Lara yang diam membuat Fadli gemas, ia merindukan Lara yang dulu, Lara yang senang bermanja-manja padanya. Fadli mendekati Lara yang tetap tak bergeming, ia melihat air mata Lara menetes dari telaganya. Fadli merogoh sapu tangan dari dalam saku celananya seraya menyapu air mata yang membasahi pipi Lara.


Sebenarnya Lara juga merindukan kasih sayang Fadli, tapi keegoisannya mengalahkan hasrat cintanya. Fadli perlahan membelai rambut Lara, ia mengecup kening dan kedua kelopak mata sang istri. Lara membiarkan Fadli berbuat apapun yang ia inginkan tanpa mengatakan sepatah katapun.


Fadli tahu Lara masih marah, ia beranjak dari samping Lara seraya duduk disofa yang ada didalam kamar. Lara bahagia dengan momen kebersamaannya dengan Fadli, meski ia pura-pura tak peduli, ia merindukan suasana seperti itu yang telah lama tak dirasakannya.


Mama Hanum mengintip dari balik tirai, ia mengurungkan niatnya masuk kekamar, ia sangat berharap mereka kembali rukun.

__ADS_1


...*****...


Malam kembali menyelimuti perkampungan yang hijau dan subur itu, suara jangkrik mulai mengalun merdu bersahut-sahutan. Malam itu Lara tidur dengan tenang, karena jin pesugihan tidak berkunjung mengganggu mereka.


"Seandainya malam-malam berikutnya juga seperti malam ini!" Bisik Lara dalam hati, ia melihat Fadli tidur pulas dilantai cuma beralas tikar anyam, hatinya merasa iba.


Tapi rasa iba itu hilang seketika, mengingat Fadli tega menduakannya, tadinya Lara ingin keluar dari kelambu untuk menyelimuti Fadli dengan selimut, namun niatnya diurungkannya agar Fadli jera bertindak sesuka hatinya. Lara memilih untuk tidur kembali.


Beberapa saat kemudian, ayam berkokok menandakan hari telah pagi. Mama Hanum masih memantau gerak-gerik Lara dan Fadil, namun keduanya masih tidak saling sapa.


"Lara masih dingin terhadap Fadli!" Gumam Mama Hanum seraya bersiap untuk pergi menemui orang pintar untuk menanyakan perihal rumah tangga Lara dan Fadli.


"Bi Hanum, sudah siap?" Tanya Ivan seraya menyapa Mama Hanum dari luar jendela.


"Sudah, ibumu sudah siap?" Mama Hanum balik bertanya.


"Iya, Bi! Kita berangkat sekarang?!" Ivan memastikan.


"Iya sekarang juga, tunggu sebentar aku pamit pada Lara!" Mama Hanum segera menemui Lara dikamarnya.


Mama Hanum berpamitan pada Lara dan Fadli sambil menimang-nimang Nada.


"Ingin pesan sesuatu?" Tanya Mama Hanum.


"Tidak ada, Ma! Jangan lama-lama!" Balas Lara.


"Ma, mari kuantar?!" Fadli menawarkan diri.


"Oh baiklah, hati-hati, Ma!" Ucap Fadli.


Mama Hanum mengangguk seraya meninggalkan mereka, kemudian menyusul Bi Ratih yang sudah duduk didalam mobil. Tak berapa lama mereka sudah tiba dirumah orang pintar yang dimaksud. Ivan menurunkan ibu dan bibinya kemudian pergi.


"Nanti kujemput kalau sudah selesai!" Ucap Ivan berjanji.


"Jangan pergi lama-lama, ya?!" Pesan Bi Ratih pada putra semata wayangnya.


Ivan mengangguk setuju, ia berlalu dari situ. Bi Ratih dan Mama Hanum masuk kerumah orang pintar tersebut, mereka harus menunggu giliran, karena didalam sudah ada orang yang berkonsultasi.


"Siapa nama suaminya?" Tanya suara berat dan serak dari dalam bilik.


"Fadli! Amak sering mengerjakan nama ini." Jawab wanita lain dibilik yang sama.


Dag dig dug seeer.. .


Mama Hanum dan Bi Ratih saling pandang saat nama Fadli disebut. "Ah, mungkin nama yang sama, beda orang!" Bisik mereka dalam hati. Mereka berusaha berbaik sangka.


"Sudah hampir dua minggu tidak pulang kerumah istrinya, kami ingin Amak memanggil sang suami pulang dengan cara apapun!" Pinta wanita didalam bilik itu.

__ADS_1


"Amak akan mengerjakan ritual mengariyau (memanggil), dia akan gelisah dan bergegas pulang, meski berada diseberang pulau sana! Si istri juga bisa melakukannya bersamaku." Tukas wanita bersuara berat yang bernama Amak itu.


"Apa yang harus dilakukannya, Amak?" Tanya wanita yang berkonsultasi tersebut.


"Baca Surah '.....' sebanyak 41 kali tanpa berhenti pada malam Senin atau Jum'at. Sebelum itu siapkan kertas 287 helai, tulis nama sang suami, merica 287 biji, bungkus merica satu persatu pada kertas tadi. Siapkan cabe merah kering, panci untuk merebus, dan kompor kecil. Nyalakan api, rebus cabe merah dan lempar bungkusan merica setiap bertemu kalimat M*biin diakhir ayat pada Surah '.....'. Kalimat M*biin terdapat pada tujuh ayat didalam Surah '.....'. Sebut nama suaminya beserta keinginan yang ingin dia sampaikan! Lakukan kegiatan yang sama sampai 41 kali, aku yakin dalam waktu dua tiga hari suaminya akan kembali!" Ucap Amak panjang lebar mengajarkan ritual memanggil seseorang.


"Baiklah, Amak! Nanti kami usahakan mengerjakannya, sekarang kami pamit dulu!" Ucap wanita itu seraya keluar dari bilik.


Ternyata wanita itu tidak sendiri, mereka datang berdua, salah satu diantaranya sudah berusia senja, dan yang satu lagi masih muda dan belia. Wanita setengah baya tersenyum kecil kearah Mama Hanum dan Bi Ratih seraya membungkuk saat melewati mereka. Keduanya pulang, Mama Hanum dan Bi Ratih masuk kedalam bilik wanita yang bernama Amak itu.


"Kalian datang kesini karena masalah rumah tangga yang sangat rumit!" Ucap Amak padahal belum diberi tahu.


"Bagaimana Amak bisa mengetahui alasan kedatangan kami?" Tanya Mama Hanum terheran-heran. Bi Ratih ikut heran, mereka berpandangan, takjub dengan kehebatan paranormal yang satu ini.


"Sahabatku baru saja memberitahuku saat kalian masuk kedalam bilik ini! Aku memiliki sahabat ular yang bisa mengetahui masalah-masalah pasienku!" Jelas Amak.


"Baiklah, kalau begitu kami ingin Amak menolong rumah tangga anak kami!" Mama Hanum memulai pembicaraan, ia menceritakan perihal rumah tangga Lara dan Fadli dari awal sampai perselingkuhan dan keadaan sekarang yang dingin bagaikan salju.


"Siapa nama suaminya?" Amak bertanya.


"Fadli!" Jawab Mama Hanum singkat.


"Sudah lama berantakan, rumah tangganya dirusak seorang wanita, foto suaminya dikubur bersama mayat, sehingga istrinya tak bermaksud mencintai suami lagi, sama seperti dia melihat mayat, hambar dan dingin!" Terang Amak mengejutkan Mama Hanum dan Bi Ratih.


"Pantas saja anakku bersikap dingin terhadap suaminya!" Pungkas Mama Hanum dengan mata dan mulut terbuka lebar.


"Lantas bagaimana melepas guna-guna tersebut?" Tanya Bi Ratih menyambungi.


"Foto sang suami harus dikeluarkan dari makam!" Jawab Amak dengan suaranya yang serak.


"Ya Tuhan, kasihan sekali Lara, berbagai masalah datang silih berganti, menimpanya bertubi-tubi tanpa belas kasih." Pekik Mama Hanum terisak.


"Sudahlah, Hanum! Mungkin ada hikmahnya dibalik semua ini!" Bi Ratih menenangkan. "Apakah tak ada cara lain untuk sementara ini, Amak?" Tanya Bi Ratih.


"Sangat sulit, karena cintanya telah terkubur bersama foto suaminya!" Jawab Amak. "Aku akan mengerjakan ritual untuk membuka mata hatinya, agar bisa melihat cintanya seperti semula. Sebaiknya bawa istrinya kemari malam Jum'at nanti, aku akan memandikannya dengan air kembang tujuh rupa!" Amak meminta mereka membawa Lara.


"Baiklah Amak, apa saja syaratnya?" Tanya Mama Hanum.


"Jarik warna Hitam dan Putih, sehelai kain kuning, bunga tujuh rupa, wewangian tidak mengandung alkohol dan dupa!" Amak memberitahu syarat yang harus dibawa nanti bersama Lara. "Datanglah kemari hari Kamis sebelum petang!"


"Baik, Amak! Berarti sekarang kami boleh pulang?" Tanya Mama Hanum.


"Iya, aku tunggu kedatangan kalian hari Kamis nanti!" Ucap Amak.


"Terima kasih, Amak! Kami pulang sekarang!" Ucap Mama Hanum seraya menjabat tangan Amak dan memberikan amplop berisi uang.


Mama Hanum dan Bi Ratih pulang, Ivan sudah menunggu mereka didepan rumah Amak.

__ADS_1


...Pesan author:...


...Jangan sekali-sekali melakukan perbuatan yang diucapkan Amak, karena tidak dibenarkan mencampur ayat-ayat suci dengan ritual melempar merica kedalam rebusan cabe merah, sama saja syirik. Author menulis sedemikan rupa karena pernah mendengar seorang paranormal melakukan ritual mengariyau (memanggil) seseorang dengan cara yang sama. Kalaupun kebetulan manjur, itu atas izin Allah SWT, bukan karena ritual tersebut....


__ADS_2