MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 14. Hilang


__ADS_3

Fadli harus kembali kekota untuk tugas, ia belum sempat mencari tentang pawang kuyang, karena waktu liburan sangat terbatas, sedangkan pawang kuyang bukan warga di desanya.


"Kamu diskusikan sama Bi Leha aja ya?! Semoga Minggu depan udah ada kemajuan!" ucap Fadli sembari menghidupkan mesin mobilnya.


"Abang hati-hati ya!? Jaga kesehatan, makan yang teratur! Jangan tidur terlalu malam". pesan Lara pada Fadli.


"Gak usah cemas, ada Mak Yanti yang selalu ada masakin karyawan seperti aku yang jauh dari istri!" Fadli menenangkan Lara yang sangat rempong dengan kesehatannya.


"Baiklah bang, aku lega kalo kamu bisa jaga kesehatan! Seandainya kita bersama, aku akan masak enak-enak buat abang!" Lara berharap bisa bersama-sama suaminya.


"Akan tiba saatnya, sayang!" Ucap Fadli seraya mengelus rambut Lara dari dalam Mobil.


Lara berdiri disamping mobil, bincang-bincang sebentar bersama suaminya, ia masih tak puas bersama sang suami.


"Usahakan pulang kalo ada waktu luang, sayang! Aku rindu banget bisa berduaan!" mata Lara berkaca-kaca.


"Iya sayang, aku pasti berusaha punya waktu luang! Aku juga pengen dekat dengan kamu sepanjang waktu!" balas Fadli membuat Lara tersipu-sipu.


Mobil Fadli mulai berjalan, Lara masih tak mau berpisah, ia berdiri disamping mobil.


"Makasih udah ngerawat dan jagain bunda, kamu menantu idaman!" Fadli berterima kasih seraya memuji Lara.


"Udah kewajiban aku, bang!" Lara terseyum kecil.


"Sana masuk, jangan lama-lama diluar, nanti diliatin orang, aku jadi cemburu!" Rayu Fadli.


"Apaan sih, ya udah aku masuk dulu! Hati-hati dijalan, sayang! Fokus nyetir jangan lirik-lirik cewek dijalan, awas lho!" Ancam Lara bercanda.


"Hehe!" Fadli terkekeh seraya menyetir mobilnya dan pergi.


Lara masuk kerumah, ia akan memulai hari-harinya sendirian yang sangat membosankan, bukan karena mengurus mertuanya tapi karena harus jauh dari suaminya. Lara sudah tak mempermasalahkan dengan keadaan sang mertua, ia jalani sepanjang hari dengan sabar, dan mencoba tidak bersedih dengan omongan sebagian warga. Meski statusnya hanya sebagai menantu, tapi Lara turut terluka jika warga menggunjing mertuanya.


"Lara, warga gak bisa diatur, mereka akan terus menggunjing kecuali Najah sembuh atau tutup usia, maaf lancang. Tapi kenyataannya memang begitu!" tegas Bi Leha.


Hanya Bi Leha yang jujur dan benar-benar prihatin pada keluarga bunda Najah, sementara warga lain meski terlihat baik namun tidak sepenuhnya baik, deskrepsi didepan beda dibelakang beda.


"Aku lebih baik diam, Bi! Kalo ngeladenin omongan warga malah makin menjadi. Bang Fadli nanya apakah Bi Leha kenal sama pawang kuyang?" Lara bertanya.


"Gak kenal secara langsung, tapi aku tau orangnya, tetangga desa. Emangnya mau apa?" Bi Leha balik bertanya.


"Kali aja pawang kuyang punya solusi buat kesembuhan bunda!" Jawab Lara penuh pengharapan.


"Kok aku gak yakin?! Belum pernah dengar pawang kuyang bisa nyembuhin kuyang yang sakit!" tukas Bi Leha.


"Itu aku yang ngasih saran, Bi! Kan gak ada salahnya nyoba, mereka tau dunia bangsa kuyang! Pasti dia punya solusinya.


"Baiklah, biar nanti aku yang nemui pawang kuyang itu, sekalian kuajak kemari kalo dia bersedia datang!"


"Makasih banyak, Bi. Gak tau harus bilang apa, Bi Leha udah banyak banget bantu keluarga kami!" ucap Lara berterima kasih.

__ADS_1


"Ah gak usah gitu! Najah sahabatku dari kecil, udah kewajiban aku ngebantu. Sejelek-jeleknya Najah, dia tetap sahabatku!" Bi Leha tulus, nampak matanya berkaca-kaca.


"Bunda beruntung punya sahabat yang benar-benar setia! Ayo minum teh hangat dulu, ini aku bikin pisang goreng, pisangnya diambil dikebun dibelakang" ucap Lara senang, seraya menyodorkan teh hangat dan pisang goreng panas.


"Wah enak sekali, rezeki emang gak kemana!" ucap Bi Leha seraya mencicipi pisang goreng buatan Lara.


Lara dan Bi Leha berbincang-bincang sambil menikmati teh hangat dan pisang goreng, sesekali Lara menyuapi bunda Najah.


"Aku pulang dulu ya, nanti aku nemuin pawang kuyang secepatnya!" Bi Leha pamit pulang.


"Makasih, Bi! Hati-hati dijalan ya!" Lara mengantar Bi Leha sampai pintu depan.


Hari beranjak malam, Lara menyiapkan nasi dan lauk pauk dalam porsi besar untuk makan malam bunda Najah, suara geraman terdengar dari kamar beliau sejak petang, malam itu tepat malam Jum'at. Lara tak punya firasat apa-apa, ia menjalankan aktifitasnya seperti hari-hari biasa.


"Arghrghrgrhgrh arghrghrgrhgrh arghrghrgrhgrh!" geraman bunda Najah terdengar sampai kedapur.


"Bentar, bund! Lagi memasak ikan dan sayur!" sahut Lara dari dapur.


Geraman bunda Najah kadang nyaring, kadang pelan dan perlahan sepi. Lara mengira bunda Najah tak sabar menunggu makan malamnya, ia buru-buru memasak ikan dan sayur. Suasana benar-benar hening, sampai Lara benar-benar selesai memasak, ia menyiapkan makan malam tetap bersama pancinya dan menaruhnya pada sebuah nampan besar, agar segeranya tersedia kapanpun bunda Najah minta makan saat malam hari.


Lara masuk kekamar membawa nampan berisi makanan, sepi tak ada suara bunda Najah yang menggeram, bahkan napas beliau tak terdengar sama sekali.


"Bunda...!? Bunda dimana?" panggil Lara berulang kali sembari memandang kesekeliling kamar.


Bunda Najah tak ada dikamar, Lara mulai waspada, ia khawatir kejadian kemaren terulang ketika bunda Najah masuk ke kolong ranjang. Sementara diluar sudah gelap dan pekat, karena lampu-lampu dirumah tetangga sudah sebagian dimatikan, hanya lampu kecil dipekarangan. Lagipula hanya sebagian rumah warga yang diterangi lampu listrik, selebihnya lampu minyak biasa, karena listrik masih belum menyebar rata kala itu.


Lara meletakkan nampan diatas meja dikamar bunda Najah, ia mencari bunda keseisi ruangan dirumah, tapi tak ada tanda-tanda bunda Najah ada didalam rumah. Lara mulai kebingungan, ia pergi kewarung minta pertolongan warga.


"Aku juga bingung, pak! Biasanya cuma dikamar!" Jawab Lara panik.


"Mari kita cari sama-sama! Bawa lampu strongking!" ucap warga.


"Gak ada minyak gas, pak! Belum beli di kecamatan!" sahut warga.


"Baiklah, kita bikin obor aja!" ucapnya.


"Iya, obor aja!" timpal yang lain.


"Anak-anak dilarang ikutan!" larang pria setengah baya karena Anak-anak mulai berdatangan mendengar ribut-ribut diwarung. "Ayo pulang, udah larut malam!" bentak pria itu.


Anak-anak takut, kemudian pulang kerumah masing-masing, Lara dan warga mulai mencari bunda Najah yang lenyap entah kemana. Mereka mulai mencari disekitar rumah bunda Najah, setelah beberapa waktu tak menemukan beliau, mereka memutuskan mencari keluar pekarangan.


"Bunda, bundaaa? Bunda dimana? Ayo pulang bunda!!" teriak Lara memanggil bunda Najah.


"Bunda Najah, bundaaa.. bundaaaa!" warga turut berteriak memanggil bunda Najah.


"Coba cari kesemak-semak!" ucap salah satu warga.


"Sebaiknya kita berbagi jadi tiga kelompok, kalian kearah sana, kami kesini!" saran warga.

__ADS_1


Mereka membagi tugas, masing-masing kelompok mencari di wilayah yang sudah ditunjukkan.


"Awas ada ular!" pekik warga.


"Mana?! Mana?? Jangan sembarangan membunuhnya, ingat malam ini malam Jum'at, mungkin bukan ular beneran!" ucap warga menasihati.


"Ya udah, usir aja. Tapi harus berhati-hati!" seru yang lain.


Ular itu pergi dengan sendirinya menjauh dari warga. Lara dan beberapa warga menapaki jalan setapak menuju hutan di belakang rumah, sementara warga lain mencari kesamping jalan, dimana terdapat pemakaman tua yang terbengkalai.


"Bunda Najah ada disini!" Seru seorang warga sambil memukul bambu yang dibawanya.


Warga yang lain menoleh kearah suara itu, sambil berlarian menuju pemakaman tua tersebut.


"Woyyy, kemari! Bunda Najah sudah ditemukan!" teriak seorang warga memanggil warga lainnya yang berpencar.


Lara dan beberapa orang wanita yang menemaninya beserta warga bergegas berbalik menuju pemakaman tua. Lara melihat sosok sang mertua dalam posisi tengkurap di atas sebuah makam tanpa nisan, ia heran kenapa sang mertua bisa berada ditempat itu, sedangkan untuk bergerak saja tidak bisa.


"Ayo bawa beliau pulang!" perintah warga pada warga yang lain.


"Udah Lara, gak usah bengong, orang sakit kadang memang aneh kelakuan mereka!" ucap seorang wanita membuyarkan lamunan Lara.


"Ayo nak, siapkan baju bersih untuk mertuamu!" ucap warga.


"Baik, pak!" Lara bergegas pulang menyiapkan baju untuk bunda Najah yang kotor berdebu.


Warga saling bantu menggotong tubuh bunda Najah, meski kurus kering namun sangat berat tak sesuai dengan tubuh beliau.


"Pasti ini makhluk peliharaan bunda Najah yang bikin berat!" ucap warga.


"Udahlah, jangan dipermasalahkan! Kasian keluarganya, ayo cepetan gotong bersama kami!" seru warga.


"Pelajaran buat kita semua, jangan sampai istri dan anak perempuan kita memilih jalan sesat seperti ini!" tukas warga yang lain.


"Bersyukurlah dengan apa yang kita punya!"


"Wanita ngambil jalan pintas begini, juga karena laki-laki. Gak semua wanita bisa bertahan dalam hubungan tak sehat!" bela warga yang tak setuju dengan pendapat yang hanya menyalahkan, tapi tak tahu kenapa seseorang bisa senekat itu.


"Intinya harus bisa saling menjaga perasaan! Jangan sampai ada yang tersakiti!" balas warga yang lain.


Mereka mengantar bunda Najah sampai kekamar, Lara sudah menyiapkan baju ganti buat sang mertua.


"Terima kasih banyak untuk semua bantuan dan pertolongan kalian, aku gak bisa balas budi, hanya Tuhan yang akan membalaskan!" ucap Lara berterima kasih.


"Ini sudah kewajiban kami sebagai warga!" sahut tetua kampung yang ikut mencari bunda Najah.


Mereka berusaha tenang, padahal mereka sangat terheran-heran dengan kejadian hilangnya bunda Lara, sementara mereka tahu kondisi beliau yang tak bisa bergerak sama sekali.


Lara tak kalah pensaran, ia tak habis pikir bagaimana sang mertua bisa merangkak kepemakaman tua itu sedangkan kondisi beliau sangat memprihatinkan.

__ADS_1


Lara tertekan, tak tahu bagaimana lagi menyembuhkan penyakit bunda Najah yang semakin hari semakin memburuk dan aneh.


__ADS_2