
Seolah seperti tak pernah terjadi apa-apa, Lara saat ini dalam keadaan bugar dan sehat, malah dia bisa memasak sepulangnya Pak RT dan Pak Mantir. Mbak Mina tak heran melihatnya, karena ia sudah mendengar semua penjelasan Pak Mantir, tapi disisi lain Lara masih bersedih, karena santet yang menggerogoti tubuhnya belum benar-benar berhenti.
"Bu, ibu tak perlu cemas, meski kata Pak Mantir santet ini tidak berhenti seutuhnya, tapi setidaknya kau bisa sehat kembali. Semoga ibu sehat seterusnya!" Ucap Mbak Mina sambil mendoakan Lara.
"Terima kasih, mbak! Aku sangat berhutang budi padamu telah menjaga kami selama ini!" Ucap Lara terharu.
"Ini sudah kewajibanku, bu!" Sahut Mbak Mina.
"Fadila dan Nada mana?" Tanya Lara.
"Fadila keluar bersama Nada, mungkin belanja di depan komplek sana!" Jawab Mbak Mina.
"Fadila sepertinya kerasan tinggal disini!" Ucap Lara sambil mengiris sayuran untuk makan siang.
Mbak Mina membantu Lara menyiapkan makan siang untuk hari itu, di saat mereka sedang sibuk memasak tiba-tiba meluncur sebuah mobil colt, mobil angkutan penumpang antar kota/kabupaten. Mobil tersebut berhenti tepat di depan rumah Fadli, nampak dua orang wanita setengah baya mengenakan terusan dan kerudung turun dari mobil colt tersebut.
"Bu, ada dua orang wanita di depan rumah!" Ucap Mbak Mina yang memperhatikan keadaan diluar lewat tirai jendela kaca ruang tengah.
"Siapa?" Tanya Lara.
"Aku tidak mengenal mereka!" Jawab Mbak Mina.
Lara mendekati Mbak Mina dan benar apa katanya, dua orang wanita yang sudah berumur sedang membayar ongkos mobil angkutan tersebut.
"Mama Hanum dan Bi Ratih!" Pekik Lara.
"Ibu kenapa tersentak melihat mereka?!" Mbak Mina bertanya-tanya karena melihat Lara sedang mengurut dadanya saat melihat kedua wanita berumur yang ada diluar sana.
"Mbak Mina, tolong jangan bicara macam-macam pada mereka nanti, dan jangan bilang kalau aku sedang sakit! Pokoknya jangan banyak bicara dengan mereka!" Lara mewanti-wanti Mbak Mina.
"Apakah mereka yang mengirim santet pada ibu?" Tanya Mbak Mina dengan mata terbelalak.
Lara mengangguk cemas.
"Sudahlah Bu, Ibu tak usah khawatir. Sambut saja mereka layaknya keluarga ibu! Jangan tunjukkan reaksi apapun, nanti meraka curiga bahwa ibu sudah mengetahui segalanya!" Mbak Mina menasihati Lara.
"Iya, aku berusaha mengontrol emosiku!" Ucap Lara, ia pura-pura sibuk menyiapkan makan siang.
Ting nong!!! Bel diluar berbunyi, Mbak Mina bergegas ke depan untuk membuka pintu.
"Siapa ya?!" Tanya Mbak Mina pura-pura tidak kenal.
"Apakah benar ini rumah Pak Fadli?!" Tanya Mama Hanum.
"Ibu siapa ya?!" Tanya Mbak Mina.
__ADS_1
"Kenalkan, aku orang tua oleh Lara!" Ucap Mama Hanum memperkenalkan diri.
"Saya Mina!" Ucap Mbak Mina tersenyum kecil. "Mari masuk, bu! Bu Lara ada di dapur!"
"Terima kasih! Kak, mari masuk!" Ajak Mama Hanum pada Bi Ratih.
Mama Hanum masuk ke dalam rumah, Bi Ratih berjalan mengikutinya di belakang.
"Hanum, Fadli benar! Lara tidak sakit!" Bisik Bi Ratih pelan.
"Jangan bahas apapun!" Bentak Mama Hanum pelan.
Mbak Mina mempersilakan mereka duduk di ruang tengah, sementara ia pergi ke dapur memanggil Lara.
"Bu, mereka sudah ada di ruang tengah!" Ucap Mbak Mina memberitahu.
"Baiklah, jaga masakan ya?! Jangan sampai gosong!" Ucap Lara.
"Baik Bu!" Sahut Mbak Mina.
Lara berjalan perlahan keruang tengah, ia pura-pura terkejut saat melihat Mama Hanum dan Bi Ratih, iapun menghambur dalam pelukan Mama Hanum kemudian Bi Ratih. Mereka bertiga bergantian saling peluk dan masing-masing menanyakan kabar. Lara berusaha semaksimal mungkin bersikap biasa seolah tidak mengetahui bahwa mereka bukan orang tua kandungnya dan pengirim santet Parang Maya.
"Kenapa tidak berkabar dulu kalau mau datang?" Ucap Lara bermanja-manja pada Mama Hanum.
Namun Lara mengetahui Mama Hanum sedang bersandiwara, iapun akan membalasnya dengan sandiwara pula.
"Kami baik-baik saja, Ma! Kalian sendiri bagaimana?" Tanya Lara.
"Kami sehat, Alhamdulillah! Tapi kami sangat merindukan kalian, seandainya kalian pulang saja, pasti Mama sangat senang!" Ucap Mama Hanum.
"Ma, Lara kerasan disini! Sudah lama Lara menginginkan tinggal di kota!" Ucap Lara lemah lembut seperti biasa.
"Mama tidak bisa melarangmu, karena kau sudah bersuami!" Ucap Mama Hanum dengan ekspresi sedih yang kini diketahui Lara hanya sebuah drama.
Lara turut menujukkan ekspresi sedih, padahal ia tahu mereka hanya ingin leluasa melihat keadaannya jika ia tinggal di kampung.
"Ibumu kesepian, nak! Dia jarang makan setiap harinya memikirkan kalian, tapi Bibi selalu memaksanya makan agar tidak sakit!" Timpal Bi Ratih ikut-ikutan bersandiwara.
"Lara pasti pulang, setidaknya seminggu sekali untuk menjenguk kalian!" Ucap Lara menyandarkan kepalanya ke bahu Mama Hanum.
Kini Lara ikut bersandiwara, ia akan mengikuti sampai episode mana drama yang mereka buat. Padahal saat itu Lara ingin berteriak dan memaki-maki mereka, tapi ia berusaha menahan emosinya dan tetap bersikap seperti biasa agar mereka tidak mencurigai bahwa dirinya sudah mengetahui segalanya.
"Baiklah, aku ke dapur dulu mengambil air minum!" Lara pamit ke dapur.
Mama Hanum dan Bi Ratih saling pandang, mereka bingung dengan keadaan Lara yang segar bugar, Mama Hanum mengernyitkan keningnya ke arah Bi Ratih, seolah sedang bertanya mengapa Lara sesehat itu. Bi Ratih menjawabnya dengan bahasa isyarat pula, ia menggerakkan kedua belah tangannya yang artinya tidak tahu.
__ADS_1
Mama Hanum geleng-geleng kepala, ia menduga misinya tidak berhasil, ia mulai gelisah. Lara kembali dari dapur membawa air es dan sirup dan menyuguhkannya pada keluarga palsunya.
"Ma, Bi! Ayo minum dulu, cuaca sangat panas, cocok minum sirup!" Ucap Lara seraya menuang sirup kedalam gelas yang ia bawa kemudian menyerahkannya pada mereka.
"Suasana disini sangat adem, pantas saja kau betah!" Gumam Mama Hanum.
"Iya, Ma! Suasananya sangat asri, tetangga baik semua! Jadi aku merasa tidak seperti orang asing disini!" Sahut Lara.
"Tapi senyaman-nyamannya di kota orang, lebih nyaman tinggal di kampung halaman!" Ujar Bi Ratih memancing Lara agar bersedia kembali ke desa.
"Tentu saja, Bi! Kita semua pasti merindukan kampung halaman, dan pada akhirnya semua orang yang merantau akan kembali ke asalnya!" Ucap Lara tak menanggapi pancingan Bi Ratih.
"Nada mana?" Tanya Mama Hanum mengalihkan pembicaraan.
"Nada bermain bersama tantenya!" Jawab Lara dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Tantenya? Sejak kapan Nada punya tante? Maksudmu Fadil?" Tanya Mama Hanum penasaran, begitu pula Bi Ratih tak kalah penasaran dengan ucapan Lara.
"Fadila, Ma! Dia adik seayah dari Fadli. Mereka tinggal tak jauh dari komplek ini!" Jawab Lara. "Nah tuh mereka!" Tunjuk Lara ke depan rumah.
Nampak Fadila sedang menggendong Nada membawa mainan yang baru dibelinya di warung. Fadila berjalan masuk ke dalam rumah, ia terpaku sejenak melihat ada tamu di ruang tengah bersama Lara.
"Masuk, Dila!" Seru Lara. "Kenalkan ini ibu dan bibiku, mereka baru saja datang dari desa!" Ucap Lara memperkenalkan Mama Hanum dan Bi Ratih pada Fadila.
Sementara dengan Fadila, ia masih berdiri terpaku di depan pintu, ia mengingat bahwa orang tua asuh Lara adalah penjahat berdarah dingin yang menghancurkan hidup Lara. Emosi Fadila mulai mendidih, ia belum bisa beranjak dari tempatnya, Lara terpaksa menghampirinya dan memintanya untuk bersikap normal.
"Nada, sini sama Mama!" Ucap Lara pura-pura mengambil Nada dari gendongan Fadila.
"Kak?!" Fadila belum siap berinteraksi dengan Mama Hanum dan Bi Ratih.
"Dila, tolong bersikap biasa-biasa saja!" Lara menarik tangan Fadila dan membawanya kehadapan Mama Hanum dan Bi Ratih.
"Ini adik perempuan Fadli?" Tanya Mama Hanum.
"Iya, Ma, Bi! Namanya Fadila, adik bungsu oleh Fadli dan Fadil!" Ucap Lara memperkenalkan Fadila.
Fadila menyalami Mama Hanum dan Bi Ratih secara bergantian, ia kesulitan menyembunyikan emosinya, sehingga ia lebih memilik untuk berdiam diri.
"Ma, Bi! Harap maklum, Fadila orangnya sangat pemalu!" Ucap Lara mencairkan suasana yang mulai menegang.
"Tidak apa-apa, sudah biasa anak-anak muda sangat pemalu!" Tukas Mama Hanum seraya menyerahkan gelas berisi sirup pada Bi Ratih dan Fadila.
Mereka mulai menyeruput sirup dengan nikmatnya.
"Jadi mereka ini penjahat yang membantai keluarga kandung Kak Lara dan sekarang ingin membinasakannya pula!" Gumam Fadila dalam hati.
__ADS_1