
"Siapakah kira-kira arwah penasaran itu?" Gumam Bi Leha penasaran, yang membuatnya aneh karena makhluk yang di katakan Pak Sepuh sebagai arwah penasaran itu gentayangan di depan rumah keluarga Bunda Najah. "Apakah ada hubungannya dengan pesugihan milik Hamdan?!" Benak Bi Leha dipenuhi berbagai macam pertanyaan yang sangat sulit dijawab. "Najah, kapan kau selesaikan perjalananmu ini? Apakah kau tega dengan anak cucumu yang akan menanggung malu karena keadaanmu?!"
Bunda Najah tak kuasa untuk merespon, jangankan berkata, mengedipkan matanya saja sangat susah, bahkan khodam ular besar miliknya sudah tidak bisa beraksi lagi sejak mencari mangsa ke rumah sakit tempo lalu. Kondisi Bunda Najah kini berada di titik paling terendah, namun belum juga menghembuskan napas terakhirnya.
...*****...
"Bayi laki-laki!" Ucap dukun beranak.
"Alhamdulillah, bagaimana keadaan ibunya?!" Tanya Bu Rohani pada dukun beranak.
"Ibu dan bayi sehat!" Ucap dukun beranak sambil menginang.
"Terima kasih, Mak Munah! Kau telah membantu persalinan Shinta!" Seru Bu Rohani berterima kasih.
"Segera tanam ari-ari bayi ini, jangan sampai di incar oleh kuyang!" Mak Munah mengigatkan.
"Baik, Mak!" Bu Rohani bergegas memberikan ari-ari bayi pada suaminya.
Shinta terbaring miring kearah tembok, ia kelelahan setelah melahirkan bayi pertamanya, Tina adik sambungnya duduk di dekatnya sambil menjaga bayi laki-laki mungil yang baru saja lahir.
Setelah membersihkan bekas persalinan, Mak Munah pamit pergi ke rumah warga lain yang memintanya untuk membantu bersalin. Di pekarangan terlihat Bu Rohani memperhatikan Pak Hasan yang sedang menanam ari-ari cucu pertama mereka, ia sengaja menanamnya di dekat pohon Jambu di depan rumah. Mak Munah berpamitan pada mereka sembari naik keatas sepeda milik warga yang memanggilnya.
"Apakah kita harus memberitahu Fadli tentang kelahiran putranya?" Tanya Pak Hasan pada istrinya.
"Pasti, dia harus diberitahu, karena dia ayahnya!" Jawab Bu Rohani berapi-api.
"Baiklah, besok aku akan mengirim surat padanya!" Seru Pak Hassan sambil menyelesaikan menanam ari-ari bayi dari Fadli dan Shinta.
Beberapa orang warga duduk di teras bergadang sambil menikmati kopi panas dan makanan ringan yang disuguhkan oleh Bu Rohani. Kebiasaan seperti ini tidak asing lagi di saat ada yang bersalin, menikah atau meninggal. Biasanya warga bergadang untuk menemani yang punya hajatan/bersalin, sementara para wanita berada di dalam rumah. Dengan begitu suasana kekeluargaan tetap terjalin meski tidak harus saudara sedarah, malam pun berlalu terasa cepat jika warga ikut hadir.
...*****...
Pagi-pagi sekali Fadli berangkat menuju warung langganannya untuk membeli sarapan, semenjak Lara terkena kiriman santet, ia tidak bisa apa-apa lagi, selain sakit dan sering pingsan, akal pikirannya kadang ikut tidak berfungsi, Lara menjadi linglung.
"Mbak Mina?!" Sapa Fadli melihat Mbak Mina yang sedang sarapan.
__ADS_1
"Eh Bapak, sarapan Pak!" Ucap Mbak Mina mengajak Fadli sarapan.
"Terima kasih, aku sarapan dirumah saja!" Tolak Fadli dengan sopan.
"Aku segera kerumah Bapak setelah selesai sarapan!" Ucap Mbak Mina sembari melanjutkan sarapannya.
"Jangan tergesa-gesa, Mbak! Sarapan dengan santai!" Nasehat Fadli melihat Mbak Mina makan dengan tergesa-gesa.
"Iya Pak!" Mbak Mina akhirnya makan dengan tenang, ia buruh harian yang bekerja di rumah Fadli selama Lara sakit. Sayangnya dia tidak mau bekerja perbulan, karena rumahnya tidak berjarak jauh, sehingga dia memutuskan untuk pulang pergi kerumah Fadli.
"Bu, sarapan Mbak Mina sudah aku bayar!" Ucap Fadli seraya beranjak pergi.
"Pak, Bapak! Jangan, Pak! Aku bayar sendiri saja!" Seru Mbak Mina tidak enak.
"Tidak apa-apa, Mbak! Ibu Lara menunggu dirumah!" Ucap Fadli berlalu.
Mbak Mina melanjutkan sarapannya sebelum berangkat bekerja kerumah Fadli.
"Beruntung sekali kamu dapat majikan baik, Mina!" Ucap pemilik warung.
"Oh, kukira sakit TBC ( tuberculosis ), soalnya wajah istrinya pucat pasi kekuning-kenuningan, matanya cekung, semakin hari semakin kurusan!" Ucap pemilik warung terkejut.
"Itu salah, Bu! Bu Lara di santet orang!" Jawab Mbak Mina.
"Kau tahu siapa yang mengirim santet padanya?" Tanya pemilik warung penasaran.
"Tidak, Bu! Aku tak berani ikut campur lebih jauh!" Ucap Mbak Mina tidak ingin memperpanjang cerita. "Ops, aku konyol sekali! Mengapa menceritakannya pada ibu pemilik warung!" Gumam Mbak Mina menyesal bercerita, tak ingin ditanya lebih jauh, iapun akhirnya bergegas pergi meninggalkan warung.
"Hmmm, pasti istri muda Pak Fadli yang mengirim santet itu!" Gumam pemilik warung, karena ia tahu Fadli mempunyai istri kedua yang pernah tinggal bersamanya di komplek yang sama, sehingga pemilik warung mencurigai Shinta.
Kasihan Shinta, selalu menjadi kambing hitam, padahal bukan dia yang melakukannya.
Fadli tiba dirumahnya, ia terkejut karena ada Pak Mantir di depan rumahnya.
"Pak Mantir? Selamat pagi Pak! Silakan masuk!" Sapa Fadli seraya mengajak Pak Mantir masuk kedalam rumah.
__ADS_1
"Selamat pagi!" Pak Mantir membalas sapaan Fadli sembari mengikutinya masuk kedalam rumah.
"Silakan duduk, Pak!" Ucap Fadli mempersilakan.
Pak Mantir duduk, tatapan matanya menampakkan kecemasan sembari menyapu seiri ruangan.
"Istrimu mana?" Tanya Pak Mantir seketika.
"Masih didalam kamar, Pak!" Jawab Fadli.
"Bagaimana keadaannya setelah pulang dari rumahku?" Tanya Pak Mantir lagi.
"Semakin parah, Pak! Karena Bapak melarangku menbawanya berobat, jadi aku diamkan saja di rumah dengan keadaannya yang makin memprihatinkan. Kadang menjerit, menjambak rambutnya, mencakar badan dan wajahnya, kemudian menangis tersedu-sedu sampai beberapa jam! Sebenarnya aku tidak tega melihatnya begitu, tapi mau bagaimana lagi!" Ucap Fadli dengan wajah sendu.
"Iya, aku tahu! Oleh karena itu aku datang sekarang, seharusnya aku datang nanti malam! Tapi kondisi istrimu sudah sangat lemah. Aku kesini ingin menjelaskan sesuatu!" Ucap Pak Mantir agak enggan meneruskan ucapannya.
"Sebaiknya sarapan dulu, Pak!" Ucap Fadli sembari menyuguhkan teh hangat dan sepiring kue basah yang baru saja dibelinya di warung.
Pak Mantir mengangguk, "Aku sudah sarapan dirumah! Tapi baiklah, aku akan menemanimu minum teh sambil menjelaskan maksud kedatanaganku kemari!" Ucap Pak Mantir seraya menyeruput teh hangat.
Mbak Mina muncul, ia bergegas berjalan kedapur karena melihat ada tamu di ruang tengah bersama Fadli. Mbak Mina mulai bekerja, pakaian kotor menumpuk di dekat mesin cuci, dan piring cangkir bekas makan malam masih utuh di dekat wastafel.
Sebelum memulai bekerja, ia menyiapkan sarapan buat Lara dan Nada terlebih dahulu.
"Begini, menurut apa yang kulihat, istrimu tidak berumur lama lagi! Dukun santet di pedalaman sana semakin gencar menyiksanya, ilmu milikku tidak mempan menahan Parang Maya yang dikirimnya, karena sudah mendarah daging dan menyebar ketulang belulang! Jadi, apakah kalian ingin mengeirim balik teluh yang mereka kirim? Atau membiarkan istrimu menjadi korban keserakahan keluarga angkatnya? Kurasa kau tak perlu mempertimbangkannya dengan istrimu, kau bisa memutuskannya sendiri!" Ucap Pak Mantir panjang lebar.
Fadli menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar sekasar-kasarnya, batinnya menjerit mendengar kalimat 'istrimu tidak berumur lama lagi' yang diucapkan oleh Pak Mantir.
"Kalau kami mengirim balik teluh itu, apakah istriku bisa sembuh? Tidak mati?" Tanya Fadli bergetar, matanya berkaca-kaca.
"Tidak, dia tetap mati, kecuali mukjizat Tuhan turun menolongnya, maka dia akan selamat! Tapi, 90% dalam penerawanganku, nyawanya sudah di ambang pintu!" Jawab Pak Mantir.
"Aku kalut, Pak! Aku tak tahu harus bagaimana?! Apakah Bapak punya cara apapun itu agar istriku bisa bertahan hidup?!" Tanya Fadli berharap.
...Catatan author...
__ADS_1
Buat pembaca kesayangan, maaf yang sebesar-besarnya telah beberapa hari tidak update, karena ada kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan. Terima kasih atas kesetiannya, tetap dukung karyaku yaaa.