MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 37. Kerumah Orang Pintar


__ADS_3

Entah karena efek mandi ruat atau memang murni dari hati Lara, tiba-tiba hubungannya dengan Fadli mulai rukun kembali. Fadli sangat bersyukur karena Lara mulai berhenti marah dan menerima dirinya yang telah mengkhianatinya.


Kedatangan Fadli membuat Lara merasa aman dan tentram, gangguan makhluk-makhluk ghaib tidak datang malam itu, hingga tak terasa pagi telah menggantikan malam yang sering menjadi momen menakutkan bagi Lara. Siangnya Fadli mengajak Lara pergi kerumah orang pintar disebuah desa di kabupaten lain, jarak yang mereka tempuh memakan waktu kurang lebih tiga jam.


Orang pintar tersebut kenal dengan Pak Ahmad sang pawang kuyang, beliau menyarankan Fadli pergi kesana untuk mencari solusi tentang kesembuhan Bunda Najah, sekalian untuk menanyakan tentang Lara. Fadli hampir putus asa, karena masalah keluarganya makin rumit, Bunda Najah belum jelas kesembuhannya, ditambah jin pesugihan milik ayahnya yang mengincar bayinya, dan kabar buruk yang baru saja diterimanya, Lara menjadi target santet seseorang. Fadli ingin menjerit, namun ia berusaha tenang dan mencoba mencari solusi untuk semua ujian dan cobaan yang dihadapinya.


Tepat pukul sebelas siang, Fadli dan Lara tiba dirumah orang pintar, nampak beberapa orang sedang menunggu giliran konsultasi duduk diteras sebuah rumah adat 'Gajah Manyusu'. Rumah tersebut terlihat masih kokoh, meski sudah tua, cat putih rumah itupun terlihat pudar dan mulai mengelupas dimakan usia. Fadli menggendong Nada dan menuntun tangan Lara seraya menaiki anak tangga rumah adat itu. Pasien yang duduk diteras memandangi mereka sampai mereka benar-benar berada diteras.


"Assalamualaikum!" Ucap Fadli memberi salam.


"Alaikum salam!" Seorang pria separuh baya membalas salamnya seraya tersenyum.


Fadli mengajak Lara duduk disalah satu bangku panjang yang tersedia diteras rumah itu, Lara duduk seraya menghela napas lega setelah kelelahan dalam perjalanan, sedangkan Nada diam dan tenang berada dalam gendongan ayahnya.


"Mau berobat?" Tanya pria tadi.


"Iya, Pak! Apakah Bapak Sholeh masih menerima tamu?" Fadli balik bertanya.


"Iya, biasanya sampai Ashar, kalian dari mana? Sepertinya bukan orang sini!" Pria tadi bertanya lagi.


"Iya, kami dari kabupaten sebelah, Bapak warga sini?" Fadli menyambungi pertanyaannya.


"Iya, tapi aku menetap dikota! Dan sengaja pulang untuk berobat! Kenalkan, namaku Saiful!" Pria tadi mengenalkan diri.


"Kenalkan, saya Fadli! Ini istri saya, Lara dan ini anak saya!" Fadli membalas perkenalan pria bernama Saiful itu.


"Kenapa kau berobat kemari? Apakah diganggu makhluk ghaib?" Tanya Pak Saiful.


"Istriku sering sakit-sakitan, kata orang mungkin diganggu makhluk ghaib, sehingga kami datang kemari untuk berobat!" Fadli tak menjelaskan secara rinci perihal Lara dan keluarganya.


"Sama seperti aku, beberapa bulan terakhir aku merasakan sakit dibeberapa organ tubuhku, sudah diperiksa ke rumah sakit, namun dokter tak mampu mendeteksi sakit apa yang kualami. Tapi aku ingat Pak Sholeh mampu menyembuhkan penyakit bukan medis, sehingga aku pulang untuk berobat!" Jelas Pak Saiful panjang lebar.


"Semoga Pak Sholeh bisa memberikan solusi yang terbaik untuk kita!" Ucap Fadli.


Pintu rumah terbuka, dua orang wanita keluar dari rumah Pak Sholeh dengan wajah sedih, bisa ditebak pasti permasalahan mereka sama dengan pasien yang lain, sama seperti Lara juga, diganggu makhluk ghaib. Hal yang tak diinginkan semua orang, berurusan dengan makhluk tak kasat mata yang sangat merugikan, baik materi bahkan bisa merenggut nyawa targetnya.


Pak Sholeh muncul, beliau memanggil pasien yang lebih dulu datang, seorang wanita lanjut usia yang duduk disamping pintu masuk beranjak dari duduknya. Wanita itu berjalan terbungkuk-bungkuk masuk kedalam rumah Pak Sholeh. Pak Saiful dan Fadli menunggu giliran mereka dengan sabar, meski harus jenuh duduk diteras.


Setelah beberapa lama menunggu, tiba giliran Pak Saiful. Fadli dan Lara masih harus bersabar menunggu giliran mereka, karena seorang pasien bisa memakan waktu selama satu atau satu setengah jam, tapi sepertinya tidak ada pasien lain setelah mereka, karena tidak ada orang lain yang datang.


Siang itu udara lumayan sejuk, sehingga sikecil Nada tidak rewel, dia terkadang tidur dan duduk dengan tenang dipangkuan Lara atau Fadli. Waktu berjalan begitu lama, karena menunggu itu adalah hal yang paling membosankan. Dalam kejenuhan mereka, lewat seorang wanita lanjut usia sedang menjajakan kue dan gorengan, Fadli melambai kearah wanita yang lebih tua dari ibunya itu. Wanita penjaja kue itu segera melangkah menuju teras rumah Pak Sholeh.


"Beli kue, nak?" Sapa wanita penjaja kue ramah.

__ADS_1


"Iya, bu!" Jawab Fadli.


"Silakan pilih, nak! Ini kantong plastik!" Wanita penjaja kue itu menyerahkan kantong plastik pada Fadli. "Nak, kenapa wanita disebelahmu itu bercula?!" Bisiknya pelan kearah Fadli.


Fadli tercengang, karena tidak ada wanita lain disebelahnya selain Lara, pantas saja wanita penjaja kue itu dari tadi menunduk tak berani menoleh sedikitpun. Fadli lantas berpaling memastikan apa yang diucapkan wanita penjaja kue tadi, tapi ia tak melihat wanita bercula ada disampingnya.


"Ibu melihat apa?" Tanya Fadli.


"Wanita bercula dengan rambut panjang kasar seperti tali ijuk, mulutnya moyong persis mulut kuda!" Ucap wanita penjaja kue memberitahu.


"Ibu mungkin salah lihat, ini uangnya, kembaliannya buat ibu saja!" Ucap Fadli membayar belanjaannya.


"Terima kasih nak!" Wanita penjaja kue itu buru-buru pergi dari teras rumah Pak Sholeh.


Fadli merasa aneh dengan ucapan wanita penjaja kue, namun ia tak berani memberitahu Lara, ia takut istrinya tersinggung.


"Apakah Lara masih kerasukan makhluk kiriman tadi malam?!" Gumam Fadli dalam hati. "Jangan-jangan Lara masih dipengaruhi oleh makhluk gaib itu? Dan sikap Lara yang berubah baik juga bukan dari sikap Lara sebenarnya?!" Pertanyaan datang berbagai macam dalam benak Fadli.


"Ada apa, bang? Kenapa wanita penjaja kue itu seperti ketakutan?" Tanya Lara datar.


"Mungkin takut pelanggannya yang lain menunggu, jadi buru-buru pergi!" Ucap Fadli berbohong. "Ayo makan kue kesukaanmu!" Fadli menyerahkan kantong plastik berisi kue-kue dan gorengan pada Lara.


"Abang mau minum? Ini aku bawa air dari rumah!" Lara menyerahkan botol air minum berukuran dua liter pada Fadli.


Keduanya menikmati jajanan yang baru saja dibeli Fadli seraya menunggu giliran mereka bertemu dengan Pak Sholeh. Dan tak lama kemudian, Pak Saiful muncul, beliau menyalami Fadli seraya pamit pulang.


"Ayo masuk?!" Ajak Pak Sholeh ramah.


"Terima kasih, pak! Lara, ayo!" Fadli mengikuti Pak Sholeh seraya menuntun tangan Lara.


Pak Sholeh mempersilakan mereka duduk ditikar anyam terbuat dari rotan berwarna krem, beliau menatap kearah Lara lama sekali.


"Ada apa dengan istri saya, Pak?" Tanya Fadli penasaran.


"Makhluk bercula sedang menempelinya!" Jawab Pak Sholeh.


Fadli terkejut bukan main, ternyata ucapan wanita penjaja kue tadi tidak bohong, apa yang dilihatnya sama dengan apa yang dilihat Pak Sholeh.


"Tenang, kita akan bersama-sama mengusir makhluk-makhluk ghaib tersebut! Bukan hanya makhluk bercula, tapi makhluk-makhluk ghaib lainnya yang berkepala manusia menyeramkan dan berbadan binatang mengikuti kalian sampai didepan rumahku." Pak Sholeh menjelaskan apa yang beliau lihat.


...Dag dig dug seeer...


Fadli makin terkejut, ia tak pernah menyadari sebelumnya ada makhluk-makhluk tak kasat mata bersama mereka.

__ADS_1


"Mereka dari mana, Pak?" Tanya Fadli cemas.


"Mereka dari rumahmu, sejak beberapa bulan ini berusaha menyakiti istrimu!" Jelas Pak Sholeh makin membuat Fadli tak karuan.


"Rumah siapa? Rumahku atau rumah istriku?" Fadli kembali bertanya dengan ekspresi khawatir.


"Rumah mertuamu!"


"Hahaha! Kau jangan ikut campur, Sholeh! Kau dan Ahmad benar-benar kurang ajar, jangan sekali-sekali kau menghalangi pekerjaan kami!" Teriak Lara lancang kearah Pak Sholeh.


Fadli tak enak dengan ucapan Lara, namun Pak Sholeh memberinya kode untuk membiarkan istrinya bicara.


"Kau mau apa sehingga mengganggu wanita tak bersalah ini?! Pergi, atau aku yang akan antar kalian ke pedalaman sana? Bahkan aku akan melempar kalian kegunung Halau-Halau!" Bentak Pak Sholeh.


"Kau pikir dirimu siapa? Lempar saja kami kegunung Halau-Halau kalau kau berani! Heh, dengan kau melempar kami kesana, kau ingin kami tidak kembali lagi selamanya? Jangan berkhayal, kau tak akan mampu melawan kami! Hahahahhaha!" Tantang Lara yang sedang dikendalikan makhluk ghaib bercula.


"Baiklah, bagaimana kalau kita melakukan barter? Kembalikan wanita ini dari kendali kalian, dan aku akan menggantinya dengan ayam hitam? Atau seekor kambing?" Tanya Pak Sholeh mencoba berdamai.


"Tidak, kami menginginkan wanita ini!" Bentak Lara kasar.


"Siapa majikan kalian?" Tanya Pak Sholeh.


"Dukun dipedalaman!" Jawab Lara lantang.


Pak Sholeh terdiam sejenak seraya menarik napas dalam-dalam.


"Mereka dikirim oleh dukun di pedalaman sana, dukun disana hebat dan sakti. Tak perlu membayar mahal, cukup sebatang rokok pun mereka bersedia melenyapkan nyawa seseorang jika kita berhubungan baik dengan dukun itu!" Ucap Pak Sholeh seraya menghembuskan napas kasar.


Fadli terhenyak.


"Kenapa? Kau takut?!" Bentak Lara sekali lagi.


"Siapa majikanmu yang lain!?" Pak Sholeh bertanya lagi.


"Orang dekat wanita ini!" Jawab makhluk yang menguasai Lara jujur.


"Pak, mereka siapa?" Fadli tiba-tiba bertanya karena penasaran.


"Tunggu sebentar, aku memeriksa siapa mereka!" Pak Sholeh pamit kedalam kamar khusus miliknya.


Lara menatap Fadli tak berkedip.


"Kau bukan Lara! Jangan ganggu dia, tolong pergi dari kehidupannya!" Pinta Fadli.

__ADS_1


Lara tersenyum kesamping tanpa berkata apa-apa.


__ADS_2