
Fadli semalaman gelisah tidak karuan, dalam kegelisahannya telintas wajah Shinta memenuhi penglihatannya, ia baru sadar sudah hampir dua minggu tidak mengunjungi istri mudanya.
"Kurasa aku harus menemui Shinta!" Bisik Fadli dalam hati.
Karena sikap Lara yang dingin, Fadli memilih untuk meninggalkannya beberapa saat.
"Nak, Mama ingin bicara sebentar!" Cegat Mama Hanum melihat Fadli yang berniat keluar.
"Silakan, Ma!" Jawab Fadli singkat seraya mengambil kunci mobil diatas meja tamu diruang tengah.
"Begini, Mama dan Bi Ratih ingin melihat kalian rukun kembali, jadi.. ." Mama Hanum ragu melanjutkan pembicaraan.
"Jadi apa, Ma? Ceritakan saja, tak usah ragu!" Fadli menyemangati Mama Hanum.
"Beberapa hari yang lalu Mama dan Bi Ratih pergi kerumah orang pintar, minta bantuan bagaimana agar hubungan kalian bisa rukun kembali!" Ucap Mama Hanum masih ragu, khawatir Fadli tak setuju.
"Mama lupa dengan insiden Bunda? Karena terlanjur masuk dalam dunia perdukunan, Bunda akhirnya salah langkah! Ma, jangan teruskan langkah itu!" Fadli melarang.
Keraguan Mama Hanum akhirnya terjawab, Fadli tidak setuju mereka melakukan ritual perdukunan untuk memulihkan keharmonisan rumah tangganya yang berantakan setelah kemunculan wanita kedua.
"Tapi nak, kami mendapat sebuah informasi bahwa sebelumnya ada yang mengirim guna-guna padamu, sehingga kau berpaling dari Lara dan memilih wanita lain sebagai pendampingmu! Fotomu dikubur bersama jenazah, oleh karena itu Lara sangat dingin padamu, dia melihatmu seperti melihat sesosok mayat." Jelas Mama Hanum.
"Mama percaya dengan ucapan dukun itu? Aku menikahi Shinta karena dia banyak berjasa! Dia yang mengurus keperluanku dari makan sampa pakaianku selama dikota, dari situ aku merasa berhutang budi padanya." Jawab Fadli beralasan.
"Bukankah orang tua Shinta sudah meninggal? Sehingga kau kasihan padanya?" Tanya Mama Hanum yang tahu dari Lara bahwa Shinta sudah tidak memiliki orang tua.
"Benar, ibunya meninggal, kemudian ayahnya menikah dengan adik oleh ibunya, Shinta sering tidak sependapat dengan ibu sambungnya, karena tak enak dengan ayahnya, dia memilih menetap dikota sebagai juru masak ditempat tugasku! Jadi, hubunganku dengan Shinta hanya didasari oleh jasa, bukan guna-guna, selebihnya aku tak ingin berzina, sehingga aku memilih untuk menikahinya." Jelas Fadli panjang lebar sambil berjalan keluar.
Mama Hanum terdiam, Fadli pamit tapi tak memberitahu sang mertua kemana ia akan pergi.
...*****...
__ADS_1
"Assalamualaikum.. !" Fadli memberi salam.
Bu Rohani terkejut dengan kedatangan Fadli yang tak terduga, padahal baru tadi malam ia melakukan ritual mengariyau.
"Wah, ternyata Amak hebat, tidak berselang dua tiga hari, Fadli sudah datang menjenguk Shinta!" Bisik Bu Rohani dalam hati, raut wajahnya nampak berseri karena ritual yang dilakukannya tidak sia-sia. "Wa'alaikum salam!" Balas Bu Rohani tergesa-gesa sambil membuka pintu. "Masuk nak, Shinta ada didalam!"
"Terima kasih, Bu! Kalian baik-baik saja?" Fadli basa-basi.
"Semua dalam keadaan sehat dan baik-baik saja, silakan temui Shinta, siang malam dia menunggu kedatanganmu!" Ucap Bu Rohani memberitahu Fadli.
"Iya Bu, permisi!" Fadli masuk kekamar Shinta. "Apa kabar, sayang?" Sapa Fadli pada Shinta yang baru bangun tidur siang.
Shinta bahagia tak terkira, suami yang ditunggu-tunggunya akhirnya datang, ia berlari memeluk Fadli sangat erat seolah tak mau melepaskannya.
"Sayaaaang, kenapa tega sekali tidak menjumpaiku hampir dua minggu!" Shinta merengek manja.
Fadli membalas pelukan Shinta, ia membiarkan Shinta duduk dalam pangkuannya, "Aku sibuk, sayang! Perihal Bunda masih belum menemukan titik terang, sulit sekali mencari solusi untuk menyelasaikannya!" Fadli menjelaskan.
"Aku mengerti, tapi setidaknya kau berkabar agar aku tidak mencemaskanmu! Atau jangan-jangan kak Lara tak mengizinkanmu pergi?" Shinta cemburu.
"Kau memang benar-benar suami idaman!" Lara membenamkan kepalanya pada pangkuan suaminya, ia meluahkan kerinduannya yang sangat dalam setelah tak bertemu hampir dua minggu.
Fadli tak menceritakan sikap Lara yang sangat dingin sedingin salju gunung Himalaya, ia tak mau Shinta mengetahui rumah tangganya dengan Lara retak gara-gara menikah dengannya. Shinta tak mau melepaskan dirinya dari pangkuan sang suami, akhirnya Fadli tak sanggup menghindari tebaran kasih istri mudanya. Gayung bersambut, Shinta yang telah lama menahan kerinduannya, saat yang dinantikannya telah datang, akhirnya keduanya tenggelam bersama kedalam samudera cinta yang tak bertepi. Fadli dan Shinta saling bantu untuk menggapai samudera terdalam, saling berpegang tangan hingga titik terdalam, bahkan palung Marina pun mereka arungi.
Setelah beberapa saat menyelam di palung Marina, keduanya tersenyum lega, berhasil menyelam bersama dengan lancar. Shinta menghembuskan napas kasar, disusul napas Fadli yang tak kalah kasarnya, keduanya terdampar ditepi samudera. Waktu berlalu begitu cepat, hingga tak terasa petang akan berganti dengan malam.
...*****...
"Kak, ibu pergi kerumah Bi Rose, suaminya meninggal dunia baru saja, aku akan menyusul ibu bersama ayah setelah ayah kembali dari ladang!" Ucap Tina adik sambung oleh Shinta.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, suami Bi Rose kenapa?" Tanya Shinta tak percaya adik ipar ayahnya meninggal dunia.
__ADS_1
"Paman Samsul mendadak pingsan kemudian tak lama setelahnya meninggal, itu yang aku tahu dari tetangga Bi Rose yang datang memberitahu ibu!" Jelas Tina.
"Umur manusia tak ada yang tahu! Baiklah, nanti aku dan Fadli menyusul besok! Karena sebentar lagi malam, sementara Fadli kelihatannya kelelahan dan belum makan, jadi lebih baik kami menyusul besok pagi!" Jawab Shinta.
"Baik, kami pergi sekarang! Kak Shinta memasak untuk makan malam? Atau beli diwarung makan saja?" Tanya Tina.
"Sepertinya beli diwarung makan saja!" Tukas Shinta.
"Baiklah, nah tuh ayah sudah pulang dari ladang!" Tina bergegas menghampiri sang ayah untuk memberitahu kabar duka dari Rose, adik Pak Hasan.
Tina segera menceritakan apa yang terjadi, raut wajah Pak Hasan berubah keruh mengetahui suami oleh adiknya telah tiada. Ia bergegas membersihkan dirinya dari lumpur, tak ingin buang-buang waktu ia segera mengeluarkan motor miliknya kemudian membonceng Tina pergi kerumah Bi Rose didesa yang lumayan jauh karena berbeda kabupaten.
Malam telah datang menggantikan sang petang, Shinta menceritakan kabar duka keluarga ayahnya pada Fadli, dan mengajaknya melayat besok pagi, Fadli setuju. Setelahnya Shinta pamit membeli makan malam kewarung makan yang tak jauh dari rumahnya.
Bu Rohani lupa merapikan ritual mengariyau didalam kamar berisi benda-benda tidak digunakan lagi, atau sebut saja gudang yang berdampingan dengan dapur. Fadli iseng masuk kekamar itu.
...Dag dig dug seeer.. ....
Shinta datang membawa makan malam untuk mereka berdua, ia langsung menuju meja makan dan menyiapkan piring sendok. Tak lama kemudian, gado-gado dan sate untuk makan malam mereka telah siap terhidang, aromanya yang lezat merebak ke seluruh ruangan membuat siapa saja yang menciumnya akan tertarik untuk menyantapnya.
Namun tidak dengan Fadli, ia tak berselera menyantap makanan kesukaannya itu. Shinta bingung, padahal Fadli baik-baik saja sebelum ia meninggalkannya kewarung.
"Sayang, ayo makan!" Ajak Shinta melihat Fadli yang enggan melahap makan malamnya.
"Aku kenyang, kau makan saja, aku kekamar dulu!" Ucap Fadli setelah mencicipi makan malamnya beberapa sendok.
"Tapi kau belum makan sejak tadi siang! Makan dulu, sayang!" Seru Shinta memaksa Fadli yang beranjak dari duduknya.
"Aku tak enak badan, permisi!" Fadli meninggalkan Shinta pergi kekamar.
Shinta bertanya-tanya mengapa Fadli berubah seketika tanpa sebab yang jelas, Shinta berpikir keras apa yang menyebakan Fadli menjadi dingin.
__ADS_1
...*Tebak-tebakkan yuk?!...
...Kira-kira apa yang membuat Fadli berubah terhadap Shinta? Dua puluh lima tahun yang lalu belum ada ponsel, jadi Fadli tidak baper karena ada seseorang yang mengirim pesan diponselnya, nah kenapa Fadli berubah drastis sedingin salju? Padahal tadi siang menyelam ria ke samudera Atlantik bersama Shinta. Penasaran dengan jawabannya?! Mari kita temukan jawabannya diepisode berikutnya*....