MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 30. Menikah Dengan Jin


__ADS_3

Setelah selesia makan malam, Shinta bergegas masuk kekamar menemui Fadli, namun Fadli sudah tertidur pulas dengan posisi membelakanginya.


"Hmmm, mungkin dia kelelahan!" Shinta menggumam sendiri, ia menepis dugaan yang tidak-tidak yang berkecamuk dalam otaknya.


Shinta membiarkan Fadli tertidur sampai pagi, namun sikap Fadli tetap dingin pagi itu, ia hanya memjawab ya atau tidak jika ditanya Shinta, sikapnya berbeda dengan kemarin sore saat awal pertama datang.


Meski dingin, Fadli tidak lupa memenuhi janjinya mengantar Shinta melayat kerumah Bi Rose. Fadli dan Shinta beranjak pergi ke kabupaten tempat dimana Bi Rose tinggal.


Didalam mobil, suasana hening, Fadli lebih banyak diam, Shinta jadi serba salah, akhirnya ia membiarkan perjalanan mereka tanpa senda guru seperti biasa.


"Apa salahku sehingga Fadli berubah drastis?" Bisik Shinta dalam hati.


Shinta tak bisa menebak apa yang sedang ada dalam benak Fadli, karena kemaren sikapnya masih hangat dan romantis, keanehan ia rasakan sejak dirinya kembali dari warung makan.


Akhirnya perjalanan dua jam yang membosankan bagi Shinta berakhir, Fadli memarkir mobil di pojok rumah Bi Rose, warga sudah banyak berdatangan untuk melayat. Shinta menemui ayahnya yang sibuk mengurus prosesi pemakaman adik iparnya, suami Bi Rose.


"Kau datang nak?!" Sapa Pak Hasan pada Shinta, "Mana suamimu?" Tanya beliau.


"Fadli didepan, duduk bersama warga!" Jawab Shinta.


"Suruh dia masuk kedalam! Nanti ayah akan menemuinya!" Ucap Pak Hasan.


"Baik, yah!" Balas Shinta singkat seraya melangkah kearah tribun didepan rumah dimana Fadli duduk bersama warga.


Sebenarnya Shinta enggan memanggil Fadli, tapi ayahnya meminta agar Fadli masuk kedalam rumah Bi Rose selaku salah satu keluarga almarhum.


Fadli melihat Shinta berjalan kearah tribun, ia pura-pura sibuk berbincang-bincang dengan warga seolah tak melihatnya. Shinta menyadari akan hal itu, ia makin bertanya-tanya mengapa sikap Fadli begitu aneh terhadapnya.


"Dik, tolong panggilkan abang yang memakai kemeja 'Sasirangan' itu!" Pinta Shinta pada bocah laki-laki yang berdiri menunggu ayahnya didekat tribun.

__ADS_1


Bocah laki-laki itu menurut, ia menghampiri Fadli dan memberitahu bahwa seorang wanita sedang memanggilnya, mau tidak mau Fadli terpaksa menururi permintaan Shinta. Fadli menghampiri Shinta dengan sikapnya yang masih dingin.


"Sayang, ayah memintamu untuk masuk kedalam berkumpul dengan anggota keluarga yang lain!" Ucap Shinta memberitahu.


Fadli hanya mengangguk dan berjalan masuk kedalam rumah, Shinta menyusulnya dibelakang. Didalam nampak Bu Rohani dan Tina duduk bersebelahan dengan Bi Rose. Sesekali Bi Rose menyeka air mata diwajahnya, matanya sembab, ia sangat terpukul dengan kepergian sang suami.


Shinta mengajak Fadli duduk disampingnya, Fadli menurut tanpa menunjukkan perubahannya pada keluarga yang lain.


"Turut duka cita atas meninggalnya Pak Samsul!" Ucap Fadli pada Bi Rose.


Bi Rose mengangguk pelan seraya menyapu air matanya yang tak kunjung berhenti mengalir.


"Ini Fadli, suami oleh Shinta!" Bisik Bu Rohani pada Bi Rose.


Maklum, pernikahan Fadli dan Shinta tidak diresmikan dikalangan keluarga besar, hanya menikah dipenghulu (siri) yang dihadiri keluarga kecilnya saja, sehingga sebagian keluarga besar Shinta tidak mengenal Fadli sebagai suaminya.


Suasana duka menyelimuti rumah Bi Rose, air mata Bi Rose terus berjatuhan setiap pelayat mengucapkan duka cita, pelayat turut bersedih apalagi melihat anak tunggal almarhum yang baru berusia 10 tahun.


Warga datang dan pergi silih berganti mengucapkan belasungkawa, prosesi pemakaman akan dimulai, jenazah Pak Samsul sudah dimandikan sejak pagi tadi, Fadli ikut mengantar jenazah keliang lahat bersama dengan Pak Hasan, ayah mertuanya.


Prosesi pemakaman berlangsung, Shinta, Tina dan ibunya turut hadir dipemakaman untuk menguatkan Bi Rose. Shinta sesekali menatap Fadli yang duduk disela-sela warga, sementara Fadli seolah tak melihatnya.


"Samsul terlalu serakah dengan harta kekayaan yang tak pasti!" Celutuk salah satu warga yang duduk dibelakang Fadli.


"Kudengar dia menikah dengan bangsa jin, bukankah begitu?" Tanya warga yang lain.


"Iya, menurut tetangganya, Samsul punya perjanjian dengan jin, yang awalnya akan memberikan kekayaan melimpah, dengan syarat harus menikahi jin tersebut atau memberinya tumbal tiap setahun sekali." Ucap warga yang lain menambahkan.


"Nah itu masalahnya aku tidak mau bersekutu dengan makhluk-makhluk ghaib, mereka akan meminta tumbal!" Timpal yang lain.

__ADS_1


"Samsul, memilih menikahi jin tersebut, tapi terjadi kekeliruan, karena awalnya dia berjanji memberi tumbal. Jin itu marah, karena Samsul tidak bisa memenuhi janjinya, Jin itu merasa dipermainkan, akhirnya Samsul mati mendadak setelah ceritanya menikahi jin itu!" Jawab yang lain.


"Bukankah seharusnya tidak mati? Tapi bisa berinteraksi meski beda dunia?" Tanya warga.


"Itu kalau tidak ada kekeliruan, awalnya Samsul berjanji memberi tumbal tepat pada waktunya, tapi Samsul tidak bisa memenuhi janji tersebut. Sehingga Samsul meminta untuk menikahi jin pesugihan itu, jin tersebut menerima tawaran Samsul, tapi bukannya membiarkan Samsul hidup dengan kekayaan dari hasil pesugihan, melainkan jin tersebut mengambil Samsul kealamnya! Akhirnya kita melihat jenazahnya yang sekarang telah dimakamkan!" Jelas warga panjang lebar.


Fadli mendengar pembicaraan warga yang duduk dibelakangnya, ia teringat dengan masalah keluarganya yang tak kalah rumitnya dengan keluarga Pak Samsul dan Bi Rose. Fadli baru tahu jika keluarga Shinta juga suka bermain dengan dunia ghaib dan makhluk-makhluk tak kasat mata seperti kedua orang tuanya.


"Kau memilih jadi pengangguran dengan bertani dan berladang dengan hasil yang tak seberapa? Atau menjadi budak iblis tapi bergelimang kekayaan dan kekuasaan?" Tanya salah satu warga pada temannya.


"Aku ingin kaya raya tapi dengan berusaha menjadi pengusaha padi atau sayur mayur hehe." Jawab warga terkekeh.


"Tapi kau pasti memeliki ajian kebal, bukankah begitu? Kau kebal terhadap bacokan pisau atau tebasan parang?!" Tanya warga ingin tahu.


"Itu rahasia perusahaan!" Jawabnya kembali terkekeh.


"Halah, kau berguru dimana? Ajak aku juga!" Ucap warga yang lain.


"Hush, pelan-pelan! Suara kalian didengar pelayat. Jangan berisik!" Nasihat salah satu warga menghentikan obrolan warga.


Fadli dari tadi menguping obrolan warga yang mulai ngalur ngidul. Prosesi pemakaman sudah berakhir, satu persatu pelayat pulang kerumah masing-masing, begitu juga dengan keluarga Shinta, mereka kembali kerumah Bi Rose.


Dirumah Bi Rose sudah dipenuhi pelayat untuk makan siang, Shinta mengajak Fadli berbaur dengan warga. Mereka makan siang bersama, setelah itu pamit pulang, Pak Hasan dan Bu Rohani serta Tina memilih tinggal beberapa hari disitu untuk menguatkan Bi Rose, sementara Fadli dan Shinta memilih untuk pulang.


Mobil Fadli meluncur pulang menuju kabupaten mereka tinggal. Senja kuning menghiasi langit diatas mereka, masyarakat kota seribu sungai percaya dengan mitos kehadiran fenomena alam tersebut akan terjadi sebuah malapetaka, bisa jadi sakit, musibah, senja kuning tersebut dianggap berhantu, yakni munculnya makhluk-makhluk tak kasat mata, bahkan dipercayai ada yang sedang dibunuh. Allah a'lam.


...Catatan Author...


Jangan terlalu percaya pada hal klenik dan mitos, apalagi bersekutu dengan iblis, mereka itu memang ada, dimensi lain dan alam ghaib bersebelahan dengan kita. Jadi, hormatilah sesama makhluk ciptaan-Nya tanpa saling mengganggu, jangan sekali-sekali berserikat dengan mereka, karena tidak ada zat yang patut disembah selain Tuhan Yang Maha Esa.

__ADS_1


- 'Sasirangan' kemeja yang dikenakan Fadli terbuat dari kain/Batik khas kota seribu sungai.


__ADS_2