
Pria yang tak sadarkan diri akibat pukulan sapu terbang akhirnya bangun, ia meraba kepalanya yang masih terasa nyeri.
"Benar-benar tidak masuk akal, apakah pocong tadi malam adalah Bunda Najah?! Tapi dia memintaku membayar harga kasur ini, dan aku memang membeli kasur ini secara kredit padanya sewaktu dia berjualan kelontongan dulu!" Pria itu ingat dia pernah membeli kasur dengan cara kredit pada Bunda Najah namun tidak pernah dibayarnya sampai sekarang. "Berarti pocong itu adalah Bunda Najah yang menagih hutang padaku!" Pria itu bergegas keluar rumah karena trauma gara-gara kejadian tadi malam.
Pria tadi berinisiatif pergi ke warung untuk sarapan sambil minum teh atau kopi dengan maksud menenangkan pikirannya dari kejadian menyeramkan.
Di jalan menuju warung makan ia melihat warga berkerumun di bawah pohon Mangga, "Apakah ada yang sedang mengalami kecelakaan?" Gumamnya.
"Pembeli berbaju putih itu membayar daganganku dengan uang-uang ini, daun kering!" Keluh seorang lelaki yang sudah mulai renta sambil menangis.
"Awalnya bagaimana bapak bisa bertemu dengan orang itu?" Tanya warga membantu lelaki tua itu membenarkan letak sepeda motornya.
"Aku sedang asyik mengayuh sepeda motor milikku, tiba-tiba seorang wanita menyuruhku berhenti, wanita itu rambut panjang dan mengenakan baju terusan panjang berwarna putih! Dia memintaku untuk menyiapkan daganganku yang di pesan olehnya. Setelah itu dia menyerahkan beberapa lembar uang stratus ribuan, bentuknya benar-benar bentuk uang kertas asli. Tapi setelah kuperiksa lagi ternyata daun-daunan kering yang hampir berubah warnanya menjadi kuning. Setelah itu aku tak sadarkan diri karena aku mengalami kerugian yang sangat banyak!" Ucap lelaki sepuh menyeka air matanya karena rasa sedih kehilangan dagangannya.
"Kasihan sekali bapak ini! Sebaiknya kita adakan donasi untuk membantu bapak ini!" Ucap warga pada warga-warga yang ada disitu.
"Baiklah, kita kumpulkan donasi untuk membantu beliau, ada-ada saja penipu berwujud setan!" Celetuk warga.
Pria yang tadi malam di kerjain oleh Bunda Najah hanya bisa melongo mendengar penuturan bapak penjual makanan yang di bayar dengan uang kertas ternyata daun-daunan kering.
"Apakah setan yang sama?" Gumam pria tersebut bertanya-tanya.
...****************...
Mak Inang penasaran apakah kedua teman-teman seprofesinya juga mengalami hal sama seperti yang di alaminya tadi malam, beliau bergegas pergi menuju rumah rekan kerjanya tersebut.
__ADS_1
Tak menunggu waktu lama, Mak Inang sudah tiba dirumah Mak Saba, kebetulan Mak Saba sedang menjemur pakaian di samping rumahnya.
"Mak Saba, aku ingin bicara penting denganmu!" Seru Mak Inang langsung saja.
"Eh Mak Inang, padahal aku ingin kerumahmu setelah menjemur pakaian! Ada hal yang ingin kutanyakan!" Sambut Mak Saba berapi-api.
Mak Saba mengajak Mak Inang duduk di teras, tanpa banyak basa-basi, Mak Inang langsung menceritakan semua kejadian yang di alaminya tadi malam pada Mak Saba.
"Berarti kita mengalami hal yang sama!?" Tanya Mak Saba.
"Apakah kau mengalami hal yang seperti kualami tadi malam?" Mak Inang balik bertanya.
"Iya, tadi malam aku kesungai sekitar pukul satu, setelah itu aku kembali, tapi muncul sosok pocong di sini, di teras ini! Pocong itu berpesan agar kita semua yang memandikannya kemaren harus menceritakan pada anak dan menantunya tentang apa yang kita lihat saat memandikan jenazahnya!" Mak Saba menceritakan apa yang dialaminya tadi malam.
"Mungkin Mara juga mengalami hal yang sama seperti yang kita alami?" Mak Inang menduga-duga.
"Aku mencium aroma tersebut sebelum melihat sosok itu muncul, bahkan aku tak melihatnya sama sekali, hanya ada angin yang berhembus kencang dan aroma-aroma tak sedap kala itu!" Mak Inang menjelaskan.
"Sosoknya sangat menakutkan, wajahnya menghitam! Bahkan sampai ke dalam rumah aku masih merasakan auranya ada di dekatku, mungkin dia mengikutiku sampai ke dalam rumah!?" Seru Mak Saba.
"Mara datang! Pasti dia juga mengalami hal sama seperti kita!" Tebak Mak Inang.
"Bu, ada sesuatu yang terjadi pada kalian tadi malam?" Tanya Mara setelah menghampiri kedua rekan kerjanya.
Mak Inang dan Mak Saba mengangguk secara bersamaan, salah satu diantara mereka menceritakan perihal yang mereka alami tadi malam dari awal sampai akhir.
__ADS_1
"Kalian masih beruntung, aku malah mengalami hal yang paling buruk tadi malam! Pocong itu rebahan di sampingku, dan saat aku berbalik ke belakang aku langsung bertatap muka dengannya, wajahnya menghitam, matanya sangat besar hampir keluar dari cangkangnya. Aku belum pernah bertemu jenazah yang kumandikan menemuiku untuk minta sampaikan sesuatu pada ahli waris!" Ucap Mara bergidik.
"Aku sering bertemu, tapi tidak sampai bertutur kata, arwah-arwah yang pernah ku mandikan hanya menampakkan diri sejenak kemudian lenyap! Tapi berbeda dengab tadi malam, ini sesuatu hal yang baru selama aku menjadi tukang mandi jenazah.
"Sebaiknya kita sampaikan saja pesan almarhumah pada ahli warisnya, mungki arwahnya bisa tenang!" Mak Saba menyarankan.
Mak Inang dan Mara menyetujui saran dari Mak Saba, merekapun pulang kerumah masing-masing untuk mengganti pakaian dan segera menuju rumah Fadli.
Singkat kata singkat cerita, ketiga tukang mandi jenazah itu sudah tiba di rumah Bunda Najah. Lara menyambut kedatangan mereka sembari mengajak masuk ke dalam.
Mak Inang orang yang paling tua diantara teman-teman seprofesinya segera menceritakan perihal yang mereka alami tadi malam pada Lara.
Fadli yang ada disitu makin resah mendengar penuturan ketiga wanita tukang mandi jenazah itu, ini bukan kali pertama Fadli menerima kabar tak mengenakkan, tapi ini untuk kesekian kali setelah kabar pemilik warung dengan kue-kuenya yang basi semua, cerita seorang pria yang di datangi oleh Bunda Najah karena kredit kasur, selain itu cerita pedagang makanan keliling desa yang jualannya dibayar dengan daun-daunan kering.
Fadli geleng-geleng kepala dengan kelakuan ibunya meski sudah berpulang, namun tetap meresahkan, tapi ia yakin di balik semua itu pasti ada hikmahnya.
"Apakah benda yang keluar dari ubun-ubun itu masih ada?" Tanya Fadli pada mereka bertiga.
"Benda tersebut lenyap dengan sendirinya setelah siraman terakhir!" Jawab Mak Inang.
"Itu susuk atau ajian pengasihan?" Fadli bertanya kembali.
"Susuk berlian kurang lebih dengan ajian pengasihan, namun bedanya susuk berlian tidak mengeluarkan benda aneh seperti itu, kurasa itu adalah ajian pengasih dan pengaruh wibawa agar setiap orang melihat beliau penuh dengan ketegasan dan wibawa." Ucap Mak Inang.
"Apakah ajian itu juga harus di wariskan?" Tanya Fadli lagi.
__ADS_1
"Aku kurang tahu, setahuku hanya ilmu Kuyang yang bisa di wariskan, maksudnya di teruskan oleh si pemilik barunya." Jawab Mak Inang.
"Sebaiknya kita tanyakan pada orang pintar saja, apa yang dimaksud dengan kedatangan almarhumah untuk mengganggu warga!" Mak Saba memberi saran.