
Warga geger gara-gara tadi malam seorang warga melihat kuyang bahkan di kejar oleh suami warga tersebut, namun sayang tidak bisa menangkapnya.
"Apakah kuyang penerus Bunda Najah?" Tanya salah seorang warga berbisik pada warga lain di warung teh.
"Kuyang disini masih banyak, tapi kurasa kuyang tadi malam memang kuyang baru, bisa jadi penerus Bunda Najah!" Balasnya.
"Belum berakhir teror pocong, sekarang ada kuyang lain! Jangan-jangan kuyang itu sangat hebat, itu kalau dia memang penerus Bunda Najah!" Gumam warga.
"Tidak mesti hebat, tapi kita sudah bosan dengan permasalahan kuyang-kuyang yang tak pernah lenyap! Benar-benar meresahkan, coba kuyang-kuyang itu semua tinggal satu kampung, jangan berbaur dengan manusia normal supaya tidak merugikan warga!" Ucap warga.
"Tak masuk akal, karena kuyang suka tinggal di tengah-tengah warga agar mudah menemukan mangsanya!" Sanggah warga.
"Maksudku jika mereka tinggal jauh dari manusia, mungkin mereka bisa merubah kebiasaan mereka tanpa memakan ari-ari atau minum dar4h wanita melahirkan dan menstruas. Misalnya ganti dengan dar4h binatang saja!" Sela warga memberi pendapat.
"Itu hal mustahil, karena sejatinya kuyang itu meminum dar4h manusia dan ari-ari bayi. Mereka juga makan dan minum dar4h binatang, tapi itu hanya selingan!" Warga yang lain tidak yakin dengan pendapat temannya.
Warga geger membicarakan perihal kuyang tadi malam yang kelihatan masih baru karena tidak mengerti terbang di daratan, sedangkan kuyang senior pasti terbang di atas sungai demi menghindari dedak dan tali jemuran dari ijuk.
...****************...
Di rumah Fadli, orang-orang mulai sibuk kembali untuk acara Tasmiyah (menamai) bayi laki-laki Fadli dan Shinta. Zaman dulu masih belum ada dekorasi khusus untuk acara tersebut, tidak seperti jaman sekarang rumah yang hajatan didekorasi dengan hiasan indah, dulu hanya makan-makan biasa dan bagi-bagi cendera mata, itu saja.
Warga yang membantu disana masing-masing memiliki kesibukan sendiri-sendiri, ada yang membungkus berkah untuk anak-anak yang berisi makanan ringan, coklat, permen, mainan dan lain-lain. Ada warga yang memasak, mereka hari itu membuat nasi kuning dan soto untuk menu makan utama. Sebagian warga yang lain sedang bersih-bersih ruangan dan pekarangan.
Tak ada yang tahu jika tadi malam di rumah itu di kejutkan oleh keberadaan Bunda Najah. Fadli dan keluarga memilih diam kecuali mereka menyaksikannya sendiri. Sementara siang hari, sosok Bunda Najah tidak menampakkan dirinya, sosok beliau hanya muncul sehabis Maghrib layaknya makhluk ghaib lainnya.
"Masukkan santan kemudian sambal merah, biarkan sampai mendidih, setelah itu masukkan ikan gabus goreng ini ke dalamnya!" Ucap Mama Hanum pada salah seorang warga yang memasak di belakang untuk menu makan acara Tasmiyah sore nanti.
"Baik, Bu!" Jawab warga itu.
"Shinta, kenapa lututmu lecet?" Tanya Mama Hanum melihat lutut Shinta lecet dan berdarah meski sudah mengering, namun masih terlihat luka baru sehari dua hari ini.
"Aku tidak sengaja terjungkal di belakang, Ma! Lututku terpentur lantai semen, dan akhirnya lecet!" Jawab Shinta ramah tamah.
"Oooh, seharusnya kau kasih obat merah biar tidak terinfeksi!" Ucap Mama Hanum prihatin.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Ma! Hanya luka kecil." Timpal Shinta sambil memasak Sup Ayam buat kuah Soto nanti.
"Nanti jadi koreng kalau kau biarkan seperti itu!" Ucap Mama Hanum lagi berlagak perhatian.
Shinta hanya tersenyum sembari sibuk dengan sayur Sup Ayam yang di masaknya.
Kesibukan mereka akhirnya berakhir, tamu-tamu yang identik dari ibu dan anak-anaknya mulai berdatangan menghadiri syukuran Tasmiyah, meski dadakan tamu-tamu dari warga sekitar banyak yang datang.
Syukuran Tasmiyah berlangsung sangat seru, Fadila memasukkan nama-nama bayi laki-laki yang pilihan keluarganya kedalam sebuah botol bekas air mineral, nama-nama itu ditulis pada kertas dan di gulung layaknya seperti arisan.
"Nama-nama bayi laki-laki yang kami pilih kemaren semuanya ada disini, kita akan mengocoknya seperti arisan, nama yang jatuh nanti adalah nama untuk bayi laki-laki Kak Fadli dan Kak Shinta!" Ucap Fadila sambil memegang mikropon.
Fadila memandang semua anggota keluarga, ia berharap mereka setuju dengan keputusan tersebut.
"Kak Fadli, Kak Shinta, apakah kalian setuju?" Tanya Fadila meyakinkan mereka.
Fadli dan Shinta saling pandang, kemudian mereka mengangguk bersamaan.
"Baiklah, orang tua bayi lucu ini sudah menyetujui peraturan yang kita buat!"
Fadila mulai mengocok botol bekas mineral berisi nama-nama bayi laki-laki itu, kemudian ia menjatuhkan salah satu nama di tangan seorang anak kecil.
Anak kecil tersebut menuruti perintah Fadila, tangan mungilnya mulai membuka gulungan kertas, perlahan ia menyerahkannya pada Fadila.
"Mari kita baca bersama-sama, siapakah nama untuk bayi laki-laki Kak Fadli dan Kak Shinta?!"
Fadila mengambil kertas dari tangan anak kecil kemudian membacanya.
"Wah!" Fadila bergumam, ia menoleh kearah keluarganya secara bergantian.
"Ayo Dila, cepat! Jangan membuat kami penasaran!" Seru Pak Hamdan.
"Mmmmm!" Fadila masih enggan menyebut nama bayi laki-laki itu.
"Siapa namanya, Dila?" Ucap Bu Intan, ibu kandung Fadila.
__ADS_1
"Ayo Dilaaa, jangan main-main, cepat sebut siapa namanya!?" Teriak Fadli tidak sabar.
"Sabarrrrr!!!" Sahut Fadila sengaja membuat mereka penasaran.
"Ayolah, Dila! Kau sengaja mengulur-ulur waktu agar kami penasaran?" Lara ikut mendesak Fadila.
"Coba tebak, siapa nama untuk bayi lucu ini!?" Ucap Fadila sengaja mengulur-ulur waktu.
"Pasti nama pilihanku!" Ucap Mama Hanum.
"Nanti bisa kita lihat!" Sahut Fadila sembari tersenyum.
"Siapaaaa?!" Tanya Bi Leha.
"Baiklah, karena semuanya sudah tidak sabar lagi, sekarang aku akan membaca nama apa yang akan di berikan pada bayi laki-laki ini?!" Fadila menggendong bayi tersebut.
"Papa yakin, pasti nama itu adalah nama pilihan Papa!" Ucap Pak Hamdan.
"Satu.. dua.. tiga.. ! Namanya adalah.. !" Lagi-lagi Fadila mengulur-ulur waktu.
"Dila, ayo Dila!" Bentak Fadli dengan bentakan sayang seorang kakak pada adiknya.
"Nama bayi ini adalah "Fadi"! Ucap Dila.
"Nama pilihan Lara akan menjadi nama bayi suaminya, hebat nak, kau sangat hebat!" Ucap Mama Hanum pura-pura salut dengan penuh drama.
"Kau setuju?" Tanya Fadli pada Shinta.
Shinta mengangguk setuju dengan nama pilihan Lara untuk bayi mereka.
"Fadiiii!" Seru Fadila berlari mengambil Fadi dari pangkuan Shinta.
Akhirnya nama bayi laki-laki Fadli dan Shinta sudah mempunyai nama, Fadi. Nama pilihan Lara yang akhirnya terpilih dari nama-nama lain pilihan keluarga.
"Pasti Lara sangat menyayangi Fadi!" Ucap Pak Hamdan.
__ADS_1
Lara tersenyum, matanya berkaca-kaca karena Fadli dan Shinta mau-mau saja memakai nama pilihannya untuk bayi mereka.
Syukuran Tasmiyah berjalan lancar, tamu-tamu pulang satu persatu. Fadli membawa beberapa kantong plastik yang berisi baju daster dan kain jarik dari dalam kamarnya, ia membagi-bagikan baju dan kain jarik tersebut pada warga yang selalu datang membantu mengerjakan persiapan untuk syukuran dan acara di rumahnya. Warga sangat senang mendapat hadiah dari Fadli, selain itu Fadli juga membagi-bagikan amplop berisi uang ala kadarnya sebagai imbalan kerja keras mereka.