
"Faiza, main yuk?" Ajak Wati teman akrab Faiza.
"Aku minta izin dulu, ya!" Jawab Faiza seraya masuk kerumah menemui ibunya.
Wati gadis kecil berusia delapan tahun dengan rambut dikepang dua itu duduk diteras menunggu sahabatnya untuk bermain bersama.
"Buuuuunda, aku bermain dulu ya?!" Pinta Faiza pada Bunda Najah.
"Mainnya jangan jauh-jauh ya!? Hari sudah sore, sebentar lagi malam tiba!" Ucap Bunda Najah mengingatkan.
"Iya bu, enggak jauh kok!" Faiza senang diizinkan bermain oleh sang ibu.
Faiza berlari kecil menemui teman akrabnya, Wati yang menunggunya diluar dari tadi.
"Wati, ayo kita main!" Ajak Faiza disambut Wati dengan gembira.
Keduanya pergi meninggalkan rumah menuju sebuah tanah lapang yang luas dimana anak-anak sedang berkumpul dan bermain.
"Yuk kita bergabung dengan mereka!" Wati menarik tangan Faiza, keduanya menghambur menuju keramaian ditengah tanah lapang.
Faiza dan Wati bergabung dengan anak-anak lain, ada yang bermain tali, petak umpet, kelereng, anak-anakan, jual-jualan dan berbagai macam mainan lainnya.
"Kita ikut main petak umpet yuk?" Ajak Faiza pada Wati.
"Ah, main petak umpet kurang seru! Kalau kita kalah nanti, pasti kita disuruh keliling mencari tempat persembunyian anak-anak!" Jawab Wati menjelaskan.
"Tapi aku enggak pandai main tali dan kelereng!" Faiza cemberut.
"Kita main anak-anakan atau jual-jualan saja yuk?!" Ajak Wati.
"Tapi aku ingin main petak umpet." Faiza menolak ajakan Wati.
"Ya sudah, kamu main petak umpet dengan anak-anak lain, dan aku main anak-anakan! Setuju?!" Saran Wati.
"Setuju!" Faiza menyetujui saran Wati.
Keduanya kembali berbaur dengan anak-anak yang sedang hiruk pikuk bermain, Faiza bergabung dengan anak-anak yang bermain petak umpet.
"Satu.. dua.. tiga.. !!" Faiza mulai menghitung, anak-anak berhamburan pergi mencari tempat persembunyian yang aman.
Sunyi senyap, pertanda anak-anak sudah bersembunyi, Faiza membuka matanya, ia mulai mencari anak-anak disekitar tempat bermain. Satu persatu ia temukan anak-anak dalam persembunyian mereka, ada yang bersembunyi dibalik pohon, ada yang bersembunyi dibelakang gubuk, dan berbagai macam tempat. Faiza menang, ia mampu mencari semua anak-anak yang bersembuyi.
Permainan terus berlangsung dengan seru, hari mulai senja, kemilau jingga menampakkan keindahannya di ufuk barat sana, sebagian anak sudah mulai pulang. Faiza, Wati dan beberapa anak lainnya masih betah bermain.
Wati menghampiri Faiza dengan membawa jualan mainannya yang terbuat dari tanah liat, daun-daunan dan tumbuhan lainnya.
"Nona, mau beli apa?" Wati menyapa Faiza yang asyik bersembunyi.
"Jangan berisik, nanti Fatimah mengetahui tempatku bersembunyi!" Bisik Faiza pelan sambil menaruh jari dibibirnya.
"Faizaaaaaa!" Seru anak yang bermain petak umpet.
"Yaaaah, sudah kubilang jangan berisik!" Faiza cemberut kearah Wati.
"Maafkan aku ya!? Giliran permainan berikutnya, kamu pasti menang!" Ucap Wati menghibur Faiza.
"Jangan diulang lagi ya!?" Pinta Faiza pada Wati.
"Baik, Faiza! Permisi nona, aku keliling berjualan dulu!" Wati pergi meninggalkan Faiza.
Permainan petak umpet masih berlangsung, gelap mulai menyelimuti perkampungan itu, tapi masih ada beberapa anak-anak yang masih bermain, termasuk Faiza dan Wati.
"Satu.. dua.. tiga.. !!" Salah satu anak sedang menghitung, tanda permainan sudah dimulai kembali.
Faiza berlari kencang mencari persembunyian yang aman, ia sengaja bersembunyi dibalik pohon Durian yang besar agar susah ditemukan.
Satu persatu teman-temannya sudah ditemukan, sisa beberapa anak lagi yang masih dalam persembunyiannya, adzan Maghrib terdengar berkumandang. Faiza bangga karena temannya tidak bisa menemukannya, ia sengaja tidak keluar dari persembunyian.
__ADS_1
Puk.. puk.. seseorang menepuk pundak Faiza, ia berpaling kearah orang tersebut.
"Nak, kamu mau tempat persembunyian yang tak bisa dicari siapapun?" Sapa seorang wanita renta pada Faiza yang entah dari mana datangnya.
"Mau nek, dimana?!" Dengan mata berbinar Faiza mengiyakan.
"Ikuti aku!" Ajak wanita renta tersebut.
"Kemana nek? Apakah tempatnya jauh?" Tanya Faiza penasaran.
"Tidak, tempatnya dekat dari sini. Ayo ikuti aku!" Ucap sang wanita yang dipanggil Faiza nenek.
Faiza mengikuti wanita renta tersebut, mereka berjalan beriringan menyusuri lembah, suasana lembah sunyi sepi dan mulai gelap. Faiza sengaja menurut saja, karena ia ingin teman sepermainannya tidak bisa menemukannya.
"Nek, masih jauh?" Tanya Faiza.
"Sedikit lagi!" Jawab wanita itu.
"Hari sudah malam, nek?! Nanti keluargaku mengkhawatirkanku!" Ucap Faiza takut orang tuanya marah.
"Jangan takut, kedua orang tuamu sudah mengizinkanmu ikut denganku!" Ujar wanita itu seolah kenal dengan kedua orang tua Faiza.
"Benarkah?" Tanya Faiza senang.
Wanita renta yang berjalan bertumpu dengan tongkatnya berhenti berjalan, ia menuntun tangan mungil Faiza, bocah kecil yang masih duduk disekolah dasar kelas dua itu, matanya menatap tajam kearah Faiza.
"Faizaaaaaa, Faizaaaa, Faizaaa kau dimana?" Seru beberapa anak mencari Faiza.
"Faizaaaa, pulang yuk!?" Wati mulai panik.
"Faizaaaaa! Faizaaaaa!! Faizaaaaa!!!" Anak-anak ikut panik, namun Faiza tak kunjung muncul dari tempat persembunyiannya, akhirnya mereka pulang kerumah masing-masing.
Dilembah yang dikelilingi pohon-pohon besar, Faiza dan wanita tua itu berhenti karena suasana sangat gelap, hanya ada cahaya bulan sabit yang remang-remang.
"Nek, kita dimana? Mengapa teman-temanku tidak mencariku?" Tanya Faiza.
"Mengapa rambut nenek diurai kedepan, nek? Apakah nenek bisa melihat?" Tanya Faiza dengan sangat polos.
Wanita renta tersebut berubah seketika menjadi makhluk hitam besar, tinggi dengan rambut terurai kedepan tepat diwajahnya, air liurnya merembes keluar terdengar jelas seperti sedang mengecap makanan, matanya hampir copot menonjol keluar, Faiza mulai ketakutan, ia menangis memanggil kedua orang tuanya.
Tangisan Faiza tak bisa didengar siapapun, dilembah yang gelap itu hanya ada mereka berdua dan suara binatang-binatang malam.
"Menangislah sepuasmu anak manis!" Ucap makhluk hitam besar itu sambil mendekati Faiza dan mencekik lehernya.
Faiza tak bisa berteriak karena kerongkongannya dicekik oleh makhluk besar itu, lidahnya menjulur keluar, matanya terbelalak, hidungnya tersumbat tak bisa bernafas hingga akhirnya ia tak sadarkan diri.
"Hmmmm tumbal yang manis, aku akan menunggu tumbal berikutnya!" Gumam makhluk hitam besar itu.
Warga desa beramai-ramai mencari Faiza sambil memukul-mukul pentungan.
"Faizaaaaaa, Faizaaaaaa, Faizaaaa!!" Warga bersahut-sahutan memanggil nama Faiza.
Warga berpencar menyusuri lembah sambil sesekali berteriak memanggil nama Faiza.
"Ini dia anak Pak Hamdan!" Seru salah seorang warga.
"Mana? Mana?" Warga yang lain berhambur menghampiri warga yang menemukan Faiza.
"Sudah tidak bernyawa lagi!" Tegas seorang warga.
"Keadaannya sangat memprihatinkan, matanya melotot, lidahnya menjulur, tangannya memegang lehernya! Apakah dia bunuh diri dengan mencekik lehernya sendiri?" Ucap warga.
"Mana mungkin anak sekecil ini mengerti arti bunuh diri!" Sahut warga yang lain.
"Sebaiknya kita beritahu orang tuanya terlebih dahulu! Jangan sentuh jasad anak ini, biarkan tetap seperti itu!" Seru warga.
Sebagian warga pulang memberitahu keluarga Pak Hamdan tentang kejadian yang menimpa anak mereka. Bunda Najah bergegas menuju tempat kejadian disusul oleh Pak Hamdan. Sesampainya disana, Bunda Najah meraung sejadi-jadinya, ia menangis histeris melihat keadaan putri semata wayang mereka yang sudah tak bernyawa lagi.
__ADS_1
"Faizaaaaaaaaaaa jangan pergi! Maafkan bunda, nak! Maafkan bunda!" Teriak Bunda Najah sambil melotot kearah suaminya.
Pak Hamdan hanya menunduk lesu menerima nasib anaknya yang begitu malang.
"Najah, mari kita pulang! Lebih baik bersihkan jasad anak kita untuk dimakamkan!" Ucap Pak Hamdan.
"Jangan ikut campur, aku yang akan mengurusnya!" Bentak Bunda Najah sambil memeluk jasad Faiza yang mulai dingin dan kaku.
Bunda Najah dan Pak Hamdan bertengkar ditempat kejadian Faiza ditemukan, warga tak mengerti duduk permasalahan kedua suami istri itu, warga menduga Bunda Najah depresi karena putri semata wayang mereka telah tiada.
"Sabarlah Najah, mungkin ini sudah menjadi suratan takdir Faiza! Meski kematiannya sangat aneh, kau tak perlu bersedih, mungkin binatang buas yang membuatnya seperti ini!" Ucap Bi Leha menenangkan Bunda Najah sahabat dekatnya.
*****
"Najah, ini demi kekuasaan dan kekayaan keluarga kita!" Bujuk Pak Hamdan pada Bunda Najah.
"Tapi aku belum siap kehilangannya!" Bunda Najah bersikeras menolak permintaan suaminya.
"Kita akan dapat penggantinya, aku yakin janin yang kau kandung itu adalah janin perempuan!" Ucap Pak Hamdan tenang sambil menghirup cerutu dan mengehembuskan asap besar.
"Apakah tak ada cara lain?" Bunda Najah meminta pilihan lain.
"Ada!" Jawab Pak Hamdan melirik tajam kearah Bunda Najah.
"Apa?" Kenapa kau menatapku seperti itu?" Bunda Najah tak enak ditatap suaminya dengan tatapan tajam.
"Syarat lain adalah KAU!" Pak Hamdan memberikan jawaban yang sangat mengejutkan.
"Apakah kau gila?" Tanya Bunda Najah emosi.
"Tak ada pilihan lain selain kalian berdua, jika aku kehilanganmu, aku bisa mencari istri baru, jika aku kehilangan anak perempuan sulungku, aku bisa mendapatkan ratusan anak perempuan lain dari rahimmu atau wanita-wanita lain! Sekarang, cepat berikan keputusan! Kau atau Faiza!?" Ucap Pak Hamdan ketus.
"Kau rela mengorbankan anakmu sendiri demi kekayaan dan kekuasaan?!" Bunda Najah mulai mencecar.
"Apakah kau tak senang hidup dalam kemewahan?! Rumah megah, harta melimpah, disegani dan dihormati masyarakat!" Ucap Pak Hamdan dengan angkuh.
"Aku tak menginginkan semua itu, aku hanya ingin keluarga kecil dan bahagia dengan kehidupan yang sederhana!" Tegas Bunda Najah tak suka dengan cara suaminya.
"Alah, kau senang hidup bergelimang harta dan kekuasaan. Toh, kita nanti bisa mempunyai anak perempuan lain jika Faiza kita jadikan tumbal!" Ucap Pak Hamdan.
"Cukup!!!" Teriak Bunda Najah.
Pak Hamdan tertegun sesaat, pikirannya melayang jauh.
"Setiap putri sulung yang lahir dari keluargamu, baik itu anak atau cucumu, harus menjadi milikku sebagai ganti kekayaan dan kekuasaan yang kuberikan!" Ucap makhluk hitam yang berwujud seorang wanita dengan rambut terurai didepan, dialah pemilik Minyak Kuyang Putih, jin pesugihan.
"Tumbal?" Tanya Pak Hamdan singkat.
"Ya, setiap putri sulung dari keluargamu adalah tumbal. Kalau tidak, maka kau sendiri yang akan menerima resikonya!" Jawab jin pesugihan menegaskan.
"Apakah tak ada cara lain?" Tanya pak hamdan.
"Ada, istrimu! Siapapun yang bersedia menjadi istrimu, dia adalah tumbal!" Jawabnya.
Pak Hamdan tersadar dari lamunannya, ia ingat perjanjiannya dengan jin pesugihan si pemilik Minyak Kuyang Putih.
"Cepat berikan keputusan! Kau atau Faiza?! Atau aku akan menyerahkanmu tanpa menunggu persetujuanmu sekalipun." Desak Pak Hamdan.
"Faiza!" Jawab Bunda Najah pelan.
Bunda Najah terpaksa menyetujui permintaan suaminya untuk menjadikan Faiza sebagai tumbal untuk kekayaan dan kekuasaan mereka.
*****
Bunda Najah berteriak histeris memeluk jasad Faiza yang sudah kaku dipangkuannya.
"Faizaaaaaaa, bangun nak, banguuuun! Maafkan bundaaa, nak!" Bunda Najah menangis sambil berteriak seolah menyalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Sudahlah Najah, biarkan Faiza pergi dengan tenang, tak ada gunanya menangisi kepergiannya, tangismu tak akan membuatnya bangun!" Ucap Bi Leha menenangkan Bunda Najah, "Kenapa Najah merasa bersalah atas kematian Faiza?" Bisik Bi Leha dalam hati.