
Fadli membawa mobilnya menuju rumah Pak Mantir, kebetulan ia hanya pergi berdua dengan Lara agar lebih leluasa, sengaja membiarkan Nada diasuh oleh Fadila yang lagi senang-senangnya bermain bersama. Mbak Mina masih dirumah Fadli karena Fadli sendiri memintanya untuk menemani Fadila dan Nada.
"Bang, Apakah kita tidak mengganggu Pak Mantir? Kasihan beliau, sibuk dengan urusan kita!" Tanya Lara pada Fadli.
"Beliau sudah berjanji akan membantu kesembuhanmu, semoga seterusnya begitu!" Jawab Fadli berharap.
Lara menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, ia masih tak habis pikir dengan perbuatan orang tua yang selama ini ia anggap keluarganya sendiri hanya demi harta dan kekayaan.
"Bang, maafkan aku! Selama ini aku selalu mengira bahwa Shinta yang mengirim santet dan Parang Maya! Ternyata orang yang kuanggap keluargaku sendiri! Suatu hari aku ingin bertemu Shinta dan meminta maaf padanya!" Tak disangka oleh Fadli, Lara mengucapkan kalimat-kalimat itu dari mulutnya sendiri.
"Lara? Kau yakin dengan ucapanmu?" Fadli ternganga, secara Shinta madu oleh Lara, tapi Lara seolah tak menaruh rasa benci dan dendam sama sekali.
Lara mengangguk pelan, Fadli terdiam seribu bahasa masih tak menyangka Lara yang mengucapkan semua itu.
"Terbuat dari apa hatimu wahai Lara?" Fadli bergumam dalam hati. "Kau semakin membuatku jatuh cinta dan tak ingin melepaskanmu apalagi berpisah denganmu! Tapi entah kenapa dalam sosokmu aku melihat sosok Shinta, dan sebaliknya kau juga ada pada sosok Shinta!" Fadli gelisah, ia teringat Shinta yang melahirkan beberapa pekan, ia hampir tak sempat mengunjunginya karena sibuk mengurus Lara, untung libur mingguan ia bisa menjenguknya meski kadang tak bisa menginap disana.
Suasana dalam mobil hening, pikiran Lara pergi entah kemana, ia duduk bersandar di jok depan mobil di samping Fadli dengan tatapan lurus kedepan. Fadli membiarkan Lara pergi dengan pikirannya, iapun kembali fokus membawa mobilnya.
...****************...
"Berhenti!" Seru Mama Hanum pada supir.
"Turun disini bu?" Tanya sang supir heran, karena Fadli memintanya mengantar ke desa tempat tinggal mereka.
"Iya!" Jawab Mama Hanum singkat seraya turun dari mobil disusul oleh Bi Ratih.
"Ongkos and taksi sudah dibayar oleh menantu ibu!" Ucap supir tadi.
__ADS_1
"Terima kasih, kau tidak bisa naik keatas?" Tanya Mama Hanum pada supir.
"Tidak, bu! Belum berpengalaman naik gunung!" Jawab supir, "Memang ibu ingin naik keatas? Sudah malam bu!" Si supir penasaran.
"Ya sudah, aku menunggu ojek saja!" Mama Hanum tidak mau banyak bicara, supir itupun akhirnya pergi karena merasa tidak dibutuhkan oleh mereka.
"Hanum, kau yakin ada ojek yang akan naik keatas malam-malam begini?" Tanya Bi Ratih ragu.
"Pasti ada yang akan naik keatas!" Ucap Mama Hanum yakin.
Baru saja Mama Hanum bicara, akhirnya ada mobil pick up muncul dari seberang jalan menuju keatas, Mama Hanum menghentikan mobil pick up tersebut kemudian menceritakan keinginan mereka yang ingin keatas juga.
"Nanti aku bayar perorang!" Ucap Mama Hanum membujuk.
"Baiklah bu, daripada ibu naik ojek, itu sangat berbahaya malam-malam naik keatas menumpang ojek!" Ucap supir mobil pick up berbaik hati.
Bi Ratih naik kemobil bagian belakang, Mama Hanum mengikutinya, mereka sengaja memilih duduk dibelakang karena ingin berbincang-bincang seputar misi mereka. Mobil pick up mulai naik keatas dengan laju, hari mulai gelap, suara-suara serangga malam bersahut-sahutan disemak-semak yang tingginya setinggi orang berdiri, jalanan sangat sepi tak ada mobil atau kendaraan lain selain mobil pick up yang ditumpangi mereka.
"Kau lapar?" Tanya Mama Hanum pada Bi Ratih.
"Iya, maagku mulai kambuh!" Bi Ratih meringis.
"Di dalam tas anyam ada air hangat ditermos dan kue-kue basah pemberian Fadli tadi! Mari kita makan untuk mengganjal lapar!" Ucap Mama Hanum seraya menuang air hangat kedalam sebuah gelas plastik dan memberikannya pada Bi Ratih.
Keduanya mulai menikmati kue-kue basah untuk mengganjal perut mereka yang mulai lapar.
"Hanum, aku perhatikan dari tadi ada yang mengikuti kita!" Bi Ratih memberi tahu.
__ADS_1
"Aku melihatnya, mungkin makhluk ghaib yang lagi menganggur dan sedang mencari pekerjaan untuk mengganggu manusia!" Ucap Mama Hanum meledek makhluk tak kasat mata yang mengikuti mereka.
"Hanum, kau tidak boleh meremehkan mereka!" Bentak Bi Ratih.
"Tuh, dia sudah kabur, tidak mau berdebat denganku!" Celoteh Mama Hanum menunjuk kearah sosok wanita berambut panjang kusuy yang mengenakan terusan putih panjang sampai menutup mata kaki.
"Kenapa bisa pergi?!" Bi Ratih terheran-heran melihat makhluk ghaib yang tadi duduk bersama mereka didalam mobil.
"Dia arwah penasaran yang sedang mencari pekerjaan!" Tukas Mama Hanum.
"Kau tahu dari mana?" Bi Ratih tak percaya.
"Buktinya dia mengikuti kita, dan dia pasti tahu kita akan menemui Pak Apong guna menyelesaikan misi kita!" Jelas Mama Hanum.
"Tapi arwah penasaran itu sangat menyeramkan! Tuh dia melayang-layang dibelakang mobil, kenapa tongkat itu menusuk kemal*annya sampai keubun-ubun?" Pekik Bi Ratih merasa ketakutan melihat makhluk ghaib itu dengan kondisi bagian dub*rnya berdarah-darah akibat tusukan tongkat.
"Dia hanya mengecoh manusia untuk takut padanya, dia hanya arwah penasaran yang meninggal karena bunuh diri, bukan seseram apa yang kau lihat, dia ingin membuktikan bahwa dirinya sabgat menyeramkan agar yang melihatnya akan takut, coba tiru aku yang cuek dengan keberadaaannya!" Ucap Mama Hanum memberi nasihat.
Bi Ratih geleng-geleng kepala mendengar penjelasan Mama Hanum yang tak banyak orang tahu bahwa dirinya adalah wanita indigo yang sering melihat hal-hal ghaib diluar nalar manusia normal, selama ini dirinya hanya terlihat seorang ibu rumah tangga biasa, namun dibalik itu semua, Mama Hanum tak kalah hebatnya dengan Bunda Najah, ibu mertua Lara. Bahkan Mama Hanum juga memiliki ilmu kekebalan, oleh karena itu ia sangat berambisi untuk memiliki seluruh kekayaan keluarga Lara di pedalaman. Tapi sehebat-hebatnya dia, namun ia sangat ceroboh, sehingga ia tak mengetahui asal-usul keluarga Lara sebenarnya.
Malam makin pekat, padahal waktu baru menunjukkan setengah delapan malam, karena jalanan kegunung tidak difasilitasi lampu, sehingga suasana jalanan sangat gelap dan hitam yang hanya diterangi oleh cahaya mobil. Sosok wanita mengerikan tadi pelan-pelan menghilang entah tertinggal dibelakang atau lelah melayang-layang mengikuti mereka. Kantuk mulai datang, Bi Ratih tak kuat menahannya, ia rebahan dikursi panjang mobil pick up yang kiri kanannya dipenuhi baju-baju, dan barang pecah belah untuk dijual ke gunung oleh si supir. Mobil pick up melaju melawan gelapnya malam dan tanjakkan-tanjakkan yang mulai terjal.
...----------------...
...Coretan author:...
Maaf telah off hampir dua bulan karena kesibukan author benar-benar gak bisa ditinggalin, selain itu author kehabisan ide untuk mengarang lanjutannya, tapi sekarang timbul ide-ide baru kok. Pembaca yang terhormat, sudi kiranya berbagi ide dengan pengalaman kalian yang berkaitan perihal ghaib, mungkin author bisa terinspirasi dari pengalaman-pengalaman kalian.
__ADS_1