
"Hanum?! Bagaimana ekspresi Fadli saat bertemu denganmu?" Tanya Bi Ratih.
"Biasa-biasa saja, sepertinya dia tidak tahu apa-apa! Tapi aku heran dengan ucapannya!" Ucap Mama Hanum sembari berpikir.
"Ucapannya bagaimana?" Tanya Bi Ratih.
"Saat kutanyakan kabar Lara dan Nada, dia bilang mereka baik-baik saja!" Mama Hanum berpikir keras, ia heran mengapa Fadli menjawab seperti itu, apakah Lara benar-benar sehat atau Fadli sedang berbohong. Karena yang ia tahu Pak Opang mengirim siksaan demi siksaan dari jarak jauh untuk membinasakan Lara, "Seharusnya Lara dalam keadaan sekarat, tapi kenapa Fadli mengatakan hal sebaliknya?" Gumam Mama Hanum menggigit jarinya.
"Benar juga, apakah Fadli berbohong padamu?! Jangan-jangan dia mengetahui sesuatu! Atau bahkan mengetahui kita yang ada di balik ini semua?" Ucap Bi Ratih.
"Jangan berandai-andai seperti itu, tapi aku yakin ada yang tidak beres! Pasti Fadli dan Lara sedang merencanakan sesuatu!" Mama Hanum curiga.
"Apakah sebaiknya kita kepedalaman saja dan menanyakan langsung pada Pak Opang?" Saran Bi Ratih.
"Jangan terburu-buru, aku berpikir terlebih dulu!" Ucap Mama Hanum dengan tatapannya yang sinis.
...*****...
Bi Leha masih tak menyangka jika orang tua Lara bukan orang tua kandungnya, selain itu mereka tega mengirim santet Parang Maya yang mematikan padanya. Benar-benar durj*n*, padahal dari raut wajah mereka tidak menampakkan tipe orang jahat, ternyata sebaliknya.
"Aku harus menemui Pak Sepuh!" Bi Leha beranjak pergi ke ujung desa menemui Pak Sepuh untuk meminta solusi tentang minyak kuyang dan bertanya siapa arwah penasaran yang mengganggu pemuda di depan rumah Bunda Najah beberapa hari yang lalu.
"Bi, mau kemana?" Sapa seorang warga melihat Bi Leha berjalan kaki menuju ke hilir.
"Mau ke ujung desa!" Jawab Bi Leha singkat.
"Mari kubonceng!" Ajak warga tersebut menawarkan diri membonceng Bi Leha naik sepeda bersamanya.
"Baiklah, terima kasih sudah bersedia mengantarku!" Ucap Bi Leha.
"Sama-sama, Bi! Sudah kewajibanku sebagai warga untuk saling tolong menolong!"
__ADS_1
Tak lama kemudian Bi Leha tiba di depan gubuk tua yang terbuat dari rumbia milik Pak Sepuh.
"Terima kasih banyak!" Ucap Bi Leha pada warga yang mengantarnya.
"Sama-sama, Bi! Aku pergi ya!?" Warga tersebut meneruskan perjalanannya mencari sayur mayur di hilir desa, paling ujung.
Bi Leha menemui Pak Sepuh yang sedang duduk di depan gubuk, beliau menganyam daun rumbia untuk di jadikan atap rumah kemudian dijual untuk menyambung hidup.
"Ada apa lagi Leha?!" Sapa Pak Sepuh mendahului Bi Leha.
"Pak, Fadli ingin memberikan minyak kuyang Najah untuk istrinya!" Seru Bi Leha serius.
"Ada masalah apa lagi dengan mereka?" Pak Sepuh bertanya.
Bi Leha menceritakan semua peristiwa dan musibah yang melanda keluarga Fadli, hingga menanyakan arwah penasaran siapa yang mengganggu pemuda di depan rumah Bunda Najah waktu itu.
"Santet Parang Maya tidak bisa di sembuhkan meski dengan minyak kuyang bahkan minyak bintang ilmu untuk kekebalan. Orang yang terkena santet Parang Maya jarang bisa sembuh kecuali si target memiliki silsilah dari Kesultanan Banj*r!" Ucap Pak Sepuh.
"Tapi keturunan Kesultanan memiliki darah biru dari keluarga ningrat, dan orang-orang penting dalam Kesultanan bisa mencari cara kepada kepala Suku Day*k untuk menyingkirkan teluh yang di kirim oleh salah satu rakyat mereka!" Jawab Pak Sepuh.
"Kurasa istri Fadli tidak memiliki keturunan sehebat itu." Bi Leha tersenyum sedih.
Tanpa sepengetahuannya, Lara memang salah satu dari keluarga ningrat berdarah biru dari Kesultanan yang memiliki tutus atau garis lurus keturunan raja-raja. Fadli belum menceritakan sepenuhnya siapa keluarga kandung Lara seperti yang di ceritakan oleh Pak Mantir.
Wah, berarti Lara ada harapan sembuh dong! Semoga ya, semoga.
"Fadli pasti akan mencari cara, aku yakin itu!" Ucap Pak Sepuh optimis.
"Itu sudah pasti, Pak! Dan aku masih ingin tahu siapa arwah penasaran yang mengganggu pemuda, Pak Sepuh sendiri bilang bahwa itu arwah penasaran!" Bi Leha membuka masalah arwah penasaran memancing Pak Sepuh agar mau bicara lebih jauh.
"Itu masalah lama sekali! Sebaiknya kita bahas nanti, sekarang pulanglah! Kasihan Najah sendirian, pasti sedang lapar!" Pak Sepuh meminta Bi Leha pulang.
__ADS_1
"Pak Sepuh selalu menggantung orang!" Gerutu Bi Leha sembari beranjak dari duduknya kemudian pulang dengan kekecewaan.
Pak Sepuh bersikap masa bodoh, memang tabiat beliau sudah seperti itu, jarang bicara jika tidak diperlukan, padahal beliau banyak mengetahui berbagai hal dan bermacam-macam rahasia yang ada di kampungnya.
...*****...
Matahari sudah sepenggalah, mobil Fadli telah memasuki komplek, ia ingin cepat-cepat bertemu Lara dan Nada di rumah. Fadli terkejut, ia melihat sandal Pak RT dan Pak Mantir ada di teras rumahnya, tanpa buang-buang waktu ia bergegas masuk kedalam ingin tahu apa yang sedang terjadi.
Fadli langsung menuju kamarnya, kebetulan mereka semua berkumpul di dalam kamar. Nampak Pak Mantir duduk menghadapi Lara yang terbaring di atas kasur, tidak di ranjangnya, Pak Mantir sepertinya sedang pergi ke dimensi lain, karena duduk dengan mata terpejam dan mulut komat kamit membaca mantra. Fadila memberi isyarat pada Fadli untuk tidak bicara, tapi Fadli penasaran ingin tahu ada hal apa sehingga ia mengajak Fadila keluar dari kamar. Akhirnya dua kakak beradik itu ke ruang tengah, Fadli langsung menyerbu Fadila dengan berbagai macam pertanyaan. Lantas Fadila menceritakan kejadian sejak Fadli meninggalkan rumah kemaren, dari Lara yang beringas hingga berubah jadi Macan Kumbang yang menyerang Harimau Putih secara membabi buta, sampai ketika Lara gemetar sejak pagi tadi hingga sekarang.
"Kak Lara tidak berhenti kejang-kejang, suhu badannya sangat dingin, pucat dan segala macam hal yang membuat kami semua panik! Pak Mantir sedang menerawang ke alam lain!" Ucap Fadila menjelaskan.
"Jadi kalian berubah jadi binatang buas? mengapa Lara bisa berubah juga? Yang kutahu hanya kau yang pemilik Harimau Putih!" Sahut Fadli.
"Macan Kumbang itu milik dukun yang mengirim santet! Dia tertantang saat aku bersama Kak Lara, mungkin dia merasa aku akan menghalangi misinya! Sementara aku tak tahu apa-apa meski kata ayah aku calon seorang supranatural, tapi aku tak mengerti sama sekali bagaimana mengatasi keadaan seperti ini!" Seru Fadila.
"Macan Kumbang?! Hmmmm..!" Fadli mengingat-ngingat dimana ia pernah mendengar nama Macan Kumbang disebut.
"Ada apa? Apakah ada yang aneh? Atau.. kakak tahu sesuatu tentang Macan Kumbang?" Tanya Fadila bertubi-tubi.
"Iya! Aku mendengar mereka menyebut kalimat Macan Kumbang!" Ucap Fadli akhirnya ingat kalimat itu di ucapkan oleh Mama Hanum.
"Dimana? Siapa yang menyebut kalimat Macan Kumbang? Bukannya Kakak semalaman tidak ada dirumah? Dan soal macan kumbang itu hanya terjadi kemaren sejak kakak pulang ke desa!" Fadila menghujamkan beribu pertanyaan-pertanyaannya pada Fadli.
"Mama Hanum, orang tua asuh Lara yang menyebut nama Macan Kumbang, aku mendengarnya tadi pagi!" Jawab Fadli penuh emosi.
"Berarti benar merekalah pelaku yang mengirim santet!?" Tanya Fadila dengan mata terbelalak karena ternyata ucapan Pak Mantir selama ini benar.
"Iya, aku sudah tidak penasaran lagi, karena tahu siapa mereka sebenarnya!" Jawab Fadli dengan amarah yang berapi-api.
"Terus apa yang kakak dapat dari kampung? Bagaimana keadaan Kak Shinta dan bayinya?" Tanya Fadila.
__ADS_1
Fadli menceritakan semua cerita yang ia jalani sejak kemaren, tentang permintaan maafnya pada Shinta, dan keinginannya membawa minyak kuyang yang gagal karena di larang Bi Leha serta mengintip aktifitas Mama Hanum secara sembunyi-sembunyi.