MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 77. Perjalanan Ke Pedalaman


__ADS_3

Fadli dan Lara sudah beberapa jam berada di rumah Pak Mantir, Lara sedang bermeditasi di sebuah kamar kecil untuk menenangkan dirinya atas perintah Pak Mantir, Fadli menunggunya diluar dengan setia. Sementara Pak Mantir menyiapkan perapian kecil untuk membakar dupa dan teman-temannya.


"Untuk apa pak?" Tanya Fadli.


"Melakukan ritual "behalat", ( behalat: memagar diri dari serangan ghaib) untuk istrimu! Setidaknya dengan cara itu bisa saja menangkal serangan-serangan baru nanti!" Ucap Pak Mantir menjelaskan.


Fadli mengangguk lega, iapun berharap Lara akan kebal dalam menerima serangan baru nantinya, karena sudah pasti Mama Hanum dan Bi Ratih sedang mempersiapkan serangan berikutnya setelah melihat kondisi Lara yang baik-baik saja.


Pak Mantir mulai duduk meng,hadapi perapian kecil yang dibuatnya tadi, ia mulai merapal mantra-mantra yang persis tak terdengar oleh Fadli, hanya terlihat mulutnya komat kamit yang sesekali meniup mantra-mantra tersebut pada dupa dan berbagai jenis kembang untuk dibakar diperapian kecil.


Fadli mengintip Lara didalam kamar, Lara masih duduk tegap dengan mata terpejam, kaki bersila menopang kedua belah tangannya. Fadli berdoa agar ritual mengamankan Lara dari serangan baru berjalan lancar, ia melirik kearah jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat 47 menit, sebentar lagi pukul sebelas malam. Diluar terdengar deru angin kencang membanting dedaunan dan pelepah-pelapah pohon kelapa.


"Angin berhembus kencang!" Gumam Fadli dalam hati.


Pak Mantir nampak tidak berada di dunia kasat mata, ia sepertinya pergi ke alam bawah sadar, di dimensi yang berbeda. Suasana rumah Pak Mantir hening dan sepi ditengah malam gelap gulita itu, istri beliau tak pernah mengusik pekerjaannya, ia lebih memilih berdiam diri di dapur atau di kamarnya. Sedangkan anak-anak beliau sebagian sudah berkeluarga, hanya satu anak laki-laki yang masih duduk di SMA, anak beliaupun tidak pernah mengusik kekhidmatan aktifitas Pak Mantir, ia fokus dengan tugas sekolahnya.


...****************...


"Hanum, sudah tengah malam?" Tanya Bi Ratih terjaga dari tidurnya.


"Sejam lagi! Tidurlah!" Jawab Mama Hanum.


"Semoga kedatangan kita kali ini membuahkan hasil!" Gerutu Bi Ratih sambil menguap karena mengantuk.


"Jika ingin berhasil, pasti harus di dasari perjuangan, tidak ada keberhasilan yang di peroleh secara instan!" Ucap Mama Hanum kesal, ia tahu saudaranya tidak berminat naik ke gunung di tengah malam dingin dan gelap gulita itu, apalagi tanpa persiapan sebelumnya.


Bi Ratih tak menyahut, rasa kantuknya mengalahkan ambisinya untuk berargumen dengan adiknya itu, iapun kembali berbaring di kursi mobil pick up seraya memejamkan matanya untuk tidur beberapa waktu lagi.

__ADS_1


Mama Hanum tidak bisa tidur karena ia tak sabar ingin menemui Pak Apong yang dinilainya tidak professional mengerjakan perintahnya, ia kecewa dengan lelaki tua itu. Disisi lain ia khawatir Lara tidak akan bisa dibinasakan, meski ia yakin santet Parang Maya yang dikirimnya bukan sembarang santet, tapi santet tertua yang sangat berbahaya, menghancurkan organ tubuh dari dalam meski raganya nampak baik-baik saja.


"Mustahil Lara bisa melawan santet Cuca Peruntas ini, tapi kenapa kondisinya sehat dan bugar seperti tidak terjadi apa-apa?! Minimal sakit terbaring lemah dipembaringan seperti ketika ia masih berada dikampung halaman!" Mama Hanum bertanya-tanya dalam hati, rasa penasarannya makin memuncak, menjulang tinggi setinggi jurang-jurang terjal yang ia lalui menuju gunung di pedalaman. "Siapa yang melindunginya? Siapa yang menolongnya?"


Menjelang pukul dua belas malam, mobil pick up yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan sebuah kedai tua reot yang berada di pinggir jalan dan hanya diterangi oleh lampu minyak.


"Bu, aku berhenti disini untuk menjual barang-barang dagangan ini besok pagi, sepertinya aku menginap di kedai ini untuk beristirahat sambil menunggu pagi. Ibu mau kemana?" Tanya sang supir menghampiri Mama Hanum di belakang.


"Hmmm, apakah kau tidak bisa meneruskan perjalanan agak keatas?" Mama Hanum balik bertanya.


"Jalanan sangat terjal, bu! Rasanya aku tidak kuat mendakinya, takut mobilku mundur ke bawah, tadi saja sering kali hampir mundur untuk menuju kemari!" Keluh supir enggan naik lebih keatas.


"Ibu mau kemana? Ke pedalaman kah? Malam-malam begini, apakah ada keperluan mendadak?" Tanya wanita pemilik kedai bertubi-tubi, wanita yang mulai tua renta itu menatap Mama Hanum dengan tatapan sangat tajam, seluruh rambutnya yang memutih nampak mengkilap terkena pantulan cahaya lampu minyak.


Mama Hanum serasa ditelanjangi ditatap tajam oleh wanita pemilik kedai itu.


"Berarti kau sering naik keatas?" Tanya wanita renta pemilik kedai menyelidik.


"Tidak juga, tapi sesekali aku kemari!" Sahut Mama Hanum.


"Ohhh, kukira kau pendatang baru, apa yang dikerjakan suamimu dipedalaman di atas gunung terpencil itu?" Wanita renta pemilik kedai kembali bertanya, entah penasaran atau hanya sekedar basa-basi.


"Suamiku berkebun, jarang sekali turun ke desa, dia lebih senang di pedalaman!" Balas Mama Hanum menutupi maksud sebenarnya kedatangannya kepedalaman.


"Lebih baik kau tunggu pagi saja, baru naik keatas menumpang kendaraan yang membawa minyak! Biasanya mereka pergi selepas subuh atau setelah sarapan! Kau bisa menginap disini, dibelakang kedai ada gubuk kecilku untuk beristirahat jika kalian mau!" Ucap wanita renta pemilik kedai reot tersebut.


"Sepertinya kami memilih berjalan kaki saja menuju keatas!" Mama Hanum menolak dengan halus ajakan wanita renta pemilik kedai tersebut.

__ADS_1


"Baiklah jika kalian tetap bersikeras untuk melanjutkan perjalanan!" Ucap wanita renta pemilik kedai tak mau melarang mereka.


"Terima kasih, kami pamit pergi!" Mama Hanum turun dari mobil pick up disusul Bi Ratih yang baru saja terjaga.


"Hanum,bsebaiknya kita turuti ucapan mak tua ini!" Ajak Bi Ratih.


"Aku sudah tak sabar ingin menemui Pak Apong!" Bisik Mama Hanum pelan.


"Hmmm!" Bi Ratih kecewa.


Mama Hanum berjalan mendekati supir mobil pick up seraya menyerahkan beberapa lembar uang kertas sebagai imbalan membawanya keatas gunung meski belum sampai tujuannya yang sebenarnya.


Sang supir menolak, tapi Mama Hanum tetap memberikan lembaran uang kertas tersebut dan pergi meninggalkan kedai reot tersebut setelah menikmati makan malam disitu. Akhirnya mereka berjalan kaki menuju pedalaman yang terletak di paru-paru pegunungan, malam sangat pekat, bulan enggan muncul dibalik awan, penerangan sangat minim dari obor yang dibekali oleh wanita renta pemilik kedai tadi.


"Hanum, kenapa kau terlalu keras kepala menolak tawaran Mak tua itu menginap di kedai miliknya?" Tanya Bi Ratih menyesalkan keputusan Mama Hanum.


"Dia itu kuyang!" Jawab Mama Hanum singkat.


"Hah? Bagaimana kau tahu?" Tanya Bi Ratih bergidik.


"Sesuatu yang tak bisa di jelaskan, namun dapat terlihat bahwa dia itu kuyang, bukan sembarang kuyang pula!" Jawab Mama Hanum lagi.


"Sederajat dengan Najah?" Tanya Bi Ratih tersengal-sengal kelelahan mendaki jalanan yang terjal.


"Dia Kuyang Sandah, kuyang yang berjalan dengan kaki menyilang, dengan rambut berbalik kedepan, dan memiliki senjata tajam berjenis sembilu, kalau dia marah, dia akan menusuk sembilu itu pada mangsanya. Oleh karena itu aku tak ingin berbasa-basi dengannya, lebih baik menjauhi makhluk-makhluk membahayakan seperti dirinya!" Mama Hanum menjelaskan panjang lebar, Bi Ratih ternganga, ia sering mendengar cerita urban seperti itu, tapi tidak pernah melihat pelakunya secara langsung, karena kuyang-kuyang yang biasa muncul di desa, hanya kuyang kampung yang kesaktiannya belum setara dengan Kuyang Sandah yang dimaksud Mama Hanum.


"Berhenti!" Mama Hanum melarang Bi Ratih melangkah.

__ADS_1


Bi Ratih menoleh kedepan, ia terperanjat seketika melihat sosok berdiri didepannya dengan..


__ADS_2