MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 43. Shinta Dicurigai


__ADS_3

"Pak, suatu malam aku melihat ibuku berubah wujud sangat mengerikan, berambut panjang sampai mata kaki, bercula dikedua belah kepala, wajah seperti kuda tapi menyeringai dan menyeramkan, kuku-kukunya sangat panjang dan runcing. Apakah itu semua halusinasiku saja?" Tanya Lara pada Pak Sholeh.


Pak Sholeh diam sejenak, "Makhluk-makhluk ghaib yang dikirim dukun santet bisa berubah pada siapa saja, pada ibumu, bibimu, saudaramu bahkan suamimu! Kau harus banyak-banyak berdoa dan rajin beribadah, jangan sampai pikiranmu kosong!" Jelas beliau.


"Berarti makhluk-makhluk itu menggangguku melalui apa saja yang dia inginkan? Dan pernah suatu malam ada tangan melambai-lambai kearahku, tangan itu persis tangan yang kulihat pada sosok ibuku ketika wujudnya berubah! Apakah itu termasuk salah satu makhluk ghaib kiriman dari dukun santet?" Lara kembali bertanya.


"Iya, mereka sengaja mengganggu konsentrasimu, menunggu saat kau melamun agar dengan mudah menguasai jiwamu, oleh karena itu jangan sampai pikiranmu kosong! Sibukkan dengan berdzikir dan bershalawat, pagari dirimu dengan kalamullah! Ingat, mereka akan terus mengganggumu, meski kau ahli ibadah." Sekali lagi Pak Sholeh memberi nasehat pada Lara.


Lara mengangguk, Fadli memberitahu Lara untuk tidak bercerita apapun tentang proses penyembuhan dirinya, baik pada orang tua maupun kerabat dekat bahkan orang-orang yang kenal baik dengannya.


"Apakah salah satu diantara mereka adalah pelaku yang mengirim Parang Maya ini?" Tanya Lara pada Fadli. "Tapi, mana mungkin Mama dan keluargaku berbuat sejahat itu padaku, apalagi aku adalah anak semata wayangnya. Dan apa tujuan mereka sehingga ingin membinasakanku? Bi Leha?! Tidak masuk akal, jika Bi Leha melakukan hal itu! Shinta?" Tiba-tiba Lara menyebut nama Shinta diantara nama-nama yang ia sebut.


Fadli terhenyak mendengar ucapan Lara, "Eee.. !" Fadli gugup apalagi Lara menatapnya dengan tajam. Fadli merasa dirinyalah pembawa malapetaka bagi Lara, ia menunduk tak sanggup bertatap mata dengan istrinya.


"Sudahlah, kalian tidak perlu menduga siapa mereka, tunjukkan kalian bisa menyingkirkan santet itu! Nanti kalian juga pasti tahu siapa dan apa maksud tujuan mereka berbuat sedemikian! Aku akan terus berjuang mengusir makhluk-makhluk ghaib tersebut, aku ingin kalian bekerja sama denganku, agar proses ini berjalan lancar. Jangan sekali-sekali mencari tahu siapa pengirimnya, karena jika kalian tahu pasti kalian akan marah, dan orang itu akan bertindak lebih beringas!" Ucap Pak Sholeh panjang lebar menjelaskan maksud kenapa dirinya melarang Fadli dan Lara mencari tahu siapa pelaku pengirim santet.


"Oh, jadi itu maksud Bapak sebenarnya?!" Tanya Fadli.


"Iya, ini demi istrimu juga, jika salah satu diantara kalian marah apalagi menyerang pelaku dengan kekerasan, aku yakin mereka akan bertindak lebih jahat. Buktinya, mereka berani mencelakai istrimu padahap kalian tidak berbuat apa-apa! Jadi, tolong jaga dan kontrol emosi kalian! Itu yang sangat kuharapkan agar proses bisa berjalan lancar!" Ucap Pak Sholeh berharap.


"Baik, Pak! Kalau begitu, kami pamit pulang sebelum malam tiba!" Ucap Fadli.


"Baiklah, ini ada sebotol air Zam-zam yang sudah kubacakan do'a, suruh istrimu meminumnya, dan sisanya untuk cuci muka, tapi jangan dikamar mandi. Kalau perlu tambahkan air biasa sebelum air Zam-zam dibotol ini habis!" Pesan Pak Sholeh seraya menyerahkan botol air mineral berisi air Zam-zam.

__ADS_1


Fadli menerimanya dengan senang hati, kemudian menyerahkannya pada Lara. Setelah itu mereka berpamitan.


Sesaat kemudian, mobil telah melaju dijalan raya antar kabupaten, Lara diam sejak ia ingat Shinta. Fadli membiarkan Lara berasumsi, karena ia juga memiliki asumsi yang sama.


Fadli ingat pesan Pak Sholeh agar Lara tidak boleh melamun, ia ingin Lara bicara untuk menyibukkan pikirannya. Fadli membelokkan mobil menuju sebuah rumah makan, ia mengajak Lara makan siang sekaligus untuk mencairkan suasana.


"Ayo turun!" Sapa Fadli melihat Lara masih duduk diam di jok mobil.


Fadli turun dari mobil, ia menghampiri Lara sembari membuka pintu mobil dan meminta Lara turun. Lara menurut, Fadli menggandeng tangannya menuju rumah makan.


Setelah menelusuri jalan berkerikil kecil, akhirnya Fadli dan Lara masuk kedalam rumah makan. Fadli mengajak Lara duduk pada sebuah meja makan dengan dua kursi. Tak berapa lama, pelayan datang menghampiri mereka dan memberikan daftar menu.


"Mau makan apa?" Tanya Fadli kearah Lara.


"Terserah!" Jawab Lara singkat.


Tak lama setelah itu, pelayan datang membawa menu makan siang kesukaan Lara, Bebek Panggang, dan sayur Sup Iga. Aroma hidangan yang lezat membuat siapa saja ingin segera menyantapnya, Lara yang merajuk pun tak kuasa menahan napsunya untuk menikmati menu kesukaannya. Akhirnya Lara memulai makan, Fadli senang melihatnya tidak menolak ajakan makan siang darinya. Keduanya makan siang dengan nikmat, sejenak melupakan problema kehidupan yang tak berujung.


"Bagaimana masakannya? Enak?!" Tanya Fadli membuka suara.


"Enak, sesuai dengan seleraku!" Jawab Lara, "Terima kasih telah mengajakku makan siang!"


"Ah, jangan berlebihan! Seperti orang asing saja, mau tambah yang lain?" Tanya Fadli seraya memegang tangan Lara yang sudah berhenti makan.

__ADS_1


"Aku sudah kenyang, kau makan lagi?" Tanya Lara.


"Aku hanya ingin menikmati Pudding bersamamu!" Jawab Fadli.


"Baiklah, aku akan menemanimu makan Pudding!" Ucap Lara.


Fadli memanggil pelayan dan memesan Pudding beserta cemilan lain sebagai cuci mulut, ia memindahkan kursinya tepat disebelah Lara, kemudian duduk berdampingan.


"Ma'afkan aku, mungkin aku pembawa malapetaka buatmu!" Ucap Fadli sembari menggenggam tangan Lara erat.


"Sudahlah, tak usah dipikirkan, yang terjadi biarlah terjadi, sekarang bantu aku untuk melenyapkan Parang Maya ini!" Lara berkata lirih, air matanya menetes, jatuh dibelukuk tangan Fadli.


"Aku tak menginginkan semua ini terjadi padamu, jika benar Shinta pelakunya, aku tak akan memaafkannya dan juga tak akan memaafkan diriku!" Fadli merasa menyesal, ia menciumi tangan Lara dalam genggamannya.


"Sudah, sudah! Malu dilihat orang!" Lara menurunkan tangannya karena beberapa pasang mata tertuju pada mereka.


"Kenapa harus malu? Aku suamimu, dan kau istriku!" Jawab Fadli tak peduli dengan orang-orang yang memandang mereka.


Fadli makin mendekat duduk disamping Lara, ia tak ingin kehilangan Lara.


"Beberapa hari lagi masa cutiku berakhir, kuingin mengajakmu tinggal bersamaku, semoga dalam beberapa hari ini aku bisa menyelesaikan masalah Bunda, agar aku bisa lega!" Ucap Fadli sambil menghembuskan napas kasar.


"Anak kita!" Ucap Lara dengan mata berkaca-kaca .

__ADS_1


"Aku akan menemui ayah setelah kekota nanti! Beliau harus bertanggung jawab atas semua perbuatan yang beliau lakukan pada kami dan kita semua!" Fadli berjanji akan menemui ayahnya dikota.


Pelayan datang membawa menu pesanan Fadli, keduanya menikmati Pudding dan buah-buahan sebagai cuci mulut.


__ADS_2