
Bi Leha sedang dirundung kegelisahan, ia tak tahu keputusan apa yang akan ia berikan nanti pada warga, sementara dua hari itu bukan waktu yang lama, sedangkan warga memintanya untuk membuang Bunda Najah ke hutan jika dalam dua hari tidak ada keputusan.
Bi Leha berjalan mondar-mandir tak karuan, ia tak menghiraukan tamunya yang dari tadi menunggunya.
"Aku harus berkabar pada Fadli tentang keinginan warga, aku tak bisa menghadapi ini sendirian! Tapi sepertinya supir-supir antar kabupaten sudah pergi saat ini, ah tak ada salahnya aku mengutus warga untuk memberitahu Fadli!" Bi Leha bergegas keluar rumah mencari warga yang bersedia kekota untuk menemui Fadli.
Sudah setengah jam lebih Bi Leha keluar rumah, namun tak kunjung datang, wanita muda yang sedang bertamu bangkit dari duduk dan berjalan keluar ingin mencari tahu dimana keberadaan Bi Leha.
"Bi, sebaiknya jangan menunggu dua hari untuk memberi kami keputusan!" Ucap seorang warga.
"Aku hanya sahabatnya, tidak berhak untuk memutuskan sendiri, masih ada anak-anaknya yang akan membuat keputusan!" Kilah Bi Leha.
"Tapi ini sangat meresahkan, kami sekeluarga tidak bisa makan dengan benar akibat bau bangkai dan busuk dari rumah ini! Aku heran bagaimana Bi Leha bisa bertahan yang seharian semalaman berada di ruangan yang sama?!" Tambah warga.
"Aku juga sama seperti kalian, tapi aku harus bagaimana? Apa yang akan kulakukan? Apakah aku harus mengasingkannya begitu saja?! Najah masih seorang manusia, kita wajib membantunya, apalagi saat keadaannya seperti ini!" Bi Leha mencoba menenangkan warga.
"Kami tahu, tapi warga yang baik tak akan mengusik warga lainnya, sedangkan Bunda Najah sudah sekian lama sangat meresahkan!" Warga sangat kecewa.
"Aku pasti mencari jalan keluarnya!" Bi Lehan membujuk warga agar tenang.
"Bagaimana Bi Leha saja mewarisi ilmu Kuyang milik Bunda Najah?" Lagi-lagi warga mendesak Bi Leha.
"Bukan aku tega, tapi aku tidak bisa melakukannya!" Bi Leha beralasan.
"Kenapa? Bukankah sebaiknya seorang sahabat menolong sahabatnya!" Protes warga.
"Ada sesuatu yang aku tak bisa menjelaskannya pada kalian!" Bi Leha bingung menanggapi ucapan warga.
"Sudahlah, aku tidak tahan berlama-lama disini, bau bangkai itu sangat menusuk hidung, kepalaku pusing, perutku mual-mual menciumnya, ueeek uek uek!" Warga meninggalkan Bi Leha sambil muntah-muntah.
__ADS_1
Bi Leha geleng-geleng kepala, ia gagal mencari warga yang bersedia diutus kekota untuk berkabar pada Fadli. Wanita muda tadi berdiri di teras menyaksikan argumen Bi Leha dan warga, ia masih menunggu Bi Leha untuk bersedia menerimanya sebagai tamu.
"Oh maaf, aku tidak menghiraukan kedatanganmu dari tadi!" Ucap Bi Leha meminta maaf, ia baru sadar telah mengabaikan tamunya.
"Tidak apa-apa, aku mengerti apa yang Bibi rasakan!" Jawab wanita itu. "Ada hal penting yang ingin kuutarakan!"
"Kau belum memberitahuku siapa dirimu, mari masuk, kita bicara didalam saja! Tapi mohon maaf karena suasana dan keadaan rumah benar-benar tidak bersahabat!" Bi Leha merasa sungkan pada tamunya.
"Tidak ada yang perlu di maafkan, Bi! Aku mengerti dan sangat prihatin dengan apa yang kalian alami!" Wanita itu masuk mengikuti Bi Leha yang mengajaknya duduk di ruang tengah.
"Mari duduk!" Bi Leha duduk disusul oleh wanita muda itu.
"Kedatanganku kemari karena aku ingin mengutarakan tentang.. ."
...****************...
"Hanum, akhirnya kita sudah kembali!" Bi Ratih tersenyum lega, ia masih trauma oleh kejadian malam itu waktu Kuyang Sandah sedang mengincarnya.
"Ivan tidak ada di rumah?" Mama Hanum bertanya.
"Sepertinya belum pulang!" Jawab Bi Ratih.
"Aku tak sabar menyiapkan kain kafan dan memanggil tukang gali kuburan untuk Lara!" Mama Hanum menyeringai.
"Kau yakin Lara binasa?" Bi Ratih tak yakin sepenuhnya.
"Sebentar lagi rumah ini akan dipenuhi oleh pelayat yang turut berkabung dengan kematian putri semata wayangku, heheh!" Mama Hanum tak sabar ingin merayakan kematian Lara.
"Aku akan tertawa di balik pintu melihatmu menangis dibuat-buat didepan pelayat!" Bi Ratih menyemangati adiknya.
__ADS_1
"Dan kau Bibinya tercinta sibuk menyambut pelayat dengan wajah duka cita!" Mama Hanum benar-benar tak sabar ingin melihat Lara binasa.
"Bagaimana dengan Fadli dan Nada?" Bi Ratih mengalihkan pembicaraan.
"Fadli akan menjemput Shinta dan membawanya kekota, Shinta akan menjadi istrinya sepenuhnya, sedangkan Nada ikut dengan mereka!" Mama Hanum mempredeksi kehidupan Fadli setelah ditinggalkan Lara nanti.
"Dan Fadli tidak akan kemari seperti biasa?! Tapi dia akan mengira Nada adalah cucumu, pasti sewaktu-waktu dia akan kemari mengantar Nada bertemu neneknya!" Tukas Bi Ratih.
"Menurutku musnahkan saja bocah itu!" Celutuk Mama Hanum tak suka.
"Ternyata kau bukan ibu yang jahat, tapi juga nenek yang sangat jahat!" Bi Ratih meledek Mama Hanum.
Keduanya masuk kedalam rumah masing-masing setelah beberapa hari diluar.
...****************...
"Pak Mantir, pasien bapak bukan saja keturunan bangsawan beradarah biru Kesultanan Banjar, tapi memiliki garis keturunan dengan Putri Junjung Buih, nenek moyang raja-raja disini. Tahukah kau tentang bola besar putih keperak-perakkan itu? Nampak menggelinding dari langit, itu adalah buih-buih samudra yang membeku hingga terbentuk kepalan bola es dibawa oleh dua ekor naga putih bermahkota emas dan diambil oleh Burung Enggang kemudian digelindingkannya pada raga pasienmu untuk meredam hawa panas dari bola api yang menguasai tubuhnya! Kau pasti tahu sejarah kemunculan Putri Junjung Buih yang di antar naga-naga itu bersama buih-buih untuk menjadi seorang ratu. Kira-kira hampir seperti itulah kejadian di malam itu saat bola es berwarna putih kemilau" Ucap seorang tetua kampung yang bermukim tak jauh dari lingkungan Kesultanan.
"Wah, hebat sekali! Berarti pasienku sebenarnya paranatural, jangan-jangan dia memiliki ilmu yang tinggi!" Seru Pak Mantir takjub.
"Tergantung keinginannya, jika ia bersedia menjadi seorang paranormal! Aku membaca tentang kehidupan pasienmu, dia seharusnya berada disini sekarang, dan bisa jadi turut memerintah Kesultanan!" Ucap Tetua kampung kenalan Pak Mantir.
"Bagaimana membuktikan jika dia seorang dari keturunan berdarah biru dan dari garis Kesultanan? Sepertinya susah mencari bukti-bukti itu!" Tanya Pak Mantir.
"Untuk sementara ini tak perlu mencari tahta, yang penting dia selamat dari bahaya! Jangan khawatir, dia dijaga oleh dua naga putih milik leluhurnya, dia lebih dekat dengan alam bawah air, sehingga naga-naga itu yang dipilih untuk menjaganya, namun jika bahaya datang dari udara, maka Burung Enggang penguasa alam atas yang akan membantunya. Konon, Putri Junjung Buih bukan anak manusia seutuhnya, tapi Dewi yang dititiskan dari khayangan!" Tetua kampung menjelaskan asal-usul leluhur Lara.
"Aku sangat mengagumi Putri Junjung Buih dan cikal bakal raja-raja penerusnya, Pak! Aku banyak mendalami tentang silsilah mereka meski aku terlahir sebagai orang Dayak! Tapi aku sangat memuliakan keturunan raja-raja Banjar!" Ujar Pak Mantir.
"Aku salut denganmu, Mantir!" Puji Tetua kampung.
__ADS_1