MERTUAKU PETAKAKU

MERTUAKU PETAKAKU
Bab 39. Pengaruh Santet


__ADS_3

"Sepertinya aku harus membawa Lara tinggal kekota bersamaku! Sementara Shinta biar dirumah orang tuanya selama dia mengandung!" Gumam Fadli dalam hati, ia kebingunan ternyata sangat sulit membagi waktu untuk dua istri.


Mobil Fadli meluncur menelusuri jalan raya menuju kabupaten tempat tinggalnya, hari mulai gelap. Lara diam tidak berkata sepatah katapun, Fadli membiarkannya karena menyadari Lara belum sadar sepenuhnya. Fadli harus fokus pada anaknya, khawatir Lara lupa sedang membawa bayi.


Sepanjang perjalanan dilalui Fadli dan Lara dengan diam, hanya sesekali terdengar Nada merengek haus minta susu. Lara masih bisa memberikan susu botol pada bayinya, tapi kesadarannya tidak sepenuhnya bisa dikuasainya. Keadaan Lara membuat Fadli makin tak karuan, beban pikirannya bertambah banyak.


"Satu persatu ujian datang menghampiriku, masalah Bunda dan Ayah masih belum teratasi, datang lagi masalah yang lain!" Fadli bicara pada dirinya sendiri.


Setelah berjam-jam dalam perjalanan, akhirnya mobil Fadli mulai memasuki desa tempat Lara tinggal. Rumah Lara tak jauh dari muara desa, sehingga tidak butuh waktu lama Fadli sudah menghentikan mobilnya dipekarangan rumah.


...*****...


Disebuah gubuk terbuat dari anyaman daun enak dipedalaman di salah satu pegunungan kabupaten Hulu Sungai (maaf saya tidak bisa menyebutkan nama tempat sebenarnya), nampak seorang pria berusia 70 tahun keatas sedang merafal mantra-mantra sambil mengikat sebuah boneka berbentuk wanita yang terbuat dari kain putih berisi berbagai macam sarana untuk santet seperti jarum, paku dan pisau silet, pria sepuh itu kemudian menggantung boneka berisi jarum, paku dan silet pada sebuah pohon yang tinggi dan besar. Boneka itu melayang-layang kekiri kekanan tertiup angin yang berhembus.


"Lara, Laraaa! Jiwamu disini, rasakan sakit ini, tusukan jarum dan paku, beserta irisan pisau silet tajam ini! Lara, kau harus merasakan sakit ini secara bertahap sebelum ajalmu datang menjemput!" Ucap pria sepuh itu.


Angin terus berhembus diatas pegunungan, jiwa Lara sudah terkurung didalam boneka dari kain putih itu.


"Boneka ini sudah menjalani tahap awalnya ditusuk-tusuk dengan jarum didalam kotak, Lara pasti merasakan badannya sakit-sakitan dan nyeri ditusuk-tusuk. Sekarang tahap berikutnya, boneka ini akan kugantung didahan paling terendah di pohon Kariwaya ini, dirinya akan merasakan pusing dan mual berkepanjangan, serta rasa sakit tusukan jarum dan paku, perih seperti diiris-iris pisau silet! Ini masih permulaan, tahap selanjutnya aku akan menggantung boneka ini lebih tinggi, makin tinggi makin kencang angin meniupnya, dan rasa sakit tertusuk serta nyeri itu makin menyengsarakannya." Ucap pria sepuh itu melenguh. "Angiiiin, bertiuplah makin kencang!"


Pria sepuh itu selesai menggantung boneka berbentuk wanita yang terbuat dari kain putih tersebut, ia turun dari atas pohon Kariwaya yang besar itu (Kariwaya adalah pohon yang mirip seperti beringin dan dipercaya sangat angker karena ditempati berbagai macam makhluk-makhluk ghaib). Kalau melewati tempat itu dilarang berkata yang tidak baik, apalagi menantang makhluk-makhluk ghaib, karena yang berani ceroboh pasti akan celaka. Author selalu sakit sehabis melewati pohon itu, kalau bisa lebih baik mencari jalan lain daripada melewatinya, kecuali tidak ada jalan lain sama sekali, sehingga terpaksa melewatinya. Allah a'lam.


Pria sepuh tadi pulang kegubuknya yang tak jauh dari tempat pohon Kariwaya tadi. Malam makin larut, bulan enggan bersinar, sehingga malam itu begitu kelam dan pekat. Pria sepuh itu duduk diatas tikar anyam yang mulai robek disisi kiri kanannya, ia menyalakan dupa dalam perapian kecil didepannya, kemudian membaca mantra-mantra dan membakar selembar foto milik Lara.


"Panaslah seperti api membara pemilik jiwa ini, terbakarlah dia didalam api yang menyala ini! Panaaas, panaaas, panaaaas!!!" Pria sepuh itu komat kamit merafal berbagai macam mantra sambil menyebut nama Lara.


Ritual santet yang dilakukannya bukan baru sekarang, tapi sudah berjalan satu tahun, dan telah berhasil mengambil jiwa Lara serta menempatkannya pada boneka berbentuk wanita yang terbuat dari kain putih.

__ADS_1


Syuuuuut!!! Api makin menyala-nyala, pria sepuh tadi meneteskan darah ayam hitam cemani kedalam perapian. Bau amis, gosong dan tak sedap memenuhi gubuk reotnya, namun pria sepuh itu tidak menghiraukannya, ia sudah terbiasa dengan suasana seperti itu, dukun Parang Maya.


...*****...


"Aaaaah!" Brukkk prankkkk.. tubuh Lara ambruk saat berjalan menuju kamarnya, ia baru saja kembali dari dapur mengambil segelas air putih. Gelas berisi air putih ditangannya terjatuh dan pecah. Fadli bergegas keluar dari kamar mendengar suara gaduh diluar, ia menemukan Lara terkulai dilantai.


"Lara, Laraaa! Ayo bangun, sini aku bantu berdiri!" Fadli memapah Lara yang tak berdaya.


"Kepalaku pusing, perutku mual ingin muntah, ueeek uek uek!" Lara memegang perutnya yang berasa seperti diobok-obok.


"Jalan pelan-pelan, aku bantu kekamar mandi!" Ucap Fadli menuntun Lara.


Mama Hanum muncul dari kamarnya yang berdekatan dengan dapur.


"Lara, apa yang terjadi, nak?" Mama Hanum bergegas membantu Fadli memegangi Lara.


"Mungkin masuk angin karena seharian diluar?!" Tanya Mama Hanum.


"Mungkin saja, Ma!" Jawab Fadli.


Lara masuk kedalam kamar mandi dibantu Mama Hanum, ia berusaha muntah, namun tak bisa, tapi rasa mual dan pusing terus menerus dirasakannya.


"Apakah ini efek Parang Maya?" Gumam Fadli dalam hati.


"Kenapa kau melamun, nak?" Tanya Mama Hanum.


"Tidak, Ma! Aku hanya prihatin dengan keadaan Lara!" Jawab Fadli berbohong.

__ADS_1


Lara keluar dari kamar mandi kemudian duduk dikursi yang ada diruang makan, Mama Hanum menghampirinya sambil mendekatkan kursi kesamping putri semata wayangnya.


"Lara, jangan menunduk, usahakan duduk tegak, agar tidak mual!" Nasihat Mama Hanum.


Lara menurut, perlahan ia menegakkan badannya dan.. "Aaaaaaa, setan!" Lara berteriak histeris saat menatap wajah Mama Hanum.


"Nak, ada apa?! Ini aku, ibumu!" Ucap Mama Hanum sambil memeluk Lara.


"Pergi, pergi kau, pergiiii! Kau pemilik tangan menyeramkan dibalik pintu tempo lalu!" Teriak Lara mundur, hampir saja ia telentang karena kursi yang ia duduki terjatuh kebelakang.


Fadli menahan tubuh Lara agar tidak sempoyongan.


"Lara, kau salah lihat! Itu Mama Hanum, ibumu!" Ucap Fadli.


"Tidak, tidaaaak, tidak dia setan, wajahnya menyeramkan, matanya merah, giginya bertaring panjang-panjang menyeruak dari mulutnya yang besar sampai ketelinga. Telinganya panjang, rambutnya juga panjang sampai mata kaki!" Cerocos Lara tak berani menatap kearah Mama Hanum.


"Ma, sebaiknya Mama pergi kekamar saja, sepertinya Lara ketempelan lagi!" Fadli meminta ibu mertuanya menjauh dari Lara.


"Baiklah, jaga dia baik-baik ya?!" Pesan Mama Hanum seraya pergi kekamarnya.


"Lara, mari kita kekamar!" Ajak Fadli menuntun Lara sampai kekamar.


Lara tidak bisa membuka matanya, karena setiap kali ia membuka matanya langsung merasakan pusing dan mual.


"Mana Nada? Apakah dia sedang tidur?!" Tanya Lara.


"Kau jangan khawatirkan Nada, ia sedang tidur pulas!" Ucap Fadli menuntun Lara menuju tempat tidur. "Sekarang kau istirahat yang cukup, kau pasti kelelahan setelah seharian dimobil." Fadli membenarkan bantal dan membaringkan Lara.

__ADS_1


__ADS_2