
Siang itu kembali berganti dengan malam yang gelap, dan dingin menusuk sampai ketulang sumsum karena sedang musim kemarau. Sebagian warga masih beraktifitas di warung-warung atau sekedar menonton pertandingan bola di televisi umum yang di pasang di tongkrongan atau pos ronda di beberapa sudut desa. Kegiatan seperti itu lumayan untuk mengurangi terjadinya pencurian, karena maling tidak akan berani beraksi di saat sebagian warga sedang bergadang.
Tok tok tok, pintu rumah Mama Hanum di ketuk orang dari luar. Mama Hanum segera memeriksa kedepan siapa yang mengetuk rumahnya, perlahan pintu terbuka, kepala Mama Hanum menyembul keluar.
"Siapa ya?" Tanya Mama Hanum.
"Maaf bu, mengganggu! Saya datang untuk memberitahu sebuah kabar duka.. ." Belum sempat orang its melanjutkan ucapannya, Mama Hanum tergeletak pingsan.
Orang itu terperanjat melihat wanita paruh baya di depannya terkulai tak berdaya di lantai.
"Tolooooong, tolooooong!!!" Orang tersebut berteriak minta pertolongan warga sekitar.
Tak berapa lama warga berdatangan mendengar teriakannya, mereka bergegas menghampiri Mama Hanum dan memberikan pertolongan pertama untuk menyadarkannya. Bi Ratih keluar dari rumah mendengar suara gaduh diluar sana, ia menghampiri kerumunan warga di teras rumah Mama Hanum.
"Apa yang terjadi?" Pekik Bi Ratih terkejut melihat Mama Hanum tak sadarkan diri.
"Mama Hanum pingsan, Bi!" Seru seorang warga.
"Minyak angin mana?!" Seorang warga mencari minyak angin pada warga lainnya.
"Ambil air dan percikkan ke wajah beliau!" Seru warga yang lain.
"Gotong tubuh beliau dan letakkah diatas sofa!" Perintah warga.
Warga menjadi panik dibuat Mama Hanum.
...****************...
"Aku bisa mengambilnya sendiri!" Tolak Lara ketika Fadli ingin menambahkannya makanan.
"Baiklah, makan yang banyak!" Ucap Fadli.
Mereka menikmati makan malam berdua saja, karena Fadila dan Mbak Mina pulang kerumah mereka masing-masing sejak sore tadi.
"Sudah lama kita tidak makan diluar!" Ucap Fadli.
"Suatu saat kita akan makan-makan diluar!" Balas Lara.
__ADS_1
"Nada tidur melulu?" Tanya Fadli melayangkan pandangannya kearah Nada yang tertidur nyenyak di ranjang kecilnya.
"Sepertinya kelelahan setelah bermain-main bersama Fadila di taman komplek!" Sahut Lara.
"Fadila besok kemari?" Fadli kembali bertanya.
"Dia bilang akan kemari jika tidak ada kesibukan penting!" Jawab Lara sambil membenahi piring-piring bekas makan malam.
"Biar aku saja mengantarnya kedapur!" Larang Fadli.
"Tidak apa-apa, sekalian aku ingin kedapur membuat teh!" Balas Lara.
"Kalau begitu biarkan aku membuat teh, kau taruh saja piring-piring itu di dapur, nanti besok Mbak Mina mencucinya!" Timpal Fadli melarang Lara bekerja terlalu banyak.
"Baiklah, terima kasih atas perhatianmu!" Ucap Lara terharu dengan mata berkaca-kaca.
Fadli mengecvp kening Lara seraya menyibak rambutnya, sudah lama momen indah seperti itu tidak mereka rasakan karena disibukkan untuk penyembuhan Lara.
Sesaat kemudian Fadli datang membawa teh buat mereka berdua, Fadli duduk mendekati Lara, perlahan ia membelai rambutnya yang hitam, halus dan panjang itu.
"Rambutku tidak sewangi dulu! Aroma minyak kayu putih, minyak urut dan herbal melekat semenjak penyembuhan ini." Ucap Lara pelan.
Lara mencubit pinggang Fadli.
"Aaaaw!" Fadli terpekik karena gel1.
Fadli tak mau kalah, ia membalasnya dengan cubitan lembut, lama-lama keduanya bermain manja sambil bela1 membela1, Fadli mulai bergerilya menjelajahi tubvh Lara yang mungil dan langsing itu, ia mencivmi leh3r jenjang Lara, terus menurun ke gunung kembar yang empuk dan k3nyal, setelah beberapa saat Fadli mampir di gunung kembar itu, ia kemudian meluncur kelembah bebukitan yang terlalu ditumbuhi rumput, bukit indah tempat yang paling damai untuk melepas lelah dengan lembah dan danau kecil ditengah-tengahnya yang sejuk dan tenang. Fadli berlama-lama berada di lembah itu, Lara menggelinj4ng hebat, ia hampir lupa dengan permainan seru tersebut selama kegundahan menyelimuti hari-harinya. Fadli makin tertantang untuk bergerilya makin jauh bersama Lara.
"Sepertinya aku sedang bersama peraw4n!" Bisik Fadli ditelinga Lara.
"Jangan coba-coba mencari peraw4n lain!" Bentak Lara pelan, rasa cemburunya terkalahkan oleh nafsvnya yang sudah mulai membara.
"Kau tak seperti biasanya, malam ini lebih s3nsitif, aku merasakan getaran seorang g4dis dengan gejolak cintanya yang menggebv-gebv!" Fadli mengg1git daun telinga Lara dengan penuh kas1h.
Fadli kembali bergerilya dari awal, ia mencvmbu kening Lara penuh hasr4t yang berapi-api, tak puas-puasnya ia mencvmbv kening Lara, ia kembali mencivmi leh3r jenjang dan bersih itu, Lara mengg3liat makin hebat, ia sudah tak kuat menunggu serangan rudal dari Fadli. Namun Fadli sengaja berlama-lama bermain di gunung kembar, bukit berlembah dengan danaunya yang sejuk dan penuh kehang4tan itu.
"Hentikan! Langsung saja ke pokok utama! Luncurkan rudal itu!" 3rang Lara sambil mengg3linjang.
__ADS_1
"Kau sudah siap bertempur?" Ledek Fadli sambil meng1sap dan memainkan puncak gunung kembar milik Lara.
"Aaaaah! Apakah rudal itu belum siap?" Tanya Lara dengan mata terp3jam dan mering1s men1kmati permainan Fadli.
"Kau ingin bertemu rudal itu sebelum meluncur?" Fadli membawa tangan Lara menyentuh rudal tersebut.
"Ohh, ooohhh! Lama sekali aku tidak bertemu dengan rudal ini!" Pekik Lara sambil membabi buta memegangi rudal yang sudah berdiri dan siap diluncurkan oleh Fadli ke lembah miliknya.
Kini giliran Fadli ter3ngah-engah men1kmati rudral miliknya yang dib3lai dan dicivmi oleh Lara.
"Aku ingin menjil4t es krim lezat ini!" Seru Lara sambil berkali-kali mengis4p rudal tersebut.
Nafas Fadli dan Lara bertemu, keduanya bertempur habis-habisan malam itu, tak peduli mereka berada diruang tengah.
Dengan gesit Fadli melucvti baju Lara hingga tak tertinggal sehelai benangpun di tubvhnya, Lara pun melakukan hal yang sama, ia melucvti kaos tipis dan cel4na selutut Fadli hingga mereka berdua sama-sama tanpa mengenakan sehelai benang, keduanya seperti bayi yang baru dilahirkan.
"Rudal sudah tertancap!" Bisik Fadli penuh cinta.
"Tidak, aku tidak merasakan luncuran rudal itu!" Ucap Lara manja.
"Jangan bohong, aku berjanji akan membuatmu menangis jika rudal ini telah menghujam bebukitan dan lembah milikmu!" Fadli mulai beraksi, ia menghujamkan rudal miliknya tersebut kelembah milik Lara tepat di telaga kecil yang sudah ber4ir akibat jamah4n tangan dan lid4h Fadli tadi.
"Aaaaaaah, tidaaaak!" Lara menjerit n1kmat.
Lara terisak lamat-lamat hampir tak terdengar, isakannya kadang berganti dengan er4ngan penuh kenikm4tan, Fadli makin bersemangat bertempur mendengar jeritan dan er4angan Lara.
Nafas mereka saling berpacu, sekujvr tubvh mereka bersimb4h keringat, Lara sesenggukan menahan ken1kmatan yang telah lama tak dirasakannya.
"Bolehkah jika aku ingin kelvar didalam, sayang!?" Fadli meminta izin pada Lara.
"Kelvarkan saja, aku sangat merindvkannya!" Ucap Lara ter3ngah-engah, persendiannya mulai terasa copot.
Rudal Fadli meledak didalam lembah milik Lara, keduanya menjerit-jerit penuh ken1kmatan. Malam itu sangat berkesan bagi mereka, tak hanya sekali, tapi mereka bertempur berkali-kali hingga dua-duanya roboh dan terkulai tak berdaya.
Fadli kelelahan, ia tertidur dengan posisi tengkurap, tvbuhnya masih tanpa dibalut sehelai benangpun, begitupula dengan Lara.
"Terima kasih untuk malam ini wahai cinta pertamaku!" Bisik Lara lembut di telinga Fadli seraya menyelimutinya dengan penuh kasih.
__ADS_1
Lara turut terkapar tak berdaya disamping Fadli, keduanya tertidur hingga pagi.