
Fadila dihadapkan pada dilema yang sangat besar, dirinya dinobatkan ayahnya sendiri sebagai paranormal penerus almarhumah neneknya yang memiliki kehebatan tiada tertandingi.
"Mengapa harus aku? Mengapa bukan Kak Fadli atau Fadil saja?" Gerutu Fadila dalam hati.
Perasaan Fadila benar-benar diliputi kekalutan, ia mengutuk dirinya jika menjadi seorang paranormal. Bukan cita-citanya sama sekali, bahkan tak pernah ada dalam benak pikirannya untuk menjadi orang pintar.
"Dila? Papa mengerti dengan perasaanmu! Tapi mau bagaimana pun juga kau tak bisa memungkirinya, kau termasuk orang beruntung, bisa memiliki kehebatan tanpa harus berguru pada siapapun. Banyak relatif almarhumah nenekmu yang memperbutkan kehebatan ini, tapi tak satu pun berhasil, ternyata kau generasi penerus almarhum nenekmu, ini warisan nak! Bukan kesaktian yang menyimpang, kau sangat di butuhkan banyak orang. Coba bayangkan jika senadainya kau bisa menyembuhkan Bunda Najah atau Lara, bukankah kau akan sangat berjasa bagi mereka?" Pak Hamdan terus menyemangati Fadila.
"Apakah tidak bisa di gantikan pada Kak Fadli atau Fadil!" Tanya Fadila masih enggan menjadi paranormal.
"Fadli dan Fadil tidak memiliki indra keenam, tapi kau memilikinya, kau bisa melihat makhluk tak kasat mata! Itu isyarat yang sangat nyata bahwa kau yang akan meneruskan kehebatan almarhumah nenekmu! Tapi, nanti kau bisa menanyakannya langsung pada Fadli atau Fadil!" Pak Hamdan memberi sedikit pengharapan pada Fadila.
"Semoga mereka mampu menggantikanku!" Ucap Fadila sangat berharap.
"Kita lihat nanti bagaimana yang terbaik!" Sahut Pak Hamdan.
"Kita pulang sekarang?" Tanya Fadila selesai menikmati makan malamnya.
"Ayo! Papa sangat lelah hari ini, seharian tidak tidur!" Ucap Pak Hamdan sambil menutup mulutnya yang sedang menguap.
Fadila beranjak dari duduknya kemudian menghampiri meja kasir dan membayar bon tagihan, kemudian ia kembali menemui ayahnya dan pergi meninggalkan rumah makan.
...*****...
"Jadi Bapak tidak memungut sewa kontrak rumah selamanya untuk keluarga kami?" Tanya seorang wanita masih tak percaya.
"Iya, Bu Tuti! Tempati saja rumah itu dengan cuma-cuma!" Ucap Pak Raji.
"Terima kasih banyak, Pak! Aku masih belum percaya atas semua ini, serasa dalam mimpi!" Balas Bu Tuti terharu.
"Kalian bisa menempatinya mulai besok, ini kunci rumah tersebut!" Pak Raji menyerahkan kunci rumah minimalisnya untuk dipinjamkan secara percuma.
"Aku sangat berhutang budi pada Bapak, hanya Tuhan yang bisa membalas kebaikan Bapak sekeluarga!" Ucap Bu Tuti sembari menerima kunci rumah minimalis yang akan di tempatinya bersama suami dan anak-anaknya.
__ADS_1
"Tak usah sungkan, Bu Tuti! Selagi kami bisa membantu, kami pasti bantu!" Ucap istri Pak Raji.
"Pak Raji dan Bu Puput sangat baik, aku benar-benar sungkan pada kalian!" Ucap Bu Tuti tertunduk merasa sangat berhutang budi.
"Bu Tuti tidak usah begitu, daripada rumah kami terbengkalai lebih baik kalian yang menempatinya!" Ucap Bu Puput tersenyum ramah.
"Sekali lagi terima kasih, aku pulang sekarang, pasti suami dan anak-anakku sangat senang mengetahui hal ini!" Ucap Bu Tuti sembari bangkit dari duduknya.
"Hati-hati di jalan, ya!" Seru Bu Puput mengingatkan.
"Iya, Bu Puput! Permisiii!!!" Bu Tuti pulang kerumahnya dengan tergesa-gesa karena ingin memberitahu tentang kebaikan Pak Raji dan Bu Puput.
Di jalan ia berpapasan dengan Pak Hamdan dan Fadila yang baru saja turun dari mobil.
"Dari mana, Bu Tuti?" Sapa Pak Hamdan.
"Baru pulang dari rumah Pak Raji!" Sahut Bu Tuti "Permisi!"
"Mengapa Bu Tuti buru-buru seperti ada yang mengejarnya?" Tanya Fadila pada Pak Hamdan.
"Mungkin takut di jalan tidak ada orang!" Ucap Pak Hamdan sekenanya.
Fadila tak ambil pusing, ia terus melangkah menuju rumahnya yang berdampingan dengan rumah Pak Raji, adik sepupu oleh ibunya. Sedangkan Pak Hamdan berjalan di belakangnya agak lambat karena faktor usia.
"Apakah kau yakin jin pesugihan itu tidak akan meminta tumbal padamu dengan kau mengizinkan mereka menempati rumah minimalis milik kita itu?" Tanya Bu Puput tidak yakin pada suaminya yang baru saja memiliki ilmu pesugihan dari Pak Hamdan.
"Aku dan jin pesugihan itu sudah sepakat untuk menumbalkan salah satu anggota keluarga yang menempati rumah minimalis milik kita! Jin pesugihan itu meminta tumbal setahun sekali, dia lebih cenderung menargetkan tumbalnya pada anak-anak." Jawab Pak Raji dengan sangat yakin.
"Apakah tidak ada yang mencurigai kita?" Tanya Bu Puput antara khawatir dan cemas.
"Tidak, mereka akan mengira hanya kematian biasa, bukan tumba!" Jawab Pak Raji.
Fadila kebetulan lewat di depan rumah pamannya itu, ia terhenyak mendengar kalimat tumbal yang diucapkan oleh Pak Raji. Fadila berniat ingin masuk ke dalam rumah adik sepupu oleh ibunya itu, namun Pak Hamdan melarangnya sembari memegang pundaknya. Fadila menoleh kearah ayahnya, Pak Hamdan menggeleng.
__ADS_1
"Kenapa, Pa?" Tanya Fadila pelan.
"Jangan ganggu mereka, pamanmu baru saja mewarisi ilmu pesugihan milik Papa! Biarkan dia menjalani masa-masa barunya di dunia gelap ini." Ucap Pak Hamdan lirih.
"Papa tega mengorbankan orang lain?" Tanya Fadila dengan sorot mata yang tajam.
"Nak, bukan sekarang waktunya untuk berdebat. Mari kita pulang, jangan ikut urusan mereka!" Seru Pak Hamdan bergegas menuju rumahnya.
Fadila mengikuti Pak Hamdan dari belakang, meski ia tak setuju dengan cara orang tuanya yang memilih mengorbankan orang lain demi keselamatannya sendiri.
"Ilmu hitam yang menyesatkan!" Celutuk Fadila tak senang.
Fadila masuk kerumahnya, ia merasa sangar lelah setelah seharian di rumah kakak seayahnya, Fadli.
"Sudah makan malam?" Sapa Bu Intan.
Fadila kalut, ia tak memperhatikan sapaan ibunya, bahkan ia masuk kerumah tanpa memberi salam. Bu Intan tercengang melihat kelakuan putri semata wayangnya, ia hanya geleng-geleng kepala.
"Ayah dan anak sama saja! Dua-duanya datang melesat seperti kilat masuk kekamar, tidak peduli dengan aku yang seharian sampai malam mengkhawatirkan mereka! Huh." Bu Intan menghbuskan napas kasar melihat sikap dan perilaku suami serta anaknya.
Bu Intan masuk kekamarnya sembari merapikan tempat tidur, malam telah larut, ia tahu suaminya pasti kelelahan setelah seharian di luar.
Pak Hamdan muncul dari kamar mandi yang terletak di samping kamar tidur, ia melangkah menuju tempat tidur dan segera berbaring melepas lelahnya.
"Pak, tidak makan malam dulu?" Tanya Bu Intan yang melihat suaminya sudah mengantuk.
Kami sudah makan di luar, maaf telah kelamaan menunggu!" Jawab Pak Hamdan sambil minta maaf.
"Tidak apa-apa, tapi aku hanya mengkhawatirkan kalian, karena tidak kunjung pulang seharian sampai malam!" Tegas Bu Intan, "Fadila kenapa? Sepertinya ada yang tak beres padanya?!"
"Fadila sedang menghadapi dilema hidupnya, kau jangan ganggu dia beberapa hari ini!" Pak Hamdan kemudian menceritakan semua alasan kenapa Fadila bersikap aneh, ia juga menceritakan segala kejadian di rumah Fadli, tentang harimau putih, jin pesugihan, dan menjadi pewaris almarhumah neneknya.
Bu Intan terbelalak mengetahui putrinya kini telah berkenalan dengan dunia ghaib dan mistis. Pantas saja ia melihat Fadila sangat aneh saat masuk ke dalam rumah, seolah seperti orang yang berada dalam alam bawah sadar.
__ADS_1